Bidadari Yang Diabaikan

Bidadari Yang Diabaikan
Bab 64. Kepergian Zahra


__ADS_3

Bab 64


"Ada apa, Bintang?" tanya Cantika.


Aisyah menggendong Malika yang sedang menangis kencang seperti orang ketakutan. Dia menatap ke arah Wulan ingin tahu apa yang sudah terjadi.


"Siapa wanita itu? Dari tadi terus menatap ke arah Om Ghaza dan berusaha menggodanya. Bintang tidak suka! Om Ghaza milik Bintang!" Bocah yang baru akan beranjak remaja itu marah sambil memeluk tubuh Ghazali.


Aisyah tercengang mendengar ucapan dari keponakan suaminya. Lalu, dia kembali melihat ke arah Wulan yang kini sedang menunduk.


Ketika Cantika dan Ghazali menenangkan Bintang, Aisyah pun mengajak Wulan ke kamarnya. Sekalian dia akan memberi susu untuk Malika.


"Wulan, kamu menggoda Ghaza?" tanya Aisyah sambil menyusui Malika yang sudah mau diam.


Gadis itu diam saja dan menunduk. Mau bilang tidak, tetapi memang itu kenyataannya. Wulan jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Ghazali. Pemuda blasteran Amerika-Indonesia yang memiliki mata biru cerah dan wajah yang tampannya di atas rata-rata itu, membuat hati dia bergetar setiap melihat bahkan mengingat dirinya.


"Tadi, saya lihat Bintang mencium Tuan Ghazali, lalu saya tegur. Anak itu tidak terima dan marah," balas Wulan dengan gugup


"Astaghfirullahal'adzim. Ya Allah jangan sampai Si Cantik suka nyosor seperti saudaranya itu," gumam Aisyah takut nanti anaknya seperti Bintang. Apalagi Andromeda juga suka nyosor duluan dan tidak tahu tempat.


"Ya sudah, kamu harus jaga jarak dengan Ghazali. Dia itu sudah punya kekasih, dari golongan orang kaya, kaum elit. Kamu jangan sampai berurusan dengan mereka," lanjut Aisyah.


Tubuh Wulan tiba-tiba bergetar ketakutan. Dia tidak pernah membayangkan kalau menyukai seseorang akan berakibat fatal jika salah sasaran.


"Baik, Bu. Saya akan jaga jarak dari mereka. Awalnya saya sangat terkejut ketika banyak laki-laki tampan di sini. Aku kira mereka tidak punya pasangan. Terlebih saya beberapa kali melihat Bintang dan Ghazali berpelukan dan berciuman," aku Wulan sambil mengusap leher dan tengkuknya.


"Aku juga sama seperti kamu, awalnya shock saat melihat kelakuan mereka. Kalau kamu mencari laki-laki yang bisa dijadikan suami, aku punya banyak kenalan dan teman dekat. Mereka baik-baik orangnya, wajah lumayan meski jauh dengan Ghazali. Kalau harta kekayaan, mau itu banyak atau sedikit yang penting halal dan berkah," ucap Aisyah sambil menidurkan Malika di atas ranjang dan mengelilingi bayi itu dengan guling.

__ADS_1


Wulan tidak bisa mengiyakan atau menolak, karena belum tahu seperti apa laki-laki yang akan dikenalkan oleh majikannya ini. Namun, jika teman dari Aisyah, perempuan ini yakin kalau orang yang akan dikenalkan itu pastinya memiliki sifat baik.


"Gimana? Kamu tinggal lihat-lihat dulu akun media sosial milik mereka, siapa tahu ada jodoh kamu di sana," lanjut Aisyah yang kini berdiri di depan Wulan.


"Bo–leh, Bu," balas Wulan sambil tersenyum malu-malu.


***


Hari ini semua orang berkumpul di kamar Zahra. Fatih menangis sambil memeluk sang istri yang sudah tidak bergerak. Mentari duduk di sampingnya. Laki-laki itu mewakili wanita yang dicintainya untuk mengucapkan permintaan maaf atas segala kesalahan dia yang telah lalu. Setelah semua orang mengatakan sudah memaafkan segala khilaf dan salah Zahra di masa lalu, wanita itu menghembuskan napas terakhir dalam dekapan suaminya dengan ucapan tahlil di akhir hayatnya. [Kisah selengkapnya di novel "Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami" lumayan menguras air mata saat membuat bab itu]


Isak tangis langsung memenuhi ruangan mewah itu. Aisyah sangat terguncang sampai dia jatuh pingsan. Andromeda yang sejak semula sudah merangkul bahu sang istri, bisa menahan tubuhnya dan tidak sampai jatuh mencium lantai.


Untung ada Ghazali yang merupakan seorang dokter. Dia dengan cepat menangani Aisyah yang sedang hamil muda. Saat ini kondisi ibu hamil itu masih sangat rentan keguguran. Andromeda selalu setia berada di sampingnya. Bahkan air mata keluar terus dari sudut netranya.


"Ghaza, istriku tidak apa-apa, 'kan?" tanya Andromeda yang kini sedang mengusap pipi Aisyah.


***


Sudah satu bulan meninggalnya Zahra, raut kesedihan masih nampak di wajah Aisyah. Dia merasa ada yang hilang dalam dirinya. Tidak ada lagi kakak yang mau mendengarkan keluh kesah dirinya. Tidak ada lagi kakak yang akan menasehati dirinya dengan kata-kata yang bijak. Tidak ada lagi kakak yang dengan senang hati memanjakan dirinya. Meski sudah bersuami tetap saja wanita ini suka minta sesuatu kepada kakaknya.


"Sayang, kamu makan dulu, ya! Kasihan bayi di dalam perut kamu ini. Dia juga butuh nutrisi dan makanan yang terbaik untuk perkembangan janin," kata Andromeda sambil membelai punggung sang istri dengan lembut.


"Aku ingin pergi liburan, Mas. Kak Zahra ingin pergi keliling Eropa dan belum terlaksana. Aku ingin mewujudkan impiannya itu," ucap Aisyah yang teringat percakapan terakhir mereka di villa. 


"Ayo, kita pergi liburan! Sekarang sedang musim semi di wilayah itu. Tapi, kita akan pergi jika kondisi kamu meyakinkan bisa diajak untuk bepergian. Aku tidak mau ambil resiko," kata Andromeda dengan lembut. Dia sering memperlakukan Aisyah layaknya seorang ratu. Ini yang membuat Aisyah tidak bisa menolak setiap kata, titah, ajakan, dan larangan dari sang suami.


***

__ADS_1


Ketika hari sedang cerah, Aisyah mengajak Wulan dan Malika jalan-jalan ke taman kota. Setelah kepergian Andromeda ke kantor, mereka pergi di antar sopir yang selalu siap mengantar pergi Aisyah kapan pun dan ke mana pun majikannya mau.


"Hati-hati, Sayang!" Aisyah tersenyum lembut melihat Malika yang tertawa dan berjalan meski belum bisa tegak.


Malika yang sedang belajar berdiri tidak bersabar ingin berlari di tanah berumput itu. Sementara Malika sedang belajar berjalan bersama Wulan, Aisyah duduk di kursi yang ada dalam naungan bayang-bayang pohon.


"Aisyah," panggil seseorang dan sukses membuat wanita itu terkejut.


"Aziz?" Aisyah tidak menyangka akan bertemu dengan temannya ini.


"Assalamualaikum, semoga kamu selalu dalam keadaan baik," ujar Aziz dengan diiringi senyum lebar.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Aamiin yaa rabbal aalamin. Semoga kamu juga selalu dalam keadaan baik," balas Aisyah.


Semenjak wisuda keduanya tidak pernah bertemu lagi. Aziz melihat Aisyah lebih dewasa dan cantik, sedangkan pemuda itu terlihat semakin wibawa dan berkarisma.


Aziz belakangan baru tahu kalau Aisyah sudah menikah dengan Andromeda. Dengan hatinya yang patah, dia pun memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dan bekerja apa saja di sana. Dikarenakan tidak ada perusahaan besar yang ada rumah produksi kecil. Dia mengajar di sekolah dasar dan sekolah agama. Selain itu membantu ke ladang milik Pak Kades.


"Kamu coba kirim surat lamaran ke perusahaan tempat suamiku bekerja, mungkin ada lowongan di sana. Kamu juga bisa ajak keluarga kamu jika sudah sukses nanti," kata Aisyah menyemangati temannya ini.


"Aku takut Pak Andro ngamuk lagi ke aku nanti, seperti dulu," kata laki-laki itu sambil tertawa.


***


Apakah Andromeda akan memberikan pekerjaan kepada Aziz mengingat laki-laki itu pernah menaruh perasaan terhadap Aisyah? Apa Aisyah akan mewujudkan keinginan Zahra untuk keliling Eropa? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_1


__ADS_2