Book One : Dunia Alpha

Book One : Dunia Alpha
Eps 15.Mama dan Keputusanku


__ADS_3

Sebelas hari sudah sejak aku memasuki PT Alpha, sebelas hari penuh rasa takjub, senang, dan kini sedih bercampur marah, dan terakhir saat ini, setelah kakek dan nenek pulang dari rumah sakit, sedih itu mulai bercampur rasa optimis dan semangat yang menggebu. Kembali mendapat kepercayaan kakek,hatiku menggema dengan kalimat itu.


Teman-temanku juga sudah pulang ke Distrik Tekno-pin, padahal aku belum memberitahu mereka rencanaku untuk mencari pedang Mirabilis. Setelah seharian menunggui mama di kursi taman, sore itu mama sudah berjalan di taman bersama papa. Aku bergabung bersama mereka.


“Mama sudah baikan?” Tanyaku saat melihat tubuhnya bersih tanpa bekas luka. Ia mengangguk dan menceritakan pasangan Dokter Pierre dan Marrie sebagai dokter yang paling berjasa dalam hidupnya karena telah menyelamatkan nyawanya beberapa kali. Walaupun keduanya hanya memakai teknologi tingkat rendah di Distrik Pena Hijau tetapi karena kesigapan dan kecekatan pasangan itu nyawanya selalu terselamatkan. Setelahnya papa menceritakan situasi permukaan yang sedang telah direset dari kejadian kemarin. Dengan kemampuan Profesor Fess dan timnya dalam menghapus ingatan orang-orang, menghapus seluruh data di media sosial, alat elektronik, maupun media cetak, dalam satu jam segala hal tentang Alpha sudah menghilang di permukaan. Aku dan mama mendengar cerita papa dengan seksama.


 “Ma...” Aku menatap mata mama.Mama dan papa ganti menatapku penasaran.


“Kenapa Lian?” Papa menghentikan ceritanya. Sejenak suasana hening.


Aku segera menggerakan mulutku.”Apa..apa...”


“Ada apa Lian?” Mama sekarang bertanya penasaran.


Aku menundukkan kepalaku, demi mendapat kepercayaan kakek,batinku. Aku mulai meyakinkan hatiku. Bila aku berhasil mendapat kepercayaan kakek maka hatiku akan lebih tenang, tak ada tuduhan pembunuhan lagi, tak ada rasa bersalah yang akan menghantuiku lagi, tak ada yang akan rasa curiga dari keluarga lagi, batinku berkecamuk.


“Ma...” Aku mencoba berkata mantap dan menatap mama dan papa dengan rasa optimis.


“Ceritakan Lian, ceritakan apa yang ingin kau ceritakan pada kami. Ceritakanlah!” Mama berkata lembut. Papa mengangguk menyetujui perkataan mama.


Aku segera menceritakan semua yang dikatakan nenek, semua tentang mendapat kepercayaan kakek, tentang misi mencari pedang Mirabilis, pedang legendaris milik kakek yang harus kutemukan. Mungkin sulit, namun demi kakek aku merasa harus melakukannya. Mama dan papa hanya terdiam mendengar semua rencanaku.

__ADS_1


“Apa kau benar-benar akan melakukannya Lian?” Mama bertanya dengan nada risau. Aku mengangguk mantap. Aku telah menetapkan niatku. Tak ada yang bisa menggoyahkan niatku.


Mama menghembuskan nafas panjang dan papa hanya terdiam. Mereka mebalikkan badan dan mulai berdiskusi dengan suara nyaris tak terdengar. Sesekali terdengar denting kecemasan maupun isakan dari mama, tapi suara papa terdengar meyakinkan bahkan mampu mengurangi rasa cemas mama. Aku hanya menunduk menunggu hasil diskusi ini.


Sudah dua puluh menit berlalu, namun diskusi kecil ini belum rampung. Hingga pada menit kedua puluh lima mama dan papa membalikkan badan.


“Apa kau sudah benar-benar yakin dengan keputusanmu?” Mama berkata serius. Aku mengangguk.


“Apa tidak ada cara lain? Memberinya hadiah mungkin? Dulu mama ketika marahan dengan kakek, mama suka memberi sebatang coklat, dan kami bisa berdamai lagi.”Aku menggeleng dengan senyum optimis. "Masalah ini tidak pernah bisa disamakan dengan sebatang coklat, Ma.” Mama menatapku lesu.


“Hhh...baiklah kami menyetujuinya..” Papa akhirnya berkata mantap diikuti anggukan bergetar mama dengan senyum getirnya. Aku hanya tersenyum.


“Terimakasih, Ma..Pa!” Aku menatap keduanya bergantian. ”Terimakasih...”


Syarat pertama, aku harus mengikuti latihan rahasia bersama teman sekamarku selama sepekan di lokasi penjaga kubah distrik Mahkota Emas. Disana adalah area pelatihan para Ranker. Aku terkejut mama dan papa memberi rahasia lokasi Ranker semudah itu. Bahkan menceritakan bahwa setiap lokasi penjaga kubah merupakan tempat pelatihan sekaligus tempat tinggal para ranker.


“Untuk izinnya mudah saja.” Mama berkata santai. Aku menatap mama bingung, kemampuan mama dan kakek saja masih jauh dibawah para Ranker. Bagaimana mungkin, batinku. Mama segera tersenyum menjawab mukaku yang bertanya-tanya lalu melirik ayah yang pura-pura tidak mendengar apapun dengan sok menengok ke kanan dan kiri sambil bersiul, kebiasaan lama.


Mama mendekatkan mulutnya ke telingaku, ”Papamu adalah direktur utama yang mengurus rancangan latihan para ranker.” Aku menatap papa dengan mata membulat dan mulut terbuka. Papa hanya mengangkat alis dan pundaknya, bergaya pamer.


Syarat kedua, aku diharuskan mendaftarkan diri ke gedung utama distrik Mahkota Raja, tepatnya pada dewan Alpha sebagai penerima misi dari nenekku. Sebenarnya ini mudah saja, saat kubaca di bola informasi, nama nenekku juga lumayan terkenal sebagai seorang peneliti dan penjelajah, ia juga sering disebut sebagai ‘Sang Ahli Pikiran’ karena dapat mengetahui apa yang telah terjadi walau tidak melihat secara langsung.

__ADS_1


Kadang itu menjengkelkan seperti saat ia tahu aku buang air besar di celana kemarin saat aku kelas dua SMP. Padahal ia sedang di rumahnya, dan aku sendiri di rumahku saat papa mama pergi. Nenekku bahkan pernah masuk berita Alpha dengan judul ‘Nenek Malaka Sang Pembawa Berita’ ia dijuluki seperti itu karena hampir sembilan puluh sembilan persen yang dikatakannya benar apa adanya.


Syarat ketiga yang diajukan mama, aku wajib didampingi dua Ranker. Kalau bisa, permintaan mama, yang terkuat, karena itu mungkin dapat menandingi kemampuan pedang Mirabilis. Semoga saja bisa, batinku. Sepertinya semua syarat yang diajukan bisa dilaksanakan, walaupun syarat terakhir agak begitu sulit karena para Ranker bekerja secara independen tanpa kerjasama tim.


Mama menutup penjelasannya dengan memberi kesempatan pada Lian bila ingin menambahi dari selain anggota kamarnya yang dirasa mampu menemani Lian. Mama juga berharap Lian bisa lebih hati-hati dan fokus, karena misi seperti ini belum pernah dilalui mama sekalipun.


Aku pun berkata mantap, ”Kalaupun ada sebuah tugas penting yang harus diselesaikan. Bukankah itu yang harus dilakukan pria sejati?” Aku menepuk dadaku. Mama mengangguk penuh rasa bangga dan kemudian cemberut  menatap ayah yang masih bersikap ‘sok-sokan’.


“Pah....” Mama mengeluarkan jurus pura-pura kecewanya. Papa menengok dan segera mengeluarkan juga jurus pura-pura perhatiannya.


“Eh...iya Mah, kenapa?” Papa berusaha memasang mimik muka perhatiannya.


“Masa’ anak kita mau pergi gak dikasih pesan apa gitu, biar makin semangat gitu.” Mama berkata kesal.


“Eh, iya..ya. Oke ayah akan berpesan tiga hal pada Lian, dengarkanlah dengan seksama!”


Mama tersenyum manis mendengar ucapan papa, aku segera menyiapkan telingaku untuk mendengar nasihat papa.


“Pertama, Lihat kemampuanmu bila harus menjumpai pertarungan. Kedua, jangan pernah menyerah, karena sekali saja kau menyerah kau bisa memusnahkan dunia Alpha. Kau sudah mendengar berita pasukan Mata Merah dan partai Persatuan Pemberontak juga mencari pedang Mirabilis bukan?” Aku mengangguk. Berita itu baru saja disampaikan oleh dewan Alpha barusan. Kedua kelompok itu baru saja diberitakan masih dalam proses mengumpulkan informasi. Sedangkan aku lagi-lagi dengan mudahnya mendapat semua informasi dari nenek, bahkan sebuah rahasia bahwa pedang itu kini sedang disembunyikan dalam sebuah laboratorium rahasia di distrik Tangan Bawah.


“Ketiga, ingatlah papa dan mama hanya membantu sedikit, sisanya adalah dari kemampuan timmu nanti dan keberuntungan yang mungkin kau dapat. Mungkin dewan Alpha sudah mengirim beberapa tim ahli untuk mencari pedang Mirabilis, namun hanya kamu yang beruntung mendapat petunjuk dari nenekmu, nenek Malaka.”

__ADS_1


Aku mengangguk, segera berpamitan pada keduanya dan pergi menuju distrik Tekno-Pin. Semoga teman-teman siap untuk mengikuti misi ini, karena ujian juga ditunda sementara waktu karena kejadian ini.


__ADS_2