Bidadari Yang Diabaikan

Bidadari Yang Diabaikan
Bab 42. Ciuman Di Depan Mantan


__ADS_3

Bab 42


Kesehatan Zahra semakin memburuk. Bahkan dia kini dirawat diruang khusus. Asiyah ingin menjenguk kakaknya tapi tidak diperbolehkan. Sedih saat mendengar keadaan saudara sendiri dalam keadaan hidup dan mati, tetapi kamu tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kamu tidak boleh terlalu lelah, ingat persiapkan saja diri kamu untuk lahiran," kata Ummi Mirna saat Aisyah merengek ingin menjenguk kakaknya saat sudah sampai di rumah sakit.


"Tapi, Ummi … sebentar saja," kata Aisyah.


"Jangan kamu, Ummi saja tidak bisa masuk ke sana. Hanya Fatih yang boleh masuk dan menunggui Zahra," ujar Ummi Mirna.


"Aisyah, sebaiknya kamu pulang dan istirahat saja. Ayo, Abah antar pulang!" ajak Abah Ahmad.


Aisyah tahu kedua orang tuanya juga baru datang ke sana setelah perjalanan cukup jauh dan pasti mereka lelah. Dia tidak mau kalau kedua orang tuanya sakit karena kelelahan.


"Aisyah bisa pulang sendiri, Abah. Sampaikan salam aku sama kakak jika dia sudah sadar," ucap Aisyah sambil memegang dan mencium tangan laki-laki tua itu.


"Baiklah, kamu juga harus hati-hati," balas Abah Ahmad.


Saat Aisyah berjalan di koridor rumah sakit dia bertemu dengan Ustadz Syakir dan Syakira. Ternyata ibu mereka sedang di rawat di rumah sakit itu.


"Aisyah, perut kamu sudah sangat besar, ya?" Syakira memegang perut Aisyah.


"Iya, ini sudah masuk bulan ke-9. Mungkin sekitar 7 sampai 10 hari lagi, menuju hari lahiran," balas Aisyah dengan tangan yang ikut mengelus perutnya.


"Semoga kamu dan bayimu saat lahiran nanti bisa berjalan lancar, sehingga kalian berdua selamat dan sehat," ucap Ustadz Syakir dengan tulus.

__ADS_1


"Aamiin," balas Aisyah dengan pelan.


Saat Aisyah di parkiran dia baru sadar kalau tadi menyetir sendiri ke rumah sakit. Saking panik dan terkejutnya dia saat tahu kalau kakaknya masuk ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Ya Allah, semoga bisa sampai ke rumah," gumam Aisyah ketika membuka pintu kemudi.


"Tunggu, Aisyah! Kamu mau menyetir dalam keadaan perut besar seperti ini? Ini terlalu beresiko. Apalagi saat ini kamu sedang memasuki waktu lahiran. Bagaimana jika kamu tiba-tiba merasa mau melahirkan? Sudah, sini biar aku yang menyetir." Ustadz Syakir berubah menjadi orang yang cerewet dan suka mengomel jika melihat Aisyah melakukan sesuatu hal yang bisa membahayakan dirinya.


Rasanya Aisyah senang melihat mantannya itu kembali menjadi orang yang dia kenal. Bukan laki-laki yang pendiam dan seolah tidak peduli kepadanya.


Ustadz Syakir pun berjalan ke arah pintu penumpang dan membukakannya untuk Aisyah. Lalu, dia berlari ke pintu di sisi satunya lagi. Laki-laki itu pun memasangkan sabuk pengaman pada Aisyah. Saat ini jarak keduanya sangat dekat. Kalau dari kejauhan mereka seperti sedang berciuman.


Tanpa keduanya tahu kalau ada Andromeda di sana. Laki-laki itu baru saja sampai ke parkiran rumah sakit. Saat dia pulang ke rumah, Aisyah tidak ada. Maka dia pun mencari keberadaan sang istri dan titik GPS menunjukan kalau wanita itu sedang berada di Rumah Sakit Harapan, milik keluarga Hakim.


Andromeda menyangka kalau Aisyah sedang berjuang melahirkan dan keadaannya gawat sampai dibawa ke rumah sakit milik keluarga Fatih. Namun, saat dia baru sampai di sana yang dilihatnya adalah pemandangan yang membuat dia marah.


***


Andromeda mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi sehingga dia lebih dulu sampai ke rumah. Dia berdiri di pekarangan rumah sambil bersandar pada mobil. Laki-laki itu menunggu sang istri pulang.


Begitu mobil antik itu sampai, Andromeda berjalan mendekat.


Tentu saja Ustadz Syakir memberhentikan dan segera keluar dari mobil. Begitu juga dengan Aisyah yang segera turun, karena tidak mau kalau sampai terjadi keributan antara suami dan mantannya. Jelas terlihat ekspresi wajah Andromeda yang sedang marah.


"Assalamualaikum," salam Ustadz Syakir kepada Andromeda.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam," balas Andromeda datar dengan raut muka yang terkesan tidak bersahabat.


"Mas—"


Andromeda mencium bibir Aisyah di depan Ustadz Syakir. Bahkan ciuman itu menuntut dan dia tidak mau melepaskan sesuatu yang lembut dan kenyal itu. Dia sengaja melakukan itu untuk menghapus jejak Ustadz Syakir di bibir Aisyah. Laki-laki ini sudah salah paham, mengira tadi sang istri sudah berciuman dengan mantannya. Selain itu, dia juga ingin memberi tahu wanita itu kalau ciuman dirinya adalah yang terbaik.


'Aku tidak akan melepaskan kamu, Aisyah!' (Andromeda)


Ustadz Syakir menundukan kepala tidak mau melihat sesuatu yang membuatnya sakit hati. Sebenarnya kalau bisa dia ingin langsung pergi saja saat melihat Andromeda mencium bibir pujaan hatinya. Dia mengira kalau laki-laki itu hanya akan memberikan ciuman ringan pada Aisyah, ternyata dia salah. Apa yang dia lihat saat ini membuat dirinya semakin cemburu.


Aisyah berulang kali ingin melepaskan ciuman Andromeda. Akan tetapi, kekuatan tangan laki-laki itu sangat kuat dan dia tidak bisa melepaskan diri. Setiap tautan mereka terlepas, maka detik berikutnya dia akan mencium lagi. Kalau dulu dia akan membalas ciuman itu dengan senang hati. Namun, sekarang dia tidak mau membalas ciumannya.


"Lepaskan, sesak napas aku! Kamu mau membunuh aku?" Aisyah menginjak kuat kaki Andromeda, sehingga laki-laki itu mengerang kesakitan.


"Sayang, ayo, kita masuk ke rumah! Bukannya semalam kamu bilang ingin aku masakan spaghetti," ucap Andromeda merangkul Aisyah dengan senyum lebarnya. Kaki dia sebenarnya masih sakit dan berdenyut-denyut, tetapi tidak mau menunjukan hal itu. Apalagi ada saingan cintanya di sana.


"Akang Syakir, masuk dulu ke rumah!" ajak Aisyah dengan sengaja. Dia ingin membuat Andromeda tidak semena-mena kepadanya nanti saat masuk ke rumah.


"Terima kasih, Aisyah. Aku—"


"Terima kasih, Ustadz sudah mengantarkan istriku ke rumah. Kapan-kapan mampirlah ke sini jika punya waktu," potong Andromeda. Dia mengusir secara halus pada laki-laki yang sudah membantu Aisyah.


***


Apakah Ustadz Syakir akan pergi atau bertahan? Dengan cara apalagi Andromeda meluluhkan hati Aisyah? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1



__ADS_2