
Black menyodorkan roti isi daging yang lebih besar pada Zam. Ia kembali duduk di kursinya membiarkan Zam yang masih berdiri keheranan.
"A...apa yang kamu maksud dengan Mid-Alpha?" Black menunjuk dengan tangan kirinya keheranan.
"Kau tak perlu tahu. Aku sudah tahu semua tentangmu, Doktor Zic, nama samaran mu yang kau pakai di Dunia Alpha yang sudah kau tinggali bertahun-tahun. Engkau, Zam, adalah kepala mata-mata Alpha nomor satu. Namamu tidak pernah masuk berita hologram, tidak pernah dikenal di dunia nyata maupun maya. Namun, engkau dikenali sebagai dokter profesional dalam penyelidikan kasus-kasus besar. Kamu adalah La migliore spia di Alpha, mata-mata terbaik Alpha."
Black kembali menjulurkan tangannya, mengajak bersalaman. "Sekali lagi perkenalkan, Mi chiamo Nero, Namaku, Black, atau dalam bahasa Italia diartikan Nero. Aku adalah anggota Serikat Delapan Warna di dalam Mid-Alpha. Salah satu dari Dua belas serikat yang dibentuk di Mid Alpha."
Black berhenti bicara sejenak. Matanya menatap Zam dengan sedikit tersenyum.
"Oh iya, kau belum mengetahui apa itu Mid-Alpha. Biar ku jelaskan sedikit padamu, duduklah!"
Zam disuruh duduk di kursi hijau yang bersebelahan dengan kursi Black. Lalu Black berdiri dan menyentuh salah satu papan keperakan di ruang kemudi. Hologram besar menayangkan peta Dunia Alpha lengkap dengan detail luas dan kepadatan penduduk di setiap distrik. Peta itu terlihat berbeda dengan yang pernah dilihat oleh Zam. Di setiap distrik ada satu titik merah yang tepat berada di tengah-tengah distrik, juga ada lingkaran besar di tengah kelima distrik Alpha. Lingkaran besar yang berisikan bulatan-bulatan beranekaragam ukuran dan warna.
Black menunjuk lingkaran besar itu. " Ini adalah Mid-Alpha." Jarinya kemudian beralih menunjuk kelima titik merah yang berada di setiap distrik."Dan ini adalah kelima kantor kami yang ada di setiap distrik Alpha."
Black kembali duduk dan menatap keluar ruangan, membiarkan Zam menatap peta itu kebingungan dengan sangat lama, dagunya dipangku tangan kiri, alisnya mengkerut memikirkan apa yang dihadapannya hingga tak sadar air liurnya menetes. Black dengan wajah datar duduk kembali memandang dingin ke depan.
__ADS_1
Zam mengalihkan pandangannya kepada Black,"Apa yang kau gambarkan ini benar-benar ada?"
Black menggeleng, "Itu bukan gambarku, itu peta yang dibuat Khal Alpha, penguasa Mid-Alpha."
Kapsul yang mereka kendarai mendadak melambat saat terbang di tengah-tengah lautan. Portal bercahaya seukuran dua kali besar kapsul yang bersinar dengan warna keperakan muncul tepat sepuluh meter di depan mereka.
"Bene, sebentar lagi kita tiba di Mid Alpha. Silahkan kau lihatlah sendiri bagaimana Mid-Alpha itu. Sembari menunggu aku akan ceritakan sebuah kisah, tentang kelahiran Mid Alpha. Ascoltare, dengarkanlah! "
@-@-@-@
Saat itu Alpha mejadi sebuah organisasi dengan beranggotakan 7 orang pahlawan hebat dan ribuan orang di bawah mereka.
Masa itu berpuluh puluh tahun setelah perang, langit masih membiru di tengah lautan Pasifik. Angin laut yang memabukkan menghembus kencang di antara riak ombak lautan yang mempesona sekaligus mengerikan. Entah berapa banyak orang yang sudah tenggelam di lautan itu. Berapa banyak kapal yang karam beserta dengan penumpangnya yang berdesakan. Tak memandang kaya dan miskin, besar dan kecil, tua dan muda, pria dan wanita, laut itu telah menelan beribu jiwa yang tak mengerti apa-apa. Namun disitulah ternyata sang pahlawan lama sekali tinggal.
Di sebuah sampan kayu kecil penuh dengan barang rupa warna. Jaring putus, kompor minyak, dayung patah, dan berbagai barang rongsok lainnya. Ditambah lagi layar kapal yang ditutupi kain rombeng penuh bekas jahitan. Sebagian orang tak akan percaya bahwa yang tinggal di atasnya adalah seorang manusia yang pernah dipuji-puji oleh penduduk lima benua. Seseorang yang pernah mengarungi lautan dengan mengayun kakinya melintang di atas lautan. Mengarungi satu benua dalam hitungan menit.
Namanya Axelane, seorang pria salah satu anggota Alpha yang memilih mengasingkan diri karena suatu alasan. Ia memilih mengisi puluhan tahun hidupnya di tengah-tengah lautan Pasifik yang mengerikan itu.
__ADS_1
Tangannya tak lagi seindah masa lalunya, penuh dengan luka jaring ikan yang selalu ia pakai untuk mencari makan. Padahal dulu, ia dikenal sebagai 'Benteng Tak Tertahan', dimana tak satupun luka yang ada di sekujur tubuhnya. Julukannya juga 'Sang Tubuh Baja', mengingat begitu banyak pertarungan yang sengit yang ia lalui namun tak ada satupun luka yang tertoreh di tubuhnya.
Hari ini sebenarnya tepat sudah dua puluh tahun Axelane berada di atas sampan kayu itu. Tubuhnya sudah kurus kerempeng kekurangan gizi. Apalagi matanya yang sembab karena menyimpan begitu banyak kesedihan. Entah beban apa yang sedang ditimpa nya bertahun-tahun ini.
Namun hari itu, sebuah kapal layar lumayan besar melintas. Layar nya mengembang dengan bendera Alpha terikat kencang di atas layar. Lima orang yang dikenal Axelane ada di kapal itu. Lima orang yang juga termasuk tujuh orang anggota pahlawan Alpha. Mereka adalah Sosector, Simula, Abase, Cesur, dan Sivah.
Lima orang ini adalah para pahlawan Alpha yang membentuk tim hebat dengan kemampuan mereka yang diakui. Mereka adalah cikal bakal berdirinya lima distrik besar di Alpha kelak.
Kapal yang mereka kendarai merapat perlahan ke sampan Axelane. Lalu mereka berlima turun ke atas permukaan air di dekat sampan Axelane. Dengan kemampuan mereka berdiri maupun berjalan di atas air sudah seperti berjalan di atas tanah biasa.
"Axelane! Kau masih betah di sini?" Tanya Siyah, perempuan itu adalah perempuan hebat yang akan mendirikan distrik bawah tanah. Kemampuannya yang hebat dalam mengatur seluruh kegiatan tim pahlawan sekaligus mengurusi semua keperluan tim dari A hingga Z.
Namun Axelane tidak menjawab pertanyaan Sivah. Pandangannya malah teralihkan pada jaring yang sedang ditariknya. Ia menatap dengan teliti setiap lubang di jaringnya, berharap ada seekor ikan yang terperangkap di jaringnya itu.
"Axelane... Kau masih memikirkannya? Bukankah ia sudah pergi tiga puluh tahun lalu?" Giliran Simula, yang bergelar Sang Pembangkit Kematian bertanya.
Axelane melirik Simula dengan pandangan marah. Lalu kembali mengabaikan mereka berlima.
__ADS_1