Book One : Dunia Alpha

Book One : Dunia Alpha
Eps 12.Berita besar


__ADS_3

"Lian....., Lian, katakan sesuatu!" Suara itu terdengar pelan di telingaku.


Kepalaku masih agak pusing namun tangan dan kakiku sudah bisa kugerakkan perlahan.


"Eugh..." Suara itu keluar dari mulutku saat aku mencoba mengeluarkannya. Aku membuka mataku dan menemukan Rais yang ternyata menertawakanku.


"Aku menyuruhmu mengatakan sesuatu, bukan bergumam, eugh...."


Aku pingsan, ini pingsan pertama dalam seluruh hidupku. Rasanya seperti tidur tiba-tiba dengan rasa pusing yang berdenyut.


"Rais, ada orang pingsan kok malah ditertawakan. Bantuin dong!" Ella mendekat, menuang air ke mulutku. Kami berdua tersenyum.


"Hem....Iya, iya, tapi kalau bantu jangan pake romantis-romantis segala kali!" Rais nyeletuk. Wajah Ella sangat dekat denganku memang saat ia memberi minum. Kini wajahnya bersemu merah muda.


"Siapa juga yang romantis, paling kamu sama nona Fania itu mungkin!"


Wajah Ella bersemu merah, ia menjauh. Mungkin wajahku juga ikut bersemu. Semua tertawa.


"Hei, kalian belum pantas pacaran, jadi jangan aneh-aneh!"Kapten Jun mendekat. Ia ikut tertawa.


Ia meminta orang yang baru sadar dari pingsan untuk dipapah, termasuk aku. Kami melayang dengan kekuatan Kapten Jun. Kami segera pergi ke asrama, bersiap untuk istirahat.


Hampir dua menit kami terbang dan tak terasa kami sudah sampai di depan asrama. Ada dua kelompok peserta yang ada di asrama.


Katanya, sesuai jadwal mereka akan melakukan tes di sore dan malam hari.


Aku dibopong Kapi ke kamar. Siang itu, seluruh rombongan Kapten Jun sudah beristirahat di kamar. Penghuni kamarku semua sudah berkumpul di sofa.


Rais dan Kapi meminum jus segar, menghilangkan dahaga mereka. Sedangkan Gina asik memainkan gadgetnya dilihat oleh Asuza.


Adapun Ella sedang melamun. Wajahnya masih bersemu merah karena kejadian tadi siang, walaupun tidak semerah tadi. Aku memegang kepalaku yang agak pusing. Rais memberi segelas jus segar untukku. Ia dan Kapi memang membuat jus untuk semuanya.


"Ayo diminum, yang ini spesial buatan Ella. Kalau nggak diminum nanti dia marah lho!" Rais nyeletuk.


"Heh!!" Ella melotot mendengarnya. Ia menatap Rais. Mukanya bersemu merah.


"Bercanda Ella, nggak usah dibawa serius begitu lah!" Gina menghibur.


Ella melanjutkan lamunannya menatap jendela. Mukanya bertambah merah kembali.

__ADS_1


Segelas jus kuhabiskan dalam sekejap. Aku berbalik dan berjalan pelan ke kamar. Sepertinya aku mau tidur saja, rasanya ngantuk sekali.


@-@-@-@-@


Seorang kakek tua berjalan dengan tongkat tuanya yang rapuh disana sini. Ia pergi ke arah seorang nenek tua yang masih tegak menatap langit kota yang dipenuhi Pasukan Mata Merah.


"Apa yang kamu lakukan sayang?" Kakek itu bertanya.


"Kau lihat pemandangan itu?" Nenek itu menunjuk Pasukan Mata Merah.


"Aku sudah lama tidak melihatnya. Mungkin terakhir kali aku melihatnya saat umur sepuluh tahun. Sudah sekitar delapan puluh tiga tahun yang lalu."


Terlihat seluruh pasukan kayu emas menahan pergerakan Pasukan Mata Merah.


Kakek itu tertawa kecil, menyilangkan tangannya."Apa kita perlu membantu mereka kali ini?"


"Belum, ini belum waktunya, ramalan tentang bencana yang dimaksud lebih dari ini."


"Tapi lihatlah mereka, jumlah mereka sedikit ditambah kemampuan mereka kurang melawan pasukan yang memiliki kemampuan setara dengan distrik Kayu Emas dan distrik Tekno-Pin. Aku yakin sebentar lagi mereka akan kalah."


"Hei, kenapa laki-laki sekarang lebih banyak bicara dari perempuannya.!" Mereka berdua tertawa.


"Tidak perlu, sebentar lagi bantuan tiba."Nenek itu menyipit melihat ke satu arah. Walaupun wajahnya keriput dan rambutnya sudah memutih pandangannya tetap tajam.


Sebuah dinding besi dibuat untuk melindungi sekolah dan seluruh warga sekitar diungsikan ke sana.


Saat seluruh pasukan bantuan Alpha berusaha keluar dari portal. Kepala Pasukan Mata Merah, panglima Semu menempelkan tangannya di monitor.


"Selamat tinggal!"


Warna merah menyala memenuhi langit dan sebuah meteor raksasa jatuh ke bumi.


Seluruh pasukan distrik Kayu Emas dan distrik Tekno-Pin mundur, berdesakan masuk ke portal, kaget dengan serangan superbesar Pasukan Mata Merah. Seluruh pemilik kekuatan distrik Kayu Emas mencoba menghentikan ratusan meteor itu.


Hasilnya mereka gagal karena selain meteornya sangat besar dan keras, ada energi lain yang membelokkan serangan mereka.


"Apa kita benar-benar tidak bisa menolong mereka?" Kakek itu bertanya sekali lagi pada nenek, mencoba meyakinkan. Wajahnya terlihat cemas.


"Hmm, sepertinya mereka memang butuh bantuan." Nenek itu mengibaskan tangannya.

__ADS_1


Sebuah angin kecil muncul. Seperti domino yang jatuh makin cepat, angin yang berhembus semakin jauh semakin cepat. Angin itu bertemu dengan meteor yang jatuh. Saat saling bersentuhan dan angin itu berjalan terus. Meteor yang terkena angin itu juga segera membalik arah melewati awan hitam, mengikuti arah angin seakan-akan angin itu membawanya pergi.


"Sudah, ayo kita pulang." Nenek itu menggandeng tangan kakek.


Mereka berdua berjalan bersama, muka mereka bersemu seperti pasangan muda-mudi di jalanan. Pasangan tua yang romantis.


Semua terpana menyaksikan hal yang terjadi barusan. Termasuk pasukan Alpha  yang mencari sumber serangan.


"I.....inikah, inikah kemampuan Ranker itu?"Mama Lian menatap langit yang kini penuh dengan suara dentuman. Ia terjatuh, pingsan.


'Duarr..'


Suara itu berasal dari flyboard Pasukan Mata Merah sekaligus pesawat utama mereka. Mereka tidak akan menduga dengan serangan balik dadakan yang barusan terjadi.


@-@-@-@-@


"An....Lian, bangun!! Kota tempat tinggalmu diserang!!" Kapi masuk dengan wajah panik.


"Apa maksudmu?" Aku terkejut dan melompat dari ranjangku. Aku baru setengah tidur saat Kapi mengagetkanku. Ia terlihat panik. Sepertinya memang benar-benar serius. Aku keluar dari kamar diikuti oleh Kapi.


"Lian!! Sini lihat di televisi, itu perumahan S kan, perumahan tempat tinggalmu bukan?" Gina berkata panik.


Sebuah video terpampang di layar transparan di tengah ruangan. Perumahan S, sekolahku, supermarket kesukaanku, sebagian besar rusak parah, bahkan hancur. Kakiku membeku melihat itu. Mataku menatap semuanya tak percaya.


Gambar berganti, sebuah layar transparan di langit kota terpampang di bawah awan hitam. Layar yang menampilkan sosok mengerikan dengan jubah hitamnya. Pembawa acara segera mengganti topik ke jumlah korban yang tewas sebanyak dua puluh orang. Lima di antaranya adalah anggota Alpha  terlihat dari pakaiannya.


Sebuah rumah sakit menampilkan orang-orang yang sekarat dan dibawa ke ruang gawat darurat. Sesak sekali.


Sang pembawa kamera berkeliling memperlihatkan kondisi beberapa orang dengan luka parah. Aku segera mengambil telepon genggam dan menelpon nomor rumah. Seluruh anggota kamar menunggukuikut cemas. Telepon tidak aktif.


Tidak mungkin, bagaimana bisa terjadi?Sebenarnya ada apa di sana?


"Lian lihat lagi ke televisi." Ella memintaku. Ia menunjuk gambar seorang perempuan dengan tangan dan kaki tertutup es.


Wajahnya pucat dan dipenuhi banyak luka darah. Aku menutup muka. Apa yang


sebenarnya terjadi?


Aku menunjuk perempuan di televisi itu. Tanganku bergetar. Seluruh tulangku serasa mati rasa.

__ADS_1


Aku jatuh dengan kaki ditekuk. Air mata mengalir perlahan.Tanganku masih menunjuk wanita berpakaian resmi Alpha  itu. Aku mengenalnya.


"Ma....ma.."


__ADS_2