
"Dai, compralo!! ayo, belilah!!
"Mayat segar, harga terjangkau!!"
" Barter dengan apapun bisa!!"
Tiga orang gemuk dengan pakaian kumuh model Italia berdiri di pinggir desa Abu Kematian, tepat di samping gerbang keluar desa. Wajah sumringah mereka keluarkan sebaik mungkin untuk menarik para pembeli datang. Hari ini adalah hari keberuntungan bagi mereka. Bagaimana tidak, ada dua puluhan mayat segar dengan pakaian berwarna mereka temukan di sungai mayat dekat pantai. Lelang besar-besaran mereka buka lebih cepat dari yang seharusnya. Biasanya mereka harus menunggu satu pekan lebih untuk menjual barang mereka. Bagi penduduk Desa Abu Kematian mencari makanan yang layak adalah barang sulit, bahkan bagi orang-orang kaya.
Sudah tiga puluh tahun lebih mereka hanya dapat memakan korban wabah hitam yang belum membusuk. Jika dalam satu pekan mereka tidak mendapatkan makanan apapun bahkan mayat untuk dikonsumsi terpaksa mereka mengorbankan sepuluh orang dari mereka untuk menjadi santapan satu penduduk desa. Tidak heran bila penduduk Desa Abu kematian memiliki wajah garang mulai dari orang dewasa, wanita, hingga anak-anak.
Tidak pernah ada seorang pun dari luar pulau yang datang ke pulau itu. Selain menakutkan, kebutuhan air bersih yang sangat kekurangan dan juga faktor makanan yang tidak mencukupi.
Lalat beterbangan di sekitar mayat-mayat segar tersebut. Juga pembeli yang mulai berkerumun, pelelangan mayat. Tiga orang tersebut telah siap. Satu orang mengangkat mayat pertama. Satu orang menawarkan mayat sambil memberi harga awal, dua kantung kecil garam.
"Cinque! Lima kantung!"Sahut salah satu pembeli.
Lainnya segera meneriakkan,"Sette, tujuh kantung garam! dallo A me! Berikan sekarang!"
Hingga akhirnya harga final dimenangkan dengan sepuluh kantung garam dan seikat beras oleh pembeli berjubah coklat dan mayat segera dilempar oleh pedagang pertama pada penawar harga tertinggi. Beras merupakan barang yang lumayan langka sehingga berharga lebih mahal dari garam. Bila dihitung, di Desa Abu Kematian harga sekantung kecil beras seharga lima hingga sepuluh kantong kecil beras.
__ADS_1
Pelelangan berlanjut dengan mulus hingga mayat keenam belas. Mayat berbaju oranye yang masih segar, mulus, dan bersih.
"Questo è il diciassettesimo, mayat ketujuh belas!" Sahut pedagang kedua.
"Kuberi harga awal sembilan kantung garam karena mayat ini bagus sekali lihatlah!" Kata pedagang ketiga yang memberi harga sambil menunjuk tubuh Zam yang masih dalam kondisi koma dan sebenarnya belum meninggal. Semua calon pembeli menatap tubuh Zam yang masih bersih itu dengan takjub. Masing-masing mulai melihat barang barter yang mereka bawa.
"Lima belas kantung garam!"Teriak seorang wanita kurus dari belakang kerumunan.
"Dua puluh tiga kantung garam!" Seorang pria gemuk dengan congkak mengangkat seluruh kantung di tangannya.
Dua puluh kantung garam dan lima kantung beras! Sbrigati, berikan padaku!"Teriak seorang tua berjubah cokelat dengan bercak hitam dari dekat pedagang pertama yang membawa tubuh Zam. Dalam waktu beberapa detik pedagang ketiga segera tersenyum, mengayunkan tangannya tanda mempersilahkan untuk mengambilnya.
"Kau benar-benar memberi harga sebesar itu atau hanya bualanmu saja Nero? Hah?" Pedagang ketiga bertanya dengan serius pada pemuda berjubah hitam itu.Nero merupakan pemuda desa yang hidup menyendiri di sebuah rumah reyot di ujung desa.
"Sì vero, ya, benar, aku ingin barter dengan harga yang telah kusebutkan. Kuulangi lagi tawaranku sambil kutunjukkan." Pemuda itu membuka kotak besar yang awalnya dibawa di punggungnya. Ia mengeluarkan tiga buah karung dari kotak besarnya.
"Satu kantung besar beras dan dua karung garam seperti yang telah kusebutkan." Nero yang selalu berpakaian amat tertutup itu mengangkat karung-karungnya dan menunjukkan isinya satu-persatu. Semua orang hanya bisa membelalak melihat jumlah beras dan garam yang dibawanya. Itu cukup menjadi makanan satu keluarga selama sebulan penuh.
Dengan terbata-bata dan wajah terkejut bercampur gembira yang meluap-luap pedagang ketiga dan kedua menganggukkan kepalanya tanpa sadar. Pedagang pertama segera menarik Zam yang hampir diserahkan pada penawar sebelumnya dan segera memberikannya kepada Nero.
__ADS_1
Nero yang menerimanya segera melemparkan tiga karung barternya kepada pedagang kedua. Ia beralih mengangkat tubuh Zam yang masih berada dalam keadan koma. Tanpa basa-basi ia langsung berbalik pergi menuju jalan rumahnya.
"Kau dapat darimana semua beras dan garam ini Nero?" Pedagang pertama itu bertanya pada Nero yang baru mau melangkah pergi. Nero hanya membelokkan kepalanya pada pedagang pertama.Kerutan di sekitar matanya memperlihatkan kalau ia sedang tersenyum.
"Itu bukan urusanmu, pak tua.." Katanya dengan santai dan segera melanjutkan langkahnya. Tubuh Zam yang lumayan berat dipikulnya dengan santai sembari menatap sekitar.
Seluruh bagian Desa Abu kematian terlihat kumuh. Tidak ada tempat yang terurus. Semua orang hidup dengan ambisinya masing-masing demi mempertahankan hidup mereka tanpa memperhatikan sekitar mereka. Walaupun ada yang disebut sebagai aparatur desa di Desa Abu kematian, itu semua tidak berguna sama sekali. Hal itu karena aparaturnya juga hanya mementingkan diri mereka sendiri. Hampir tidak ada satupun di desa itu yang mementingkan orang lain.
Kehidupan di sana persis seperti kehidupan di kota-kota besar yang hanya mementingkan diri sendiri. Tak ada sapa menyapa, beri memberi, bahkan tolong menolong. Itu adalah hal yang mustahil di dalam Desa Abu Kematian.
Nero berjalan cepat ke sebelah luar perbatasan utara, tempat dia tinggal. Rumah reyotnya bisa dikatakan agak lebih berwarna dibanding rumah lainnya. Meskipun begitu rumahnya tidak pernah dikunjungi siapapun. Maklumlah, di Desa Abu Kematian berkunjung adalah satu hal yang tabu.
Nero memasuki rumahnya yang berhias bunga anggrek biru di dinding-dindingnya. Juga cat temboknya yang berwarna hitam pekat. Cara berjalannya berubah santai dan perlahan ketika memasuki rumah. Pintu rumah ditutup dan ia membawa Zam ke sebuah meja kayu panjang, membaringkannya perlahan.
Ia membuka tudung kepalanya dan melepas kain penutup mulutnya. Wajahnya yang putih bersih dan tanpa noda berbeda sekali dengan wajah penduduk Desa Abu Kematian. Walaupun wajahnya sama menyeramkannya dengan penduduk lainnya.Apalagi dengan rona wajahnya yang lesu, pucat seakan dipenuhi dengan kebencian.
Tangannya lalu bergerak cepat mengecek nadi di tangan dan leher Zam. Wajahnya tetap dingin saat mengetahui Zam masih hidup. Layaknya dokter ahli ia membuka lemarinya dan mengeluarkan perban, kasa, dan lainnya.
Nero mengecek tiap luka yang ada di tubuh Zam. Setiap luka ia bersihkan dan obati, bagian yang sobek segera ia jahit dan perban. Tiga puluh menit dan semuanya selesai. Wajahnya tetap dingin tanpa keringat.
__ADS_1
Nero membereskan alat-alatnya, meletakkannya dengan rapi di dalam lemari, dan berlalu meninggalkan Zam begitu saja di atas meja.