
Bab 50
"Mas, bayinya mau keluar!" Aisyah tanpa sadar mengejan dan menggigit lengan kokoh milik sang suami.
"Iya, tahan dulu! Dokter!" teriak Andromeda dengan menahan kesakitan.
Pintu pun terbuka dengan keras, tetapi yang datang bukan Dokter Sarah seperti yang mereka harapkan, melainkan Papa Sakti dan Mama Venus. Napas kedua orang itu terlihat memburu dan terlihat ada keringat di kening, menandakan kalau mereka berlari ke sana.
"Andro, bagiamana keadaan Aisyah?" Suara Mama Venus menambah keramaian teriakan Aisyah dan Andromeda.
"Ma, Aisyah akan melahirkan. Papa, tolong Aisyah melahirkan!" pinta Andromeda.
Papa Sakti seorang dokter ahli dalam, mana mungkin dia bisa menangani pasien ibu hamil yang akan melahirkan. Sementara itu, Venus adalah seorang lulusan sarjana hukum.
"Panggil dokter kandungan!" teriak Mama Venus entah kepada siapa.
"Iya, akan papa cari bantuan dokter kandungan kenalan papa," ujar Papa Venus.
"Bidan juga tidak apa-apa, Pa," ucap Aisyah sambil menahan sakit meski akhirnya mengejan.
"Papa, kepala bayinya sudah kelihatan!" teriak Andromeda panik.
__ADS_1
Meski semua perlengkapan sudah di sediakan di sana, tetap saja tidak ada seorang pun di antara mereka yang bisa menangani ibu hamil.
"Mas, aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Aaaaaa!"
Andromeda menahan kepala bayinya karena sudah keluar. Lalu, detik berikutnya Aisyah mengejan dengan kuat dan semua badan bayi itu keluar.
"Ayo, Aisyah! Kamu pasti bisa. Kamu wanita hebat," ucap Mama Venus sambil menahan sakit karena tangannya di cengkeram kuat oleh Aisyah.
Suara nyaring dari bayi Aisyah langsung terdengar memenuhi ruangan itu. Sang bayi terlahir disaksikan oleh kedua orang tua bersama kakek dan neneknya. (Kata mama aku, saat melahirkan aku dulu, bayi sudah keluar, bidannya baru datang. Orang Sunda bilang kaborosotan)
"Alhamdulillah, Aisyah lihat bayi kita! Ternyata kecil seperti ini tapi sangat menggemaskan," kata Andromeda yang menggendong bayinya.
"Papa, lalu sekarang apa yang harus dilakukan?" tanya Andromeda, tidak sadar kalau saat dia memalingkan mukanya ke arah Papa Sakti, saat itulah Aisyah jatuh tidak sadarkan diri.
"Aisyah!" teriak Mama Venus menyadari sang menantu diam tidak bergerak.
Andromeda yang masih menggendong bayinya langsung menyerahkan itu kepada Papa Sakti. Dia pun mencoba membangunkan Aisyah.
"Aisyah, bangun! Buka mata kamu, Sayang!" Andromeda membelai wajah pucat sang istri.
"Cepat tekan tombol darurat!" titah Papa Sakti dan Mama Venus langsung menekan tombol yang ada di dekatnya.
__ADS_1
"Ya Allah, aku mohon jangan ambil Aisyah. Baru saja hamba dan dia akan melangkah menjalani kehidupan rumah tangga kami dengan mengharapkan ridho dan karunia-Mu. Sadarkan Aisyah, Ya Allah!" Andromeda menggumamkan doa untuk sang istri.
Andromeda menciumi wajah Aisyah dengan berlinang air mata. Dia merasa tidak terima dengan keadaan Aisyah saat ini. Baru saja dia merasakan kebahagiaan akan cintanya yang berbalas, kini sang pujaan hati diam membisu seakan membiarkan laki-laki itu bersedih seorang diri.
Dokter Sarah dan seorang perawat berlari ke ruang di mana Aisyah saat ini. Ruangan khusus untuk keluarga Wijaya ketika sedang menjalani perawatan karena sakit.
"Maaf, kami baru bisa—" ucapan Dokter Sarah terhenti. Betapa terkejutnya dia saat melihat bayi itu sudah berada di luar dan kini sedang berada di gendongan pemilik rumah sakit.
"Maafkan saya, ternyata buka ada ketiga ibu hamil, tetapi tujuh wanita hamil yang menjadi korban kecelakaan," kata Dokter Sarah sambil bertindak memotong tali ari-ari.
"Periksa dulu keadaan Aisyah, Dok!" titah Papa Sakti.
"Baik, Pak." Wanita paruh baya itu memeriksa keadaan Aisyah yang entah koma atau pingsan.
Sementara itu perawat juga memeriksa keadaan bayi. Untungnya semua organ tubuh bekerja dengan baik. Lalu, dia pun segera memandikan agar bersih dari cairan ketuban.
***
Apakah Aisyah akan baik-baik saja? Atau terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1