Book One : Dunia Alpha

Book One : Dunia Alpha
Eps 1.Zam?


__ADS_3

"Ma, apa aku harus pergi ke rumah Zam?Kenapa tidak Mama saja?" Tanyaku dari ruang tamu.


"Harus sayang, Mama 'kan lagi masak buat makan siang jadi nggak bisa ditinggalin. Kalau Mama tinggal pasti nanti gosong. Lagian rumahnya juga cuma lewat dua rumah dari sini tinggal kasih kuenya, selesai." Teriak Mama dengan keras dari dapur.


@-@-@-@-@


Hari ini hari libur, libur semester, bukan hari yang spesial buatku, hari yang sibuk lebih tepatnya. Mama yang sibuk mencoba membuat kue dari resep nenek lalu membagi kue itu ke tetangga-tetangga sekitar rumah, memamerkan hasil keberhasilannya itu. Maka, jadilah aku tukang antar kue. Sudah selusin kotak kue yang kuantar ke rumah tetangga.


Tinggal satu rumah lagi, rumah Zam. Dia teman semejaku di sekolah. Aku tidak terlalu suka padanya. Dia suka bertingkah aneh di kelas, mencoret-coret kertas dengan angka-angka dan huruf yang aneh adalah kebiasaannya.


Dia tidak pernah mau main di luar, seringnya mengajakku memilih benda yang dibawanya ataupun main permainannya. Pernah suatu hari dia membawa pensil warna-warni dan menyuruhku mengambil salah satunya, tentu saja aku memilih warna biru laut, warna kesukaanku. Juga barang-barang lainnya, seperti bola plastik, bunga, stik es krim, kain perca dan masih banyak lagi. Maka aku hanya memilih yang paling bagus menurutku dan menyimpannya. Padahal, kami sudah SMA dan menurutku barang yang dia bawa persis ketika SD dulu.


Masih banyak hal aneh lain yang dilakukannya salah satunya ia sering mengobrol pada angin. Dia bicara seperti ini ,"Angin apa yang terjadi?" Atau seperti, "Hai angin,bagaimana pendapatmu?" Lalu bisik-bisik aneh dan tidak jelas. Aku selalu heran melihat tingkahnya.


Aku juga pernah main ke rumahnya saat ada tugas bersama. Kamarnya berantakan penuh dengan sampah makanan, lantainya kotor dan baju-bajunya berantakan, jijik sekali melihatnya. Apalagi aku harus berlama-lama disana karena Zam mengajakku bermain ular tangga setelahnya. Aneh, padahal di semua tempat, gadget adalah permainan paling seru, kenapa dia malah main ular tangga. Walaupun begitu, dia teman yang setia dan pandai, aku sering minta tolong diajarkan pelajaran yang sulit di kelas. Dia juga selalu membantuku belajar sebelum ujian, makanya nilaiku bisa dibilang tidak buruk amat.Terutama ia membantuku pada pelajaran matematika, pelajaran yang paling kubenci.


Pernah suatu hari, aku mendapat hukuman mengerjakan lima ratus soal essay matematika gara-gara tertidur di kelas. Setelah pulang sekolah, aku segera pergi ke rumah Zam dan meminta bantuannya. Satu-persatu kami membahas soal-soal rumit itu. Tentu saja mataku makin lama makin mengantuk. Tanpa sadar aku tertidur.


Aku terbangun saat matahari terbenam. Aku berpamitan pada Zam dan pulang dengan lima belas soal yang baru kukerjakan. Esok paginya Zam telah berada di depan rumahku membawa tumpukan besar kertas. Seluruh jawaban essay telah tertulis disana.


"Permisi!" Ucapku setengah teriak yang menurutku lebih sopan.


"Ya, sebentar!" Teriak seseorang dari dalam rumah.


Aku menunggu di depan pagar rumahnya.Halaman depannya kecil dan penuh dengan barang antik. Ibunya Zam berjalan cepat ke luar. Ia memakai celemek hijau yang penuh saus, dari cara berjalan dan pakaiannya aku tahu dia sedang sibuk membuat saus tomat. Aku memanggilnya Tante Mia. Ia tersenyum.


 "Eh ada Lian, kebetulan, Zam tadi suruh telpon kamu, katanya mau ngasih sesuatu, ayo masuk dulu!"


 "Nggak usah tante, saya cuma mau mengantar kue buatan Mama saya. Tadi pagi mama coba bikin kue, terus berhasil."

__ADS_1


"Oh kue resep neneknya Lian itu?"


 "Tante Mia sudah tahu?" Kataku sambil menyerahkan kuenya.


 "Iya, kemarin mamanya Lian cerita waktu arisan. Enak nggak?"


 "Belum coba, katanya untuk tetangga dulu baru Lian."


 "Oh, mamamu memang selalu baik Lian, ayo masuk, kita coba di dalam."


"Nggak usah nanti Lian coba yang di rumah aja, masih banyak 'kok."


 "Ya sudah, biar Zam kasih langsung saja barangnya. Tante panggil dulu, ya."


"Iya Tante."


 Tante Mia lalu masuk ke rumah. Selang satu menit Zam keluar dan menyerahkan sebuah amplop biru bergambar angin berputar.


Haduhhh, amplop lagi, amplop lagi. Ini juga termasuk salah satu keanehannya, dia sering memberiku amplop seperti itu, menyuruhku membukanya sembunyi-sembunyi. Lalu saat kubuka hanya ada kertas putih kosong. Aku sudah setengah yakin kalau dia ini punya dua kemungkinan, kerasukan atau gila. Aku hanya tersenyum menerimanya.


 "Terimakasih Zam." Ucapku sambil berjalan pulang melambaikan tangan padanya.


 "Iya sama-sama." Jawabnya dengan tatapan serius.


Huh, untung saja dia tidak mengajakku bermain. Pasti tambah capek badan dan stres lagi kalau harus main di rumah Zam. Serasa mengurusi anak bayi atau penghuni rumah sakit jiwa. Aku segera berjalan cepat sebelum Zam sadar dan mengajakku bermain. Langit sudah berwarna jingga saat berjalan pulang ke rumahku.


 @-@-@-@-@


 Malam tiba saat aku selesai main game kesukaanku, game perang. Sudah banyak sekali hero yang kudapat dalam game ini. Semuanya keren dan hebat.

__ADS_1


Sebentar lagi waktu makan malam, aku membereskan semua barang yang berantakan. Termasuk menutup semua aplikasi yang kubuka tadi. Lalu kulihat amplop yang diberi Zam, ini amplop ketujuh belas. Setelah kulihat lebih teliti, amplop ini lebih kecil dari amplop yang diberi Zam kemarin dan ada tertulis huruf S kecil di pojok kanan atas.


 "Lian, ayo keluar! Ini waktunya makan malam," Kata mama sambil mengetuk pintu kamarku.


 "Iya Ma, sebentar!"


Aku segera membuka amplop itu. Sebenarnya aku sudah bosan menerima ini darinya. Isinya pasti hanya kertas kosong, aku sudah menyimpan amplop berisi kertas kosong lainnya di lemari, menjadikannya kertas cadangan kalau kertas corat-coret di kelas habis.


Eh, kartu apa ini, batinku. Isi amplop itu bukan kertas kosong seperti biasanya. Sebuah kartu seukuran kartu remi yang ada di dalam amplop itu, gambar jam digital warna biru laut yang keren menghiasi bagian depan kartu itu. Juga ada lambang S besar di bagian belakang kartu.


 "Lian ayo makan, kok dari tadi belum keluar?"kata mama sambil membuka pintu kamarku. Ia lalu melihat kartu yang kupegang, alisnya mengkerut. Lalu ia tersenyum.


 "Kamu dapat kartu itu dari mana?" Tanya mama tiba-tiba.


 "Dari Zam." Jawabku.


 Mama mendekat lalu duduk di atas kasurku.


"Sini mama lihat!" Kata mama.


Aku pun memberi jam itu pada mama. Mama melihatnya dengan teliti. Termasuk gambar yang ada di kartu ini.


 "Mama tahu ini kartu apa?" Kataku lima menit kemudian setelah bosan melihat mama hanya membolak-balik kartu itu.


 "Jamnya keren 'kan?" Tanya mama meraba gambar jam yang ada di kartu itu.


"Iya sih ma, tapi ini kan cuma kartu, bukan jam asli." Kataku tambah heran. Kenapa mama ikut-ikutan suka sama jam itu.


 "Ini jammu sayang, sini mama pasang jamnya di tanganmu!" Kata mama sambil menarik tanganku.

__ADS_1


"Eh? Pasang jamnya?"


__ADS_2