
Bab 49
"Aku mencintaimu!"
Andromeda merasa waktu berhenti. Semua yang ada di sana mendadak hilang, hanya ada dirinya dan Aisyah. Laki-laki itu merasa kalau saat ini sedang entah berada di mana. Hanya mendengar dua kata yang keluar dari mulut sang istri membuatnya setengah gila.
"Aku juga sudah mencintaimu sejak lama, Mas. Tapi, saat mendengar pembicaraan kamu dengan Erlangga tempo hari yang mengatakan kalau kamu tidak mempunyai perasaan cinta kepadaku itu membuat aku sakit hati. Hati ini terasa hancur saat tahu apa yang semua kamu lakukan kepada aku itu bohongan, bukan tulus karena kamu mencintaiku dan ingin membahagiakan diriku. Rasanya dunia aku runtuh dan hampa. Aku marah, kecewa, dan benci kepadamu, Mas. Kenapa kamu tega berbuat begitu kepadaku tanpa memikirkan perasaan aku kepadamu," ucap Aisyah dengan tatapan sendu.
Andromeda merasa sangat bersalah kepada Aisyah. Dia memang bodoh. Hanya karena kesal selalu kalah oleh Alex dalam segala hal, membuatnya selalu sentimental kepadanya, bahkan hanya mendengar namanya saja sudah membuat kesal setengah mati. Waktu itu Erlangga menyebut nama kakak iparnya dan itu membuat dia kesal.
"Maafkan aku. Saat itu aku sedang emosi dan marah, karena nama Alex disebut-sebut oleh Erlangga. Apalagi dia memprediksi aku akan jatuh cinta kepada kamu sebelum bayi ini lahir dan memang benar begitu adanya, makanya aku kesal. Tapi, hal itu malah membuat kamu menjauh dari aku dan itu membuat hubungan kita merenggang," aku Andromeda dengan tatapan penyesalan.
"Semua itu salahku karena mudah emosi dan labil. Kenapa aku tidak menjadi orang yang jujur dengan perasaan sendiri. Tidak peduli itu akan memperlakukan diri sendiri atau menjadi bahan ghibah-an orang lain. Kalau aku cinta bilang saja aku cinta, kalau cemburu bilang saja aku cemburu. Karena kamu perempuan cerdas pasti akan dengan mudah memahami ucapan aku," lanjut Andromeda.
"Terima kasih sudah mencintaiku. Aku sangat senang sekali ternyata cinta aku tidak bertepuk sebelah tangan, aku mencintaimu, Mas," ucap Aisyah lagi.
"Terima kasih sudah mencintai diriku yang bodoh dan pencemburu ini," bisik Andromeda.
Keduanya saling melempar senyum dan berakhir dengan ciuman mesra. Baik Andromeda maupun Aisyah melupakan seseorang perawat yang sejak tadi berdiri di ujung brankar. Perawat itu menjadi saksi bisu untuk saat ini atas bersatunya cinta Aisyah dan Andromeda.
__ADS_1
'Ya Allah ini pasangan tidak sadar kalau ada aku sejak tadi berdiri di sini! Dosa apa aku sampai harus melihat kemesraan mereka ini. Nasib ngenes istri ditinggal suami kerja ke luar negeri.' (Perawat)
Setelah merasa puas meluapkan rasa kebahagiaan dengan ciuman itu, kedua sejoli ini saling melempar senyum terbaik mereka. Aisyah dan Andromeda lupa kalau saat ini mereka sedang berada di rumah sakit mau melahirkan. Bayi mereka juga diam saja tidak aktif bergerak seperti tadi.
"Nanti kita pergi bulan madu, ya!" ajak Andromeda.
Mendengar itu membuat Aisyah semakin bahagia. Selama ini mereka tidak pernah pergi liburan bersama. Bahkan dia membayangkan saat-saat menghabiskan waktu bersama di tempat yang indah.
"Eh, tunggu. Kalau kita pergi berbulan madu, lalu bayinya?" Aisyah mengelus perut yang sudah buncit ke bawah.
"Ya, dia bisa kita titipkan ke mama atau ummi," balas Andromeda.
"Astaghfirullahal'adzim. Nggak, Sayang. Kamu akan selalu bersama mama dan papa. Tenang saja," ucap Aisyah sambil mengusap-usap perutnya berharap sang anak diam tidak bergerak terus.
"Kenapa, Sayang? Adek bayinya marah?" tanya Andromeda panik dan ikut mengusap, lalu menciumi perut Aisyah.
"Iya, sepertinya dia ngambek karena akan ditinggal dan tidak diajak pergi berbulan madu," jawab Aisyah diikuti tawanya yang renyah.
"Hah, anak siapa ini? Gitu saja ngambek. Nak, kamu jangan mudah marah, ya? Jadi, anak yang baik dan penurut," kata Andromeda bicara sambil mengelus perut Aisyah.
__ADS_1
Keduanya tertawa karena pergerakan bayinya terhenti. Mereka pun menunggu dokter yang masih sibuk menyelamatkan nyawa ibu hamil lainnya di ruang operasi.
10 menit kemudian ....
Andromeda menyuruh perawat tadi untuk memanggil Dokter Sarah, karena Aisyah sudah mulai ingin mengejan. Keringat juga sudah membasahi sekujur tubuhnya.
"Sayang, tahan dulu? Dokternya belum datang," kata Andromeda mencoba menenangkan Aisyah.
"Tidak bisa ditahan! Memangnya apaan bisa ditahan. Anak ini ingin segera keluar dari dalam perut," balas Aisyah sambil mencengkeram kuat lengan Andromeda sampai lecet saking sakit yang luar biasa yang sedang dia rasakan.
"Iya, tapi ini dokternya belum ke sini. Apa aku gotong kamu ke ruang operasi itu?" Saking panik dan takut yang dirasakan oleh Andromeda saat ini membuat dirinya tidak bisa berpikir dengan benar.
"Mas!" Aisyah tanpa sadar mengejan dan menggigit lengan kokoh milik sang suami.
"Iya, tahan dulu! Dokter!" teriak Andromeda dengan menahan kesakitan.
***
Apakah kelahiran bayinya Aisyah bisa lancar dan selamat? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1