Bidadari Yang Diabaikan

Bidadari Yang Diabaikan
Bab 40. Hati Yang Terluka


__ADS_3

Bab 40


"Siapa bilang aku sudah cinta sama Aisyah? Perasaan biasa saja. Tidak ada yang spesial dengan perasaan aku kepadanya. Aku sebagai seorang suami harus menyayangi, menjaga, dan melindungi Aisyah," aku Andromeda.


"Aku hanya menjalankan kewajiban kepadanya, karena dia berhak mendapatkan hal itu dari aku selama kami menjadi suami istri," lanjut Andromeda.


"Hati-hati dengan ucapan kamu Andro. Jangan sampai kamu termakan omongan sendiri. Mungkin saja samu terlambat menyadari perasaan cintamu untuk Aisyah. Lagian dia wanita baik dan pantas dijadikan sosok istri muslimah. Seharusnya kamu bersyukur bisa mendapatkan dia sebagai istrimu," tukas Erlangga mengingatkan sepupunya.


'Aisyah juga tidak cinta sama aku. Kenapa aku harus jatuh cinta kepadanya? Lagian jika bayi itu lahir, bisa saja Aisyah memilih kembali kepada kekasihnya itu. Aku tidak mau sampai harus mengalami sakit hati untuk yang kedua kalinya.' (Andromeda)


"Sudahlah bahas yang lain. Perasaan itu biar kami yang urus sendiri. Yang jelas kami bahagia menjalani kehidupan rumah tangga seperti saat ini," kilah Andromeda.


Aisyah menarik napas beberapa kali dan mengeluarkan lewat mulut. Setelah sudah bisa menguasai dirinya dia pun melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Di mana dua orang laki-laki sedang duduk di sofa yang saling berhadapan.


Andromeda tersenyum sambil menyuruh Aisyah duduk di sampingnya. Dia merangkul bahu Aisyah selama mereka berbicara di ruang Erlangga. Laki-laki itu tidak menyadari perubahan pada sang istri. Biasanya wanita itu selalu ikut mengimbangi pembicaraan mereka.


"Sudah sore aku harus segera pulang, kalau sampai terlambat nanti si Nyonya marah dan aku tidak diizinkan," ucap Erlangga sambil membereskan barangnya.


"Kami juga mau pulang sudah sore. Sayang, mau makan apa nanti?" tanya Andromeda sambil mengulurkan tangan kepada Aisyah.


"Terserah Mas saja," jawab Aisyah datar.


"Sepertinya sudah lama kita tidak membuat fetucini, kita buat itu saja, ya? Kebetulan bahan-bahannya ada di rumah," ucap Andromeda. Laki-laki itu kini lebih banyak bicara karena sudah terbawa oleh Aisyah yang selalu menyuruhnya bicara dengan jelas jangan singkat atau pendek.

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang Aisyah tidak banyak bicara. Hanya sesekali menjawab atau menanggapi obrolan suaminya. Itu juga sangat pendek, seperti iya, tidak, atau mungkin. Kini manusia irit bicara pindah pada ibu hamil ini.


Kondisi hati Aisyah terluka dalam dan sangat parah. Kata-kata Andromeda kembali terngiang-ngiang di kepalanya.


'Ternyata perasaannya untuk aku itu hanya bohongan. Dia sepertinya akan menganggap aku menjadi orang ketika kita memutuskan untuk berpisah nanti.'


'Aaa, i-ya. Surat perjanjian! Dulu dia memberikan itu kepada aku. Tapi aku tidak mau mendatanginya. Bodoh sekali aku! Kenapa baru ingat hal itu sekarang. Sejak awal 'kan Andromeda seperti ingin mengakhiri pernikahan ini. Ini bukanlah pernikahan yang diinginkannya. Setidaknya aku bisa merasakan perasaan bahagia walau hanya sebentar saja dalam menjalani biduk rumah tangga ini.'


Aisyah menatap ke arah luar jendela. Pohon-pohon dan bangunan-bangunan yang terlewati terlihat lebih menarik dari pada wajah Andromeda. 


Seperti rencana tadi Andromeda membuat fetucini untuk mengganjal perut mereka. Selain itu dia juga membuat salad buah yang menjadi kesukaan Aisyah sesuai resep dari Mentari. 


"Sayang, fetucini sudah selesai aku buat. Ayo, kita makan nanti keburu waktu Isya," panggil Andromeda sambil menata makanan di meja.


Laki-laki itu mengetuk pintu kamar milik Aisyah beberapa kali, tetapi tidak ada sahutan dari dalam. Maka, dia mendobrak pintu itu, takut terjadi sesuatu kepada sang istri.


"Aisyah? Aisyah?" panggil Andromeda.


Terdengar suara gemericik di dalam kamar mandi, itu membuat Andromeda tersenyum tipis.


Saat di membalikan badannya hendak keluar kamar, dia melihat amplop coklat berukuran besar. Biasanya dia tidak suka berbuat tidak sopan dengan membuka atau menyentuh barang milik orang lain. Namun, entah kenapa dia ingin membuka map itu. Betapa terkejutnya dia saat melihat isi map itu.


"Surat perjanjian?" gumam Andromeda dengan perasaan terkejut.

__ADS_1


Dia tahu betul surat perjanjian itu, karena dia yang membuatnya sendiri. Mata dia melebar saat melihat ada tanda tangan milik Aisyah di samping tanda tangan miliknya.


'Kenapa? Bukannya dia bilang tidak akan pernah mau menandatangani surat perjanjian ini. Lalu, kenapa di sini ada tanda tangan Aisyah. Apa sudah terjadi sesuatu kepadanya?' 


Ada perasaan tidak suka saat melihat lembaran kertas itu. Padahal dia sendiri yang membuatnya itu dulu. 


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini, Mas?" Aisyah yang baru saja keluar dari kamar mandi terlihat segar dan tercium wangi sabun yang dia pakai untuk mandi tadi.


Wanita itu melihat ditangan Andromeda ada amplop yang sudah dia tanda tangani tadi. Dada dia bergemuruh apa pun yang akan terjadi kedepannya dia harus siap. Jika memang harus bercerai, maka dia akan berusaha untuk hidup mandiri.


"A–isyah, ini …." Andromeda menatap lekat ke arah sang istri.


"Ya, aku tadi merapikan barang-barang dan menemukan surat perjanjian itu. Karena takut lupa aku akan menyimpannya di brankas," ujar Aisyah.


"A–isyah," panggil Andromeda gugup. Terselip ada perasa tidak suka.


"Ya, tenang saja. Jika bayi ini sudah lahir, kita akan urus surat perceraian," ucap Aisyah.


Mendadak perasaan Andromeda di sana itu hening tanpa suara dan gelap tanpa adanya cahaya. Sekilas dia merasa di dunia antah berantah setelah mendengar ucapan Aisyah.


***


Apa yang akan dilakukan oleh Andromeda? Akankah dia setuju dengan hal itu? Bagaimana mereka menjalani hari-hari menuju kelahiran dan akhir pernikahan mereka? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1



__ADS_2