Book One : Dunia Alpha

Book One : Dunia Alpha
Eps 6.Teman Baru II


__ADS_3

Aku dan Rais berjalan keluar kamar bersamaan. Sesuai perjanjian, aku akan membantu Rais minta maaf pada Gina dan Ella sebelum makan malam. Keduanya sedang berada di kamar mereka. Aku mengetuk pintu kamar.


"Ada apa?" Ella membuka pintu. Tangannya membawa kipas kecil yang dikibas-kibaskan. Wajahnya terlihat berkeringat. Udara di sekitar kami memang terasa sangat panas di malam ini.


"Eh, emm, ini Rais mau minta maaf karena masalah tadi siang." Aku menunjuk Rais yang terlihat gugup.


"Ehm, iya, aku minta maaf karena mengambil cermin kalian tadi siang. Tolong dimaafin yaa!"


"Nggak..!" Sahut Gina sambil menampakkan dirinya.


"Lho, kenapa?" Rais kebingungan.


"Kita nggak mau memaafkanmu sebelum kamu membelikan kami berdua paket makan spesial di kantin nanti malam. Kalau kamu tidak mau kami nggak mau memafkanmu."


"T..Tapi aku nggak punya uang banyak." Rais memelas.


"Terserah kamu, kalau mau kita maafkan ya lakukan dulu apa yang kami mau." Ella mendukung.


Mereka berdua tertawa cekikikan. Seperti tawanya para majikan galak pada pembantunya di sinetron, pikirku.


"Baiklah, oke, nanti saat makan malam aku belikan." Rais mengangkat tangan, menyerah.


Gantian mereka berdua yang mengepalkan tangan, bergembira. Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka. Setelahnya, aku dan Rais ikut duduk di sofa. Kami saling mengobrol akrab satu sama lain. Entak itu membahas alamat, hobi, ataupun hal sepele seperti perkembangan game terbaru yang sedang booming.


Seperti Rais yang berasal dari perumahan K, kepanjangannya Khaldun, perumahan di tengah padang pasir. Juga Ella dari perumahan O, kepanjangannya Osman salah satu perumahan besar di Turki. Terakhir, Gina berasal dari perumahan N, Nagoya, perumahan yang ada di Jepang.


“Lian, apa kamu melihat kotak perakku di atas lemari itu?” Rais menunjuk salah satu lemari di pinggir kamar. Mukanya terlihat panik.


“Tidak.” Kataku sembari menggelengkan kepala. Rais bertambah panik.


“Memang apa isinya?” Tanya Gina penasaran.


“Tidak apa-apa.” Rais menggeleng, raut mukanya jelas menunjukkan kalau dia berbohong.


Aku ikut berdiri, mencoba mencari di sekitar lemari. Mataku memandang lekat ke arah lemari yang ditunjuk Rais. Lalu pandanganku bergeser ke arah kanan, ada meja di sampingnya. Jelas sekali terlihat kotak keperakan di bawah meja.Entah mataku yang memang jeli atau Rais yang matanya rabun.


“Ini maksudmu?” Aku mengambil kotak itu dan menunjukkan pada Rais.


“Ahh, iya, itu yang kucari.” Mukanya mulai kembali tenang.Rais mengambil kotak itu dari tanganku. Ia membukanya, aku pun juga ikut melihat isinya.


Kosong, itu yang ada di dalamnya. Rais terlihat kembali gelisah, ia membolak balik kotak peraknya.


“Mana isinya?” Ia menggoyangnya perlahan.


“Memang isinya apa sih? Sampai panik segitunya.” Gina bertanya dengan nada penasaran. Tangannya yang semula di samping sofa terangkat menopang dagu. Rais menunjuk sofa yang diduduki Gina dengan gemetar.


“I...itu.” Ia berkata pelan.


“Apa sih Rais, aku kan cuma pengen tahu isi kotak itu.” Gina balik menunjuk kotak perak yang dibawa Rais.

__ADS_1


“Bukan..bukan, itu yang di bawah tempat dudukmu!” Rais mengeraskan suaranya. Mataku segera menatap lekat sesuatu yang ada di sofa Gina. Gina menggeser posisi duduknya, ia melihat ke sofanya. Seekor kecoak perak sebesar biji salak berdiam tepat di bekas tempat duduk Gina.


“Aaaaah!!” Gina dan Ella kompak refleks melompat bersamaan dan menjauh dari sofa. Rais juga segera menangkap kecoak perak itu dan menyimpanya dalam kotak perak semula. Ia tersenyum jahil.


“Raaiiis!!” Gina mengomel panjang.


@-@-@-@-@


Beberapa menit setelah ‘perang mulut’ terjadi.


"Klik..."


Pintu kamar terbuka dan seorang anak perempuan masuk. Bajunya yang merah menyala menjadi perhatian kami.


"Halo.." Sapanya.


Udara di sekitar kami makin panas dan kipas yang dibawa Ella tiba-tiba mengeluarkan api.


Ella yang membawanya panik dan melemparnya.


"Aaa, kebakaran...kebakaran!" Gina berteriak saat Ella melempar kipasnya yang terbakar ke karpet di bawahnya.


Rais melihat hal itu santai dan menekan sebuah tombol di jamnya. Rais mengulurkan tangannya yang mengeluarkan hawa dingin.


Kipas yang terbakar itu langsung padam dan membeku.


"Eh maaf, aku belum mematikan 'energi alam' milikku." Perempuan yang berada di depan pintu menekan sebuah tombol di jamnya. Perlahan suhu udara mulai beranjak normal.


'Energi alam' yang dimaksud adalah energi yang berasal dari tubuh seseorang. Kekuatan yang dimiliki berupa unsur alam. Para anggota Alpha  yang memiliki kemampuan ini dapat mengeluarkan kemampuannya saat menggunakan jam yang menjadi kunci pembuka kekuatan di tubuh mereka.


Energi yang dimunculkan sesuai gen, sifat, dan kehidupan seseorang. Hanya sekitar sepuluh persen dari manusia yang bisa mengeluarkan energi alam ini. Sisanya tidak memiliki kemampuan seperti Rais ataupun anak perempuan tadi.


"Perkenalkan, namaku Asuza, Rin 25341, dari perumahan M. Salam kenal."


Gina dan Ella masih memandang takut Asuza yang barusan mengeluarkan api. Aku yang penasaran segera memperkenalkan diri.Begitu juga Rais yang segera menyalami tangannya.


Baru setelah kami berkenalan Gina dan Ella memperkenalkan diri mereka. Wajah mereka terlihat masih takut-takut. Mereka belum tahu hal itu.


Berbeda denganku, mama merupakan pengguna unsur es, sama seperti Rais. Mama memperlihatkanku kemampuannya saat di kamar kemarin. Jadi aku sudah tidak terlalu kaget melihatnya.


Asuza segera beranjak ke kamar setelah kami mengobrol sebentar di sofa. Gina serta Ella yang akhirnya mengerti soal kekuatan yang dimiliki Asuza mulai terbiasa dan mengantar Asuza ke kamar sambil mengobrol panjang.


Aku hanya berharap mereka tidak tambah akrab dan akhirnya Asuza tertular sifat Gina dan Ella.Menjadi 'majikan galak' kami.


Asuza merapikan barang-barangnya di kamar dibantu Gina dan Ella. Sedangkan aku dan Rais segera pergi ke ruang makan untuk makan malam.


Kami memakai lift teleportasi untuk pergi ke ruang makan. Di sana sudah banyak anak seumuran kami mengantri panjang mengambil jatah makan.


Aku dan Rais segera ikut mengantri di belakang mereka. Sesekali Rais menyapa kenalannya dan memperkenalkanku. Aku jadi punya banyak teman karena Rais. Aku sungguh berterimakasih padanya.

__ADS_1


Sekarang giliran kami mendapat jatah makan.Aku mengambil wadah makan. Lalu nasi, sayur, serta lauk pauknya diambil oleh pelayan. Tentu saja mereka dari distrik Tangan Bawah.


Para penduduk distrik Tangan Bawah memang tidak hanya bekerja di distriknya. Walaupun begitu kebanyakan masih berada di distriknya sendiri.


Mereka yang berada di luar distrik mereka menjadi pelayan, tukang bangunan, dan pekerjaan bawahan lainnya. Sedangkan yang menetap di distrik mereka adalah para penyedia bahan pangan dan produser barang-barang ‘normal’.


Setelah aku dan Rais selesai mengambil makan kami memilih duduk di salah satu meja berkapasitas empat orang yang berada di pojok ruang makan.


Seorang laki-laki berambut keperakan sudah duduk di salah satu kursi. Dia terlihat bersama kucing peliharaanya. Rais menyapanya dan memperkenalkan diriku.


Laki-laki itu bernama Cera, Rin 32387. Dia merupakan pengguna unsur hewan. Artinya dia bisa mengendalikan hewan. Aku melihatnya secara teliti.


Dia bisa bicara dengan hewan. Terlihat dari kemampuannya mengenali keinginan kucing peliharaannya.


Kami duduk dan makan bersamanya. Sesekali Rais mengajak Cera untuk mengobrol, namun karena dia pendiam akhirnya kami melanjutkan makan tanpa berbicara sepatah katapun.


Mataku menerawang ke sekitar. Berbagai orang berpakaian keren segera menarik perhatianku.


Salah satunya perempuan bertopi bulat berbulu. Ia memakai pakaian seperti tentara namun warnanya yang pink membuatnya cocok bagi perempuan itu.


Ada juga seorang laki-laki yang menyandang sebuah pedang panjang di


pundaknya. Ia memakai jubah pendek berwarna kecoklatan. Seperti di film-film china, pikirku.


Aku melihat antrian yang semakin panjang.Mataku melihat setiap orang di antrian.Wajah-wajah baru yang aneh. Wajar saja karena anggota Alpha  berasal dari berbagai tempat di dunia.


Hingga mataku berhenti pada tiga orang perempuan di tengah antrian. Aku menyenggol lengan Rais. Membisikkannya sebuah ancaman.


"Maaf Cera, kami mau melanjutkan makan di kamar kami saja." Aku berpamitan padanya seraya berdiri.Rais mengikutiku di belakang. Dia berusaha bersembunyi dari tiga orang perempuan di antrian barusan.


Dua orang di antara mereka terlihat menelusuri ruang makan. Pandangan mereka meneliti meja satu persatu.


Tidak lain, mereka adalah Gina, Ella, dan Asuza. Aku teringat kalau Gina dan Ella meminta paket makan spesial untuk menerima permintaan maaf Rais. Karena Rais belum punya uang, kami segera kabur lewat lift teleportasi ke kamar kami. Kami berjalan cepat keluar ruang makan.


"Rais!!Lian!!Sini..!" Sebuah teriakan yang mengagetkan kami. Wajah kami langsung menjadi pucat pasi. Karena itu tidak lain berasal dari suara Gina. Mereka melihat kami.


"Aduh, gawat ini." Rais berseru pelan.


Kami berjalan pelan ke arah Gina, Ella, dan Asuza. Kekhawatiran kami jadi nyata.


"Kalian mau kemana?" Gina bertanya datar.


"Eh..kami, kami mau ke kamar. Kami mau melanjutkan makan di sana." Aku berbicara dengan gugup.


"I...iya, kita mau makan di kamar aja, di..disini ramai sekali."Rais lebih gugup lagi.


"Ya udah sana. Kalian makan di kamar. Tadi ada penghuni baru di kamar kita. Wajahnya seram sekali. Dia diantar seorang penduduk distrik Tangan Bawah. Mereka berdua seumuran kita. Kalian temani sana!"


Kami mengangguk bersamaan. Huh, untung Gina dan Ella tidak ingat syarat permintaan maaf tadi.

__ADS_1


"Penduduk distrik Tangan Bawah tadi juga mencarimu Zam. Katanya dia ingin menyampaikan pesan."


Aku segera mengangguk walaupun keheranan. Pesan apa kira-kira ya.


__ADS_2