
Esok paginya gedung AB25 penuh dengan renovasi. Terutama di area sekitar kamar di bawah, termasuk juga kamar kami.
Para pekerja memperbaiki retakan-retakan besar di tembok. Alat yang mereka gunakan seperti pistol berwarna oranye yang mengeluarkan cairan semen secara perlahan ke salah satu retakan.
Ada juga sepatu terbang dan alat-alat modern bagi pekerja lainnya. Semuanya membuat orang yang baru pertama kali melihatnya terpaku pada alat alat itu.
Anak yang ditangkap oleh pihak keamanan distrik Tekno-Pin adalah Neka, Rin 33120. Dia adalah seorang pengguna unsur udara.
Menurut cerita dari Cera, teman yang kami temui di ruang makan sekaligus saksi dari kejadian itu. Neka dijahili tadi malam. Tanpa disadari tombol pengatur energi alamnya masih menyala. Ia emosi dan mengeluarkan energi yang sangat dahsyat.
Saat itulah pihak keamanan distrik Tekno-Pin dibantu pengurus gedung yaitu Affandi mencoba menenangkan Neka yang berusaha membunuh orang yang menjahilinya.
Karena emosi Neka sudah memuncak dan kerusakan yang ditimbulkan olehnya sudah sangat parah maka ia ditangkap. Neka hanya diminta menenangkan diri di dalam bola cahaya untuk sementara waktu.
Sementara itu, sambil menunggu renovasi selesai seluruh peserta tes Alpha dikumpulkan oleh Affandi serta puluhan panitia tes Alpha di sebuah aula.
Mereka menjelaskan jadwal tes yang diadakan dua hari lagi. Adapun bentuk tes terdiri dari tiga jenis tes yang diadakan selama lima belas hari.
Pertama adalah tes tertulis yang diadakan pada lima hari pertama, soalnya berasal dari kemampuan dasar yang kita miliki pada tiap distrik.
Lima hari berikutnya adalah tes mental. Ujian mental yang dilakukan disini untuk mengenali tingkat keberanian, semangat serta pantang menyerah yang dimiliki tiap peserta.
Adapun lima hari terakhir adalah tes lapangan. Tes ini adalah tes terakhir dan tes terberat dimana setiap peserta diharuskan mencoba pekerjaan tiap distrik.
Begitulah penjelasan yang diberikan ketua panitia tes pada kami semua.
Setelah ketua panitia turun dari podium, giliran seorang pria tua berpakaian jubah emas maju ke podium.
Ia memperkenalkan diri sebagai Profesor Lan, Rin 10231. Ia adalah staf bagian administrasi Alpha .
"Saya akan menjelaskan pada kalian semua macam pekerjaan yang bisa kalian dapatkan di sini." Profesor Lan mengetuk layar transparannya.
Sebuah layar besar muncul di depan kami. Ada sekitar tujuh puluh jenis pekerjaan untuk para anggota Alpha.
__ADS_1
Dilihat dari tingkatannya pekerjaan di distrik Tangan Bawah memang berada di tingkat terendah dengan pekerjaan ringan dan gaji yang biasa saja.
Di atasnya terlihat pekerjaan tingkat menengah dan gaji yang diterima juga lumayan besar. Di tingkat ini kebanyakan dimiliki oleh distrik Pena Hijau, distrik Tekno-Pin dan beberapa dari distrik Kayu emas.
Di tingkat teratas dengan gaji fantastis sebagian besar pekerjaan dimiliki oleh distrik Mahkota Raja. Sebagian yang lain dari distrik Kayu Emas dan distrik Tekno-Pin.
Aku melihat semua pekerjaan yang tertera di layar. Semuanya dari pekerjaan tingkat atas sampai bawah terlihat sangat menakjubkan.
Beberapa pekerjaan sangat menarik perhatianku. Misalnya para penyihir dari distrik Pena Hijau, pemilik kekuatan yang memiliki gaji tinggi, penghasil energi bumi dan penjaga kubah Alpha yang pekerjanya dari distrik tangan bawah.
Aku kembali menatap layar dengan seksama. Profesor Lan menunjukkan peringkat teratas yang membuat semua peserta melongo.
Pekerjaan peringkat pertama memiliki gaji sepuluh kali lipat pekerjaan tingkat atas. Wow, fantastis dan luar biasa.
Nama pekerjaan itu adalah Ranker. Tempatnya serta nama distrik pekerjanya rahasia. Itu yang disampaikan oleh Profesor Lan sesaat sebelum menutup penjelasannya.
"Ranker adalah koin keberuntungan serta senjata terakhir perusahaan. Jadi ini adalah rahasianya rahasia perusahaan kami. Hanya beberapa orang dari anggota perusahaan yang tahu lebih jelasnya."
Acara berakhir pada saat hari telah siang. Sudah sekitar empat jam kami duduk mendengarkan dan kaki kami kesemutan saat berdiri karena terlalu lama duduk.
Gedung AB25 atau asrama tempat tinggal kami sudah seperti sedia kala. Renovasinya singkat sekali.
Kalaupun di perumahan, renovasi satu rumah dengan kerusakan ringan saja paling tidak butuh waktu minimal dua hari.
Disini, sebuah gedung raksasa dengan kerusakan berat dapat diselesaikan dalam kurun waktu empat jam.
Aku berjalan ke kamar sambil berpikir kira-kira pekerjaan apa yang cocok untukku. Kalau saja aku punya kekuatan seperti mama pasti aku bisa bekerja sebagai pemilik energi alam dengan gaji lumayan tinggi.
Tapi aku tidak punya kekuatan apapun. Tidak ada satu tombolpun di jamku yang menunjukkan kalau aku adalah pemilik kekuatan.
Sesampainya aku di kamar, semua ternyata sudah berada di sofa. Dua sofa sudah terisi dan hanya menyisakan satu ruang kosong buatku.
Aku duduk dan ikut dalam ketenangan. Bersandar seperti yang lain, dan ikut tertidur.
__ADS_1
@-@-@-@-@
Dua hari berikutnya kami disibukkan dengan membeli persiapan ujian. "Kamu mau beli pedang yang mana?" Kapi bertanya padaku.
Syarat ujian lapangan untuk distrik Kayu Emas adalah membawa senjata kecuali bagi para pemilik kekuatan. Asuza dan Rais adalah pemilik kekuatan, jadi mereka tidak pergi ke toko senjata.
Sedangkan aku, Gina, Ella, serta Kapi bukan pemilik kekuatan jadi kami membeli senjata.
Walaupun kami tidak pernah diajari memakai senjata, namun di ujian lapangan Distrik Kayu Emas kami akan diberi kursus selama tiga hari. Hasil dari kursus ini nanti akan menjadi tolak ukur apakah kami memiliki bakat dalam memakai senjata yang kami pilih atau tidak.
Gina dan Ella memutuskan untuk membeli busur dan anak panahnya.Sedangkan aku dan Kapi memutuskan membeli pedang.
"Pedang yang ini saja, ringan dan yang pasti murah, hehehe."
"Tapi kualitas ketajamannya kurang bagus. Misal digunakan memotong sebatang kayu mungkin butuh lima puluh sampai enam puluh kali tebasan dengan kekuatan penuh baru bisa terpotong."
Kapi tersenyum. Dia memang dapat mengenal kualitas sebuah pedang karena ayahnya yang berada di distrik Tangan Bawah bekerja sebagai pandai besi.
"Kalau kamu pilih yang mana?"Aku bertanya padanya.
"Hmmm, yang ini saja, walaupun harganya lumayan tapi dapat memotong kayu lima kali tebas bila dengan kekuatan dan dua puluh kali tebas bila dengan kekuatan biasa."
Kapi memilih sebuah pedang perak seharga dua fer, mata uang di perusahaan Alpha. Uang digital ini bernilai sama dengan emas. Satu fer sama dengan satu keping emas.
Aku memilih pedang yang lain. Hampir semuanya berharga dua sampai sepuluh fer. Hanya beberapa seperti pilihanku tadi yang berharga setengah fer.
Aku memilih pedang seharga lima fer. Walaupun harus menghabiskan uang sakuku itu lebih dari cukup karena kemampuannya yang dapat memotong kayu sekali tebas dengan kekuatan penuh dan dua kali tebas dengan kekuatan biasa.
"Sekarang kita harus beli kacamata M, menyewa sebuah robot kecil, dan mencari kamus lima ratus bahasa."
Gina membacakan alat ujian lapangan berikutnya. Kami segera mencari toko alat-alat tersebut dan membeli barang yang diminta.
Tes tinggal sehari lagi dan kami sudah siap atasnya.
__ADS_1