
Pemandangan langit Ruang Padang Mayat itu penuh dengan awan mendung. Petir menyambar kesana-kemari. Suara gunturnya yang membahana menjadi alunan lagu sambutan bagi kedatangan Lian dan teman-temannya. Ditambah dengan hawa dingin yang mencekam membuat suasana tambah menyeramkan.
Namun bukan itu fokus utama yang dilihat oleh Lian dan kawan-kawan. Namun apa yang terhampar luas di hadapan mereka saat ini. Awalnya saat tidak ada kilat tempat itu masih gelap dan tidak menunjukkan apapun. Namun saat kilat dan petir datang bersahutan mereka terkejut dengan pemandangan di hadapan mereka.
"Ap...pa-apaan ini?" Rheda yang merupakan seorang ahli bedah dari Distrik Pena Hijau memalingkan wajahnya secepat mungkin. Juga Lian dan lainnya. Bahkan Gina, Asuza, dan Sian menutup wajah mereka serapat mungkin. Ella hanya bisa mual-mual melihat apa yang ada di depannya.
Pemandangan yang sangat mengerikan itu adalah tumpukan mayat yang sangat mengenaskan di hadapan mereka. Bukan hanya satu atau dua tumpukan mayat yang menggunung, mungkin ini juga alasan mengapa tempat ini dinamakan pedang mayat. Banyaknya gunung, bukit, lembah yang seluruhnya berupa tumpukan mayat. Bau busuk menyebar ke segala arah dan bahkan membuat Sian hampir pingsan. Kalau saja tidak ada Rais yang segera menggendongnya mungkin Sian sudah jatuh.
Namun mereka tidak berada di tumpukan mayat itu, mayat itu jauh di bawah mereka. Tepat di bawah mereka hanya tanah biasa, dan pemisah antara mereka dan padang mayat itu adalah sebuah retakan besar selebar kira-kira sepuluh meter, dan dalamnya tak berujung.
Setiap orang berpegangan satu sama lain. Dengan tubuh gemetaran setiap orang berusaha menjauh dari jurang, dasar retakan tanah yang tak berujung dan hanya terlihat gelap itu membuat sepuluh orang Tim Alpha ketakutan.
Tiba-tiba sebuah suara keras datang dari langit dan terdengar jelas di telinga kami. Suara yang sangat familiar di telinga kami semua.
"Aku tak bisa mengharapkan sesuatu yang baik bagi kalian, namun agar kemampuan dan kerjasama kalian meningkat aku harus mendatangkan kalian menuju Ruang Padang Mayat ini." Master Kiseti berbicara dengan nada normal. Seakan menghibur dan menunjukkan bakat kami Master Kiseti berkata lagi.
__ADS_1
"Aku akan memberi kalian beberapa senjata dan petunjuk." Sebuah larik cahaya yang panjang dan berwarna-warni turun dari langit. Lalu mendadak larik cahaya panjang itu berkumpul dan turun di depan kami. Sebelum cahaya itu mencapai tanah ia sudah membelah menjadi sepuluh, sesuai jumlah kami.
"Lian, kau akan menjadi ahli pedang bila berada di Distrik Kayu Emas, namun kau juga memiliki kemampuan yang lebih tinggi dalam pemerintahan, maka kau juga bisa menjadi anggota Distrik Mahkota Raja. Maka aku memberimu dua benda yang dapat membantumu."
Salah satu cahaya mendekatiku dan berubah menjadi sebuah kotak kayu panjang. Aku mengambilnya dan membukanya. Sebuah pedang panjang dengan ukiran petir keperakan di gagangnya kini sudah berada di tangan kananku. Adapun barang satunya yaitu tongkat berwarna keemasan dengan ukiran naga di seluruh permukaan tongkat. Aku tersenyum menerimanya, lalu berjanji dalam hati akan benar-benar melupakan kebencianku saat master Kiseti memarahiku.
Satu persatu cahaya itu diberikan pada yang lain. Setiap orang diberikan dua senjata, senjata utama dan satu lagi senjata penopang.
Gina dengan bola informasi yang berwarna transparan, bola yang dapat menemukan segala informasi. Kemampuan bola itu, kata Master Kiseti melebihi google maupun alat pencari informasi lain. Ia bahkan bisa mengetahui hampir seluruh informasi yang bersifat umum maupun rahasia. Adapun sebagai senjata utama Gina diberi puluhan granat berkekuatan tinggi. Hebatnya lagi granat itu hanya dapat melukai musuh dan tidak berefek apapun pada pemakai maupun timnya.
Adapun Rheda diberi cincin berwarna hijau tua, sama dengan dirinya yang merupakan asli Distrik Pena Hijau. Ia dikatakan memiliki keunggulan dalam mempelajari hal yang berkaitan dengan non-ilmiah atau gaib. Sehingga cincin itu berisi mantera-mantera gaib yang dapat membantu mereka. Bahkan Rheda dan Dea juga memiliki senjata yang mengagumkan sesuai kemampuan mereka. Begitu juga lainnya yang diberikan snjata serta penopang yang sangat berguna. Tentu saja semua itu belum bisa mereka pakai secara maksimal mengingat mereka kembali dari nol.
"Sebelum aku pergi aku ingin memberitahu kalian bahwa misi kalian saat ini adalah mencari sebuah kompas raksasa di tengah-tengah Padang Mayat. Kalian harus memasukinya dan mendapatkan petunjuk ke misi berikutnya. Tempat ini sudah dirancang bertahap. Lawan setiap musuh yang ada di hadapan kalian, tidak ada yang benar-benar baik di tempat ini. Ingat, hanya misi terakhir lah yang dapat mengeluarkan kalian dari tempat ini. Dan jika kalian terbunuh kalian benar-benar terbunuh di dunia nyata." Master Kiseti mengucapkan seluruh kalimat terakhirnya dengan nada datar kecuali kalimat terakhir yang ia katakan dengan nada mengancam.
"Selamat tinggal!" Cahaya di langit itu menghilang mendadak dan berganti suara guntur yang datang bersahut-sahutan.
__ADS_1
Mendadak dari dalam jurang keluar kayu-kayu tua yang kehitaman dan melayang di atas jurang. Sesaat kemudian kayu-kayu itu tersusun menjadi sebuah jembatan yang kokoh yang menghubungkan kami dengan Ruang Padang Mayat. Jembatan kayu itu memiliki lebar yang cukup untuk dilewati tiga orang dewasa secara bersamaan. Kapi mencoba menginjaknya dan tidak terjadi apapun.
Namun ternyata bukan hanya kayu-kayu tersebut yang tersusun. Di ujung jembatan mayat mayat yang menggunung mendadak bergetar keras. Dalam beberapa detik tumpukan mayat itu meledak dan berhamburan ke berbagai arah. Sebagian menutupi jembatan, sebagiannya lagi sudah jatuh ke jurang.
Lebih mengejutkannya lagi mayat-mayat itu kini bergerak. Perlahan seakan sedang mengumpulkan nyawanya, mayat itu hidup. Kami semua mundur secara serentak.
Baru pertama kali dalam hidupku melihat zombie yang ada langsung di depan mata. Padahal sebelumnya, zombie yang kulihat di film-film sudah sangat mengerikan. Namun ternyata zombie yang sebenarnya lebih mengerikan lagi. Darah mereka sudah mengering dan membekas di seluruh tubuh mereka. Aroma busuk dari sebagian tubuh mereka yang sudah membangkai.
Tiba-tiba seorang zombie menghampiriku, langkahnya cepat tak terkira. Namun sebelum aku dapat menghunuskan pedangku, zombie itu sudah ada di depan mataku dan hendak memakanku.
"Hrrrrraaaaah...." Zombie itu membuka mulutnya lebar-lebar.
Namun sebelum zombie itu dapat memakanku zombie itu mendadak membeku. Rais dengan refleksnya yang kuat dapat menghentikan langkah zombie itu. Sesaat setelah zombie pertama yang menyerangku membeku, puluhan zombie lainnya bergerak lebih cepat dan menyerang kami semua.
Aku mengelap keringat. "Sepertinya masalah kita agak rumit."
__ADS_1