Book One : Dunia Alpha

Book One : Dunia Alpha
Eps 20.Kilatan Pedang Keberanian


__ADS_3

Mataku terbuka beberapa saat setelah aku menutup mata di tempat latihan Ranker. Kepalaku terangkat dan segera menengok kanan kiri. Pasukan berbaju usang mengelilingiku. Aku terkejut dengan pedang besar hitam yang sudah berada di tangan kananku dan tameng di tangan kiriku. Teriakan yel-yel perang pasukanku memenuhi udara. Suara terompet perang bersahut-sahutan dari tengah barisan. Aku sadar, sekarang aku berada di posisi garda depan sebuah pasukan perang.


Lima menit lebih aku terdiam dalam situasi itu, hingga mendadak semua gerakan di depanku terhenti. Seperti video yang di-pause, bahkan burung elang yang terbang di atas kepalaku berhenti di udara.


“Situasi di depan kalian saat ini adalah sebuah latihan yang telah dibuat tim kreator latihan Ranker dan latihan ini juga sudah menyesuaikan kemampuan kalian. Selamat berlatih!” Suara Kiseti terdengar memasuki telingaku, tanpa kutahu asalnya darimana. Pengumuman yang diberikannya singkat saja, namun aku mulai paham, aku sedang berada di latihan paling dasar, menjadi seorang pasukan.


Video dilanjutkan, dan pasukan musuh telah berada tepat seratus meter di hadapanku. Kepalaku bermandi keringat dingin di bawah sinar matahari yang menyengat. Aku menelan ludah saat memandang pasukan musuh yang berzirah emas dengan pedang berkilau nan tajam.


Aku, aku ‘kan belum berlatih pedang sama sekali, batinku. Aku memutar otak di posisiku yang terdesak.


Seseorang berzirah baja mulai berkeliling dengan kuda hitamnya ke seluruh barisan pasukan. Aku menebaknya sebagai seorang panglima atau semisal itu. Ia berkeliling dan mulai membenturkan pedang yang dibawanya dengan tamengnya, meminta perhatian.


“Musuh ada di depan kalian, mereka datang dengan jumlah yang lebih banyak dari kita dan senjata yang lebih hebat dari milik kita, mungkin kalian takut, gentar, tak memiliki rasa percaya diri, aku yakin kebanyakan dari kalian beranggapan kekalahan di depan kami dengan banyaknya pasukan tak berpengalaman, atau mungkin banyak yang belum memiliki kemampuan dan pengalaman perang sama sekali, atau mungkin ada yang masih memegang pedang di tangannya dengan gemetaran.” Aku menatap tanganku yang juga bergetar saat memegang pedang. Suara panglima di depanku menggelegar dan menggema ke seluruh barisan.


“Tutup mata kalian sesaat, yakinkan diri kalian atas rasa percaya diri kalian, karena itulah kunci kemenangan dalam pertempuran, cari kelemahan musuh di depan kalian dan berperanglah sebagai seorang pahlawan! Kemenangan di depan kita!” Tangan sang panglima mengepal ke atas meninju angkasa.


“Menang!! Menang!!” Teriakan keras dan kompak penuh keberanian menggema dari seluruh barisan pasukan di samping dan belakangku, asap pertempuran memenuhi langit siang terik.


Aku mulai menutup mata, membayangkan kemenangan, keberanian, rasa pantang menyerah meluap di dadaku. Letupan demi letupan semangat mulai bergelora ketika teriakan para prajurit di sampingku memasuki telingaku. Latihan ini mulai membuatku bersemangat.


Aku membuka mataku dan diriku berubah, termasuk juga pasukan di sekitarku. Setiap orang kini tampak layaknya seorang tokoh di game kesukaanku. Diriku sendiri berubah menjadi tokoh kesukaanku, pria dengan rambut pendek berwarna putih, zirah putih dengan pinggir keemasan yang agak terbuka menampakkan otot besar di tubuhku, pedang hitam dengan gagang emas berhias permata hijau safir di tengahnya, dan tak lupa syal ungu tebal panjang tersampir di punggungku, syal ungu itu melambai ditiup angin peperangan. Langkahku menjadi sangat ringan dan bebas.

__ADS_1


Aku pernah melihat peperangan, pernah mengalaminya, pernah menggerakkan satu tokohnya, dalam game ku, ya, dalam game kesukaanku, aku bisa menirunya.


“Serang!!” Panglimaku yang sekarang tampak bergaya dengan rambut ungu lebat dan zirah emas yang menutupi lengannya serta dada dan perutnya yang sengaja ditampakkan untuk menunjukkan kekar badannya. Sabuk harimau besar tersampir di pinggangnya. Ia sangat menyeramkan, menurutku.


Mataku segera menatap musuh di hadapanku yang masih tak berubah sama sekali. Secara bersamaan kedua sisi saling maju mempertaruhkan nyawanya.


Aku segera melompat, menerjang musuh di depanku tanpa rasa takut. Latihan dimulai, demi mendapat kepercayaan kakek, aku pasti bisa.


@-@-@-@-@


Kiseti menggeleng pelan sambil tersenyum menatap layar hologram di hadapannya.Ia berada di pinggir lapangan yang berada di taman di atas awan. Sepuluh layar kecil terpampang di depannya. Ia menggeleng kembali.


Sesekali tangannya terangkat ingin menekan tombol pause di bawah layar. Namun ia menggeleng lagi, merasa tidak perlu. Setelah kira-kira dua jam di hitungan Alpha, satu bulan di hitungan tempat latihan Lian dan timnya. Kiseti me-log out sepuluh orang yang tampak di layar hologramnya. Sepuluh orang itu sekarang berada di hadapannya.


Aku sedang berurusan dengan perang besar. Rais, Asuza, dan Cera menjadi trio penyelamat yang berusaha membebaskan puluhan desa dari cengkeraman kuasa iblis jahat. Rheda dan Dea sedang melatih kemampuan mereka dalam mengobati berbagai jenis penyakit. Ella dipertemukan dengan seorang Ranker teknologi super-modern. Kapi dan Sian juga dipertemukan dengan Ranker Tangan Bawah, dan aku baru tahu kalau ternyata hal seperti itu pun ada. Terakhir, Gina dilatih sebagai seorang kepala dewan Alpha dan dihadapkan dengan berbagai masalah yang lumayan sulit.


Setiap orang berusaha menceritakan keberhasilan demi keberhasilan yang kami dapati dalam latihan ini. Semisal diriku yang berhasil naik tingkat menjadi pemimpin satu peleton pasukan berkuda, trio penyelamat yang berhasil membebaskan sekitar dua pertiga dari seluruh desa, dan yang lain dengan keberhasilan tak perrnah terbayangkan.


“Bagus, bagus sekali.” Kiseti menatap kami semua, ia bertepuk tangan dan tertawa.


“Aku, aku tak pernah menyangka, kalian ternyata lebih dari mampu untuk menguasai latihan yang dibuat tim kreator ini. Hahaha...” Tawanya terbahak-bahak. Kami menatap Kiseti dengan penasaran.

__ADS_1


“Maksudnya bagaimana Kiseti?” Gina akhirnya bertanya saat tawa Kiseti berhenti.


Kiseti mengangkat jari telunjuknya. “Pertama, aku akan meminta kalian mulai dari sekarang untuk memanggilku Master Kiseti.” Kami mengangguk, tidak masalah.


“Kedua, aku ingin memberitahu kalian bahwa latihan kalian kemarin itu hanyalah sebuah latihan untuk memancing rasa percaya diri dan optimis dalam diri kalian saja. Sebenarnya fisik maupun kemampuan kalian belum mencapai tahap kemarin. Anggaplah latihan sebulan lamanya itu hanya sebagai hiburan awal.”


Aku dan semua orang anggota tim terkejut mendengar penjelasan Master Kiseti, sesaat kami memandang lantai. Hanya sebagai hiburan awal, berarti latihan kemarin belum apa-apa. Berarti kemampuan kami masih rendah.


“Ketiga, untuk selanjutnya adalah latihan kalian yang sebenarnya. Latihan yang berat, bahkan mungkin penuh kegagalan. Tapi, selama ada semangat pantang menyerah, kegagalan kalian bisa sangat cepat untuk diperbaiki.” Kepala kami masih menunduk, malu dengan rasa percaya diri dan sombong kami di awal latihan. Padahal latihan masih menyisakan enam tahun sebelas bulan menurut hitungan kami nanti.


“Jangan menyerah, kalian tahu?Aku melihat diri kalian memiliki kemampuan tidak biasa, bahkan mungkin kalian lebih dari cukup untuk dapat menjadi ranker nanti.”


Akkhirnya kami mencoba mengangkat kepala kami kembali, kami telah mengerti, ini memang sengaja dibuat untuk melatih kami.


“Master, master, kapan latihan kami dilanjutkan?” Sian bertanya dengan sopan.


“Hei!Kalian memang sudah siap semua?” Kiseti menunjuk wajah kami.


Anggukan mantap sebagai jawaban kami.


“Kami siap Master, memaksimalkan waktu latihan ini sangat penting sekarang.”

__ADS_1


“Baiklah, baiklah. Latihan sebenarnya kita mulai sekarang...” Master Kiseti menekan tombol  log in di layarnya.


__ADS_2