
Bab 41
Andromeda menyesali perbuatannya dulu membuat surat perjanjian itu. Dia tidak menyangka kalau belakangan ini dia sangat bahagia menjalani kehidupan rumah tangga bersama Aisyah.
Akan tetapi penyesalan laki-laki itu tidak bisa mengubah apapun. Andromeda sendiri yang mengajukan surat perjanjian itu. Lalu, dia juga orang yang pertama kali menandatangani kertas itu.
"Aisyah, aku membuatkan bubur ayam spesial kesukaan kamu!" seru Andromeda sambil membawa semangkok bubur buatannya.
Wangi dari bubur itu membuat perut Aisyah berbunyi dan ingin memakannya. Kalau mengikuti ego, wanita itu tidak akan mau memakan lagi masakan buatan Andromeda. Akan tetapi, dia juga harus memikirkan kondisi bayi yang ada di dalam rahim.
"Makasih," ucap Aisyah dengan tenang.
Andromeda merasa sangat senang karena Aisyah mau memakan bubur buatannya.
Sejak semalam Andromeda mencoba merayu Aisyah agar membatalkan surat perjanjian itu. Akan tetapi, wanita itu menolaknya dengan alasan ingin kembali merajut cinta pertamanya yang sempat terputus.
Mendengar ucapan Aisyah semalam membuat Andromeda ingin marah. Namun, dia tidak bisa melampiaskan kemarahannya kepada sang istri. Semua itu salah sendiri, tidak memikirkan kemungkin dia ingin membesarkan anak mereka bersama-sama.
Baru saja dia sempat kepikiran ingin membuat taman bermain di halaman samping untuk putri mereka nanti. Kini Aisyah malah meminta perpisahan setelah melahirkan.
__ADS_1
'Aku harus cari cara agar surat perjanjian itu tidak sah atau digagalkan.' (Andromeda)
***
Andromeda terus saja mencuri-curi perhatian dan berusaha mencari cara agar Aisyah mengurungkan niatnya untuk bercerai. Bahkan kini dia seperti anak itik yang mengikuti induknya, ke mana pun Aisyah pergi dia akan mendampinginya. Bahkan, laki-laki itu kini jarang mendatangi restoran, cafe, dan hanya pergi menjauh dari istrinya saat pergi mengajar ke kampus. Setelah itu langsung pulang ke tempat di mana Aisyah berada. Mau itu di rumahnya, rumah orang tua, rumah mertua, atau rumah kakak ipar, pasti akan dia datangi.
"Kalian sedang ada masalah?" tanya Mama Venus ketika kedua orang itu sedang berada di rumah keluarga Wijaya.
"Tidak, Ma," jawab Aisyah.
"Iya, Ma," jawab Andromeda bersamaan.
Mama Venus mengerutkan alisnya. Dia tahu kalau mereka sedang ada masalah. Namun, ketika melihat gelagat putranya, dia yakin kalau yang sudah berbuat ulah adalah Andromeda.
"Iya, Ma," balas Aisyah dan Andromeda bersamaan.
Hari itu diam-diam Andromeda meminta bantuan mamanya agar menyuruh mereka menginap di sana malam itu. Jadi, dia dan sang istri akan tidur di satu kamar.
"Aisyah, kamu marah sama aku, 'kan?" Andromeda memeluk Aisyah dari belakang.
__ADS_1
Sakit hati, marah, kesal, dan ada sedikit rindu yang sedang dirasakan oleh Aisyah saat ini. Suaminya seakan sedang mempermainkan perasaannya. Memberikan perhatian seakan terlihat memang mencintai dirinya, padahal tidak punya perasaan itu sama sekali.
Perbuatan dan perkataan Andromeda selalu membuai diri Aisyah, sehingga lupa daratan. Seandainya saja dia tidak mendengar langsung perkataan itu dari mulutnya sendiri, mungkin dia tidak akan percaya. Namun, laki-laki itu mengaku dengan mulutnya kalau dia tidak mencintai dirinya. Apa yang dia perbuatan itu hanya formalitas belaka, karena itu merupakan tugas sebagai suami.
"Mas, mau kamu itu apa, sih? Jangan bikin aku pusing!" Aisyah menyentakkan kedua tangan Andromeda dengan kuat agar lepas pelukannya.
"Aku ingin membatalkan surat perjanjian itu!" Kini dia menarik dan memeluk tubuh Aisyah dari depan yang terganjal oleh perut buncitnya. Meski usia kandungan itu sudah 7 bulan, tetapi bentuk perutnya tidak terlalu menonjol besar. Bahkan jika dilihat dari belakang tubuh Aisyah tidak terlihat seperti sedang hamil.
"Jangan konyol! Bukannya itu surat perjanjian di buat oleh kamu sendiri, Mas. Kamu juga yang mendatangi duluan. Lalu, kenapa sekarang kamu ingin membatalkan surat perjanjian itu. Padahal aku sudah memikirkan masa depan aku setelah berpi—"
Andromeda membungkam mulut Aisyah dengan ciuman yang awalnya lembut, menuntut, dan berakhir dengan ciuman panas. Setiap kali Aisyah ingin mengakhiri ciuman mereka, Andromeda kembali menautkan bibir mereka.
"Masa depan kamu adalah aku, Aisyah," bisik Andromeda.
"Bohong! Aku pikir aku percaya? Salah, mungkin lebih tepatnya aku tidak mau bersama dengan kamu, Mas. Ada laki-laki yang tulus mencintai aku di luar sana. Dia sedang menunggu aku dan bersedia membahagiakan aku dengan segenap hatinya," balas Aisyah sambil menahan mulut Andromeda dengan kedua telapak tangan dia agar tidak mencium dan memotong pembicaraannya.
Andromeda merasa marah dan tidak rela kalau Aisyah akan hidup bahagia bersama laki-laki lain selain dirinya. Dia akan melakukan segala cara agar Aisyah mau membatalkan niatnya untuk berpisah.
***
__ADS_1
Usaha apa saja yang akan dilakukan oleh Andromeda? Apakah Aisyah akan luluh dan memilih bertahan di sisi Andromeda? Tunggu kelanjutannya, ya!