
Aku bingung sekali. Mataku menatap mama dengan heran seraya menunjuk kartu itu.
"Eh, Mama mau pasang jam yang di kartu itu? Itu kan cuma gambar." Kataku kebingungan.
Mama tersenyum padaku. "Ini bukan cuma gambar jam Lian, ini jam yang disimpan di kartu." Kata mama yang membuatku tambah bingung.
Mama mengambil gunting dari kotak alat tulis di meja belajarku. Ia memotong gambar itu sesuai lekukan jamnya. Membuatnya berbentuk jam. Potongan itu lalu dipakaikan ke tanganku. Tiba-tiba perlahan potongan kartu yang berbentuk jam itu memudar, lalu menyatu dengan warna kulitku, menghilang.
"Udah, ayo makan dulu, nanti mama jelasin semuanya, papa udah nunggu di ruang makan kayaknya." Kata mama dan pergi meninggalkanku terbengong-bengong melihat kartu itu hilang dari tanganku.
@-@-@-@-@
Namaku Lian, lebih lengkapnya lengkapnya Dahlia Lian. Aku sekarang kelas dua sekolah menengah atas, yang lebih sering disingkat SMA. Aku tinggal di sebuah kompleks perumahan luas yang agak jauh dari perkotaan. Nama perumahanku bisa dibilang langka, Perumahan S. Iya, cuma huruf S yang tertulis besar-besar di gerbang masuk. Walaupun begitu perumahan ini sudah mencapai puluhan tahun dan makin meluas tiap tahunnya. Tahun ini saja sudah bertambah sekitar setengah hektar.
Sebenarnya hariku terasa sangat membosankan dengan kegiatan yang diulang-ulang. Aku jarang sekali jalan-jalan, wisata, atau entah apapun yang sejenis itu.
Aku anak laki-laki satu-satunya di keluargaku. Orangtuaku selalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai pegawai sebuah perusahaan. Kedua-duanya, ayah dan ibuku. Sama seperti semua penghuni perumahan ini, semuanya. Ya, kecuali Pak Sarip, Pak Manto, dan Pak Suri. Mereka adalah para satpam gerbang yang selalu berjaga secara bergantian disana.
Tapi entah kenapa libur kali ini orangtuaku selalu di rumah. Biasanya di libur yang sebelum-sebelumnya mereka ada tugas tambahan.
Tapi, walaupun ada mereka di rumah liburan ini tetap terasa biasa saja. Karena papa malah banyak tidur karena kecapekan. Juga mama yang malah ketagihan membuat masakan-masakan enak lalu membagikannya ke rumah tetangga dan pasti aku yang akan disuruh membaginya, ya, walaupun liburan ini agak berbeda tapi tetap saja rutinitasnya membosankan.
Tapi tidak setelah makan malam ini. Tidak setelah mama menempelkan potongan kartu itu. Walaupun awalnya aneh, aku merasa ada hal baru dalam hidupku saat kartu itu dipasang. Entah itu semangat, tantangan, ataupun yang sejenisnya. Ada hal baru dalam hidupku yang menghapus semua kebosanan ini. Tatapan mama menunjukkan sebuah rahasia besarnya.
"Pa, Lian sudah punya jam seperti kita lho!" Kata mama saat makan malam.
"Iya, mana papa lihat!" Kata papa berseru takjub.
__ADS_1
"Ayo Lian perlihatkan!! Pegang tempat tadi mama menempelkan jam itu!" Kata mama.
Aku pun memegang tangan tempat mama menempel kartu tadi. Agak keras sih saat kusentuh.
Seketika tempelan kartu itu perlahan kembali berwarna, lalu menggembung dan tiba-tiba membentuk jam yang keren berwarna biru lautan. Aku mencoba memegang jam itu takjub. Wow asli, bukan kartu yang tadi dipasang mama.
"Kok bisa Ma? Ini juga jam apa? Terus ini buat apa?" Rentetan pertanyaan panjang aku tanyakan pada Mama tentang jam itu. Jam dari kartu pemberian Zam.
@-@-@-@-@
Sudah lebih dari seabad ternyata perumahan ini terbentuk. Banyak sekali sejarah yang terjadi di perumahan ini. Nama aslinya memang S, itu sebuah singkatan dari singkatan yang lain. Bingung? Aku juga bingung dengan penjelasan mama yang satu ini. S memiliki kepanjangan SILAM, nah SILAM ini punya kepanjangan "Sekretariat Ilmu Alam Murni". Aku tidak begitu mengerti apa itu, tapi semua orang di perumahan ini adalah anggota dari SILAM ini, maka nama perumahan ini perumahan S. Perumahan ini dihuni oleh keluarga masing-masing secara turun-temurun. Maka tidak heran bila perumahan ini makin lama makin luas. Bahkan kakek nenekku ada di dekat sini.
Mama memulai cerita tentang jam tadi dari perumahanku. Ternyata bukan cuma perumahan ini yang memiliki inisial huruf saja. Ada dua puluh enam perumahan yang memakai inisial huruf dari A sampai Z. Semuanya dimiliki oleh sebuah perusahaan besar yang bernama Alpha. Nama yang aneh, pikirku sejak tadi.
Sebenarnya semua perumahan tadi hampir sama luasnya maupun susunan rumahnya. Semuanya hampir sama dengan penghuni 500-600 keluarga tiap perumahan. Besar sekali 'kan. Walaupun namanya aneh tapi pasti perusahaan itu pasti sangat kaya bisa menampung banyak keluarga.
Mama melanjutkan ceritanya, "Semua perumahan tadi sebenarnya merupakan penghasil anggota organisasi perusahaan itu yang menjalankan tugas tertentu sesuai keahlian, kami menyebut anggota Alpha Bet ini dengan 'Rin'. Termasuk mama dan papa. Juga kamu nanti Lian." Mama menyentuh tanganku.
Mataku membulat mendengar itu. Heh, perusahaan di bawah tanah? Ini pasti seru,batinku.
"Lian, kamu harus pergi ke sana dua hari setelah kamu menerima jam ini, disana ada tes kemampuan fisik dan pikiran untuk mendapat pekerjaan dan tempat tinggal disana." Aku terkejut mendengarnya.
"Dua hari lagi, Ma? Bukannya terlalu cepat? Aku belum bersiap apapun." Kataku cepat. Aku belum mengemas koper apalagi aku masih kelas dua SMA masih harus sekolah, kalau aku lama di sana aku tidak bisa masuk sekolah setelah liburan. Aku pasti tidak bisa lulus kalau tidak sekolah. Aku juga masih ingin bersama mama dan papa.
Mama menatapku lembut. "Kamu akan bertemu mama di sana sayang. Kamu juga akan sekolah di sana."
"Beneran Ma?"
"Iya."
__ADS_1
"Trus aku harus bawa apa? Aku juga nggak ngerti apa-apa disana."
"Kamu dikasih kertas putih sama Zam?"
"I..Iya Ma. Kenapa?"
"Mana kertasnya?"
Aku pun mengambil kertas itu di kamar. Setumpuk kertas putih seukuran kertas hvs aku berikan pada mama.
Mama meneliti kertas itu satu persatu. "Ini namanya kertas mekanik, kertas ini biasanya dibuat robot pengganti." Kata mama.
Mama mengambil kertas paling tas dan membentuk origami berbentuk kepala orang,lalu kertas berikutnya dibentuk tangan, lalu lengan hingga semua kertas habis untuk membentuk satu badan utuh.
Mama menyusunnya menjadu origami berbentuk orang. "Ini akan jadi penggantimu disini selama kamu pergi ke sana."
"Gimana caranya ma?" Kataku yang mulai tertarik dengan dunia baruku.
"Kamu tinggal memeluknya Lian!"
Aku langsung memeluk origami itu untuk melihat apa yang terjadi.
Sebuah cahaya merah muncul di kepala origami itu. Makin lama cahaya merahnya makin terang dan menyilaukan.
"Memulai untuk memindai subjek tiruan." Origami itu mengeluarkan suara yang mengagetkanku.
"Wow!Keren!!" kataku dengan terus memeluk tubuh origami itu.
Saat cahaya itu telah berwarna merah sempurna mama berkata padaku, "Nanti akan ada listrik kecil yang akan mengenai tubuhmu untuk memindai organmu bersiaplah!"
__ADS_1
Benar saja beberapa detik kemudian listrik mengenai tubuhku. Aku kaget saat listrik itu kian membesar dan menyetrum tubuhku.
"Maa, ini kenapa?" Teriakku dengan keras. Mama hanya tersenyum menjawabku. Kesadaranku mulai menghilang, aku hanya merasakan sakit yang luar biasa, dan akhirnya aku tak sadarkan diri, pingsan.