Bidadari Yang Diabaikan

Bidadari Yang Diabaikan
Bab 44. Cinta Bertepuk Sebelah Tangan


__ADS_3

Bab 44


"Aku meminta mama untuk menemani kamu hari ini. Tetapi, dia ingin kamu yang tinggal di sana sampai melahirkan. Aku tidak bisa memutuskan itu sendiri. Menurut kamu lebih baik bagaimana. Aku takut kalau kamu merasa ingin melahirkan tiba-tiba dan aku tidak sedang bersama kamu. Akan lebih baik kalau ada orang yang menemani kamu," kata Andromeda dengan tatapan mata yang sendu. 


Laki-laki itu bisa melihat mata Aisyah yang bengkak seperti habis menangis lama. Dia berharap kalau bukan dirinya yang menjadi sumber kesedihan sang istri.


"Aku akan minta ummi untuk menemani aku di sini. Bagaimanapun juga aku akan merasa lebih nyaman bersama ibu kandungku kalau ada apa-apa. Bukan berarti aku tidak suka atau sayang sama mama. Mas, pasti bisa memahami itu," balas Aisyah dengan suara yang sengau.


"Kapan ummi datang ke sini?" tanya Andromeda.


Entah sejak kapan kedua orang itu kini berdiri dengan jarak hanya beberapa sentimeter saja, bahkan perut buncit Aisyah menempel pada perut Andromeda. Padahal tadi jarak mereka sekitar 1 meter.


"Saat ini ummi sedang berada di rumah sakit. Dia berencana akan datang hari ini ke sini," jawab ibu hamil itu.


"Baguslah. Kalau ada apa-apa beri tahu aku secepatnya," kata Andromeda sambil menyerahkan tangannya.


Seperti biasa Aisyah akan mencium tangan suaminya ketika akan pergi kerja. Lalu, Andromeda akan mencium ubun-ubun dan bibirnya. 


Saat bagian tubuh yang memiliki struktur lembut dan kenyal itu menyatu, air mata Aisyah tidak bisa dibendung. Entah kenapa dia bisa menangis seperti itu. Wanita itu juga tidak mengerti.


Aisyah buru-buru menghapus cairan bening yang jatuh membasahi pipi saat membalikan badan. Dia tidak mau kalau Andromeda melihatnya, meski laki-laki itu sudah pasti bisa melihatnya.


'Apa kamu tidak mau dicium oleh aku, sampai menangis seperti itu?' (Andromeda)


"Maaf," ucap Andromeda lirih lalu pergi ke luar rumah dengan perasaan tidak menentu.


Aisyah melihat kepergian Andromeda lewat jendela dengan air mata yang kembali membasahi pipi chubby miliknya. 

__ADS_1


'Ternyata sakit sekali ketika rasa cinta kita bertepuk sebelah tangan dan hanya dimanfaatkan olehnya.' (Aisyah)


***


Seharian itu Andromeda merasa tidak semangat baik saat mengajar atau memasak. Selama ini sebesar atau seberat apapun masalah yang dia hadapi pasti akan teralihkan dan pikiran dia akan terasa ringan jika dia memasak. Dengan membuat masakan yang lezat bisa mengembalikan mood buruknya. Namun, permasalahan kali ini sangat berbeda. Selama ini dia mencoba berbagai cara agar Aisyah membatalkan keinginannya untuk bercerai.


"Tolong antarkan makan ini ke rumah!" perintah Andromeda kepada kurir yang biasa mengantarkan pesanan makanan dari pembeli yang memesan dari rumah mereka.


"Siap, bos!" 


"Pak, pesanan untuk acara ibu-ibu arisan apa sudah selesai? Katanya mereka ingin makan  segera dihidangkan saat ini," tanya salah seorang karyawan.


"Sudah kalian tinggal antarkan," jawab Andromeda.


Restoran Nusantara milik Andromeda juga tidak kalah laris dengan restoran Italia miliknya. Orang-orang yang pernah mencoba masakan buatan laki-laki itu sering ketagihan. Tidak jarang dari mereka memesan makanan yang dibuatkan langsung oleh pemiliknya sendiri


"Baik, akan aku siapkan semua pesanan mereka," sahut Andromeda memasang kembali apronnya.


Karyawan-karyawan di sana merasa ada perubahan pada diri sang pemilik restoran. Seharian itu Andromeda hampir tidak bicara sama sekali. Bahkan terlihat tidak fokus dengan tidak mendengar panggilan untuknya.


"Si Bos sepertinya sedang bertengkar dengan istrinya. Jadi, seperti itu," bisik salah seorang karyawan dan dibenarkan oleh yang lain.


"Padahal sudah bagus Si Bos banyak berubah menjadi lebih baik setelah menikah. Sepertinya kali ini ada masalah serius yang menimpa mereka," lanjut yang lainnya.


"Apa jangan-jangan Si Bos tidak diberi jatah oleh istrinya, karena sedang hamil besar. Jadinya seperti itu," tukas karyawan yang pertama kali bicara.


"Bisa jadi. Duh, betapa beruntungnya wanita itu bisa menjadi istri seorang Andromeda," lanjutnya lagi.

__ADS_1


Andromeda mendengar ocehan para karyawan restoran yang sedang memotong-motong bahan dan mengupas bumbu. Namun, dia membiarkan mereka. Saat ini tubuh dia merasa aneh seakan mulutnya itu rapat dan sulit untuk dibuka. 


'Terserah kalian! Suka-suka kalian mau bicara apa.' (Andromeda)


***


Aisyah saat ini merasa dilema. Ingin pergi dari rumah untuk menemui teman kuliahnya. Semenjak wisuda kemarin, dia tidak pernah bertemu lagi dengan teman-teman baiknya. Apalagi keadaan dia yang kini sedang hamil besar tidak memungkinkan untuk dia bepergian jauh.


"Ada apa?" tanya ummi yang baru saja selesai membersihkan piring bekas makan mereka.


"Rindu sama teman-teman, Ummi. Belakangan ini mereka agak aneh. Beberapa teman seperti menjauhi aku dan kita benar-benar kehilangan kontak. Nomor mereka tidak aktif dan akun media sosial milik mereka juga sudah sangat lama tidak aktif lagi. Padahal Renata itu teman aku yang paling narsis dan suka sekali berfoto. Terlalu aneh jika dia tidak aktif di semua sosial media miliknya," jawab Aisyah.


Sebenarnya ummi tahu apa yang sudah terjadi sama teman-temannya Aisyah itu. Namun, dia memilih diam saja sesuai permintaan Andromeda. Laki-laki itu tidak mau melukai hati dan memberikan beban pikiran kepada Aisyah gara-gara kasus temannya.


"Sebaiknya kamu pikirkan saja keadaan kehamilan kamu saat ini. Jangan membuat suami selalu mengkhawatirkan kamu," kata Ummi Mirna. 


Andromeda hampir 30 menit sekali menanyakan keadaan Aisyah melalui mertuanya. Dia selalu bilang tidak tenang meninggalkan Aisyah, tanpa tahu keadaannya saat ini.


'Khawatir? Entahlah aku tidak tahu kapan dia jujur dan kapan dia berbohong.'


'Dia itu suka membuat perasaan aku melambung tinggi ke angkasa dan dalam sekejap menghempaskan ke dasar bumi.' (Aisyah)


***


😭 lupa mau nulis apa buat bab berikutnya. Pokonya antara suka dan suka. Eh, senang atau sedih, ya 🤔🤔. Pokoknya gitu, deh. Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_1


__ADS_2