Book One : Dunia Alpha

Book One : Dunia Alpha
Eps 5.Teman Baru


__ADS_3

Seorang anak laki-laki berkaos putih seumuranku berlari mengelilingi ruangan besar di depanku. Dia melewati dua sofa besar dengan cepat. Di belakangnya dua anak perempuran dengan rambut panjang tergerai yang berantakan berlari mengejar anak laki-laki itu. Kejar-kejaran yang seru.


Anak laki-laki itu berlari ke arahku, tepatnya ke pintu masuk tempatku berada.


"Tangkap maling itu..!"teriak dua perempuan itu bersahut-sahutan ke arahku.


Tangan dan kakiku membentang menjaga pintu. Anak laki-laki itu tetap berlari kencang ke arahku, menyelinap di antara dua kakiku, badannya yang agak kecil dan lincah membuatnya lolos dari penjagaanku.


Aku mengejarnya dengan cepat melewati lorong lorong diikuti kedua perempuan yang sudah terengah-engah. Larinya yang begitu cepat membuat nafasku juga ikut terengah-engah.


Sampai di ujung lorong anak itu berhenti.Di tangga terlihat beberapa orang berpakaian oranye berkerumun melewati anak tangga. Anak itu tak bisa lari kemana-mana.


Wajahnya yang kebingungan membuatku mudah menangkap tangannya.


"Kena kau!"


Ia kaget saat aku memegang erat tangannya. Ia berusaha melepaskan tangannya dariku. Tapi tidak semudah itu.


Tanganku yang mencengkeram kencang tak bisa dilepasnya. Itu terjadi karena tanganku sering digunakan untuk bekerja membawa barang. Termasuk saat membawa tumpukan kue di rumah kemarin yang beratnya mencapai sepuluh kilogram. Juga saat membawa barang belanjaan mama dari pasar atau mall yang bertumpuk menggunung. Tanganku jadi terlatih karenanya.


Anak itu menyerah saat kedua anak perempuan itu tiba. Muka mereka terlihat puas dengan tangkapanku.


"Mana cermin kami?!!" Teriak salah satunya pada anak laki-laki itu. Mereka menatap tajam padanya.


Anak laki-laki itu menyerahkan sebuah cermin bundar seukuran kepalan tangan dari sakunya dengan muka kesal. Anak perempuan yang teriak tadi merebut cermin dari tangannya. Lalu kedua anak perempuan itu pergi meninggalkannya setelah mengambil cermin darinya. Anak laki-laki itu terlihat kesal menatap kedua anak perempuan tadi sebelum akhirnya menatapku.


"Aku sudah mengembalikan barang mereka, lepaskan aku!"


Ia menarik tangannya dari peganganku yang mulai melunak. Ia tersenyum lalu mengulurkan tangannya padaku.


"Namaku Rais, Rin 30243, akhirnya ada seorang laki-laki yang menemaniku di kamar sekarang."


Aku menyalami tangannya, memperkenalkan diriku.


"Aku sudah dua hari lebih di kamarku bersama dua perempuan super cerewet tadi. Kamu tahu di dalam kamar ada dua ruang tidur di dalam satu kamar. Satu untuk yang pria dan satunya untuk wanita."


Aku sudah tahu itu.Tadi Affandi sudah menjelaskannya. Aku tertawa kecil, melihat muka kesalnya karena gagal mengganggu kedua anak perempuan tadi yang masih tersisa. Pasti tidak enak kalau tinggal bersama dengan anak cewek, apalagi cerewet.

__ADS_1


Kepalaku membayangkan keseharian Rais yang pasti selalu dikomentari dan digosipi perlakuannya, apapun itu. Pasti tidak enak. Semoga aku tidak mendapat perlakuan seperti itu.


Orang-orang berpakaian kuning yang membawa remote berlalu melewati kami setelah kami menyingkir.


"Ini hari ketiga penerimaan calon peserta tes masuk Alpha."


Aku hanya berkata huruf O panjang mendengar informasi itu dari Rais saat menunggu orang berpakaian oranye yang ternyata dari distrik tanah bawah mengatur robot terbang di atas mereka.


"Apa kau mau memasukkan 'kantong Barang' dulu ke kamar?"


'Kantong Barang' itu adalah kantong kecil tempat untuk menaruh semua barang barangku. Kantong ini juga pemberian Zam. Ukurannya kecil namun bisa menyimpan barang hingga sebesar kulkas sekalipun. Aku menyimpan sebagian besar barang bawaanku di dalamnya.


"Iya.." Jawabku.


"Kau duluan saja, aku masih takut masuk ke kamar. Takut diamuk massa oleh dua anak perempuan tadi." Kata Rais tersenyum jahil.


"Aku akan pergi ke kantin kalau kau mencariku." Rais berlalu pergi ke alat teleportasi di samping tangga. Tangannya melambai ke arahku.


Aku berbalik, berjalan ke arah kamar sambil melihat suasana sekitar. Ternyata jarak antar pintu kamar sangat jauh. Pasti tiap kamar sangat luas.


Mereka melihatku masuk ke dalam kamar.


"Oh, kau penghuni baru kamar ini. Akhirnya setelah tiga hari ini ada juga laki-laki lain yang datang ke sini."


Mereka berdua tertawa kecil.


"Perkenalkan, namaku Gina, Rin 32218. Salam kenal!"


Tangan kecilnya menyalami tanganku. Rambut panjangnya tergerai sampai ke punggung. Matanya yang sipit menunjukkan kalau dia keturunan Asia Timur.


"Namaku Ella, Rin 31325."


Aku ikut menyalaminya. Rambutnya hanya sepundak tapi sangat lebat. Mereka berdua tersenyum padaku. Aku memperkenalkan diriku dan duduk di sofa besar satunya.


"Mana Rais Si Jahil itu ?"


"Di kantin. Dia bilang kalau masih takut ketemu kalian. Takut diamuk massa katanya." Aku tertawa kecil teringat muka masamnya saat itu.

__ADS_1


"Nanti kalau ketemu bilang padanya jangan jahil lagi. Kamu juga jagain dia jangan sampai berbuat seperti tadi. Kalau tidak awas saja!" Gina


mengancam.


"Iya...iya, hehehe." Tanganku melambai mengiyakan dan pergi ke ruangan yang merupakan kamar untuk anak laki-laki.


Bagiku lebih baik pergi secepatnya dari mereka sebelum urusannya tambah rumit. Seperti kata papa, perempuan itu seperti soal matematika anak SMA. Semakin dekat semakin pusing.


Aku menata salah satu almari yang bertuliskan namaku. Satu demi satu aku mengeluarkan semua baju yang ada di kantong barang. Kemudian menatanya serapi mungkin di dalam lemari.


Ada tiga lemari yang ada di kamar ini. Satu milikku, satu milik Rais yang sekarang dikunci, dan satu lagi masih belum digunakan.


Setelah semua barangku tertata rapi aku berbaring di tempat tidurku. Aku menghela nafas panjang.Ini baru hari pertama di Alpha. Banyak hal yang baru dalam hidupku.


Luapan rasa senang, sedih, takjub dan perasaan lainnya berkumpul di dalam pikiranku. Ini baru hari pertama, bagaimana besok? Ataupun besoknya lagi? Pasti lebih seru.


Aku tersenyum lebar. Senang sekali.


Matahari sudah di ujung kota. Mulai tenggelam di antara bangunan-bangunan di distrik Tekno-Pi.


Suasana langit makin ramai saat banyak flyboard beterbangan hilir mudik. Sama saat di rumah ketika saat pulang kerja.


Mama bilang kalau matahari di sini disesuaikan dengan matahari sesungguhnya di atas. Berarti di rumah juga sudah sore. Pikiranku berputar kemana-mana. Antara suasana di rumah dan suasana baruku di sini.


Lamunanku terhenti saat Rais masuk kamar. Mukanya terlihat masam.


"Kenapa kamu Is?"


"Kamu tahu, mereka berdua masih marah denganku. Tadi mereka nggak mau


jawab sapaanku. Huh.."


"Ya udah biarin aja.Nanti kamu minta maaf sama mereka. Aku temani deh!"


"Beneran lho!" Rais mengacungkan tangan padaku.


"Iya deh."

__ADS_1


__ADS_2