
Bab 47
Ruangan yang lumayan cukup luas dan nyaman untuk ukuran kamar rawat itu menjadi saksi pengakuan cinta seorang koki sekaligus dosen kepada sang istri. Laki-laki itu berharap perasaannya itu mendapat sambutan baik.
"Aku mencintaimu! Hati ini sudah tertuju kepadamu. Kamu berhasil mengacaukan hati dan pikiranku. Maaf aku baru menyadari perasaanku ini, seharusnya aku menyadari hal ini dari dulu," ucap Andromeda sejujurnya akan perasaan dia kepada sang istri.
Aisyah yang melihat pancaran kejujuran dari sorot mata Andromeda merasa sangat senang. Tenyata cinta dia tidak bertepuk sebelah tangan. Namun, dia masih tidak bisa menerima perasaan itu. Dia takut pengakuan laki-laki ini, karena dia sudah memutuskan untuk berpisah setelah melahirkan bayi mereka nanti. Wanita itu masih belum percaya sepenuhnya kalau sang suami akan selalu tulus mencintai dirinya.
"Apa Mas yakin dengan apa yang diucapkan barusan?" tanya Aisyah ingin pengakuan lebih jujur lagi dari mulut laki-laki yang sudah memporak-porandakan hatinya.
"Ya, aku yakin dengan perasaan aku ini. Kalau aku sudah mencintaimu. Sejak awal aku menginginkan punya seorang istri yang sholehah dan bisa membuat hidup aku bahagia dan berwarna. Makanya, malam itu aku memilih dirimu. Karena aku ingin dicintai dan mencintai dirimu," jawab Andromeda langsung tanpa terjeda. Dia jujur akan rasahasia yang selama ini dipendam sendiri.
Aisyah terkejut mendengar pengakuan Andromeda. Dia mengira kalau malam itu laki-laki yang kini sedang duduk di samping brankar ini adalah laki-laki brengsek yang suka berbuat begitu kepada mahasiswinya, meski gosip yang beredar kalau sang dosen itu penyuka sesama jenis. Namun, siapa yang tahu di balik semua itu. Apalagi dia sendiri tidak mengenal baik Andromeda.
"Dulu aku mengira itu hanya efek dari obat perang_sang. Ternyata itu adalah keinginan diriku di alam bawah sadar aku. Aku suka melihat saat kamu sedang tersenyum dan tertawa. Kerlingan mata kamu yang nakal dan bibir ranum milikmu selalu membuat aku ingin melihat ke arah dirimu," tambah Andromeda dengan sebelah tangan mengelus pipi Aisyah menghapus jejak cairan bening itu.
__ADS_1
Wajah Aisyah yang sembab karena menangis membuat hati Andromeda terasa teriris. Dia lebih suka melihat raut muka wanita ini yang ceria dan menggoda.
"Apa itu semua benar? Bukan bohongan?" tanya wanita itu ingin lebih meyakinkan dirinya lagi.
Tangan Aisyah yang sedang dipegang oleh sang suami semakin erat dia genggam. Menyadarkan kalau saat ini adalah nyata bukan mimpi.
"Iya, aku sedang jujur akan perasaan aku kepadamu saat ini. Sebenarnya semalam aku ingin mengatakan semua ini kepadamu. Tetapi, kamu tidak membukakan pintu," balas Andromeda sambil tersenyum tipis.
"Maaf, karena aku sudah berbuat jahat kepadamu. Memaksa dirimu agar bisa menjadi milik aku. Makanya, saat malam itu aku mengeluarkan benih di dalam berkali-kali. Karena aku ingin memiliki anak dari wanita seperti dirimu. Aku pikir saat itu aku sedang gila karena obat itu. Sampai-sampai tidak memikirkan kehidupan dan masa depan dirimu," lanjut Andromeda.
"Kamu selalu membuat diriku terlihat bodoh, Aisyah. Tetapi, kamu selalu bisa membuat aku tersenyum dan tertawa bahagia. Saat bersama dengan dirimu, aku selalu merasa inilah yang aku cari dan yang aku mau," tambah Andromeda.
Aisyah memutar kembali kenangan antara dirinya dengan Andromeda. Saat mereka berdua menghabiskan waktu bersama. Saat laki-laki itu memberikan perhatian dan memasakan makanan untuknya. Membuatkan susu setiap hari. Meminta maaf ketika dia marah dan menjauh. Dia baru sadar kalau itu adalah sebuah bentuk perasaan cinta dan sayang untuk dirinya. 'Ternyata aku ini orang yang ingin mendengar ucapan pengakuan cinta dulu, baru yakin kalau dia memang mencintai aku. Tapi, kebanyakan wanita itu ingin mendengar pengakuan dan perbuatan sejalan.'
'Apalagi saat dia bicara dengan Erlang—. Eh, tunggu kayaknya hari itu nama kak Alex disebut-sebut? Aaaa, Andromeda itu punya masalah apa, sih, dengan kak Alex? Sampai sensi sekali kepadanya, meski baru mendengar namanya juga.' (Aisyah)
__ADS_1
Andromeda menatap Aisyah yang masih diam. Dia mengira kalau pengakuan perasaan dia tidak disukai oleh sang istri. Padahal dia sangat berharap kalau Aisyah bahagia dan punya perasaan yang sama.
"Aisyah, kamu mau 'kan kamu menghabiskan sisa hidupmu bersama dengan aku? Siapa tahu kedepannya kamu juga punya perasaan yang sama dengan diriku. Bukalah hatimu untukku!"
Andromeda menatap dengan sendu kali ini kepada sang istri. Hal yang di ketahui laki-laki oleh itu, kalau hati dan perasaan cinta Aisyah milik Ustadz Syakir.
"Aaaa, Mas kamu tidak sadar dengan perasaan aku terhadap dirimu?" tanya Aisyah sangat terkejut. Dia semakin membelalakkan matanya saat melihat kepala Andromeda menggeleng.
'Ya Allah, Ya Rabb, otak dan hati suami aku ini dibuat dari apa?'
'Kenapa dia tidak sadar dengan perasaan cintaku untuknya?'
'Bukannya aku juga sama saja dengannya tidak sadar akan perasaan cintanya untuk aku!' (Aisyah)
***
__ADS_1
Bagaimana hubungan Aisyah dan Andromeda setelah pengakuan ini? Apakah Aisyah bisa lancar dan selamat saat melahirkan bayinya? Tunggu kelanjutannya, ya!