
“Lian, apa kau mengenalku?” Zombie itu mulai mengurangi jumlah serangan. Sedangkan Lian masih berfokus menyerang tanpa mendengarkan ucapan zombie itu. Ia hanya sedikit terkejut dan tetap fokus. Ia berpikir zombie ini memiliki kemampuan berpikir dan kekuatan nya lebih dari zombie yang lain.
Zombie itu tiba-tiba berhenti menyerang dan diam. Lian pun tetap mengawasi sejenak sebelum akhirnya hendak lari menyelamatkan teman-temannya. Namun belum ia berbalik badan zombie itu mendadak sudah di sampingnya. Bukan menyerang namun zombie itu memegang erat pundaknya.
Lian terkejut dan menengok ke arah zombie itu. Namun bukan zombi dengan tanpa wajah. Zombie itu berubah bentuk, tubuhnya bertransformasi menjadi seorang laki-laki dengan wajah asia yang bermata sipit dan tirus. Wajah mirip idola dari asia yang terkenal. Ia berpakaian berzirah tipis dengan warna keperakan. Lengannya tertutup kain hijau. Adapun yang aneh adalah ia memakai celemek coklat di dalam zirah peraknya.
Setelah itu ia melepas pegangannya dan membungkukkan punggungnya. Ia menyapa Lian dan membuat Lian kebingungan dan berhenti menyerang atau kabur.
Sulur hitam milik Mora makin memanjang. Sulur itu mulai menyerang ke arah Lian dan sang pria itu. Namun Pria itu menggerakkan jari tangannya dan membentuk segi empat. Seketika sekeliling Lian dan pria itu tertutup kubah segi empat transparan dan membuat sulur itu tak dapat masuk. Lian masih terkejut dan diam.
“Sekali lagi biarkan aku mengenalkan diri. Wahai penyelamatku!” Pria itu berseru.
Penyelamat, penyelamat apanya. Lian makin kebingungan. Ia makin panik melihat sulur-sulur yang sudah menelan teman-temannya. Sebelum Lian memikirkan hal lain pria itu menjawab.
“Namaku Akito, kau tahu? Kau akan menyelamatkan diriku di masa depan. Mungkin saat ini kau tak mengenalku. Tapi di masa depan kau akan bertemu denganku dan berbagi banyak hal denganku.”
Akito kembali membusungkan dadanya, ia tersenyum.
“Baiklah, aku harus pergi, waktuku
tidak banyak. Aku hanya ingin menyampaikan pesan dari dirimu di masa depan.” Ia menjulurkan sebuh gulungan kecil. Lian makin terheran. Ia menatap Akito dari kepala hingga kaki. Tangannya terus memegang pedang bersiaga dengan apapun yang terjadi. Ia mengambil gulungan itu dengan hati hati. Ia menarik tangannya dengan cepat dan mengecek isi lembaran itu.
Arah timur adalah jalanmu, arah lain adalah ujianmu, dan gagal adalah langkahmu.
Lian.2230
Lian masih menebak arti surat itu sebelum akhirnya Akito berkata, “Baiklah urusanku selesai, aku harus pergi.”
Lian hanya diam terheran tanpa menjawab apapun. Ia membiarkan Akito yang ternyata sudah melepaskan kubahnya dan bergerak pergi. Lian sedang ingin membuka mulutnya untuk bertanya namun sosok pria bernama Akito itu sudah melesat pergi.
__ADS_1
Ia tidak kabur. Pria bernama Akito itu melesat ke bos musuh, Mora. Lian tak bisa melihatnya, gerakan Akito terlalu cepat.
Ia menyerang Mora, gerakannya yang lihai dan secepat kilat mengagetkan Mora.
Mora mundur seketika dan segera menarik goloknya. Dalam hitungan detik mereka bertatapan sebelum Mora bertanya dengan suara keras
“Siapakah kau, kau bukan dari Alpha?”
“Kau tak perlu tahu, urusanku di sini hanya mengirim pesan.” Akito menjawab dengan tersenyum. Ia menghunuskan pedangnya dan menyerang Mora.
‘trrang…..’ Pedang dan golok bertemu dan saling berdenting. Wajah serius Mora makin bertambah saat senjata mereka saling bertemu namun belum ada yang menang. Asap hitam milik Mora tak bisa bekerja, karena asap itu langsung menghilang saat bertemu dengan pedang milik Akito.
Adu Pedang itu berjalan lebih dari lima menit sebelum akhirnya tepat pada menit ketujuh terdengar suara keras. Tanpa diketahui oleh Mora,tingkat kekerasan kedua senjata itu tidak bisa dikatakan sama. Walaupun golok milik Mora telah diberi kekuatan sihir namun sepertinya pedang Akito melebihi teknologi Mora.
'Crak’ Suara itu seperti pedang yang memotong kayu. Namun di situ pedang Akito telah menembus golok Mora dan mematahkannya menjadi dua.
“Tidak, tidak mungkin! Bagaimana mungkin kau bisa mematahkan senjata kematian ini?”
Akito berhenti memotong. Ia menunjuk dirinya dengan telunjuk tangan kirinya.
"Aku? Hahaha.. Aku adalah orang dari masa depan, sama sepertimu."
Sebelum Mora bereaksi ia segera memotong lehernya hingga terputus. Darah hitam berbau nanah mengalir dari leher Mora. Ia telah mati.
Akito kembali ke sisi Lian yang saat itu hanya bisa termenung dan tak dapat melihat apapun selain leher Mora yang sudah terputus. Juga golok Mora yang kini telah terpotong menjadi dua. Golok yang telah membunuh enam temannya.
Lian masih terkejut dan jantungnya berdegup kencang. Ia menengok ke wajah Akito dengan rasa takut yang besar. Lian tak bisa membayangkan kekuatan orang di hadapannya.
Tak terasa air mata mengalir pelan dari pipi Lian. Ia , ia hanya tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Teman-temannya yang belum sampai satu bulan ia temui kini sudah tak ada, bahkan mayatnya pun tak ada, ia tak tahu mereka meninggal atau tidak.
__ADS_1
“Mereka belum meninggal.” Akito menyahut, seakan mengerti pikiran Lian membuat Lian terkejut sekali lagi.
“Baiklah saat ini aku sedang terburu-buru,aku akan pergi. Terakhir aku hanya ingin memberikanmu saran."
Akito mengarahkan pedang di tangannya ke arah Lian, menyerahkannya.
"Pedangmu yang sekarang tak akan membuatmu lebih kuat. Pakailah pedang ini!"
Lian mengambilnya dengan ragu-ragu. Akito tersenyum dan langsung berbalik sebelum akhirnya menghilang setelah menyerang zombie yang menghalangi jalannya.
Lian segera terduduk saat Akito sudah tak nampak di hadapannya. Bukan hanya membunuh Mora, pria itu juga membunuh zombie yang berada di sekitar mereka dan membuat barikade agar zombie lain tak bisa masuk. Tumpukan mayat yang menjadi barikade terlihat sangat menjijikkan dengan darah yang mengalir. Area zombie itu sudah terpenuhi darah yang mengalir. Tanahnya tak laki coklat melainkan campuran hitam dan merah darah.
Lian masih terduduk disana beberapa menit sebelum akhirnya berjalan ke teman-teman yang lain. Rais dan Asuza yang sedang duduk penuh luka pertarungan sedang disembuhkan oleh Dea. Tubuh mereka terlihat lemas setelah menyaksikan banyak hal termasuk pertarungan dan kematian teman yang lain.
"Apakah kalian baik-baik saja?" Lian bertanya dengan nada sangat khawatir. Mereka mengangguk.
"S...siapa laki-laki tadi?" tanya Dea. Lian menggeleng.
"Aku tidak tahu, ia mengaku dirinya bernama Akito dari masa depan." Lian tertunduk lesu. Hatinya masih belum bisa menerima. Ini adalah kehilangan pertamanya.
"Dia bilang teman-teman belum mati, mereka masih hidup."
"Lalu pedang itu pemberiannya?"Asuza bertanya lagi. Matanya menunjuk ke arah pedang di tangan kiri Lian yang kini penuh goresan darah. Tak terlihat warna asli pedang itu. Namun pedang itu tampak familiar di mata Lian. Lian mengangguk mengiyakan pertanyaan Asuza.
Mereka terdiam selama beberapa waktu sembari disembuhkan oleh Dea.
"Tampaknya Master Kiseti belum tahu tentang sosok Mora ini." Lian melanjutkan perkataannya.
"Dia sangat kuat." Rais menyahut.
__ADS_1
"Sepertinya akan ada masalah besar setelah kita menyelesaikan pelatihan ini." Asuza menyahut. Pada akhirnya semuanya mengangguk dan bersiap melanjutkan perjalanan. Kompas raksasa sudah terlihat di depan mereka.