Bidadari Yang Diabaikan

Bidadari Yang Diabaikan
Bab 45. Aisyah Melahirkan (1)


__ADS_3

Bab 45


Setiap malam tanpa Aisyah sadari kalau Andromeda tidur di kamarnya. Baik di atas kasur atau di kursi sambil bersandar ke tempat tidur.


Akan tetapi, malam ini wanita itu terbangun di tengah malam. Dia melihat ada suaminya yang tertidur sambil duduk di kursi dekat dirinya.


Aisyah hanya bisa menatapnya dalam diam. Sebenarnya dia ingin menyentuh lengan kokoh dan wajah rupawan milik suaminya. Namun, dia takut hal itu akan membangunkan laki-laki itu. 


'Tidak adakah rasa cintamu untukku, Mas? Apa tidak ada satu hal dalam diriku yang membuat kamu jatuh cinta kepadaku? Kamu curang, Mas! Kamu berhasil mencuri hatiku, tetapi tidak sedikit pun hatimu diberikan kepadaku.'  (Aisyah)


Lagi-lagi Aisyah meneteskan air matanya. Semenjak dia berurusan dengan Andromeda, air mata dari netra jernih miliknya itu selalu menghasilkan banyak cairan bening. Baik itu air mata kesedihan atau air mata kebahagiaan.


Aisyah buru-buru menutup matanya saat melihat adanya pergerakan dari Andromeda. Lalu, yang dia rasakan adalah sang suami membetulkan letak selimut, kemudian mencium kening dan pipinya.


Jantung Aisyah berdetak kencang. Entah kenapa dia merasa senang dengan perbuatan suaminya ini. Bahkan dia berharap kalau Andromeda pindah tidur ke ranjang dan mereka akan tidur sambil berpelukan seperti dahulu saat mereka tidur bersama.


Aisyah merasa ranjangnya berderit menandakan Andromeda naik ke atas kasurnya. Lalu, dia juga merasa kalau laki-laki itu mengusap perutnya dengan lembut dan menciuminya beberapa kali.


"Semoga saat kamu lahir nanti bisa keluar dengan lancar. Jangan mempersulit mempersulit mama kamu, ya, Sayang!"


Hati Aisyah berdesir mendengar ucapan Andromeda. Dia kesal sendiri karena tidak bisa membuat laki-laki itu jatuh cinta kepadanya.


'Hati kami itu terbuat dari apa, sih, Mas! Apa perhatianku, sikapku, dan di tidak ada yang berkenan di hatimu.' (Aisyah)


***

__ADS_1


Keesokan harinya Andromeda berdiam di rumah untuk menjaga sang istri . Apalagi ibu mertuanya ingin menjenguk Zahra yang masih berada di rumah sakit. 


Dia melihat kalender ada tanggal yang dilingkari oleh pensil berwarna merah. Itu adalah tanggal yang diperkirakan oleh dokter untuk kelahiran putri mereka.


"Bukannya ini tanggal hari ini?" Andromeda pun mendatangi Aisyah di kamarnya.


Terlihat wanita itu sedang tertidur di atas kasur empuknya. Lalu, Andromeda mengelus perut buncit itu.


"Innii u'iidzuhaa bila wadzurriyyatahaa minasy syaithaanirrajiim." (Aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk).


Andromeda mencium kembali perut Aisyah. Ditatapnya wajah perempuan yang selalu mengacaukan pikiran dia beberapa bulan belakangan ini karena perubahan sikapnya. Digenggam tangan Aisyah dengan lembut dan dikecupnya perlahan.


"Semoga saat lahiran nanti bisa lancar dan kalian berdua sehat serta selamat. Aku tidak mau sampai kehilangan kalian berdua," lirih Andromeda.


Andromeda memantau kegiatan di restoran lewat kamera cctv yang tersambung ke laptop miliknya. Meski dari rumah dia masih bisa mengetahui keadaan tempat usahanya.


"Aisyah, kenapa? Mana yang sakit?" tanya Andromeda panik, tetapi masih bisa mengendalikan diri.


"Perutku, Mas! Sakit sekali," balad Aisyah yang rintih kesakitan.


Andromeda memegang dan mengelus perut Aisyah. Dia membacakan doa agar rasa sakit itu menghilang atau berkurang.


Allâhumma-ḫfadh waladî mâ dâma fî bathni zaujatî wa-syfihi antasy-syâfi lâ syifâ’an illâ syifâuka syifâ’an lâ yughâdiru saqaman. Allâhumma shawwirhu fî bathni zaujatî shûratan ḫasanatan wa tsabbit qalbahu îmânan bika wa bi rasûlika. Allâhumma akhrijhu mim bathni zaujatî waqta wilâdatihâ sahlan wa taslîman. Allâhumma ij‘alhu shahîhan kâmilan wa ‘âqilan ḫâdziqan ‘âliman ‘âmilan. Allâhumma thawwil ‘umrahu wa shahhih jasadahu wa ḫassin khuluqahu wa afshah lisânahu wa aḫsin shautahu li qirâ-atil hadîtsi wal qur’ânil ‘adhîm bi barakati Muhammadin shallallâhu ‘alaihi wasallam. Walhamdulillâhi Rabbil ‘âlamîn.


("Ya Allah, jagalah anakku selama ia berada dalam perut istriku, sehatkan ia, sesungguhnya Engkau Yang Maha Menyehatkan, tak ada kesehatan kecuali kesehatan dari-Mu, kesehatan yang tak terganggu penyakit. Ya Allah, bentuk ia yang ada di perut istriku dalam rupa yang baik, tetapkan dalam hatinya keimanan pada-Mu pada Rasul-Mu. Ya Allah, keluarkan dia dari perut istriku pada saat kelahirannya secara mudah dan selamat. Ya Allah, jadikan ia utuh, sempurna, berakal, cerdas, berilmu, dan beramal. Ya Allah, panjangkan umurnya, sehatkan jasadnya, baguskan rupanya, dan fasihkan lisannya untuk membaca hadis dan Al-Qur’an Yang Agung, dengan berkah Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh keberadaan.")

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit, sekarang! Mungkin saja kamu akan melahirkan," kata Andromeda mengajak Aisyah sambil membopong tubuh ibu hamil itu.


Aisyah yang mengalungkan kedua tangannya pada leher Andromeda, sesekali menjambak rambut suaminya jika gelombang rasa sakit itu datang. Bahkan saat Aisyah didudukan di kursi penumpang, dia mencengkeram kuat lengan suaminya seakan tidak mau lepas.


"Tenangkan dirimu Aisyah. Semua akan baik-baik saja. Berdoalah dan meminta kemudahan kepada Allah saat melahirkan nanti," ucap Andromeda dengan pelan dan wanita itu menurut.


Selama dalam perjalanan itu keduanya tidak berhenti berdoa dan berdzikir. Andromeda merasa kasihan saat melihat keadaan Aisyah yang hendak melahirkan. Istrinya itu mengerang, berteriak tertahan, dan berderai air mata.


Untungnya dokter kandungan sudah bersiap untuk lahiran hari ini. Ruangan khusus untuk keluarga pemilik rumah sakit pun kini sudah dalam keadaan siap digunakan. 


"Ini sudah pembukaan keenam," ucap Dokter Sarah.


"Jadi, kapan istriku akan melahirkan?" tanya Andromeda. 


Sesuatu yang jelas-jelas tidak perlu dipertanyakan. Jika, kepanikan melanda orang lemah bisa menjadi kuat, sebaliknya juga orang cerdas mendadak menjadi bodoh.


"Kemungkinan besar hari ini. Sebaiknya Bu Aisyah berjalan-jalan di ruangan ini atau di sekitar sini, agar membantu mempercepat proses pembukaan," ucap Dokter Sarah sambil tersenyum tipis.


"Kenapa juga istri aku harus berjalan-jalan di luar kamar? Bagaimana kalau nanti tiba-tiba saja Aisyah mengejan ingin melahirkan?" tanya Andromeda lagi kepada dokter ahli kandungan .


Berjalan-jalan di kamar vvip itu yang dipilih oleh Aisyah. Dia melakukan hal itu agar Andromeda diam. Sejak dia merasa mulas tadi, laki-laki itu menjadi sangat cerewet.


***


Apakah Aisyah dan bayi mereka bisa selamat? Lalu, bagaimana dengan hubungan suami istri mereka? Akankah bercerai? Tunggu kelanjutannya, ya!"

__ADS_1



__ADS_2