
Eps 7
Happy reading...
ššš
Tak terasa waktu perkuliahan akan berlangsung esok hari. Dan selama dua minggu belakangan, Zia fokus pada usaha online shop nya. Karena Zia tahu, dia belum bisa mencari pekerjaan paruh waktu sebelum enam bulan ia menetap disini.
Ya... Zia masih menjalankan online shop nya dari jarak jauh. Jarak tidak menjadi penghalang baginya. Karena ia hanya sebagai dropshiper olshop langganannya. Dan untungnya aplikasi online shop itu bisa digunakan disini.
"Ya Rabb... Berikan hamba keridhoan Mu untuk hamba menjalani hidup di negeri orang ini. Dan ridhoi hamba untuk menuntut ilmu di negara ini. Berikan kemudahan pada hamba ya Rabb. Lindungilah hamba dari keburukan, dan dekatkan lah hamba dengan kebaikan. Jaga dan lindungilah juga wanita yang telah melahirkan hamba. Aamiin ya Rabbal alamin." Zia mengakhiri shalat Subuh nya.
Setelah menunaikan ibadah nya, Zia langsung menuju dapur untuk membuat sarapan dan bekal makan siangnya.
"Masak apa ya?" Zia bermonolog sendiri.
"Emmmm... Buat nasi goreng aja deh. Nasi tadi malam di rice cooker juga masih banyak. Cukuplah buat sarapan dan bekal. Baru nanti pulang kuliah, mampir berbelanja." Zia melakukan pekerjaannya hingga selesai.
Hingga akhirnya ia bergegas mandi dan bersiap pergi ke kampus.
Zia lebih memilih naik bus ketimbang naik kereta api. Dengan pertimbangan ongkos yang lebih murah.
Zia harus bisa menghemat dan mengatur keuangannya untuk kebutuhan kedepannya. Karena biaya kehidupan disini lebih tinggi ketimbang di Indonesia.
Saat menuju kampus, tatapan - tatapan itu Zia dapatkan lagi dari orang disekitarnya.
Sama saat regenerasi ulang waktu lalu, Zia tak ambil pusing akan tatapan itu. Zia yakin, cepat atau lambat mereka akan menerima Zia sebagai bagian dari mereka.
Zia terus berjalan menyusuri koridor mencari kelasnya pagi ini. Hingga ia menemukannya dan langsung masuk mencari tempat duduknya.
Lagi - lagi Zia mendapatkan tatapan itu lagi dari beberapa orang. Hingga akhirnya...
"Hai... Orang Indonesia?" Tanya seorang wanita berkacamata menunjuk ke arah nya.
"Iya... Aku orang Indonesia." Jawab Zia.
" Oh... Syukurlah. Aku juga orang Indonesia. Salam kenal, aku Joana. Dari Medan." Joana memperkenalkan diri.
"Aku Zia, Zia Aulia, dari Jakarta." Zia pun ikut memperkenalkan diri.
"Beasiswa?" Tanya Joana yang langsung duduk dekat Zia.
"Ya, beasiswa." Jawabnya dengan disertai senyum ramah.
"Hem.... Memang kebanyakan kalau di universitas negeri , mahasiswa luar itu banyak mendapat beasiswa. Sama kayak aku ini." Joana tersenyum menampakan barisa giginya, tak lupa dengan aksen logat orang Medan pun tak ketinggalan.
"Kau ngekos atau tinggal di apartemen?" Tanya Joana lagi mencoba mengakrabkan diri.
"Aku ngekos, lebih hemat uang sewanya." Cengir Zia.
"Haha.... Sama lah kita. Demi menghemat pengeluaran. Jangan bilang kalau kau bawa bekal juga ya?" Tebak Joana.
"Kog tau?" Zia bingung dengan orang disampingnya ini, apa dia keturunan dukun ya? Kog tebakannya benar semua.
"Tau lah... Aku pun gitu." jawabannya enteng. "Berteman?" Joana menyodorkan tangan ke Zia.
"Teman..." Disambut uluran tangan dari Zia.
Tak lama dosen datang dan langsung memulai materinya hingga selesai.
Dan disinilah Zia dan Joana sudah berada di taman kampus. Untuk memakan bekal yang mereka bawa.
"Wah nasi goreng?" Tanya Joana yang dibalas anggukan dari Zia.
"Kalau untuk beras, cabai dan bawang masih bisa kau temukan disini. Tapi kalau kecap, kau beli dimana?" Mode wartawan Joana on.
"Aku bawa dari Indonesia. Karena sebelum berangkat, aku membeli kebutuhan ku yang mungkin gak bisa kutemui disini. Aku bawa bekal bumbu dapur dari Indonesia. Hehehe..." Terang Zia.
"Wah... Hebat kau ya. Bisa segitunya persiapan mu." Joana salut dengan kesigapan Zia.
__ADS_1
"Hemmm... Antisipasi itu perlu Jo." Zia mulai memakan bekalnya. "Kamu bawa bekal apa?" Kini giliran Zia yang kepo.
"Ini... Ayam goreng tepung, alias KFC ala Joana." Pamernya pada Zia. "Ambillah kalau mau coba." Tawarnya lagi pada Zia.
"Makasih... Tapi aku gak bisa makan ayam negeri. Aku ada alergi." Tolak Zia halus.
"Bah... Alergi ayamnya, tapi tak alergi telurnya. Cemana bisa?" Kali ini logat Batak Joana yang keluar.
"Aku juga gak tau." Zia hanya menggeleng kan kepalanya.
Dia juga bingung kenapa bisa begitu. Alergi ayamnya tapi tidak alergi telurnya. Aneh kan? Padahal sebelum jadi ayam, pasti dia bentuknya telur dulu.
"Kamu mau coba nasi goreng ku?" Kini Zia gantian menawari Joana.
"Engga dulu lah. Kutengok bekalmu cuma dikit. Mana kenyang kau nantinya kalau aku ikut makan makananmu." Tolak Joana. Ya memang, bekal yang dibawa Zia tak terlalu banyak, hanya cukup untuk satu porsi.
"Oh iya, kamu ambil jurusan apa Jo?" Zia ingin tahu lebih banyak tentang teman barunya.
"Manajemen bisnis. Soalnya aku bercita - cita kerja di kantoran. Kalau kau?" Joana balik bertanya.
"Aku ambil jurusan IT. Karena aku suka dengan komputer." Jawab Zia.
"Hemmm.... Apapun jurusan kita semoga kita bisa jadi sarjana yang berguna dan sukses." Ucap Joana penuh harapan.
"Aamiin... Oh ya Jo, kamu tinggal dimana?" Sudah lama berbincang tapi belum tau tempat tinggal temannya dimana.
"Daerah Itaewon."
"Sama dong..." Zia merasa senang temannya itu tinggal disatu daerah yang sama dengannya.
"Wahhh... Bagus itu. Jadi kalau aku butuh kecap buat nasi goreng, aku tinggal lari ke kos mu."
"Ha...ha...ha..." Mereka tertawa bersama.
Setelah menghabiskan bekal dan bertukar nomor telepon, mereka akhirnya bubar menuju kelas masing - masing. Karena di jam kedua ini mata pelajaran yang mereka ambil berbeda.
****
Zia memutuskan berbelanja kebutuhan dapur untuk selama satu minggu.
"Emmmm.... Sepertinya ini cukup untuk satu minggu." Zia menimbang - nimbang jumlah belanjaan yang harus dibeli nya.
Setelah merasa cukup, Zia langsung menuju kasir. Dan saat berbelok, tanpa sengaja dia menabrak seorang pria tinggi bertopi dan bermasker.
Brukkk...
"Oh maaf tuan, saya tidak sengaja." Zia panik, takut orang itu akan marah.
Terlihat barang yang dibawa pria itu jatuh berserak ke lantai.
Dengan gesit Zia mencoba mengumpulkan barang itu dan memasukan ke keranjang sang pria.
"Ini tuan. Sekali lagi maaf." Zia menyodorkan keranjang belanjaan sang pria.
Seketika pria itu tersadar dari ketemanguannya, karena melihat sosok wanita didepannya.
"Ya, tidak apa nona." Jawab Jae Su menerima keranjang belanja nya.
Ya pria yang memakai masker itu adalah Park Jae Su "Blue Ring".
"Apa kau begitu terburu - buru nona, hingga membuat mu menabrak orang di depan mu?" Tanya Jae Su mencoba mencuri waktu agar dapat bisa lebih lama menatap dan dekat dengan wanita yang beberapa minggu ini mengisi hati dan fikirannya.
"Ah... Iya tuan. Saya harus cepat kembali ke rumah sebelum matahari terbenam." Jawab Zia sedikit sungkan.
"Kenapa?" Tanya Jae Su ingin tahu.
"Emm ya saya harus mengejar waktu agar tidak terlambat untuk shalat magrib." Zia memberi alasan nya.
"Shalat magrib?" Kening Jae Su berkerut mendengar dua kata tersebut, karena dia tidak pernah mendengar dua kata itu.
__ADS_1
Zia yang paham akan kebingungan pria tersebut pun menjelaskan kembali.
"Shalat magrib itu adalah salah satu ibadah bagi orang beragama Islam tuan." Terangnya memberikan pemahaman yang sederhana.
Sedangkan Jae Su hanya mengangguk mendengar penjelasan Zia. Dia berniat mencari tahu lebih banyak tentang yang dimaksud oleh wanitanya.
Wanitanya? Sejak kapan? Jae Su meringis dalam hati atas pemikirannya sendiri.
"Kalau begitu permisi tuan. Aku akan kekasir." Pamit Zia karena tak ingin lebih lama lagi disana.
"Ah ya nona, silahkan." Jae Su mempersilakan Zia pergi.
Dan tanpa disadarinya, Jae Su dengan refleks mengikuti langkah Zia menuju ke arah kasir.
Jae Su masih memandangi Zia yang membelakanginya. Entah kenapa, seperti ada magnet yang menariknya saat ini untuk mengikuti Zia.
Tak lama Zia berbalik. Dan alangkah terkejutnya dia ternyata pria itu berada dekat di belakangnya.
"Astaghfirullah...." Zia refleks mundur beberapa langkah.
"Kenapa nona?" Tanya Jae Su heran.
"Kau mengagetkan ku tuan." Sungut Zia.
Ternyata Jae Su malah menikmati mimik terkejutnya Zia yang begitu menggemaskan.
"Kamu terlalu dekat berdiri dibelakang ku tuan. Dan untung saja aku tidak sampai menabrak dan menyentuh mu." Gerutu Zia karena menerima respon Jae Su yang hanya senyum menatap nya.
"Permisi tuan." Pamit Zia pada pria didepannya.
"Ya silahkan. Dan sampai berjumpa lagi di lain waktu." Jae Su mempersilakan Zia pergi.
Zia bergegas pergi meninggalkan minimarket dan menuju ke kosnya.
Jae Su tampak bahagia saat keluar dari minimarket, dan itu tak luput dari pandangan keempat member Blue Ring lainnya.
"Kenapa kau tampak bahagia sekali setelah dari minimarket Hyung? Apa kau menang undian disana" Ryung yang penasaran melihat wajah bahagia Jae Su.
"Aku bertemu dengannya lagi." Senyum masih terkembang lebar di bibirnya.
"Siapa?" Sahut Ji-Sung.
"Wanita yang pernah kuceritakan pada kalian." Jelas Jae Su lagi.
Mereka mengingat ingat siapa yang dimaksud oleh Jae Su.
"Ahh... Wanita bertutup kepala itu?" Tebak Tae Won cepat, dibalas anggukan kepala oleh Jae Su.
"Wah... Kenapa kami tidak melihatnya dari dalam mobil? Seharusnya kita ikut masuk tadi." Yong Su menyesal tak ikut hyung nya dan melihat wanita itu.
"Dia sudah pergi. Katanya takut ketinggalan waktu shalat magrib." Terang Jae Su.
"Shalat magrib?" Tanya mereka serempak.
"Hemmm, salah satu ibadah orang Islam." Jae Su kembali menjelaskan.
"Jadi wanita itu beragama Islam?" Tanya Ji-Sung.
Jae Su hanya mengangguk sebagai jawaban.
Kini tak ada lagi pertanyaan yang keluar dari mulut mereka. Karena mereka sibuk dengan fikiran masing - masing mendengar kata Islam yang barusan didengar mereka.
Entah apa yang sedang mereka fikirkan sekarang. Hanya mereka dan Tuhan yang tahu.
Ji-Sung pun mulai melajukan mobil menuju ke tempat tujuan mereka.
...****************...
...ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦...
__ADS_1
jangan lupa like dan komennya.
thanks udah mampir di karya author š