
Bab 52
Suara tangisan Malika masih terdengar memenuhi ruang itu. Berbeda dengan tangisan Andromeda yang tidak terdengar suaranya. Hanya air mata saja yang terlihat membasahi pipi tiada henti.
Kata-kata cinta yang sayang dia lantunkan kepada Aisyah, mengiringi suara tangisan sang putri. Sudah sepuluh menit bayi perempuan itu menangis di dada ibunya. Tentu saja ini membuat Andromeda takut menjadi hal yang buruk untuk sang buah hati.
"Sayang, kamu tidak kasihan kepada putri kita? Dia memanggil kamu. Dia ingin melihat senyuman kamu yang menawan itu," ucap Andromeda sambil mengusap wajah Malika dengan menggunakan jari telunjuknya.
Andromeda merasa ada pergerakan dari mata dan jari Aisyah. Tentu saja itu membuat dia senang.
"Papa, Aisyah memberikan respon!" teriak Andromeda senang.
Papa Sakti dan Dokter Sarah langsung memeriksa keadaan Aisyah. Sementara itu Malika digendong kembali oleh Andromeda. Bayi itu kini terdiam dan tertidur begitu berada di dekapan sang ayah.
"Semua dalam keadaan normal saat ini," ucap Dokter Sarah diiringi helaan napas yang merasa lega.
"Papa tahu kamu wanita yang hebat Aisyah. Papa bangga!" aku Papa Sakti dengan perasaan penuh haru.
Mama Venus memeluk tubuh suaminya. Ada perasaan sedikit lega. Tinggal berharap sang menantu membuka matanya.
Andromeda kembali meletakan Malika di atas perut dan dada Aisyah. Kedua orang yang dicintainya itu terlihat seperti sedang tertidur pulas. Maka, dia pun ikut naik ke atas ranjang pasien dan berbaring sambil memeluk mereka.
'Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada kami. Jadikanlah keluarga kami termasuk ke dalam golongan yang menegakkan jalan-Mu yang lurus. Aku tahu begitu banyak dosa yang aku lakukan dalam hidup ini. Aku berharap bisa banyak meraih pahala bersama dengan keluarga kecilku ini. Agar kelak di akhirat bisa ditempatkan di sisi-Mu, bersama dengan hamba-hamba yang Engkau cintai.' (Andromeda)
Andromeda membacakan doa yang sering dia dengar dari mulut Aisyah. Dia baru menyadari sekarang kalau wanita itu sejak dulu memang ingin selalu bersama dengan dirinya. Bukan hanya di dunia saja, tetapi ingin bersama sampai nanti di akhirat.
***
Papa Sakti, Mama Venus, Dokter Sarah, dan dua orang suster mereka duduk di sofa dan kursi. Mereka melihat sebuah keluarga kecil yang sedang tertidur pulas dalam pelukan sang pemimpin keluarga.
Mereka terus memantau perkembangan Aisyah. Untungnya kondisi Malika sangat bagus dan sehat.
Tidak berapa lama kemudian terlihat ada pergerakan dari tangan Aisyah yang kini ikut memeluk tubuh Malika. Tentu saja melihat itu Papa Sakti senang dan membangunkan Andromeda.
__ADS_1
Senyum bahagia menghiasi wajah tampan papa muda itu. Dia kemudian mencium kening Aisyah dan memanggil namanya dengan penuh perasaan sayang.
Kelopak mata Aisyah perlahan terbuka. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah Andromeda yang terlihat cemas, tetapi tersenyum ke arahnya. Lalu, penglihatannya terarah kepada bayi yang ada di atas tubuhnya.
"Mas," panggil Aisyah dengan sangat pelan, tetapi Andromeda masih bisa mendengarnya.
"Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah, sudah mengembalikan Aisyah kepada kami," ucap Andromeda dengan tangis haru dan bahagia.
Tangis Malika kembali terdengar. Namun, tidak sekeras tadi. Naluri Aisyah sebagai seorang ibu membuatnya mengelus bayi mungil itu dan tangisan itu pun terhenti.
"Sayang, lihat putri kita ini! Dia sejak tadi menangis memangil kamu. Dia ingin kamu memerhatikan dirinya," ucap Andromeda dengan nada menggoda sang istri dan itu membuat Aisyah tersenyum lembut.
***
Kabar Aisyah yang melahirkan membuat kedua orang tuanya senang. Mereka langsung datang begitu mendengar hal itu. Abah dan Ummi belum tahu kalau Aisyah sempat koma selama 2 jam, tadi.
"Ya Allah, tapi kamu sekarang baik-baik saja, 'kan?" tanya Ummi dengan tangannya yang mulai berkeriput mengusap wajah Aisyah dengan penuh sayang.
"Alhamdulillah, baik. Untung aku punya suami dan mertua yang selalu memberikan dukungan dan melakukan yang terbaik untuk aku dan Malika," ucap Aisyah sambil tersenyum senang.
"Kok, namanya kayak nama kedelai hitam yang ada di iklan tv," ujar Ummi Mirna sambil mengerutkan keningnya.
"Kenapa tidak Malayka saja?" lanjut wanita paruh baya itu.
"Karena, kata author itu sudah dipakai buat di novel barunya nanti," timpal Aisyah.
"Ya, sudah. Kepanjangannya apa? Cucu Ummi sangat cantik, jadi, kamu juga harus memberi nama yang cantik," tanya Ummi Mirna dengan mata melirik ke arah bayi perempuan yang sedang tidur di samping Aisyah.
"Malika Ashana Wijaya," jawab Aisyah.
***
Kini satu minggu sudah berlalu. Sekarang akan diadakan acara aqiqah untuk Malika. Banyak yang hadir di sana, kecuali keluarga Fatih. Zahra masih dirawat di rumah sakit dan Mentari juga masih dalam pemulihan setelah melahirkan bayi prematur.
__ADS_1
Ustadz Syakir dan Syakira datang ke sana untuk mendoakan bayinya Aisyah.
Tanpa seorang pun yang tahu kalau Syakira dan Galaksi diam-diam saling suka, tetapi mereka belum mengungkapkan perasaan. Hanya saja Aisyah melihat tatapan sahabatnya kepada adik ipar terlihat berbeda. Pancaran mata Syakira saat melihat Galaksi sangat terlihat jelas kalau dia menyukainya. Begitu juga sebaliknya dengan anak kedua dari pasangan Papa Sakti dan Mama Venus, terlihat berbinar sorot matanya saat melihat ke arah adiknya Ustadz Syakir.
"Eh, Si Cantik pipis," ucap Syakira ketika menggendong Malika dan itu membuat Aisyah tertawa. Gamis dia pun basah.
"Cantiknya mama sudah membuat baju Tante Syakira bau ompol," ucap Aisyah dan di balas tawa oleh bayi mungil yang sering dipanggil 'Si Cantik' atau 'Cantik'.
"Gimana ini?" Syakira melihat gamis dan jilbabnya basah meski tidak berbau Pesing, karena Aisyah menjaga makannya.
"Kamu pakai baju aku saja dulu, aku ambilkan," kata Aisyah lalu beranjak dari sofa.
"Biar mama saja yang ambilkan bajunya, sekalian Cantik biar mama yang urus. Itu masih banyak tamu, kamu temui mereka," ucap Mama Venus sambil mengambil Malika dari gendongan Aisyah.
Mama Venus pun mengajak Syakira ke kamar Aisyah yang ada di samping anak tangga. Dia mengambilkan satu set gamis dengan khimar-nya untuk dipakai Syakira.
"Eh, Aisyah biasanya menyimpan stok diapers di kamarnya. Di mana, ya?" Mama Venus mencari popok sekali pakai milik Malika yang kadang di sediakan di kamar milik Aisyah agar sewaktu-waktu tidak perlu ke kamar bayinya.
Mama Venus membuka beberapa laci yang ada di lari atau nakas yang ada di kamar itu. Semuanya dia buka satu persatu. Saat dia membuka salah satu laci di meja riasnya dia menemukan selembar kertas surat perjanjian yang dibuat oleh Andromeda dan sudah ada tanda tangan mereka berdua.
"Apa ini?" Mata perempuan paruh baya itu terbelalak melihat isi dari surat perjanjian.
"Ada apa, Ma? Itu Si Cantik kenapa tidak pakai popok?" tanya Papa Sakti sambil mendekati sang istri.
Laki-laki tampan meski usianya sudah berkepala lima itu penasaran dengan kertas yang sedang dipegang oleh istrinya. Raut wajah terlihat jelas seperti orang yang sangat terkejut sekali marah.
"Ada apa, Ma?" Papa Sakti mendekati Mama Venus dan melihat tulisan yang ada di kertas itu.
"Apa maksudnya ini?" suara menggelar milik Papa Sakti yang sedang murka membuat Malika menangis kencang.
***
Apa yang akan terjadi kepada Aisyah dan Andromeda setelah surat perjanjian itu diketahui oleh orang tua mereka? Apakah akan tetap bersatu atau berpisah? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1