
Bab 55
Setiap malam Aisyah dan Andromeda begadang secara bergiliran. Laki-laki itu tidak mau kalau sang istri sampai jatuh sakit karena kelelahan mengurus bayi mereka. Dia akan mulai begadang tengah malam. Malika sering mengajaknya bermain jika malam hari. Bayi itu senang memainkan boneka berkerincing atau mainan bayi lainnya. Bahkan mulutnya seakan tidak lelah mengoceh tidak jelas. Kalau sudah harus dia akan menangis ingin menyusu.
Tidak terasa kini usia Malika sudah satu bulan lebih. Kehidupan rumah tangga Aisyah dan Andromeda jauh lebih bahagia sekarang. Keduanya tidak malu lagi mengungkapkan perasaan mereka baik melalui ucapan atau perbuatan. Aisyah juga tahu setiap yang dilakukan oleh suaminya itu sebagai ungkapan perasaannya meski tanpa kata-kata.
"Sayang, kamu sangat cantik hari ini. Apa sekarang aku sudah boleh menyentuh kamu?" tanya Andromeda sambil memeluk Aisyah dari belakang. Diciumnya tengkuk dan pundak wanita itu dengan lembut dan kadang menyesapnya sampai meninggalkan bekas.
"Iya, boleh," balas Aisyah dengan pipi yang merona.
Mendengar dua kata yang keluar dari mulut sang istri bagi Andromeda bagai mendapatkan sebuah hadiah istimewa dan indah. Dia membalikan tubuh Aisyah sampai mereka saling berhadapan. Ditatapnya wajah cantik itu dengan penuh damba.
"Aku sangat menantikan hal ini," bisiknya dengan lembut.
Suara lembut Andromeda membuat tubuh Aisyah meremang. Dia juga sangat menantikan malam ini. Sudah lama dia ingin mengulang kembali percintaan mereka.
"Aisyah, i love you." Andromeda meraih tangan Aisyah dan mencium dengan lembut.
"I love you too!" Aisyah mengjinjitkan kaki dan mencium bibir suaminya.
Andromeda tentu saja tidak menyia-nyiakan hal ini. Dia kembali mencium lembut bibir ranum sang Aisyah. Ciuman lembut itu berubah dengan seiring meningkatnya napsu kedua orang itu.
Malam ini keduanya mereguk kenikmatan dunia untuk pertama kalinya setelah mereka menikah. Berbeda dengan dulu, kali ini percintaan mereka menciptakan rasa puas dan kebahagiaan bagi keduanya.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Andromeda ketika mereka menyudahi kegiatan panas itu.
Pipinya Aisyah semakin memerah karena malu. Dia hanya mengangguk sambil menutup mukanya dengan kedua tangan.
Tingkah Aisyah membuat Andromeda gemas dan itu membuat dirinya kembali bergairah. Dia pun kembali memberikan rangsangan kepada sang istri.
"Boleh, ya? Minta lagi," ucap Andromeda dengan tatapan memohon dan Aisyah pun mengangguk karena dia juga menginginkannya lagi. Namun, ketika mereka akan melakukan penyatuan, terdengar suara tangisan Malika yang nyaring.
'Astaghfirullahal'adzim, Nak. Kenapa tidak nanti saja menangisnya?' (Suara hati pasangan yang sedang di mabuk asmara)
"Mas, anak kita menangis," kata Aisyah dengan lirih.
"Mungkin dia ingin menyusu," balas Andromeda.
__ADS_1
Malam itu pun mereka bertiga begadang, karena Malika sangat senang saat melihat kedua orang tuannya. Sementara itu, kedua orang dewasa itu harus menahan diri sampai subuh.
Sebagai seorang pembisnis Andromeda tidak mau rugi, dia meminta bayaran begadang pada Aisyah. Semalam dia lolos tidak memejamkan mata karena Malika mengajaknya main, sedangkan Aisyah tidur setelah membersihkan putrinya yang buang air besar saat dini hari.
Aisyah pun dengan senang hati dan pasrah saat tubuhnya kembali di jamah oleh sang suami ketika pagi hari. Dia berusaha memberikan pelayanan terbaik untuk Andromeda agar laki-laki bahagia dan semangat menjalani segala hal dalam hidupnya.
"Kita mandi bersama, setelah itu aku akan masak sarapan," ucap Andromeda setelah keduanya memulihkan tenaga.
"Iya, Si Cantik juga hari ini giliran pergi ke posyandu. Dia selalu senang saat bertemu dengan anak-anak kecil," balas Aisyah.
Kedua orang itu menjalani tugas dan peran masing-masing dengan baik. Bulan madu yang sudah mereka rancang harus ditangguhkan beberapa bulan ke depan, karena Malika belum bisa di ajak naik pesawat dan juga kondisi kesehatan masyarakat sedang buruk karena adanya wabah penyakit akibat pergantian cuaca yang ekstrim. Pilek, batuk, diare, dan demam berdarah banyak menjangkiti masyarakat saat ini.
***
Mama Venus dan Ummi Mirna sering datang ke rumah Aisyah untuk menjenguk cucu mereka. Baik bagi keluarga Andromeda maupun Aisyah, Malika adalah cucu pertama. Jadi, wajar jika kedua wanita tua itu memberikan ekstra perhatian kepada bayi mungil itu.
Akan tetapi, kedua orang itu selalu berebut ingin menggendong Malika. Jika, sudah berada dalam gendongan mereka tidak mau melepaskan seakan Malika itu miliknya sendiri.
"Mama, biar Si Cantik di kasih ASI dulu, ini waktunya menyusu," kata Aisyah kepada ibu mertuanya.
Mau tidak mau Mama Venus menyerahkan sang cucu kepada Aisyah untuk disusui. Terlihat dia melirik ke arah besannya.
'Kini aku tahu kenapa Nyonya Aurora tidak suka sama Ummi Mirna. Dia itu hidup di lingkungan pesantren, tetapi tingkah dan ucapannya tidak mencerminkan seorang muslimah sholehah.' (Mama Venus) [Aurora itu mamanya Fatih, atau besannya Ummi Mirna yang satunya lagi. Alasan kenapa Aurora tidak menyukainya, baca novel "Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami" 😁]
'Dasar wanita egois. Apa orang-orang kayak memang seperti itu. Tidak besan itu? Tidak besan ini? Sama-sama sombong dan angkuh!' (Ummi Mirna) [Kenapa Ummi Mirna bisa berubah sifatnya seperti ini? Baca novel "Dipaksa Menikahi Cucu Mantan Suami" 😄]
Aisyah sering merasa tidak enak jika ibu dan mertuanya saling berebut anaknya. Bagaimanapun juga yang satu ibunya dan yang satunya lagi ibu dari suaminya yang sama-sama punya hak untuk mengasuh dan bermain dengan Malika.
'Kenapa mereka tidak bersama-sama saja mengasuh Si Cantik dan bergiliran menggendongnya.' (Aisyah)
***
"Assalamualaikum," salam Andromeda.
Setelah ada Malika, laki-laki itu pulang sekitar jam 16:00 sore. Dia tidak mau terjebak macet dan pulang terlambat. Dia lebih senang menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya. Andromeda akan memeriksa keuangan semua restoran dan cafe miliknya saat malam hari sambil begadang dengan Malika.
"Wa'alaikumsalam," balas Aisyah yang datang tergopoh-gopoh dari arah dapur.
__ADS_1
Diambilnya tangan sang suami dan menciumnya. Setelah mendapat ciuman di kening, wanita itu akan mengambil tas milik suaminya. Lalu, memberikan segelas air teh tawar hangat untuknya.
"Terima kasih, Sayang," ucap Andromeda sambil mengambil gelas itu.
"Si Cantik, mana?" tanya Andromeda menanyakan putri kesayangannya.
"Sedang tidur, sehabis mandi tadi," jawab Andromeda.
"Kita mandi bersama, yuk!" ajak Andromeda dengan mesra.
"Aku sedang masak, Mas. Sebentar lagi masak," ujar Aisyah.
"Kalau begitu kita mandi setelah kamu selesai masak," usul Andromeda dan tentu saja disetujui oleh Aisyah.
Setelah mengganti baju dengan pilihan sang istri, Andromeda memeluk tubuh Aisyah yang sedang membetulkan selimut Malika. Di sentuhnya pipi bulat milik bayi mungil itu.
"Si Cantik makin besar mirip aku, ya?" Andromeda senang saat melihat wajah sang buah hati itu dominan mirip dirinya.
"Iya, bahkan kebiasaan dia pun banyak mirip dengan kamu, Mas. Apalagi kalau lagi ngambek, mirip banget! Bahkan sampai cara memanyunkan bibirnya juga sama," ujar Aisyah.
"Aku punya hadiah untuk kamu," bisik Andromeda setelah mencium pipi Aisyah.
"Apa itu?" tanya Aisyah penasaran dan menghadapkan tubuhnya kepada sang suami.
"Kita pergi berbulan madu ke Bali, besok!" serunya dan membuat Aisyah senang.
"Jadi, kita bertiga akan pergi berlibur?" tanya Aisyah.
"Sebaiknya kita berdua saja yang pergi. Si Cantik kita titipkan kepada mama," balas Andromeda dan membuat senyum Aisyah hilang.
"Aku ingin membawa anak kita juga, Mas," tukas Aisyah dengan wajah sendunya.
***
Akankah mereka jadi pergi honeymoon? Atau gagal? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1