
Bab 27
"Aku ingin kita memulai kehidupan rumah tangga kita dengan normal. Seperti pasangan lain," kata Aisyah sambil menatap Andromeda.
"Maksudnya?" Andromeda sengaja memancing Aisyah.
Andromeda ingin wanita itu yang mulai duluan, jika nanti akhirnya tidak sesuai yang diharapkan olehnya, dirinya merasa tidak perlu bersalah. Dalam hal ini dia akan mendapatkan banyak sekali keuntungan selain menjalani tantangan yang diajukan kepadanya.
"Kita akan melakukan peran sebagaimana suami istri sesungguhnya. Aku akan mengabdi kepadamu, Mas. Sebagaimana seharusnya seorang wanita bertugas sebagai seorang istri. Begitu juga sebaliknya, Mas Andro harus melakukan tugas sebagai seorang suami. Kita lakukan semua ini demi kebahagiaan yang bisa dirasakan oleh semua keluarga, tanpa adanya surat perjanjian," jelas Aisyah yang masih berada di pangkuan suaminya.
'Yes, aku bisa membuktikan kepada Erlangga tanpa harus aku repot-repot memikirkan caranya agar bisa menundukkan dan membuat Aisyah jatuh cinta kepadaku.' (Andromeda)
"Baiklah. Aku tidak masalah harus melakukan semua tugas dan kewajiban aku sebagai suami. Aku juga akan belajar membuka hati ini untuk kamu. Karena kamu adalah wanita yang berhak untuk semua perasaan aku ini," ujar laki-laki itu yang kini membelai lembut pipi Aisyah yang merona.
"Ayo, kita membuka lembaran baru! Aku juga akan belajar untuk mencintai dirimu, Mas. Karena hanya laki-laki yang menjadi suami aku saja yang berhak untuk aku cintai," ucap Aisyah.
"Terima kasih, aku juga memutuskan hanya kamu yang akan selalu aku pikirkan saat ini," rayuan gombal Andromeda sudah mulai dia lancarkan dan itu membuat Aisyah tersipu malu.
Keduanya pun menghabiskan waktu di pagi hari dengan penuh senyum kebahagiaan. Aisyah membenarkan ucapan kakaknya kini. Kalau kebahagiaan itu bisa di dapat dengan mudah jika saling berbagi dengan pasangan.
***
Meski hubungan Aisyah dan Andromeda banyak kemajuan, tetapi mereka masih pergi ke kampus dengan kendaraan masing-masing. Mereka juga sudah merencanakan akan makan malam bersama, tetapi di rumah. Hal ini dikarenakan nasehat Ummi Mirna kalau perempuan hamil jangan berkeliaran di luar rumah ketika malam hari.
Aisyah tersenyum saat melihat suaminya memasak spaghetti pesanannya. Tubuh tinggi Andromeda dari belakang terlihat sangat kokoh dan rasanya dia ingin memeluk tubuh itu. Wanita itu pernah melihat Zahra memeluk Fatih yang sedang memasakan makanan untuknya dulu saat di rumah orang tuanya.
'Aku nggak menyangka akan mengalami juga di masakan makanan oleh suami.' (Aisyah)
__ADS_1
Tadi Aisyah ingin membantu, tetapi Andromeda melarang dan menyuruhnya duduk manis sambil menunggu matang makanannya. Wangi bumbu yang memenuhi ruangan itu membuat cacing yang ada di dalam perut wanita itu berdemo ingin segera makan.
Mata ibu hamil itu berbinar saat melihat satu piring spaghetti bolognese yang dihidangkan di depannya. Ternyata Andromeda membuatkan juga salad buah untuknya.
"Makan ini dulu!" Andromeda menyodorkan sebuah mangkok kecil salad yang berisi buah-buahan segar.
"Hmmm, enak sekali salad buah ini," puji Aisyah dan Andromeda hanya tersenyum tipis.
"Habiskan semua makanan yang ada di meja ini. Aku tidak mau kalau sampai bayi yang ada di perut kamu sampai kelaparan dan nanti terlahir kurang gizi," ujar Andromeda sambil menunjuk piring berisi spaghetti yang lumayan banyak.
"Ya, akan aku habiskan semuanya!" tukas Aisyah dengan senang hati.
Malam itu mereka makan sambil berbincang-bincang. Mungkin lebih tepatnya Aisyah yang bercerita dan Andromeda mendengarkan dan sesekali menimpalinya. Meski hanya sekitar satu jam dan berakhir ketika kumandang adzan yang menandakan masuknya waktu sholat isya, wanita itu merasa sangat bahagia. Setidaknya mereka tidak saling diam dan cuek satu sama lain.
Aisyah berbaring sambil menyentuh keningnya. Tadi sebelum dirinya masuk ke kamar, Andromeda mencium kening dan perutnya. Rasa bahagia lagi-lagi menguasai hati ibu hamil muda itu.
***
Andromeda mendatangi markas keamanan keluarga Hakim. Dia ingin menginterogasi juga Tarisa. Wanita itu bersikukuh diam tidak mau bicara sepatah kata pun sejak ditangkap oleh pasukan milik keluarganya Fatih.
"Katakan siapa yang sudah menyuruh kamu untuk memasukan obat itu ke dalam minuman Aisyah!" bentak Andromeda yang kesal karena mahasiswi itu diam saja tidak menjawab satu pun pertanyaan yang diajukan kepadanya.
"Aku rasanya ingin menginterogasi dirinya dengan menggunakan kekerasan saja. Hanya saja kami tidak diperbolehkan melakukan hal itu. Apalagi kepada warga sipil biasa," ucap salah satu pasukan keamanan yang ada di ruangan itu.
"Aku juga lebih suka menginterogasi seorang penjahat kelas berat atau kejahatan yang jelas-jelas jauh lebih besar dari hal ini," timpal yang lainnya.
Andromeda yang sedang kesal menerima panggilan dari Fatih. Lalu, dia pun menerima panggilan itu. Terjadi percakapan di antara mereka dan berakhir dengan laki-laki itu menjalankan apa yang sudah disarankan oleh kakak iparnya.
__ADS_1
"Ambilkan satu boks belatung yang ada di depan pintu!" pinta Andromeda kepada salah seorang pasukan keamanan yang bertubuh hampir sama dengan dirinya.
Mendengar kata belatung membuat Tarisa ketakutan. Wajahnya sudah pucat pasi seperti mayat. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Terlihat ada satu boks tertutup dan satu kontainer kosong di letakan di dekat Tarisa. Wanita itu sudah berderai air mata, apalagi saat kotak tertutup itu di buka dan memperlihatkan isinya yang berisi makhluk menjijikan berwarna putih tulang berjumlah ribuan dan bergerak menggerakan tubuhnya.
"Tidak! Aku kumohon jauhkan makhluk itu dari aku," pinta Tarisa dengan isak tangis.
"Kalau begitu katakan yang sejujurnya, siapa orang yang menyuruh kamu melakukan hal itu?" Andromeda menekan rahang wanita yang kini menangis ketakutan.
Tarisa masih saja menggelengkan kepala. Bertanda dia tidak mau mengatakan nama orang yang sudah menyuruhnya.
"Baiklah. Buka sepatu wanita ini biarkan dia bertelanjang kaki agar kulitnya bisa merasakan langsung sensasi bersentuhan secara langsung dengan makhluk kecil dan kenyal itu," ujar sang dosen killer dengan seringai jahatnya.
"Tidak, Pak. Aku mohon jangan. Aku takut!" pinta Tarisa yang kini isak tangisannya semakin kencang.
Namun, Andromeda tetap menyuruh orang untuk melakukan keinginannya itu. Dia mengabaikan suara teriakan ketakutan dari seorang wanita yang merupakan mahasiswi di kampusnya tempat dia mengajar.
Jeritan ketakutan Tarisa semakin membahana di ruangan itu ketika satu genggam belatung di masukan ke dalam kontainer yang sepasang kaki miliknya sudah berada di sana.
"Aaaaaa! Tidak. Aku mohon jangan lakukan itu." Kaki Tarisa yang berada di dalam kontainer itu bergerak berharap belatung-belatung yang menempel di kaki dan betisnya itu berjatuhan.
"Katakan siapa orang yang sudah menyuruh kamu. Atau aku akan tambah lagi belatung-belatungnya. Masih banyak, loh, makhluk lucu ini di dalam boks itu," bisik Andromeda sambil mengangkat dagu Tarisa dengan jari telunjuknya.
***
Apakah Tarisa akan memberi tahu orang yang memerintahkan dirinya untuk memberikan obat itu kepada Aisyah? Apakah Aisyah akan jatuh cinta kepada Andromeda? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1