Book One : Dunia Alpha

Book One : Dunia Alpha
Eps 27. Zombie yang Berbeda


__ADS_3

Kami masih berada dalam kubah. Sesaat kami menarik nafas panjang-panjang, berusaha mengatur nafas kami yang awalnya menderu kembali normal. Kubah pelindung yang dibuat Rheda tak bergetar sedikitpun saat zombie-zombie itu mengelilinginya. Bahkan barisan terdepan berusaha menghancurkan kubah buatan Rheda dengan berbagai cara. Namun kubah itu tetap diam.


Namun ternyata kunci kubah itu ada di Rheda. Ia berdiri di tengah kubah dengan tangan terangkat dan kaki kuda-kuda. Badannya gemetar setiap sepuluh detik, lalu kembali tenang. Keringat bercucuran di dahinya. Kami hanya bisa melihatnya bersusah payah sembari mengatur nafas dan menyusun tenaga kami kembali.


Beberapa menit setelahnya kuda-kuda Rheda mulai goyah. Kakinya sudah gemetaran dan keringat mengguyur seluruh tubuhnya. Ia sudah menengok pada kami berkali-kali. Aku segera mengomandoi yang lain untuk bersiap, kubah Rheda sebentar lagi akan hilang.


Sepuluh detik berlalu namun kubah itu masih kokoh. Aku hanya terdiam menatap Rheda.


"Rheda.....Kau benar masih kuat?" Ella bertanya dengan nada cemas. Wajahnya terlihat paling khawatir di antara kami semua. Keringat menetes dari dahinya.


Rheda menggeleng dengan mata masih menatap zombie-zombie itu. Tangannya yang terangkat terus bergetar. Namun beberapa saat kemudian getarannya hilang, berganti wajah cerah Rheda. Kami menatapnya heran.


'Clingg...' Sama seperti Gina, tubuh Rheda juga bercahaya, namun sesaat kemudian asap gelap menyelimutinya. Kekuatannya pun meningkat. Aura hitam itu menambah kemampuan sihirnya. Kubah pelindungnya menguat. Tebalnya bertambah.


Ketika Rheda perlahan melayang, gempa di sekitar kami menguat. Ella, Kapi, dan Rais masih bertahan dengan tubuh terguncang, sedangkan aku dan lainnya sudah terjatuh karena tak seimbang. Mendadak tanah di bawah kami muncul retakan berbagai ukuran. Retakan paling besar muncul di bawah tubuh Rheda yang masih melayang. Saat itu asap hitam di tubuh Rheda mulai menipis. Tubuhnya perlahan turun dan menyentuh tanah.

__ADS_1


Namun saat itulah, sepersekian detik sebelum Rheda menapakkan kakinya menapak kembali, tubuhnya mendadak diangkat ke atas oleh sebuah bayangan. Darah hitam menyebar di sekitar Rheda diikuti sebuah lubang muncul di bawah Rheda.


Bayangan itu membawa Rheda mengelilingi dalam kubah. Kami bersiap kembali dan bangkit di tengah-tengah gempa yang masih terus berguncang. Bayangan itu terus berputar lalu mengelilingi Kubah dan bergerak tak tentu arah. Bayanggannya begitu cepat dengan Rheda masih berada di pundaknya. Rheda kehilangan fokusnya dan kubah yang melindungi kami dari kepungan zombie makin menipis. Zombie di luar kubah makin kuat memukul kubah pelindung. Kami segera mencoba memberi serangan pada bayangan pembawa tubuh Rheda. Pedangku mengarah menuju sembarang arah. Bayangannya sangat cepat untuk kutangkap.


"Tolooong!! Tolong!!.." Rheda berteriak dengan sangat kencang. Tangannya menggelepar mencoba melepaskan diri.


Hanya pakaian rombeng penuh bercak darah dan kalung dengan lonceng emas yang selalu berdenting yang dapat menjadi petunjuk letak keberadaannya. Menit demi menit berlalu saat kami selalu memberikan serangan tanpa arah. Tubuh musuh di depan kami selalu dapat menghindari serangan. Baru setelah serangan bertubi-tubi, kubah yang hampir hancur, dan teriakan Rheda yang tak ada ujungnya membuat Rais menepuk permukaan tanah dengan tangannya. Tanah radius lima puluh meter darinya membeku. Bayangan yang membawa Rheda juga berhenti mendadak. Ia berada di samping kami. Tubuhnya agak terlihat lebih besar dan kuat dari zombie lain. Kakinya terjepit es yang sangat keras. Ia berusaha melepasnya.


"Kau tak bisa lari lagi!" Rais berteriak dengan hawa dinginnya. Tubuh musuhnya itu perlahan membeku dari bawah dan menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. Rheda segera memaksa melepaskan diri. Namun pegangan musuhnya sangat kuat. Dengan berbagai cara Rheda mencoba melepaskan diri, termasuk dengan mengeluarkan asap beracun dari tangannya dan membuat musuhnya melemas sebentar. Rheda melompat dan melepaskan diri. Tubuhnya segera dapat lepas dan terjatuh di samping musuh baru mereka. Rheda segera mendekat ke gerombolan kami. Zombie-zombie lain juga tampak mencoba melepaskan diri dari ikatan es di kaki-kaki mereka. Pandangan mereka tak lepas dari menatap kami. Keinginan membunuh terpancar kuat dari mata mereka.


Namun sesaat setelahnya, bukan serangan keras yang kami dapatkan, namun zombie besar di depan kami malah membungkukkan punggungnya.


"Salam..." Zombie itu berkata dengan suara serak nan dalam. Matanya menatap awas pada kami sebelum setelahnya tersenyum. Kami tetap pada posisi siaga. Bukan hanya pada zombie di depan kami saja, namun zombie-zombie lain mulai dapat melepaskan diri dari ikatan es di kaki mereka. Beberapa dari mereka malah sudah mulai maju menyerang kami.


Namun sebelum mereka dapat mendekat, zombie basar itu mengangkat tangannya dan berteriak dalam bahasa yang tidak kami mengerti. Zombie yang awalnya ingin menyerang segera berhenti namun tetap menatap kami dengan keinginan membunuh yang kuat. Zombie besar itu mendekat selangkah pada kami membuat kami bersiaga.

__ADS_1


"Tenanglah! Aku hanya ingin menyampaikan beberapa hal.." Zombie besar itu berkata dengan nada sopan. Kami menurunkan senjata kami beberapa senti. Zombie besar itu tersenyum.


"Pertama, aku ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu, namaku Mora, pemimpin dari lautan zombie di depan kalian ini. Aku adalah zombie tingkat 1.5 atau zombie yang memiliki kekuatan diantara zombie tingkat satu seperti mereka." Zombie besar itu menunjuk lautan zombie di depan kami.


"Mereka adalah zombie tingkat satu." Mora tersenyum dan terdiam. Kami tetap bersiaga.


"Yang kedua sekaligus terakhir aku ingin bertanya pada kalian darimana kalian berasal dan untuk apa kalian kesini? Kemapa kalian mengusik kami?" Mora menatap awas matanya yang agak kemerahan menatap marah pada kami. Kami bersiaga dan segera mengangkat senjata.


"Tenanglah..." Mora mengangkat tangannya berusaha menenangkan kami. Aku melangkah maju.


"Kami ingin menaikkan level kami. Kami diperintahkan guru kami untuk menambah level kami di sini, membasmi para zombie adalah tugas kami saat ini. Kami adalah tim Alpha."


Mora tersenyum puas. Kepalanya mengangguk-angguk tanda mengerti.


"Baiklah, aku paham. Berarti Alpha busuk itu mengirim kalian kemari bukan?" Mora menatap tajam pada kami. Kedua tangannya bergerak cepat ke pinggang kanannya. Mendadak tangannya sudah terangkat dengan sebuah golok besar kehitaman.

__ADS_1


"Artinya kalian memang ditakdirkan untuk mati di tanganku." Mora mengayunkan goloknya cepat. Kami benar-benar sudah mengangkat senjata saat Mora berlari kencang ke arah kami.


__ADS_2