
Mataku mengerjap ketika mendengar jam weker berdering keras. Udara dingin langsung menusuk kulitku. Aku berada di kamar, tepatnya terbaring di atas ranjangku. Bahkan ini sudah pagi bukan malam ketika aku memeluk origami itu. Eh, origami itu. Origami yang membuatku tersengat listrik.
"Ma....!!" Aku berseru kencang.
Pintu kamar terbuka dan mama masuk bersama seorang laki-laki yang mirip sekali denganku. Mataku membesar melihatnya.
"Ada apa Lian?"
"Ma, I...Itu siapa?" Tanyaku terkejut melihat orang yang sama denganku. Sama seperti melihat cermin.
"Itu tiruanmu Lian.."Kata mama santai seperti sudah terbiasa dengan semuanya.
Mataku memandang tiruanku yang sangat mirip itu. Tatapannya, wajah, serta tubuhnya sama persis denganku. Mungkinkah itu dari robot tiruan semalam.
"Ayo sarapan dulu..!" Kata mama melihatku terdiam melihat tiruanku.
Aku akhirnya berdiri dan mengikuti mama serta tiruanku yang berjalan keluar kamar.
Pandanganku masih pada tiruanku. Begitu juga dirinya yang mulai menatapku setelah duduk di meja makan. Mata kami saling berhadapan. Ketika aku memiringkan kepalaku, dia mengikutinya. Begitu juga ketika aku melambaikan tanganku, dia melambaikan tangannya. Sepertinya dia mempermainkanku. Dia tertawa.
Papa dan mama yang sedari tadi melihat kami bertingkah aneh ikut tertawa. Aku yang awalnya kebingungan akhirnya ikut tertawa.
"Lian.."
"Ya Ma..." Aku dan tiruanku mengucapkannya bersama-sama.
Papa yang melihatnya tertawa lagi. "Ternyata kalau Lian ada dua seru juga ya ma!!"
"Iya pa.." Mama ikut tertawa.
Kami berdua terheran-heran. Karena sifat peniru yang seperti copypaste sifatku dan membuat kami seperti kembar siam. Terlebih tak ada perbedaan sama sekali diantara kami.
"Mulai sekarang mama sama papa akan memanggil Lian yang asli tetap dengan
nama 'Lian' dan Lian yang tiruan dengan nama 'Lian E', ya!?!"
"Iya, Maa..." Jawab kami tanpa sengaja bisa bersamaan. Aku terus menatap tiruanku dengan wajah kesal begitu juga dengannya.
"Sekarang ayo sarapan dulu, nanti setelah sarapan bantu Lian buat siap-siap berangkat ke Alpha."
__ADS_1
@-@-@-@-@
Mama meneruskan penjelasannya tentang Alpha setelah sarapan.
"Lian, coba bawa semua barang yang diberi Zam untukmu!"
"Semuanya Ma?"
"Iya Lian."
Aku pun mengambil semua barang pemberian Zam. Bola plastik, pensil warna, stik es krim dan lain-lain yang kusimpan di dalam sebuah kresek besar. Kupikir barang pemberian Zam tidak berguna jadi kusimpan saja demi menghargai pemberian seorang teman.
Tapi ternyata Zam yang aneh memiliki hal misterius yang kutemui dari kemarin. Mama mengambil bola plastik pemberian Zam.
"Ini bola informasi, segala hal tentang dunia Alpha ada di sini, termasuk biodata dirimu nanti akan ada di sini. Lalu pensil dan kain perca ini adalah peta dunia, baik itu di atas tanah maupun peta di bawah tanah tempat PT Alpha berada."
Mataku mengerjap menatap semua barang tadi. Ini semua pemberian Zam. Barang yang ajaib ini. Mama menjelaskan semua barang pemberian Zam sekaligus cara memakainya.
Setelah semua penjelasan mama selesai, aku mencoba memakai satu-persatu barang tadi. Mengabaikan mama yang mengajakku ke pasar dan malah Lian E tiruanku yang menemaninya. Aku memulai dari bola informasi.
Cara memakainya dengan memutar bola tiga kali ke arah kanan. Aku yang baru memakainya terkaget-kaget saat bola itu terbang ke langit-langit ruangan dan memancarkan sebuah panel informasi. Wow, seperti teknologi masa depan.
Distrik Mahkota raja merupakan pusat dari semua distrik yang merupakan tempat pelatihan para pemimpin dan pembesar perusahaan Alpha. Hampir seluruh pembesar perusahaan ada di sana. Para pekerja di sini, selain dilatih menjadi calon pemimpin, juga dilatih ilmu-ilmu lain yang mendukung kepemimpinannya.
Distrik berikutnya adalah distrik Pena hijau, distriknya lautan ilmu dan pengetahuan. Tentu saja kalau bersangkutan dengan ilmu maka sangat berkaitan dengan buku. Hampir seluruh bagian distrik ini berisi buku-buku kuno, alat penerjemah, serta alat pencari informasi. Selain itu distrik ini juga dikenal sebagai distrik obat dan sihir.
Lalu ada distrik Tekno-Pi yang merupakan singkatan dari Teknologi Pintar. Seluruh teknologi rahasia yang ada di Alpha berasal dari distrik ini. Di sini jugalah tempat tes penentuan bakat dilakukan.
Berikutnya ada distrik Kayu Emas yang merupakan pelatihan para prajurit, dan para pemilik kekuatan khusus.
Terakhir ada distrik tangan bawah. Distriknya para petani, koki, pembantu dan pekerjaan rendahan lainnya. Disebut sebagai distrik terendah yang bertujuan melayani keperluan sehari-hari distrik lainnya.
Semua distrik ini terpisah satu sama lain. Setiap distriknya berupa satu kota super besar berbentuk lingkaran yang ditutupi kubah langit untuk menghalangi tanah masuk di sekelilingnya. Bila dilihat dari peta akan tampak lima titik yang membentuk bangun segi lima sama sisi. Walaupun letak semua distrik itu di dalam tanah, suasananya sama seperti di kota permukaan.
Masih banyak informasi lain yang ada di bola informasi ini, tapi aku harus berhenti melihatnya karena aku harus mencoba beberapa bunga pemberian Zam. 'Bunga Modelis' namanya. Ada tiga set bunga yang diberi Zam, yaitu bunga mawar biru, bunga plastik , dan bunga anggrek.
Bunga ini adalah pakaian yang akan kupakai selama tes di sana. Aku meletakkan tangkai bunga modelis mawar biru di atas pundakku. Tangkai bunga itu memanjang dan daunnya bertumbuhan lebat menutupi tubuhku.
Dua menit kemudian daun-daun itu bercahaya dan menjadi baju resmi perusahaan dengan lambangnya berada di dada sebelah kiri. Oke, aku sudah mengerti cara memakainya.
__ADS_1
Termasuk dua baju yang lainnya yaitu piyama dan baju tebal. Juga benda-benda lainnya yang kucoba dan aku mengerti cara pakainya.
Malamnya, setelah aku mencoba hampir semua alat pemberian Zam aku kembali membaca ratusan informasi tentang dunia Alpha di kamarku, di dalamnya menggambarkan lima distrik besar yang ada di dalam tanah. Tersusun menjadi segi lima dengan tiap distriknya berupa satu kota besar yang ditutupi kubah baja setengah bola. Kota-kota di dalamnnya dibangun sesimetris mungkiun seperti halnya di negara-negara maju.
Di saat aku sedang serius membaca sebuah artikel mengenai seorang pembesar Alpha, yang ternyata kakekku, seseorang menepuk punggungku. Aku segera menoleh.
“Ehh..Ayah, kenapa?” Tanyaku pada ayah yang masih duduk terdiam di ranjangku dengan senyum khasnya.
“Lian.....” Panggilnya pelan.
“Ayah akan memberimu sesuatu yang penting, sama seperti yang diberikan oleh ayahnya ayah dulu.”
Aku duduk dengan tegap, pandanganku serta pendengaranku mengarah pada ayah,
sebuah pesan penting akan diberinya.
“Kau mungkin tak punya kekuatan khusus seperti ibumu. Ataupun nilai yang bagus di pelajaran sekolahmu. Fisikmu juga belum kuat, dan kau, mungkin bisa saja menjadi bahan ejekan anggota Alpha yang lain. Tapi ada satu hal yang harus kau tahu.”
“Kau adalah seorang yang berbeda. Kau takkan menghuni distrik manapun di Alpha, karena kau akan memimpin semua distrik itu dari tempat yang lebih tinggi. Tempat yang diharap semua anggota Alpha. Tempat mengerikan yang menjadi incaran semua musuh Alpha.”
“Dimana itu Ayah?” Tanyaku penasaran.
“Kau akan tahu nanti, tunggulah!” Ayah tersenyum, mengacak-acak rambutku.
“Yahh..” Bibirku maju.
“Oh...iya..satu lagi.” Ayah mengingat satu pesan lagi. Tangannya menunjuk ke mukaku. Dengan nada mengancam ia berkata, “Jangan kebanyakan main game online di sana.” Ayah tertawa pelan. Mukaku bertambah masam. Ayah mengelus punggungku.
“Makasih Yah.”
@-@-@-@-@
Esoknya, aku sudah siap untuk berangkat. Mama, papa, dan Lian E sudah berada di dalam kamarku menungguku berangkat. Semuanya sudah siap saat mama menempel stik es krim pemberian Zam di dinding kamar dan stik itu berputar. Warna stik yang awalnya coklat muda berubah menjadi warna pelangi. Cahayanya berpendar dan menghiasi kamarku.
"Ayo Lian, waktunya berangkat!"
"Iya Ma." Jawabku saat bersalaman dengan papa dan mama.
Tanganku menyentuh putaran stik es krim berputar itu. Tanganku tertarik masuk ke dalamnya seperti magnet. Aku menengok ke belakang, ke arah papa, mama, dan Lian E. Mereka juga ikut melambaikan tangan. Seluruh tubuhku tersedot ke dalam putaran stik itu.
__ADS_1
Saat aku menengok ke depan, kabut tebal menyelimuti tubuhku hingga aku tak bisa melihat apapun. Tubuhku melayang seperti tanpa ada gaya gravitasi.