
Lorong jalan kota Besi Merah Distrik Tangan Bawah malam itu begitu sepi. Cahaya yang dipancarkan dinding-dinding lorong dan menerangi jalanan tampak murung hari itu. Padahal biasanya, jalan itu dipakai para pekerja distrik Tangan Bawah yang menghabiskan waktunya untuk berleha-leha setelah kerja berat yang mereka lakukan. Berkumpul bersama teman dekat, mengobrol masa depan Alpha yang semakin cerah.
Tapi kesepian itu hanya bertahan selama satu setengah jam saja, suara para pekerja mulai bersahutan dari pintu lorong. Lorong yang berjarak sepuluh kilometer itu kini disesaki para pekerja. Ribuan lebih jumlahnya, hampir setiap orang membawa kotak kayu besar dan berat. Tubuh mereka tebungkuk-bungkuk membawanya. Namun karena banyaknya pasukan Alpha disamping kanan kiri yang bertugas mengawasi mereka, mereka tetap harus berjalan dengan lincah.
Suara para pekerja juga bersahut-sahutan memenuhi lorong, saling menyemangati, betapa beratnya beban yang mereka bawa kali ini itu sebanding dengan gaji yang diterima. Sebagai seorang kuli angkat barang biasanya mereka mendapat setengah fer setiap satu kotak, namun kali ini dua fer untuk tiap kotak. Mereka berjalan perlahan, sembari mengobrol dan membuat janji makan bareng di kafe terbaik Distrik Tangan Bawah.
Walaupun sebenarnya ada yang aneh dengan rombongan itu. Pada bagian depan rombongan dipimpin seorang wanita muda yang bergaya dan berpakaian seakan sedang berwisata di pantai. Jalannya begitu luwes serta tas kecil berkilau yang dibawanya membuatnya begitu tampak sebagai orang kaya. Melewati jalanan lorong yang berhias lubang-lubang lumpur di kanan dan kiri jalan ia melewatinya tanpa bekas apapun di pakaian hijaunya, tubuhnya, maupun sepatu hak tingginya.
Para pekerja yang dari awal melihatnya aneh. Mereka heran, biasanya orang kaya menaiki flyboard atau benda lain yang semisal, sedangkan wanita itu berjalan kaki dengan setelan pantainya. Namun sebelum memasuki lorong, tatapan aneh mereka sudah hilang, mereka sudah terbiasa dengannya bahkan nampak lebih mencuekkannya. Namun ketika wanita itu berhenti mendadak di tengah lorong dan membuat para pekerja terhambat mereka mulai meneriakinya.
“Nona, bisakah anda meneruskan jalannya? Kami harus mengirim barang ini tepat waktu. Bukankah anda yang menginginkannya sampai di tujuan secepat mungkin?”
“Iya nona, ini tinggal rombongan yang terakhir lho!Kami sudah siap minum kopi panas istimewa kafe terkeren di kota ini, lho!” Semua pekerja tertawa kecil.
Wanita itu membalik badan dan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. ”Berhentilah semuanya!!”
“Kenapa nona? Kau ingin memberi kami gaji lebih awal?” Salah satu pekerja mencoba berkelakar dan membuat para pekerja tertawa keras. Tetapi ketika dibalas tatapan tajam wanita muda itu tawa mereka padam dalam sedetik.
Dalam remangnya lampu lorong tiba-tiba terdapat seorang pria dengan jaket kulit usang muncul dari ruang hampa, tepat di samping wanita muda pemimpin rombongan. Pria berjaket itu memalingkan wajahnya dari wanita muda. Bahasa tubuhnya mengungkapkan ketidaksukaan.
__ADS_1
“Zenzen, k..kau, apa yang kau lakukan di sini?” Pria itu bertanya malas. Wanita itu melirik pria itu, “Memang tidak boleh?”
Pria itu ganti menggeleng, ”Aku hanya bertanya saja..”
“Aku sedang malas berada di markas, jadi aku memilih jalan-jalan di Alpha. ”Wanita itu menurunkan tangan yang diangkatnya. Rombongan itu segera melanjutkan perjalanannya lagi setelah sesaat menunggu obrolan singkat itu selesai. Para pekerja hanya menundukkan kepala dan terdiam setelah obrolan singkat tadi, mereka menganggap orang yang bisa muncul dari ruang hampa seperti tadi adalah pembesar distrik, jadi mereka sekarang tak berani macam-macam lagi.
“Zenzen, apa benar ini rombongan terakhir?” Karasu berbisik pelan pada Dewi Darah. Wanita itu mengangguk.
“Apa kau tidak menghitung dari tadi? Kalau dihitung dengan rombongan ini sudah pas sepuluh rombongan, empat rombongan pertama membawa keperluan logistik, tiga rombongan setelahnya membawa alat-alat medis, dan tiga rombongan terakhir membawa senjata. ”Dewi Darah balas berbisik pada Karasu.
“Iya..iya, aku mengerti.”
“Sebenarnya berapa banyak orang sih, tim persatuan pemberontak dari distrik ini?” Dewi Darah membalik badan dan berjalan mundur.
“Kau sebenarnya ikut rapat tidak? Sewaktu Rapat ke-204 kemarin kita bukannya sudah bertemu Puma? Panglima pemberontak?”
Dewi Darah menggeleng, tersenyum, “Kau tahu sendiri, aku malas bertemu hal yang serius seperti rapat itu.”
Karasu mengangguk, "Dari distrik Tangan Bawah kita mendapat tiga puluh pegawai pemerintah, lima dewan distrik, dan lima ratus pasukan yang memang tinggal di sini." Dewi Darah mengangguk mendengar jawaban Karasu.
__ADS_1
Rombongan itu melanjutkan perjalanan dengan cepat. Tak lebih dari enam jam mereka sudah sampai di ujung lorong. Cahaya dinding lorong kini mulai bertambah terang dengan cahaya dari luar. Karasu dan Dewi Darah yang berjalan berjauhan berjalan semakin cepat, membuat pekerja Distrik Tangan Bawah juga harus berjalan dengan cepat, mereka hampir mencapai tujuan mereka.
Sebuah gedung raksasa yang berada sekitar dua ratus meter dari mereka sekarang. Gedung bercat merah dengan pintu kayu besar dan jendela jang berterali besi layaknya bangunan penjara. Para pekerja menatap bangunan yang ada di depan mereka.
“Ini bangunan yang baru dibuat dua hari lalu bukan?” Salah satu pekerja mencoba bertanya pada Dewi Darah.
“Iya, dan kami akan membuatnya sebagai penjara untuk pekerja cerewet sepertimu.” Dewi Darah berkata ketus. Pekerja itu segera terdiam dan meundukkan kepala dengan segan. Gedung itu sekarang sudah di depan mata ketika seorang berbadan gemuk menghentikan para pekerja masuk ke dalam gedung, menghentikan mereka di halamannya. Karasu dan Dewi Darah segera memasuki gedung setelah menyapa sebentar dengan orang gemuk itu dan tersenyum pada para pekerja. Para pasukan ikut menguntit di belakang keduanya.
Orang gemuk itu bertepuktangan keras setelah Karasu dan Dewi Darah memasuki gedung. ”Perhatian! Perhatian semuanya!”
Para pekerja yang membawa angkutan berat di punggung mereka kini menurunkannya dan mereka segera berbaris rapi.
“Saya akan membuka portal langsung menuju gedung ini dan kalian semua segera masuk dan mulai mengantri di dalam. Kami bisa mentransfer gaji kalian ke bola informasi kalian bila kalian semua sudah berada di dalam gudang, lengkap dengan barang bawaan kalian.”
Persis di kata terakhirnya sebuah portal besar terbentuk seukuran pintu gedung.
“Silahkan bawa ke dalam!” Orang gemuk itu memposisikan tangannya layaknya penerima tamu. Para pekerja mulai mengangkat kembali barang bawaannya dan mengantri memasuki portal besar di hadapan mereka. Perlahan mereka berjalan memasuki portal. Karena portal itu hanya muat dimasuki dua orang, antrian pun akhirnya mengular panjang.
Tanpa disadari oleh para penjaga, lima orang pekerja menghilang dari pandangan dan memasuki gedung, sedangkan satu orang anak muda yang menyamar ikut mengantri di belakang menunggu untuk memasuki portal gudang.
__ADS_1
Mungkin kalian tidak diketahui dewan Alpha, mungkin kalian bisa bekerja sama dengan pemberontak, namun kalian masih belum mengetahui siapa kami dalam Alpha. Kali ini, kalian adalah santapan kami, bersiaplah jadi makan siang kami.
Langit mulai berwarna kemerahan ketika antrian panjang mulai berkurang drastis. Anak muda itu akhirmya memasuki portal. Ia memegang sebuah alat di telinganya. Dengan perlahan bibirnya menggumamkan sebuah kata, ”Bersiaplah!”, bisiknya.