Book One : Dunia Alpha

Book One : Dunia Alpha
Eps 24. Bukan Temanmu


__ADS_3

Zam merasakan sakit di sekujur tubuhnya saat dirinya tersadar dari komanya. Hal yang pertama kali dilihatnya adalah lemari tua kehitaman tepat di depan letak ia berbaring. Aura gelap yang menakutkan keluar dari lemari itu. Rasanya bagai ada makhluk besar serta menyeramkan akan keluar dari lemari itu.


Zam mencoba menggerakkan badannya lagi yang masih kaku dan berat untuk digerakkan.


"Non muoverti troppo, jangan banyak bergerak, *Stupido* !!" Sebuah suara mendadak datang dari sampingnya. Zam secara perlahan menggerakkan punggungnya yang terasa sangat kaku, mencoba mencari asal suara. Dua puluh detik kemudian ia berhasil menengokkan kepalanya.


Seorang pemuda berwajah putih ala eropa menatapnya dingin. Pandangannya datar tanpa ekspresi. Aura menyeramkan juga keluar dari jubah hitam yang dipakainya. Zam berusaha memandanginya dari atas ke bawah.


"Perché? Hah? Apa yang kau lihat?" Pemuda itu menatapnya garang.


"Buona, baiklah, persilahkan aku memperkenalkan diriku."


"L**e persone qui mi chiamano Nero, orang- orang di desa ini biasa memanggilku Nero." Nero berkata dengan wajah datar. Aneh mungkin karena biasanya orang memperkenalkan diri dengansenyum manis. Ia juga sama sekali tidak menyalami Zam.


"Namun kau adalah orang luar desa, dan sebenarnya kau juga adalah beban buatku." Kata-kata merendahkan itu keluar dari mulutnya tanpa rasa malu. Zam menyadari bahwa Nero memang bukan orang biasa. Walaupun belum mengenalnya Zam berharap lebih karena Nero telah menyelamatkan nyawanya.


"Kau dapat memanggil nama samaranku yang biasa kupakai di luar desa." Nero menunjukkan kartu nama hologram dari tangannya yang membuat Zam melongo. "Namaku adalah Black."


Zam hanya terbengong bingung mendengar penjelasannya. Menurutnya Desa Abu Kematian tidak pernah mendapat penduduk dari luar. Tidak mungkin bagi seorangpun dari penduduk permukaan biasa dapat masuk kesini, kecuali kalau Black alias Nero adalah penduduk dalam bumi.


"V..voi, kamu anggota Alpha?" Tanya Zam dengan mata berbinar. Namun mata berbinarnya meredup mengingat hal lain.


" A..atau termasuk dari Pasukan Mata Merah dan Persatuan Pemberontak?" Tanya Zam kembali dengan wajah sedikit cemas. Black menggeleng pelan.


"Nessuno di loro, aku bukan dari keduanya."


"P..poi? Lalu kamu darimana?"

__ADS_1


"Itu tidak penting bagimu. Aku hanya ditugaskan untuk menyelamatkanmu dan mengembalikanmu ke dalam Alpha itu saja sudah cukup."


Zam melongo mendengar jawaban Black. Black hanya berlalu pergi meninggalkan tempat duduknya. Wajahnya yang penuh misteri meninggalkan Zam seolah tidak ada apapun disana. Langkahnya cepat tanpa jeda keluar dari ruangan.


"Aspettare! Tunggu! Apa kau adalah temanku? Apa kau menyelamatkanku karena itu?" Zam bertanya dengan wajah benar-benar kebingungan.


Black kembali menengok dengan wajah kesal. Kepalanya kembali menggeleng.


"Non, bukan, aku bukan temanmu." Black berlalu pergi. Zam hanya bisa berbaring dalam kebingungan.


@-@-@-@-@


"Bodoh! Kalian benar-benar bodoh!" Master Kiseti berteriak dengan keras ke wajah kami semua. Ludahnya menciprat ke berbagai penjuru. Wajahnya memerah dengan tanpa kerutan dan menatap kami dengan memelototkan matanya. Sikapnya yang kemarin ramah berubah seratus delapan puluh derajat menjadi dingin dan pemarah. Entah karena apa, sepertinya tiap kekesalannya ditumpahkan pada kami semua.


Setelah hari kedua, atau lebih tepatnya dua tahun kami berlatih, Master Kiseti mengumpulkan kami kembali. Semuanya berkumpul di tempat yang sama dengan tahun pertama. Pada tahun kedua ini semua kembali dari nol. Latihan diulang dari awal dimana kekuatan serta kemampuan kami sama dengan kemampuan kami di dunia biasa.


"Lemah!" Teriak Master Kiseti lagi. Kami menunduk sedalam mungkin, tak berani menatap wajah merah padamnya.


"Lian! Angkat kepalamu!" Master Kiseti menunjukku. Aku sedikit mengangkat kepalaku.


"Kubilang angkat kepalamu!! Badanmu tegakkanlah jangan loyo!" Master Kiseti berteriak kencang layaknya singa mengaum, tepat di depan wajahku. Aku menegakkan tubuhku setegak mungkin. Setegak tiang bendera yang kulihat saat upacara Hari Senin.


Master Kiseti marah melebihi singa yang bulunya diambil. Matanya kembali mendelik menatap tajam kami semua. Pandangannya mengarah padaku dan yang lain Tanpa ampun dia berteriak.


"Bodoh!" Ludahnya menciprat kemana-mana. Tak ada senyuman yang tersisa di wajahnya. Tangannya mengayun dan menampar kami satu-persatu. Pipiku merasakan sakit luar biasa. Tak kusangka tangan master Kiseti bisa sekeras baja. Ia menamparku layaknya menampar seekor binatang rasanya sakit sekali.


Kami sekali lagi hanya bisa terdiam sembari menundukkan kepala. Bahkan kulihat mata Gina berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kemampuan kalian sangat kosong." Nada Master Kiseti mulai menurun.


"Aku tidak menyangka hanya karena kalian suka rebahan di dalam latihan membuat kemampuan kalian anjlok seperti ini." Wajahnya yang merah padam berangsur normal.Kami tak mengerti arah yang dibicarakan Master Kiseti.


Master Kiseti meminta kami semua duduk. Pandangannya menatap kami dan menoleh pada sebuah bunga matahari cantik berwarna oranye kehitaman yang tiba-tiba melayang di sampingnya.


Ia mengambil bunga itu.


"Ini adalah Bunga Matahari Malam. Bunga ini berkhasiat menambah dan mempercepat perkembangan kemampuan dan fisik kalian. Cukup satu biji bunga Matahari Malam ini kalian akan dapat berlatih untuk bertahan di Ruangan Padang Mayat."


Kami merasa ngeri dengan perkataan Master Kiseti."M...master b..belum ak..kan meng...irim kam..mi ke sana bukan?"


Master Kiseti menoleh pada Ella yang bertanya dengan gugup. Pandangan Ella tidak lagi pada master Kiseti, namun pada bunga yang sedang dipotong oleh Master Kiseti. Ia memotong bunga itu sekecil mungkin, seakan mengoyak tubuh kami hingga menjadi potongan-potongan kecil.


"L...lalu Master, apa y..yang k..kau m..maksud dengan R..uang Pa... ap..pa tadi?" Ella menatapku dengan kebingungan saat meneruskan kalimatnya.


"Ruangan Padang Mayat."Master Kiseti menjawab dengan tegas. Ia memasukkan potongan-potongan kecil itu dan membaginya pada sepuluh kantong.


"Kalian akan pergi ke sana dan berada di sana selama lima hari yang tersisa ini. Aku berharap kemampuan kalian dapat meningkat dan mampu mendidik kalian menjadi lebih baik dari sekarang."


Master Kiseti menekan beberapa tombol yang berada di jamnya. Sebuah portal muncul di sampingnya. Portal hitam pekat yang seakan menarik tiap orang yang melihatnya untuk masuk. Kami menatap lubang it dengan nafas memburu.


"Selamat datang di Ruangan Padang Mayat. Tempat kalian melatih kerjasama serta kemampuan kalian yang sebenarnya." Master Kiseti mempersilahkan kami masuk sembari memberi kami kantong berisi potongan bunga tadi.


Dengan tubuh gemetar kami memasuki portal itu satu-persatu. Saat kami semua telah masuk mendadak pintu portal menutup. Kami semua hanya bisa menatap kosong pada pemandangan di depan kami. Tumpukan mayat yang menggunung bukan hanya satu namun bahkan ribuan.


Sebuah bisikan terdengar pelan, "Kematian kalian tiba hari ini."

__ADS_1


__ADS_2