Book One : Dunia Alpha

Book One : Dunia Alpha
Eps 28. Zam dan Black


__ADS_3

Matahari memerah dan membuat suasana menjadi mulai remang-remang. Rumah-rumah di Desa Abu kematian juga mulai tertutup. Sebagian besar warga bahkan mulai menarik selimut dan menggembok seluruh lubang rumah. Malam adalah musuh besar mereka. Bukan hanya karena hewan-hewan buas yang berkeliaran di luar desa. Namun bahaya juga datang dari dalam. Bahaya yang tak terduga akibat kelaparan.


Sebaliknya orang-orang yang sudah tak bisa mendapat apapun untuk dimakan malam adalah masa pembalasan mereka. Wajah-wajah kelaparan itu mencari mangsa. Entah itu tetangganya, saudaranya, bahkan bila tak ada lagi mereka bisa memakan keluarga mereka sendiri, bahkan anak-anak mereka. Sungguh malam penuh marabahaya yang tak terduga.


"Kau sudah siap?" Black berdiri dengan jas hitam dengan isian kemeja putih dan dasi hitam juga. Gaya orang kantoran lengkap dengan sepatu pantofel dan tas kerja di tangan kirinya. Ia melangkah keluar rumah dengan langkah perlahan. Wajahnya seperti biasa, dingin dan tak menoleh sedikitpun pada Zam yang baru saja bangun dari tempat tidurnya.


Luka-luka di tubuhnya sembuh begitu cepat. Mungkin sudah melebihi kecepatan pengobatan modern saat ini. Wajahnya kini malah terkejut dan bingung dengan apa yang dikatakan Black.


"Bersiap untuk apa?" Zam bertanya dengan nada heran. Ia beranjak mendekati Black yang sudah menggapai pintu keluar. Ia hanya mengenakan kaus lengan pendek kusam berpadu dengan celana pendek yang dipakainya.


"Pergi." Black menjawab singkat sambil membuka pintu keluar. Ia berjalan ke arah sebuah benda besar berbentuk bola di depan rumah yang tak pernah diketahui Zam. Lampu-lampu bercahaya warna-warni keluar dari bola raksasa itu. Mungkin itu satu-satunya sumber cahaya yang ada di malam Desa Abu Kematian. Seperti sebuah titik beraneka warna yang dikelilingi oleh warna hitam yang gelap gulita.


"Pergi kemana?" Zam bertanya dari dekat pintu. Black yang sedang mengetik sesuatu di 'bola raksasa' itu lagi-lagi menjawab singkat.


"Menjemput profesor."


Zam memasang wajah lebingungan sekali lagi.


"Profesor? Profesor siapa? Untuk apa?" Zam meminta jawaban dengan mimik sangat penasaran. Black tidak lagi menjawabnya dengan singkat, kali ini ia diam saja dan masih sibuk membuka 'bola raksasa' yang entah digunakan untuk apa.


Beberapa detik kemudian Black berhenti mengetik, ia mundur beberapa langkah. Tepat saat Black berhenti Bola itu membuat retakan besar yang dapat dilewati satu orang dewasa. Selain itu di dalamnya tampak sebuah ruangan luas dengan cahaya putih keluar dan menerangi gelapnya malam.

__ADS_1


"Si accomodi, masuklah!" Black berkata datar memandang Zam. Mata mengkilatnya menyapu sekitar memastikan tak ada yang melihat mereka. Zam hanya tertatih melangkah mendekati Black. Lalu memandangi 'bola raksasa' yang ternyata merupakan pesawat teleportasi berteknologi tinggi. Zam melangkah mendekat pada pintu masuk, disusul Black melangkah di belakang sembari mengawasi sekitar.


"Fermare! Berhenti!" Suara keras dan melengking terdengar dari belakang mereka. Suara itu jelas sekali berasal dari suara seorang wanita. Berjarak radius lima belas meter, di sekitar mereka muncul ratusan orang dengan pakaian gelandangan penuh bekas darah dan wajah beringas.


"B...Black, k...kau tahu mereka?" Zam menatap wajah-wajah kanibal di depannya. Orang-orang itu mengerumuninya dan Black seakan melihat hidangan yang siap dimakan. Orang-orang di depan mereka ini sebagian besar dari mereka adalah pria dewasa, dan sisanya wanita.


"Iya, mereka adalah Squadra Predatore Notturno. Para pemburu malam." Black mengangkat tas kerjanya.


"Menyingkir atau kumusnahkan kalian semua!" Black berkata dengan sangat pelan dan nada yang mengancam. Ia bersiap membuka tas kerjanya, entah apa isinya tapi membuat orang-orang di sekitar mereka menatap kesal.


"Ancamanmu tak mempan lagi bagi kami Black. Ha..ha..ha..." Wanita di depannya malah menampakkan wajah beringas. Wanita yang istimewa, karena postur tubuhnya yang melebihi semua laki-laki dewasa di sana. Matanya hitam legam dan menampakkan aura jahat yang dapat menakuti orang yang menatapnya. Yang paling istimewa adalah rambutnya yang berwarna ungu keperakan. Sudah jelas bahwa wanita itu adalah pemimpin kumpulan orang yang mengelilingi Zam dan Black. Wanita itu menggerakkan bola matanya menatap pesawat yang penuh cahaya. Telunjuk tangan kirinya menunjuk pada dua benda bergantian, pesawat dan tas kerja yang dibawa Black.


"Itu...dan tasmu itu takkan dapat menyakitiku lagi, leggero, cahaya tak dapat membuatku terluka lagi. Ha...ha...ha..."Wanita itu mendadak berlari ke arah Zam. Tangan kanannya yang awalnya kosong mendadak sudah membawa belati emas panjang yang mengkilat. Matanya fokus menatap Zam.


'Ctarrr...' Kerikil itu tepat mengenai dahi wanita itu dan meledak diikuti suara sambaran petir. Zam berbalik mendengar suara itu dan terkejut melihat wanita itu sudah terjatuh dengan dahi penuh dengan darah hitam yang mengalir dari luka bekas ledakan. Matanya menatap Black marah.


"Masih perlu seratus tahun lagi bagimu untuk dapat menahan satu jenis jurusku. Permisi." Black segera berbalik dengan tatapan semua orang yang terkejut dengan pemimpin mereka yang terluka parah. Ia memasuki pesawat dan menjentikkan jari di pintu masuk. Pintu itu langsung menutup rapat.


Lima detik kemudian, pesawat itu melayang dan terbang dan menghilang ditelan malam. Tempat pesawat itu menyisakan senyap juga wanita yang masih mengalirkan darah hitamnya dan dikerumuni anak buahnya yang menatap cemas. Mereka ingin menolong, namun tak tahu bagaimana caranya. Pemimpin mereka istimewa. Ia bukanlah makhluk biasa.


Dalam senyap usai kejadian itu wanita itu bergumam pelan, bibirnya bergerak walaupun tak dapat dilihat oleh pengikutnya.

__ADS_1


"Namaku Buio, putri dari kebencian dan kelicikan, aku yang akan menang melawanmu Black, aku akan menang setelah semua ini selesai, tunggulah."


Sementara itu di pesawat, Zam masih berdiri menatap sekitar. Ada tiang-tiang pesawat yang berwarna keperakan. Teknologi-teknologi yang tak dikenalinya, juga beberapa tulisan berbentuk kotak-kotak yang tak dapat ia baca. Mungkin itu adalah kode atau sejenisnya. Ia semakin bertanya-tanya siapa sebenarnya Black. Ia sudah merasa segan dan takut melihat kemampuan Black. Namun sebelumnya ia akan bertanya hal lain yang lebih penting.


"Black!" Zam mendekati Black yang terlihat masih sibuk di tempat yang mungkin adalah dapur. Walaupun tidak terlihat seperti dapur karena tak ada panci, kompor dan lainnya namun yang Zam lakukan dapat menjelaskannya. Ia sedang menekan beberapa tombol di atas meja. Di sampingnya ada sepiring penuh pil berwarna merah.


Black menoleh mendengar Zam memanggilnya. Wajahnya seperti biasa menatap Zam dengan dingin.


"Apa?"


"Kemana kita akan pergi?" Zam bertanya dengan pelan takut mengusik Black. Lima menit dalam senyap setelah Zam mengucapkan pertanyaan itu. Hanya terdengar suara ketukan tangan Black di atas meja.


'Srett...' Mendadak muncul dua piring berisi roti isi daging di atas meja.


"Black, kemana kita akan pergi?" Zam bertanya sekali lagi dengan sopan. Getar di suaranya tak mampu ia sembunyikan, ia takut Black melakukan sesuatu padanya.


Black menoleh pada Zam.


"Mid-Alpha." Katanya datar.


"Hah, apa katamu tadi?" Zam menatap heran sekaligus kaget mendengar jawaban Black.

__ADS_1


"Mid-Alpha."


__ADS_2