
Aura gelap dari golok yang dibawa Mora terus membesar dibersamai tawanya yang tak pernah berhenti. Diayun golok itu
ke arah Rheda, sang pembuat kubah. Sementara Lian dan yang lain masih menahan serangan
zombie lainnya yang seperti banjir yang tak berhenti setelah kubah hancur.
Rheda dalam posisi terjepit. Wajahnya mengeras dan nampak pucat. Ia tak menyangka harus menghadapi bos musuh secepat itu.
Rheda membuat kubah baru, dengan ukuran menutup seluruh tubuhnya. Seperti tameng baja yang tak kasat mata, tubuh Rheda terlindungi dengan pelapis halus yang seharusnya bahkan tak dapat ditembus bom sekalipun.
“Kau harus mengingat kelamnya Alpha,
teman.” Mora mengayunkan goloknya dengan cepat ke arah Rheda, terfokus pada lehernya. Baju pelindung yang dibuat Rheda langsung terpotong seperti kertas. Golok itu terus melaju, menuju leher Rheda.
“Rheda!!!!” Asuza berteriak kencang. Kami berusaha berbalik membantu, namun sudah terlambat, golok itu menyentuh leher Rheda. Golok itu telah menyentuh kulit leher Rheda, namun bukan terpotong, golok itu segera mengeluarkan asap hitam pekat dan menyelimuti tubuh Rheda.
Rais segera berlari ke arah Rheda, menembus zombie dengan menapaki mayatnya dan merubah zombie yang menyerangnya menjadi es. Tapi terlambat.
“Hahaha… tidak ada yang bisa mencegahku!” Mora menengok kearah Rais dengan seringai yang begitu menyeramkan. Segerombolan zombie dengan ukuran tubuh sebesar Mora berlari mendekati Rais dan yang lain. Zombie yang entah datang darimana.
Sedangkan Lian kini hanya berdiri mematung. Tepatnya, di depannya ia sedang beradu pedang dengan zombie tak berwajah. Zombie penuh darah dengan posisi wajah tertutup gumpalan daging. Zombie itu berlari dan mendekatinya dengan cepat membawa pedang hitam yang dibawanya. Zombie itu terus menyerangnya.Tak membuat celah bagi Lian untuk kabur dan menolong yang lain. Zombie ini berbeda. Ia tak membunuhnya atau melukai nya sedikit pun. Zombie ini hanya seperti melatihnya berpedang.
“Rhedaa..!” Gina berteriak kencang saat tubuh Rheda yang kini sudah terbungkus asap hitam. Tanpa bisa bersuara, mendadak tubuh Rheda lenyap ditelan gumpalan asap yang lalu menghilang dan menyisakan sebilah golok di tangan Mora.
“Siapakah selanjutnya? Hahaha…” Mora berteriak dan tertawa sangat keras. Goloknya makin mengeluarkan hawa yang sangat menakutkan. Seakan, tubuh Rheda yang hilang menguatkan senjata itu.
Rais tertegun. Begitu juga dengan Gina, Asuza,Kapi, dan yang lain. Game over, satu orang telah terbunuh, benar-benar terbunuh di dunia nyata.
Cera yang masih melawan kumpulan lawan dengan singa peliharaan nya melongo langsung berteriak dengan nada ketakutan.
“Tidaak, aku tidak mau mati disini,
aku harus meneruskan gelar ayahku!” Wajahnya mengarahkan rasa panik dan takut yang ada di dalam dirinya.
Cera segera melebarkan tangannya, menampakkan gelang hijau kemerahan di tangannya. Gelang itu pemberian Master Kiseti padanya. Gelang itu mengeluarkan cahaya dengan warna yang sama, hijau merah berselang seling. Seekor kadal raksasa muncul di hadapan Cera. Kadal dengan panjang sepuluh meter dan setinggi rumah itu menunduk di hadapan Cera.
“Serang, serang zombie itu!” Mora menunjuk Mora yang kini berbalik memelototinya. Kadal itu langsung menyergap Mora dan menyerang dengan menyemburkan racun dari mulutnya.
“Kau pikir serangan itu dapat melukaiku?” Mora menyeringai lebar dan memutar goloknya. Asap hitam itu kini kembali keluar, lebih cepat dari sebelumnya. Asap hitam itu membesar dan menyerap semua racun yang dilempar kadal di hadapannya.
Cera kembali terkejut dan bertambah ketakutannya. Apalagi saat singa peliharaannya ikut terserap.
‘Ap..apa yang kau lakukan?” Cera
masih dalam posisi terjatuh dan menatap Mora. Tubuhnya kini penuh keringat.
Zombie lain yang awalnya menjauh karena serangan kadal raksasa itu mendekati
Cera.
__ADS_1
Rais dan Asuza segera menyerang
zombie-zombie itu. Asuza yang mendapatkan senjata anak panah api itu segera melepaskan anak panah api yang langsung membakar zombie yang mendekat. Sedangkan Rais dengan tombak es nya membekukan zombie besar yang menyerang mereka. Keadaan mereka benar benar terjepit.
Mora masih berdiri di tempat yang
sama. Ia tak menyerang kembali setelah menelan racun kadal raksasa di
hadapannya. Malahan asap hitam nya itu kembali bergerak cepat, dan kini sudah
menelan kadal raksasa itu dalam waktu kurang dari satu menit. Cera terkejut
ketiga kalinya, ketakutannya sudah bertambah berkali-kali lipat.
Mora tak menyerang kembali. Asap
hitam itu kembali menghilang setelah menelan kadal raksasa.
Kapi dan Sian yang hanya memiliki
senjata biasa kini terpisah jauh dengan yang lain. Begitu juga dengan Gina yang berusaha melempar granat ke arah zombie di sekitarnya. Ia mendapatkan tameng
besi dari Ella yang kini berada id sampingnya. Ella mempunyai tameng besi
raksasa yang mampu melindungi mereka berdua. Tapi hanya itu yang ia miliki.
Hanya tersisa Dea, dia menghilang,
bukan berarti dia kabur atau meninggal, tapi ia memiliki kemampuan menghilang, tak terlihat oleh siapapun, baik itu musuh atau temannya. Cincin di tangannya bergetar keras. Berkali-kali ia sudah ia naik level, kini ia sudah mencapai level sepuluh. Tangannya bergetar hebat, matanya berair. Ia, adalah yang paling mengkhawatirkan teman-temannya, karena ia sang penyembuh. Sudah berkali-kali ia menyembuhkan luka teman-temannya tanpa disadari mereka.
Seluruh tim Alpha telahbercerai-berai. Terlihat sudah kegagalan mereka dalam pelatihan ini. Lian kembali merapatkan giginya. Ia menambah serangannya pada zombie di hadapannya berharap segera membunuhnya. Namun zombie itu masih bisa menangkis semua serangan Lian. Entah Lian yang belum terlatih dengan pedangnya atau musuhnya
yang terlalu kuat.
“Kau masih belum paham dengan situasi ini, Lian?” Mendadak suara itu mengisi di antara denting pedang. Suara yang mengejutkan Lian, zombie di hadapannya yang berbicara.
Mora yang berada di sisi lain
pertarungan sedang duduk bersila, membiarkan rombongan Asuza, Rais, dan Cera menghadapi zombie yang menyerang. Mora menancapkan goloknya ke tanah di
hadapannya. Ia sedang fokus. Posisi bertapa, bibirnya merapal mantra panjang, matanya tertutup dan kepalanya berputar terus tanpa arah.
Setelah lima menit berlalu Mora
selesai membaca mantra tanpa gangguan sama sekali. Golok di hadapannya yang
tertancap mulai mengeluarkan berbagai suara erangan dan teriakan. Seakan sudah
banyak nyawa yang ditelannya. Teriakan itu bersahut-sahutan dan menjadi satu dengan golok itu. Mendadak golok itu mengeluarkan sulur-sulur panjang yang bergerak liar. Sulur itu seakan berteriak menangis, dan menari dengan jiwa orang lain yang disiksa di dalamnya.
__ADS_1
Dengan cepat sulur-sulur itu menuju
ke tim Alpha. Cera yang sudah tak sadarkan diri segera terkena sulur itu pertama kali dan membuatnya terbunuh, terserap ke dalam tubuh golok itu. Juga Kapi dan Sian yang tak memiliki kekuatan apapun kini hanya bisa pasrah saat sulur-sulur itu melilit mereka dan menghisap mereka secepat kilat.
“Ba..bagaimana mungkin, bagaimana
bisa?” Asuza bergumam tegas, ia memegang busur panahnya erat dan menembak
setiap sulur yang datang. Begitu juga dengan Rais yang memotong sulur itu
dengan tombaknya. Walaupun awalnya sulur itu menyerap kekuatan mereka entah
kenapa akhirnya mereka bisa memotongnya.
Sedangkan di sisi lain Dea terdiam.
Ia hanya bisa menatap teman-temannya yang satu demi satu terhisap oleh sulur
hitam itu. Tangannya bergetar kencang, begitu juga bibirnya yang sudah berdarah
karena digigit bibirnya terus menerus.
“Kenapa, kenapa ini bisa terjadi.
Bukankah, bukankah tidak sesulit ini? Bukankah seharusnya lebih mudah?” Dea
terus menggumam dengan jantung yang berpacu. Otaknya terus berpikir kencang.
Tidak ada, tidak ada cara mengalahkannya.
Kini hanya tersisa Dea, sang
penyembuh yang menghilang tak terlihat, Asuza, pengendali api, yang terus
memanah tanpa henti, Rais pengendali es yang terus mengayunkan tombaknya, dan
Lian, sang pemimpin yang sedang berhadapan dengan sesosok zombie.
Lian tak pernah menyadari hal ini,hal yang meyakinkannya bahwa akan ada hal besar yang terjadi di masa depan. Pertemuan dengan sosok di hadapannya adalah salah satu buktinya.
Sedangkan di ujung lain Mora sedang
berteriak.
“Kalahkan Alpha, kalian akan kalah.Hahaha.
Rasakan! Rasakan betapa hitamnya, betapa busuknya darah kalian Alpha!”
Mora mengacungkan goloknya lebih tinggi. Ia mengayunkan dengan cepat dan sulur-sulur yang keluar dari golok itu bergerak lebih cepat.
__ADS_1