Bidadari Yang Diabaikan

Bidadari Yang Diabaikan
Bab 51. Malika


__ADS_3

Bab 51


Dokter Sarah di bantu oleh Papa Sakti memasang beberapa alat medis ke tubuh Aisyah. Mereka berharap Aisyah baik-baik saja jangan sampai koma bahkan meninggal. 


"Detak jantung semakin melemah," ucap Dokter Sarah saat melihat ke layar monitor.


Grafik dan nominal angka menurun terus. Namun, napasnya masih bisa terlihat adanya uap di masker nebulizer.


"Andro, ajak bicara Aisyah. Semoga dia masih bisa mendengar suaramu," ujar Papa Sakti.


Andromeda pun kembali menggenggam tangan Asiyah. Diciumnya kening sang istri dengan lembut.


"Aisyah … Sayang, kamu bisa mendengar suara aku? Buka matamu, Sayang. Lihat putri kita yang cantik ini!" ucap Andromeda dengan suaranya yang tercekat karena menahan isak tangis.


"Bukankah kamu ingin memberi nama putri kita dengan nama, Malika. Lihat, Malika ingin mendengar suara ibunya," ucap Andromeda sesekali menciumi tangan Aisyah.


Mama Venus menangis tergugu melihat keadaan sang menantu. Dia tidak tega melihat keadaan Aisyah yang biasanya selalu ceria, kini terbaring. 


Terdengar suara bayi perempuan itu sangat nyaring. Semua orang mengalihkan perhatiannya kepada makhluk mungil itu. Papa Sakti mengambil sang cucu kepada dari tangan suster yang baru saja selesai di dandani.

__ADS_1


"Andro, letakan putrimu di dada Aisyah. Naluri seorang ibu biasanya sangat kuat terhadap buah hatinya," ucap Papa Sakti sambil menyerahkan bayi mungil yang masih menangis keras.


"Semoga saja Malika bisa mengembalikan kesadaran Aisyah. Karena Aisyah sangat menyayangi bayinya," tutur Andromeda sambil meletakan sang putri di atas tubuh Aisyah.


Suara tangis Malika yang sangat nyaring mengantarkan gelombang kejut dalam syaraf-syaraf dan aliran tubuh Aisyah. Detak jantung wanita itu semakin mendekati detak normal dan rupa wajahnya yang semula pucat kini sudah mulai terlihat normal.


"Aisyah, ayo, buka mata kamu! Kita rawat Malika bersama-sama. Kita berlibur bersama. Bukannya kita akan pergi berbulan madu? Kumohon, Sayang buka mata kamu! Jangan tinggalkan aku dan Malika. Kita tidak akan sanggup menahan kesedihan ini," lanjut laki-laki itu sambil memeluk anak dan istrinya.


"Masih banyak hal yang ingin aku lakukan bersama dengan kamu. Kita juga belum melakukan malam pertama. Aku tidak mau jadi pengantin yang belum pernah merasakan malam pertama," kata Andromeda jujur, karena dia harus menahan dirinya untuk tidak melakukan itu dengan Aisyah, sampai habis masa nifasnya nanti.


Malika yang masih menangis tangannya mere_mas kecil baju di bagian dada Aisyah dan menarik-narik. Bocah itu seperti mencoba membangunkan ibunya sekuat tenaga dan dengan segala cara.


***


Aisyah bisa mendengar suara ayah mertua dan Andromeda. Dia mencari di mana keberadaan suaminya. Wanita itu hanya bisa mendengar suara, tapi tidak bisa melihat mereka.


'Mas, kamu di mana?' 


Terlihat ada sebuah istana indah. Kaki Aisyah pun berlari ke bangunan itu saat mendengar suara bayi. 

__ADS_1


'Itu suara bayi? Siapa? Ini istana milik siapa?'


Aisyah memasuki bangunan megah itu dan dia masuk ke dalam sebuah kamar. Terlihat ada tempat tidur yang besar. Kaki jenjang wanita itu pun melangkah mendekati ranjang yang terlihat ada seseorang di atasnya.


Aisyah melihat ada seorang bayi perempuan cantik yang tersenyum kepadanya. 


'Cantik, anak siapa kamu?' tanya Aisyah sambil mengusap pipi bayi perempuan itu.


Tanpa bisa dibendung dan di sadari oleh Aisyah, air matanya meluncur begitu saja dari mata cantiknya. Ada perasaan haru, rindu, dan bahagia saat melihat bayi itu.


Terdengar kembali suara Andromeda dan menyebut nama Malika. Dia teringat kalau dulu pernah bilang sama suaminya ingin memberi nama bayi mereka nanti dengan mana Malaika atau Malika. (Karena aku sudah buat tokoh nama Malaika buat next novel. Jadi, aku pakai Malika untuk anak Andromeda dan Aisyah)


'Malika.' (Aisyah)


***


Akankah Aisyah bisa sadar kembali dengan cepat? Atau dia akan koma dalam waktu yang lama? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_1


__ADS_2