
Bab 46
Aisyah berjalan-jalan di dalam ruang rawat sambil memegangi pinggangnya. Rasa mulas itu kerap kali dia rasakan. Wanita itu berjalan dengan sebelah tangannya dipegangi oleh Andromeda. Sebenarnya dia ingin berjalan-jalan di sekitar halaman biar tidak merasa bosan. Namun, suaminya itu tidak mengizinkan hal itu.
"Mas, sepertinya aku haus," kata Aisyah sambil melihat ke arah nakas yang ada di samping ranjang pasien. Akan tetapi, tidak ada apapun di sana.
"Aku akan minta perawat untuk bawakan makanan dan minuman ke sini," ucap Andromeda sambil berjalan ke arah interkom, lalu meminta pesanan itu di antarkan.
Tidak lama kemudian ada seorang berseragam cleaning service yang membawa makanan dan minuman untuk Aisyah. Juga seorang perawat yang membawa botol cairan infus dan jarum suntik untuk tes darah.
Dokter Sarah kembali ke ruangan itu setelah satu jam dan memeriksa kembali keadaan Aisyah. Ternyata baru bukaan delapan.
"Ibu sebaiknya jangan tegang atau terlalu banyak beban pikiran. Tenangkan hati dan pikiran. Banyak berdoa agar dimudahkan saat proses dalam melahirkan," kata Dokter Sarah.
Tiba-tiba datang seorang perawat dengan wajah pucat dan terburu-buru. Dia menghampiri Dokter Sarah, lalu berbisik, "Ada kecelakaan bus memakan banyak korban dan ada tiga korban wanita hamil. Saat ini mereka semua kritis."
"Apa? Lalu dokter—"
__ADS_1
"Semua bergerak, bahkan dokter yang sedang libur pun disuruh datang untuk menangani korban yang banyak itu," potong perawat itu lagi saking paniknya. Inginnya dia langsung menyeret dokter itu secepatnya ke ruang UGD, ini sangat emergency.
"Seharusnya kita kerja sama dengan rumah sakit lainnya, jika banyak korban. Mereka harus ditangani secepatnya. Sekarang Ibu Aisyah juga mau melahirkan," balas wanita berusia awal berkepala empat itu.
"Dokter, jika saya masih ada waktu sampai melahirkan. Sebaiknya Dokter tangani dulu para korban itu," ucap Aisyah dengan mantap.
"Aisyah!" Andromeda merasa tidak setuju dengan pikiran istrinya.
"Mas." Aisyah menatap ke arah sang suami.
"Tidak, Sayang. Saat ini kamu juga sedang membutuhkan dokter. Bayi kita juga akan segera lari," ujar Andromeda.
"Dokter cepat, nyawa mereka saat ini sangat membutuhkan pertolongan Anda!" titah Aisyah.
"Baiklah, aku akan secepatnya berusaha menyelamatkan mereka dan segera kemari lagi. Akan ada perawat yang berjaga di sini," ucap Dokter Sarah sebelum dia pergi.
Andromeda menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan oleh istrinya. Dia merasa kesal karena Aisyah sendiri yang malah menyuruh Dokter Sarah pergi ke UGD untuk melakukan pemeriksaan.
__ADS_1
"Mas, jangan marah. Percayalah, jika kita mempermudah urusan orang lain, maka Allah juga akan mempermudah urusan kita. Di antara mereka ada yang benar-benar lebih parah keadaannya dari aku. Mereka sedang berjuang agar selamat dari maut. Aku juga saat ini sedang berhadapan antara hidup dan mati—"
"Jangan katakan hal mengerikan seperti itu. Kamu dan bayi kita akan baik-baik saja," kata Andromeda memotong pembicaraan istrinya.
Air mata Aisyah yang sejak tadi menggenang di pelupuk netranya, kini jatuh meluncur di pipi mulus dan chubby itu. Dia baru tersadar kalau saat ini adalah puncak perjuangan seorang ibu hamil. Yaitu, melahirkan bayi yang ada di dalam rahim. Wanita itu apakah dia bisa selamat atau tidak dalam perjuangan yang mempertaruhkan nyawanya.
"Mas, sebelumnya aku ingin minta maaf. Aku tahu begitu banyak dosa yang aku lakukan sebagai seorang istri terhadap dirimu." Aisyah bicara sambil menahan isak tangis.
"Tidak. Kamu tidak melakukan dosa apapun terhadap aku. Kamu selalu melakukan yang terbaik sebagai seorang istri. Justru aku yang seharusnya meminta maaf kepadamu belum bisa menjadi seorang imam yang bisa membimbing, menjaga, dan membahagiakan kamu. Sehingga, kamu ingin pergi dari sisiku. Aku sadari kalau diriku ini terlalu banyak kekurangan. Meski begitu aku berharap kamu tidak pernah pergi dari hidupku. Aku ingin hidup bersama dengan dirimu sampai ajal menjemput, Aisyah," aku Andromeda dengan jujur.
Bukan hanya Aisyah yang menangis, laki-laki itu juga mengeluarkan cairan bening dari netranya yang biasanya selalu bersorot tajam. Diciuminya tunggu tangan dan pipi sang istri.
"Aku mencintaimu, Aisyah. Kamu satu-satunya wanita yang aku inginkan untuk menjadi pendamping hidup sampai mata ini tertutup selamanya," ucap Andromeda dengan jelas.
Kedua orang itu saling tatap dengan kehangatan seperti sebelum-sebelumnya dan tangan mereka saling bertaut. Jantung mereka berdetak kencang bahkan seakan-akan telinga mereka bisa mendengar suara dari detakan jantung masing-masing.
***
__ADS_1
Jawaban apa yang akan diberikan oleh Aisyah? Apakah dia meragukan perasaan cinta Andromeda atau menyambutnya dengan suka cita? Tunggu kelanjutannya, ya!