Bidadari Yang Diabaikan

Bidadari Yang Diabaikan
Bab 63. Menemani Zahra


__ADS_3

Bab 63


Ketika Aisyah dan Malika bermain di depan rumah, terdengar Wulan berteriak memanggil sambil berlari dengan handphone di tangan kanan dan dot di tangan kiri. Wajah gadis ibu terlihat pucat.


"Bu, tadi Bu Mentari menelepon katanya kondisi Bu Zahra sekarang dalam keadaan kritis. Dia meminta Ibu untuk menelepon balik," kata Wulan napasnya terengah-engah setelah menerima panggilan di telepon rumah tadi.


"Subhanallah, Ya Allah semoga Kak Zahra bisa segera pulih," gumam Aisyah sambil mencari kontak Mentari.


Keluarga Fatih meminta semua keluarga besar Zahra, teman-temannya, dan beberapa anak yatim piatu dari panti asuhan berkumpul di villa mewah milik keluarga Fatih. Mereka mengarahkan beberapa helikopter untuk membawa semua tamu Zahra. 


Aisyah menangis tiada hanti saat melihat kondisi sang kakak. Wajah pucat, tubuh kurus, dan tidak ada senyum manis yang biasa menghiasi wajahnya.


"Kak, mungkin aku egois kalau berharap Allah memberikan waktu sedikit lagi kepada kakak agar bisa melihat anak kedua aku. Aku merasa bersalah selalu mendoakan agar kakak diberi umur yang panjang. Sementara Kakak sendiri terus menahan rasa sakit yang menggerogoti tubuh lemahnya ini," ucap Aisyah sambil terisak dan memegang sebelah tangannya.


"Jaga anak-anak kamu, Aisyah." Zahra yang berada dalam pelukan Fatih bicara dengan pelan.


"Zahra berharap kamu bisa menjaga Malika dan calon bayi yang masih berada di dalam kandungan itu. Zahra akan senang jika kedua keponakannya tumbuh sehat dan kuat," jelas Fatih memahami maksud sang istri.


"Tentu saja, Kak. Aku akan menjadikan mereka anak-anak yang hebat dan bisa dibanggakan oleh semua orang," balas Aisyah yang tangisannya semakin tergugu.


Selama di villa Aisyah ikut serta mendampingi Zahra. Orang-orang terdekatnya bergiliran menemui wanita itu. Malika menyukai pertemuan keluarga Hakim. Banyak anak-anak kecil dan batita di sana.

__ADS_1


Di saat Aisyah menunggui Zahra, Malika yang di asuh oleh Wulan akan ikut berkumpul bersama Mentari dan Cantika beserta anak-anak mereka yang seumuran. 


"Ini anaknya Kak Andro?" tanya Ghazali saat melihat Malika.


"Yap … Yap." Malika mengangkat kedua tangannya ingin digendong oleh adiknya Fatih. Pemuda itu pun lantas menggendongnya dan membuat Malika tertawa senang.


"Aaaaaa! Om … Om." Rayyan anak Mentari marah melihat pamannya mengendong orang lain.


"Raya cemburu, ya? Malika senangkan digendong sama Om Ghaza?" ucap Ghazali sambil mengangkat tinggi-tinggi Malika dan membuat bocah itu tertawa senang.


Aisyah yang baru saja turun dari lantai atas tersenyum senang karena Malika begitu disayang oleh keluarga dari pihak suami kakaknya. Dia pun ikut duduk bersama Cantika yang sedang memperhatikan anaknya yang kembar dua—Shine dan Sky—yang sedang aktif-aktifnya.


"Mau tiga bulan," jawab Cantika sambil membelai kepala putranya.


"Sepertinya wajah Rain dominan mirip Kakak. Berbeda dengan kakak-kakaknya yang mirip Kak Alex," ucap Aisyah.


"Sengaja. Aku dulu sering kesal ketika melihat wajah-wajah anak aku sendiri. Kenapa semua mirip bapaknya tidak ada yang mirip seperti aku. Makanya aku bilang sama Alex, selagi belum bisa mencetak anak yang wajahnya mirip dengan aku, maka aku akan terus membuat anak," ujar Cantika sambil tertawa kecil dan Aisyah ikut tertawa lepas.


"Aku juga sama, bilang ke Mas Fatih kalau anak dalam kandungan aku kali ini wajahnya harus mirip dengan aku. Jika masih mirip dengannya atau perpaduan kita berdua, maka aku ingin punya anak lagi," lanjut Mentari.


"Tunggu! Kak Mentari juga sedang hamil lagi?" tanya Aisyah terkejut karena merasa tidak percaya.

__ADS_1


Usia Raihan dan Rayyan terpaut 2 hari dengan Malika. Lalu saat ini ibu mereka sama-sama sedang hamil.


"Insha Allah, karena baru di tes pack belum ke dokter," jawab Mentari dengan senyum tipis sambil mengusap perutnya (aku lupa dulu Mentari tahu hamilnya gimana 😄 karena Zahra keburu meninggal sebelum diberitahu)


"Alhamdulillah, aku ada teman. Aku kemarin sempat takut karena usia anakku baru 6 bulan dan aku sudah hamil lagi," ujar Aisyah dengan mata berbinar.


"Fatih dan Andro hebat juga, ya. Bisa cepat berhasil dalam mencetak calon bayi. Satu setengah tahun juga belum kalian menikah sudah 2 kali hamil," goda Cantika dan sukses membuat kedua wanita itu malu.


Ketika ketiga ibu muda itu sedang berbincang mengenai perkembangan anak-anak mereka dan calon buah hati yang mulai tumbuh berkembang di dalam rahim, terdengar suara teriakan Bintang yang sangat nyaring. Mereka pun berlari ke arah putri dari pasangan Cantika dan Alex.


"Ada apa, Bintang?" tanya Cantika.


Aisyah menggendong Malika yang sedang menangis kencang seperti orang ketakutan. Dia menatap ke arah Wulan ingin tahu apa yang sudah terjadi.


"Siapa wanita itu? Dari tadi terus menatap ke arah Om Ghaza dan berusaha menggodanya. Bintang tidak suka! Om Ghaza milik Bintang!" Bocah yang baru akan beranjak remaja itu marah sambil memeluk tubuh Ghazali.


Aisyah kini menatap ke arah sang pengasuh bayinya. Wulan hanya menundukkan kepala.


***


Apa yang sedang terjadi di sana? Benarkah Wulan menggoda Ghazali? Bagaimana tanggapan Aisyah? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2