Book One : Dunia Alpha

Book One : Dunia Alpha
Eps 18.Kiseti Sang Pelatih


__ADS_3

Hari telah menggelap,namun jawaban dari orangtua Lian belum juga tiba. Sekarang, semua anggotanya kembali berkumpul setelah tadi keluar sebentar untuk makan malam.


“Berapa lama lagi Lian?” Ella bertanya tidak sabaran. Aku segera mengangkat tangan, memintanya bersabar. Baru saja aku menurunkan tanganku, tiba-tiba bola informasi milikku mengeluarkan cahaya redup, panggilan masuk. Aku segera mengetuknya dan sebuah layar hologram persegi dengan panjang sisi sekita dua belas inchi muncul dari bola informasi. Mama terlihat masih memakai pakaian pasien yang dipakai di rumah sakit kemarin. Wajahnya terlihat agak berantakan.


“Ah, Lian, kau sudah berkumpul bersama timmu." Mama merapikan rambutnya yang menjulur ke depan. Matanya hitam berkantung, gerak mulutnya agak lemah ketika berbicara. Aku mengangguk mantap.


“Baiklah, langsung saja, mama akan menjelaskan jadwal misi kalian.”


Kami mengangguk dan bersiap mendengarkan.


“Besok kalian akan pergi menuju puncak kubah Distrik Mahkota Raja, temuilah Kiseti, pendamping kalian selama disana untuk pelatihan. Berkemaslah, bawa barang yang kalian perlukan saja menuju ke sana.”


“Untuk semua izin sudah siap. Kalian tinggal berangkat saja.” Kami mengangguk paham.


“Ma, apakah hanya dua Ranker saja cukup untuk menemani perjalanan kami? Dari video pengetesan kemampuan Pedang Mirabilis yang kami lihat, sepuluh Ranker tingkat atas saja belum cukup bahkan dikalahkan dengan mudah.” Aku menjelaskannya dengan muka sedikit khawatir.


Mama mendengarkan semua penjelasanku hingga rampung.


“Kau tak perlu khawatir Lian, yang lain juga, selama kalian yakin pertolongan itu ada, ia akan datang pada kalian, mengejutkan, membahagiakan, kalian akan menemukannya di saat tersulit kalian.” Mama tersenyum harap, seakan ia telah mengalaminya berulang kali, bahkan mungkin hampir di setiap misinya. Layar hologram ditutup.


Berjuta pertanyaan memenuhi kepalaku, aku hanya bisa terdiam mendengar penjelasan mama yang belum ku pahami sedikitpun. Kami beranjak ke ranjang kami masing-masing, tertidur dengan rasa penasaran, rasa penasaran yang  lebih besar dari saat aku datang ke PT Alpha. Apa yang akan terjadi besok? batinku.


Malam berlalu dengan sangat cepat.Tidurku tidak nyenyak dengan banyaknya pikiran y ang kubawa. Aku terbangun saat matahari artifisial menembus jendela kamarku, menyilaukan mata. Aku segera bangun dan menepuk lantai, membuat ranjang yang kutiduri dalam sekejap rapi.

__ADS_1


Aku segera membangunkan yang lain, menyuruh mereka bersiap. Sepuluh orang pemuda, sepuluh orang peserta yang bahkan belum dianggap resmi menjadi anggota Alpha telah mendapat misi penting mencari benda yang mungkin paling berharga di seluruh distrik Alpha. Ini semua bisa dibilang sebuah hal baru, hanya karena ini adalah permintaan nenekku, seorang dewan tertinggi Alpha, permintaan ini diterima begitu saja.


Kami menaiki sebuah  fly board emas besar yang dapat menampung kami bersepuluh, tanpa supir, flyboard ini bergerak otomatis. Bahkan kemudian flyboard ini dapat membuat portal besar menuju Distrik Mahkota Raja dan membuat lapisan pelindung yang menjaga kami dari guncangan dan tabrakan, benar-benar teknologi hebat.


Distrik Mahkota Raja adalah distrik yang terbentuk dari empat belas partai besar. Setiap  partai berusaha untuk mendapat kursi pemerintahan di Alpha, namun setiap masanya terdapat satu partai yang mutlak mendapat delapan puluh persen kursi pemerintahan, ia adalah partai KESA. Pemimpinnya disebut dengan ‘Pemimpin Sura’ yang saat ini diduduki oleh orang bernama Salsea. Ia dianggap menjadi pemimpin Disrik Mahkota Raja sekaligus ketua dewan Alpha hingga masa partai itu habis.


Pembagian daerahnya pun menyesuaikan jumlah partainya, empat belas daerah yang sama rata, tiap daerahnya dihuni satu partai. Walaupun begitu, entah bagaimana kerukunan tetap terbentuk, bahkan bisa dibilang sangat erat disini.


Flyboard yang kami kendarai tidak berusaha  mengelilingi Distrik Mahkota Raja, namun terbang segera menuju pusat kubah yang berhias langit artifisial nya. Setelah sampai pusat kubah, flyboard kami segera menembus langit artifisial. Pemandangan menakjubkan segera muncul di hadapan kami.


Ruangan putih kosong superluas dengan puluhan orang-orang yang duduk bersila melayang dengan cahaya terang keluar dari tubuh mereka menghiasi ruangan. Dengan jubah-jubah yang mengkilau dan beraneka warna  dipakai tiap orang membuat ruangan itu begitu menakjubkan. Setiap orangnya melayang pada ketinggian yang berbeda-beda.


Kami bersepuluh hanya bisa melongo melihat segala hal disini. Dimana latihannya? Batinku dalam hati.


“Perkenalkan, aku adalah Kiseti, Ranker level dua puluh lima sekaligus pendamping latihan kalian. Pemandangan yang kalian lihat saat ini adalah bentuk latihan kami, kami menyebutnya‘meditasi lintas ruang’.” Kiseti mulai menjelaskan dengan tetap membiarkan kami berdiri di tempat kami.


“Kalian bisa lihat, Ranker hanya ada bila seseorang memiliki bakat alami, entah itu energi alam, kekuatan fisik maupun otak yang dapat berkembang pesat dan dalam waktu singkat. Bila kalian tak memiliki bakat seperti itu maka kalian bukanlah Ranker.” Kami menundukkan kepala. Lalu kenapa mama bilang kami bisa berlatih disini.


“Tapi tenang anak-anak, aku adalah Ranker Waktu, aku bisa membuat meditasi kalian yang hanya selama tujuh hari akan terasa seperti tujuh tahun lamanya.” Mata kami membulat, benarkah itu.Kiseti mengangguk mantap.


‘Swiiiiiiing...’ Suara lengkingan keras mengagetkan kami dan mengalihkan perhatian kami menuju sumber suara. Seorang wanita berambut panjang tergerai yang berada di ketinggian lima meter di atas kami mengeluarkan pendar cahaya yang menyilaukan, perlahan tubuhnya naik satu meter.


“Itu adalah saat kalian naik satu level di ranker.” Kiseti menjelaskan, kami mulai paham.

__ADS_1


“Apa kita langsung mulai sekarang, Kiseti?” Cera bertanya gugup sambil mengangkat tangannya. Kiseti menatapnya tersenyum.


“Tentu saja nak, mau kapan lagi.Baiklah, bersiaplah!” Kami meletakkan barang bawaan kami dan Kiseti membuatnya hilang tak kasat mata. Kiseti segera menyuruh kami bersila, menutup mata, dan latihan dimulai.


@-@-@-@-@


“Apa kau tidak menemukannya sayang?” Suara di ujung telepon itu terdengar sangat khawatir. Jam yang digunakan untuk menelpon itu tergeletak di atas meja, menampilkan gambar orang di ujung telpon, seorang laki-laki dewasa dengan kemeja putih, jas hitam mengkilap lengkap dengan dasi panjang bergaris-garis.


Wanita pemilik jam itu menggeleng cemas. ”Data Beta, Gama, Cetus, menghilang semua, aku sudah mencari sebaik mungkin, sehari semalam aku mencari dan hasilnya nihil.”


Laki-laki di ujung telepon tampak memegang dahinya pening. ”Andai Profesor Lan masih hidup, tentu ia bisa menghubungkan kita.”


Perempuan itu ganti mengelus dagu halusnya, menerawang jauh dan menggeleng tanpa kata. Kehilangan seorang profesor besar seperti Profesor Lan adalah kehilangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. ”Atau kita cari konektor lainnya? Dikabarkan ada lima konektor selain Profesor Lan yang dapat menghubungkan kita kesana.” Laki-laki itu mengangguk.


“Lalu, bagaimana cara kita mencarinya Raya?Pasukan musuh sepertinya sudah akan mulai bergerak sekarang.” Tatapannya berharap pada sang wanita. Wanita itu memangku tangannya, memikirkan sebuah rencana.


“Kita bisa saja menemukan salah satu konektor, namun pergerakan kita saat ini sangat diawasi musuh. Itu bisa jadi sangat berbahaya.”


“Apa kau tidak mau mencoba mengirim doktor Zic, sang detektif dan kawan-kawannya itu?” Laki-laki itu memberi pilihan.


Perempuan itu tersenyum manis, ”Aku baru ingat doktor gila itu, kirim dia dan temannya, mungkin itu bisa menjadi harapan terakhir kita.”


“Baiklah.” Laki-laki itu tersenyum mantap. Sambungan terputus.

__ADS_1


__ADS_2