
´Krrrieeet` Suara dengkingan keras menggema di ruang rapat yang gelap gulita sekarang. Suasana bertambah seram ketika robot-robot penjaga membuat barisan dengan lampu merah dari mata mereka. Semu menatap semuanya dalam senyum tipisnya. Segera ia menghela nafas panjang.
"Zam...." Semu memanggil pelan. Zam dengan fisik maupun batin yang penuh luka menatap asal suara itu dengan sendu. Wajahnya penuh dengan memar luka yang berdarah. Dalam gelap gulita saat itu tak terlihat satu sama lain. Hanya lampu-lampu merah menyala dari robot penjaga saja yang masih dapat membuat terlihat dan tampak samar-samar. Zam hanya dapat berpikir, inilah akhirnya. Namun ternyata takdir berkata lain.
"Kau, dan teman-teman anggotamu adalah tim penyusup kedua puluh yang istimewa. Aku sudah berjanji pada yang lain untuk mempersiapkan kado istimewa pada tim ke dua puluh yang menyusup dan inilah akhirnya. "Semu berkata dengan mantap. "Kau akan merasakan pengasingan di pulau Poveglia, Italia. "Semu tersenyum sebelum melanjutkannya. Zam mengangkat wajahnya.
"Dulu, ketika wabah hitam menyerang tanah Eropa, banyak orang yang berpenyakit dibakar dan dikuburkan di pulau Poveglia. Malahan, kalau kau tahu separuh pulau ini pernah tertutup abu manusia. "Semu menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kisahnya.
"Dikatakan bahwa banyak sekali legenda dan pengakuan hantu korban wabah yang masih mengelilingi pulau menyeramkan ini. Beberapa mengaku melihat lampu aneh yang datang dari pulau. Yang lain bahkan mengaku mendengar suara rintihan dari pulau ini. Akhirnya nelayan setempat menolak mencari ikan di dekat pulau ini sebab mereka takut mengeruk tulang-belulang manusia nantinya."Semu tersenyum.
"Tapi tak ada yang pernah tahu bahwa kami, Pasukan Mata Merah telah menemukan sebuah desa gelap jauh di dalam pulau. Desa yang penuh dengan aura mematikan. Kami memberi nama desa itu desa Abu Kematian. Karena orang-orang di desa itu pendahulu mereka adalah para pembakar mayat wabah hitam kala itu. Hampir empat tahun lebih mereka bekerja sebagai pembakar mayat, tanpa digaji, bahkan diberi makan, tidak sedikit pun."
"Kau tahu apa yang mereka makan?" Semu bertanya dengan nada menusuk. Zam dengan cepat menggeleng.
"Mayat....ya, mereka memakan mayat-mayat itu. Jiwa kanibal mereka tumbuh hingga sekarang. Kau..Zam akan kuasingkan di sana, bersama penduduk desa Abu Kematian." Semu tertawa lebar. Seluruh peserta rapat kini hanya tersenyum begidik memandang Zam, membayangkan ia akan dipanggang, dipotong-potong, disantap bersamaan oleh penduduk desa.
Semu melambaikan tangannya sembari membalik badan. "Masukkan dia lewat portal gempa, mungkin itu dapat membuat dagingnya lebih halus sebelum dimasak oleh penduduk desa." Semu tertawa pelan.
__ADS_1
Sebuah cahaya kecil yang menyilaukan seketika muncul di langit-langit ruang rapat diikuti getaran kecil yang menyebar di setiap senti ruangan. Sedikit demi sedikit cahaya di langit membesar membentuk lubang portal besar dan diikuti getaran gempa yang semakin besar, membuat barang-barang berjatuhan dari atas meja melayang.
"Bersiaplah Zam, pengirimmu telah tiba!" Semu tersenyum mantap dalam memandang portal gempa raksasa dihadapannya. Getaran hebat di sekelilingnya dihiraukan begitu saja. Matanya memantulkan cahaya silau dari portal, raut wajahnya tampak gembira dengan kedatangan portal itu.
"Lepaskan ikatannya Karasu! Biarkan ia terbang ke dalam portal itu!" Semu berbalik menatap Karasu di sampingnya.
"Zenzen, baik tuanku..." Karasu segera menekan beberapa tombol di jam tangannya. Dalam hitungan sepersekian detik ikatan rantai di tangan dan kaki Zam lepas dengan cepat. Zam yang berada tepat di tengah portal segera terlempar jauh ke dalam portal gempa yang menutupi sebagian besar langit-langit ruangan rapat.
@-@-@-@-@
Tiba di ujung portal tubuhnya terlempar ke udara dan dalam sekejap portal terang itu menutup dan menghilang. Gelap dan dinginnya malam sangat terasa saat ia jatuh lepas ke hutan yang gelap di malam hari. Detik demi detik berlalu dengan sangat tenang. Zam sudah berpikir tentang kematiannya yang sempurna.Tak ada rasa sakit lagi, tak ada beban yang harus dipikulnya lagi.
'Brukk, pyarr'
Suara dirinya jatuh ke pinggir sungai yang mengalir tenang. Ia hanya merasakan tempat ia jatuh yang empuk. Aroma pekat abu bekas mayat terbakar tercium dari lubang hidungnya dan membuat Zam mengernyit dan segera menatap sekitar. Matanya segera membulat besar saat melihat sekelilingnya dan apa yang ada di bawahnya. Sesuatu yang membuat ia mendarat dengan nyaman.
Mayat, mayat dimana-mana. Zam yang terkejut sekaligus jijik hanya bisa menggerakkan sebagian tangannya dan kakinya hanya dapat bergetar tanpa bergerak sedikitpun. Rasa sakit dari pukulan Puma membuat tubuhnya kesakitan. Ditambah dengan tubuhnya yang bergetar dan menabrak batu-batuan di dalam portal gempa.Rasa sakitnya bertubi-tubi dan menyerang seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Aroma mayat dan abu pembakaran makin membuat kepalanya pusing. Zam menggerakkan kaki dan tangannya lagi, berusaha membuat dirinya normal kembali. Saat suara berisik datang dari balik semak-semak berjarak hanya sepuluh langkah dari dirinya yang berbaring.
Zam yang panik segera menutup mata.Tangan dan kakinya yang bergetar ketakutan ditutupinya dengan diam.Suara itu mendekat. Langkah kaki yang datang perlahan membuat Zam berkeringat dingin. Tidak hanya satu, terdengar seperti tiga orang yang datang kepadanya. Tubuh Zam makin bergetar hebat.
"Kau melihat hal yang aneh pada mayat ini kan? Katamu barusan kau mendengar kecipak suara air di sini."Kata salah satunya dengan bahasa Italia yang dimengerti sedikit oleh Zam.
"Sì, aku betul-betul mendengarnya."
aku
"Buona, mungkin kau benar karena mayat ini utuh dan lebih berwarna daripada mayat-mayat lainnya yang tertutup abu. Bisakah kita membawanya? Aku rasa mayat ini memiliki rasa yang lebih enak dibandingkan mayat lainnya." Yang lain menjawab sambil menusuk-nusuk perut Zam dengan tongkat tumpul yang dibawanya.
Zam hanya bisa terbujur kaku menahan setiap gerak tubuhnya saat dipukul dengan tongkat ke perutnya. Pandangannya sudah kabur dan tubuhnya bertambah lemah. Zam, yang walaupun tidak mengerti sepenuhnya yang mereka ucapkan sudah yakin sebentar lagi ia akan menjadi makanan mereka. Penduduk Desa Abu Kematian itulah sepertinya mereka.
"Dai, mari kita bawa dia ke desa! Kau angkat mayatnya biar aku yang membereskan alat kita."
Zam tiba-tiba pingsan saat salah satu dari mereka menyentuhnya dan mengangkatnya. Tanpa disadari, dari salah satu pohon besar di samping mereka seseorang mengawasi dengan pakaian hitamnya.Orang itu segera pergi mengekori para penduduk Desa Abu Kematian dengan mengendap-endap.
__ADS_1