
“Lian..” Dea menepuk punggungku. ”Maaf..maaf kalau kata-kataku membuatmu seperti itu.” Dea menatapku dengan muka menyesal. Aku mengangkat kepalaku, tersenyum.
“Tak apa Dea, aku juga masih berpikir sulitnya misi ini.” Aku berdiri perlahan. Aku tak akan menyerah.
“Kita akan tahu kenapa orangtuaku tak bisa serius dalam misi ini nanti, saat orangtuaku menelpon dan mengabarkan kelanjutan misi kita. Kalian tahu? Orangtuaku masih memiliki beberapa rahasia yang masih belum kuketahui. Semoga nanti orangtuaku akan memberitahukannya." Kataku dengan senyum yang meyakinkan.
Dea akhirnya tersenyum, diikuti Rais. ”Baiklah, kita akan menunggu.”
Semuanya duduk kembali di atas sofa, kini dengan wajah yang lebih tenang.
@-@-@-@-@
Sementara Lian dan teman-temannya masih menunggu kelanjutan misi mereka, ternyata sudah ada yang telah bersiap memulai misinya. Semu, sang panglima pasukan Mata Merah dan pasukannya telah mendapat lokasi tujuan yang harus mereka capai, di kota Batu Kapur, Distrik Tangan Bawah. Dengan bantuan kelompok Persatuan Pemberontak yang kini berada di semua bagian distrik Alpha. Kelompok Persatuan Pemberontak juga yang bertugas mengumpulkan semua informasi dari Alpha, intinya mereka adalah mata-mata milik pasukan Mata Merah.
Markas Pasukan Mata Merah berada di dalam tanah juga, letaknya kurang lebih dari dua ratus kilometer dari Distrik Mahkota Emas.Markas mereka lebih kecil dari distrik manapun di Alpha.Bila rata-rata distrik di Alpha memiliki luas 2200 kilometer persegi dengan jumlah pekerja di tiap distriknya sekitar empat puluh juta jiwa, Pasukan Mata emas memiliki markas dengan luas tiga per empat dari luas sebuah distrik Alpha.
“Kau sudah menyiapkan pesawatnya?” Sosok itu sedang menelpon seseorang dengan sebuah alat di telinganya. ”Maaf tuan Semu, ada beberapa hambatan, salah satunya beberapa rekan kami yang sedang kesulitan membuat peta jalur teraman menuju Kota Batu Kapur. Lokasinya walaupun berada di daerah distrik Tangan Bawah, namun keramaian disana sudah seperti pasar ditambah kami temukan banyaknya pasukan distrik Kayu Emas dan beberapa Ranker tingkat menengah tinggal di sana.” Jawab suara di sana dengan gemetar.
“Baiklah, aku memberi kalian watu selama sepuluh hari, itu waktu yang cukup bagi kalian untuk memikirkan strategi dan langkah yang tepat untuk menuju ke kota Batu Kapur. Kalian beruntung karena aku sedang memiliki banyak urusan di markasku.” Orang itu tersenyum,suara nafas lega terdengar di sana. ”Terimakasih tuan....terimakasih banyak!”
“Kerjakan semua dengan baik aku tak ingin ada sebuah kegagalan seperti penyerangan di perumahan S kemarin. Sampai kita mendapat pedang Mirabilis, jangan sampai kita bertemu para Ranker, kita belum memiliki kemampuan untuk melawan mereka.”
“B.Ba.Baik tuan, baiklah, akan kulaksanakan!” Suara disana berkata mantap. Orang itu menekan tombol di telinganya, menutup telepon dan segera berdiri dari kursi kerjanya, singgasananya. Singgasana berupa kursi kayu besar yang dicat keunguan dengan bongkahan berlian besar terpasang di ujung-ujung singgasananya.
“Hei Karasu!!” Semu memanggil orang berambut gondrong yang berada di pojok ruangan. Matanya merah menyala menatap segala sisi ruangan besar tempat mereka berada. Layaknya menatap musuh ia mengedarkan mata merahnya menanggap bahaya ada di tiap sisinya, namun ketika menatap tuannya, Semu, kini ia menundukkan pandangannya sedalam mungkin dan mendekat ke singgasana Semu.
__ADS_1
“Zenzen, tuan, adakah yang harus kulakukan?” Karasu, sang tangan kanan Semu bertanya dengan nada hormat, kepalanya masih menunduk dalam.
“Kumpulkan tiga Panglima Serigala dan sang Dewi Darah kita Karasu, ada hal lain yang harus kurapatkan.”
“Zenzen, baiklah tuan,baiklah, akan kulaksanakan dengan segera. Zenzen, ada yang lain tuan?”
“Tidak ada Karasu, terimakasih.”
“Zenzen, sama-sama tuan.” Karasu beranjak mundur perlahan, berbalik dan pergi menuju pintu keluar. Matanya menatap tajam pada tiap penjaga yang dilewatinya seakan berpesan ‘jangan membelot atau leher kalian takkan pernah tegak kembali.’ Ia berjalan cepat, memenuhi tugasnya.
Tak berapa lama ia kembali dengan tiga orang berbadan kekar dengan wajah berwibawa serta satu orang perempuan bergaun merah darah yang membawa sebuah arloji emas kecil di tangannya. Layaknya bangsawan eropa terkenal ia berjalan dengan arogan. Pandangan sombongnya menatap ke depan.
“Berkumpullah para pembesarku,ada sesuatu yang harus kubicarakan dengan kalian semua. Karasu, segera keluarkan meja rapatnya!”
“Zenzen, tuan.!” Karasu mengetuk lantai tempat ia berdiri dengan kakinya pelan.
“Zenzen, silahkan duduk..!” Karasu mempersilahkan tamunya dengan meletakkan tangan terbukanya di atas perut lalu berjalan menuju singasana dan berdiri di sampingnya lalu menghadap meja rapat.
Semu segera menduduki singgasananya yang kini telah bersatu dengan meja rapat. Tiga orang panglima Serigala menduduki kursi rapat. Diikuti Dewi Darah yang dengan sikap arogannya duduk di atas kursi kayu merah tua. Semuanya memasang muka serius dan tegang, kecuali Dewi Darah yang berleha-leha dengan kedua kakinya yang terangkat menganggap dirinya tak bertanggungjawab atas apapun.
“Zenzen, Dewi Darah jaga kesopananmu!” Karasu mendesis, memarahi Dewi Darah dengan suara seraknya. Kepalanya menunduk ketika semua orang termasuk Semu ganti menatapnya.
“Kau terlalu serius Karasu, duduklah di pojok ruangan dan makanlah sesuatu yang dapat menenangkanmu.” Dewi Darah berkata sambil menamerkan permen karet yang dikunyahnya.
“Zenzen, sekarang kau berani menentangku Dewi Darah!Kau sudah terlalu sombong!” Karasu kini menatap Dewi Darah dengan mata merahnya.
__ADS_1
“Kau yang terlalu serius, Karasu.Sedikit bersantailah, hiruplah udara segar dan berliburlah!” Dewi Darah menurunkan kakinya, berdiri dan kini menatap Karasu malas.
‘Brak’ Meja rapat dipukul dengan keras, suasana mendadak hening.
“Tidak bisakah kalian berhenti ribut, atau lebih baik kalian keluar dari ruangan ini.” Semu menatap keduanya dengan sedikit marah. Kini keduanya menunduk ke hadapan Semu.
“Tidakkah kalian paham betapa pentingnya rapat ini? Kita bisa menguasai Alpha selama kita bisa bersatu, perpecahan di antara kita hanya berakibat buruk pada rencana kita nanti! Kembali ke rapat!” Semu mengeluarkan aura hitamnya. Sesaat kemudian tubuh keduanya kaku, tak bisa bergerak sama sekali. Mulut mereka terkunci rapat, tak ada kata protes maupun maaf yang dapat mereka ucapkan.
Hingga ketika tubuh mereka dapat bergerak kembali, keduanya segera kembali ke tempatnya. Kini, Dewi Darah lebih bersikap hati-hati. Ia menyadari ternyata kemampuannya sekarang masih jauh dari Tuan Semu.
Rapat berlanjut dengan lebih serius.Setelah memutuskan jumlah pasukan yang dikirim, kini Semu membagi tugas tiap peserta rapat.
“Karasu, kau akan mengatur pengiriman seluruh persediaan logistik menuju Alpha, entah itu makanan, senjata ataupun transportasi, rundingkan bersama Persatuan Pemberontak!”
“Zenzen tuan. Perintahmu adalah tugas utamaku tuan.” Karasu mundur perlahan.
Semu kini ganti menatap ke depan. “Panglima-panglimaku, mendekatlah, kalian yang akan memimpin perang ini bersiaplah!”
“Siap, tuan.” Ketiganya menganggukkan kepalanya, lalu mengundurkan diri.
Terakhir, Semu menatap orang di ujung meja dengan agak muak.“Dewi darah, walaupun aku agak malas berurusan denganmu, tapi kali ini aku memintamu untuk mengatur semua teknologi kita bersama profesor pemberontak Alpha itu, dan carilah semua informasi penting yang kita perlukan bersamanya. Aku tak terlalu yakin jika ia hanya bekerja sendirian.”
Dewi Darah mengangguk pelan, ”Baiklah tuan.”
Semu menutup matanya saat seluruh peserta rapat mengundurkan diri untuk melaksanakan tugasnya. Ujung matanya tampak basah.
__ADS_1
“Pedangku, Mirabilis, tuanmu yang sebenarnya ini sedang menantimu. Tunggulah....tunggulah hingga pasukanku menjemputmu!”