
"Lian, bangun sudah jam setengah delapan lho! Nanti kamu bisa telat."
Aku mengucek mataku, melihat ke sekitar. Matahari pagi yang menyilaukan langsung mengenai mataku. Rais yang membangunkanku. Dia sudah memakai pakaian resmi dan sedang membawa kotak sarapan milikku.
"Ini sarapan dulu!" Rais menyerahkan kotak itu padaku.
"Jam apa tadi kamu bilang?" Aku mencoba memastikan lagi. Aku baru setengah sadar saat Rais membangunkanku.
"Setengah delapan."
Mataku melotot. Aku melompat dari atas ranjangku.
"Kenapa baru membangunkanku sekarang? Aku belum bersiap apapun!"
"Lho, itu salahmu kenapa dari tadi susah dibangunkan?" Rais tertawa kecil.
Aku segera berlari ke kamar mandi, membawa alat mandiku.
"Sarapanmu kutinggal di atas ranjang ya!Aku mau berangkat sekarang."
"Eh, tunggu!!"
"Kamu bareng sama Kapi saja. Dia juga baru bangun."
Ujian dimulai jam delapan tepat dan semua peserta harus sudah datang lima belas menit sebelumnya.
Aku mandi lima menit dan segera berangkat bersama Kapi. Kami berdua akan sarapan di sana.
Sesampainya di sana seluruh peserta sudah berada di sekitar aula ruang ujian tertulis. Kamera terbang seukuran lalat yang sering disebut lalat pengintai berterbangan memeriksa kehadiran tiap peserta.
Aku dan Kapi segera mencari tempat duduk yang enak dan sarapan. Salah satu lalat pengintai mendatangi kami.
"Kalian baru sarapan sekarang? Pastinya kalian juga termasuk peserta yang kesiangan."
Suara yang familiar bagiku itu terdengar di telingaku dan Kapi. Kami mencari sumber suara kesana kemari dan tidak menemukan apapun.
"Kalian tidak melihatku? Untung saja kalian tepat waktu tiba di sini."
Kami segera menoleh ke lalat pengintai yang mendekati kami.
"Ini aku, Ken. Aku berbicara lewat ruang pengawas." Aku segera mengenal suara itu.
"Oh Ken, kamu jadi pengawas ujian?"
__ADS_1
"Iya, oke aku sudah mengabsen kalian. Dah."
Lalat itu terbang cepat ke peserta lainnya yang baru datang. Dia sepertinya sangat sibuk.
Kami segera menyelesaikan sarapan dan mempersiapkan alat ujian, sebuah pena, itu saja.
Menurut syarat tes tertulis ini adalah membawa satu pena setiap ujian. Setiap ujian akan berganti pena. Jadi kami harus menyiapkan lima pena untuk semua ujian tulis.
"Kling...kling..., Para peserta diharapkan segera memasuki ruang ujian.,kling...kling!"
Suara keras itu terdengar dari dinding aula.Dinding yang juga berfungsi sebagai pengeras suara.
Seluruh peserta tes termasuk kami memasuki aula. Kursi-kursi telah ditata berjarak dan bertingkat. Total seluruhnya ada lima ribu kursi.
Jarak antar kursi sekitar satu meter baik itu ke samping, depan maupun ke
atas. Iya, ke atas.Kursi itu ditata ke atas hingga sepuluh tingkatan. Kursi yang di atas menggunakan sistem mirip flyboard sehingga dapat melayang.
Kami memasuki ruang ujian dengan menginjak keset yang ada setelah pintu masuk. Keset itu menteleportasi kami langsung ke kursi tempat kami harus duduk.
Cling, dan aku langsung berada di tingkat tiga pojok kanan. Tempatku duduk sekarang melayang lima meter di atas tanah, seram sekali bila melihat ke bawah. Takut bila kursiku jatuh dan mengenai orang di bawahku.
Seperti saat ujian di sekolah, peraturan dibacakan setelah semua peserta duduk.
"Saya sebagai kepala pengawas tes tertulis keanggotaan Alpha akan membacakan tata cara ujian Alpha hari ini.
Seluruh peserta meletakkan pena serentak di lubang meja.Serentak juga pena tiap orang mengeluarkan cahaya redup.
"Kalau sudah, tekan ujung pena untuk membuka layar hologram."
Layar hologram terlihat dimana-mana, termasuk di hadapanku.
"Waktu ujian seratus dua puluh menit. Untuk memulai ujian silahkan ketuk tulisan 'mulai' di layar.Ujian dimulai dari sekarang!!"
Semua memulai ujian dengan tenang. Sebuah layar besar di depan kami semua menunjukkan timer ujian.
Lalat pengintai yang mengawasi tes kami berjumlah ribuan, sama seperti kami. Hampir tiap orang diawasi oleh satu lalat pengintai.
Aku mengetuk jawaban demi jawaban dengan sangat hati-hati. Walaupun hanya pilihan ganda, soal di sini setingkat soal mahasiswa semester lima.
Hari ini adalah tes distrik Mahkota Raja, soal yang diberikan berupa masalah-masalah pemerintahan dan sejenisnya.
Waktu sudah mencapai satu jam. Aku baru menjawab tiga dari lima puluh soal, itu saja aku masih belum yakin.
__ADS_1
"Waktu yang tersisa tinggal setengah jam."
Aduh, aku baru menjawab delapan soal. Soal itu kini berputar di kepalaku. Padahal ayah seorang penasihat hukum di distrik Mahkota Raja dan ayah sudah menjelaskan beberapa hal terkait tes distrik ini.
Soal demi soal kuperhatikan. Pikiranku sudah semakin tumpul. Waktu tersisa lima belas menit.
"Ketuk angka lima di kiri bawah!" Suara pelan itu mengagetkanku.
Lalat yang mengawasiku ternyata Ken. Dia memberiku jawaban. Aku masih belum yakin menekannya hingga Ken berbicara lagi.
"Kau sudah tahu kaidah pemerintahan 'Alpha dan Dunia' 'kan?"
Aku mengangguk.Papa sudah menjelaskan hal itu panjang lebar tentang hal itu yang menjadi kunci penting dalam politik dengan sosial.
'Jadilah pembohong dengan banyak teman.' itu kaidah singkat dari Papa. Inti dari politik dengan sosial.
Berbohong atau licik dalam politik adalah suatu kunci kemenangan. Apalagi dibantu oleh relasi yang dapat membantu di dalamnya. Disini Ken sebagai relasi dan kebohongan itu adalah mencontek.
Aku akhirnya paham dan segera menekan angka lima di kiri bawah tersebut.Semua jawaban soal distrik Mahkota Raja terkena di sana. Aku segera menyalinnya di layar soal.
"Oke waktu sudah habis, saya akan memberi waktu satu menit untuk mengecek kelengkapan jawaban."
Tepat waktu saat soal ditutup paksa dan aku sudah menyelesaikan siasat licikku di ujian kali ini.
Ketua pengawas membuka pintu ruang kosong di samping aula.Pena berterbangan ke arah ruang kosong dari meja tiap peserta, siap ataupun tidak siap.
"Bagi setiap peserta sudah boleh meninggalkan ruangan dengan berdiri dari kursi masing-masing."
Aku segera berdiri dan tubuhku diteleportasi ke depan gedung.Begitu juga sebagian besar peserta lain.
Aku bertemu Gina yang berjalan lesu ke gedung asrama.
"Aku cuma bisa menjawab tiga puluh soal saja." Gina berkata lesu saat kutanya.Aku tertawa mendengarnya.
Gina memang ingin masuk ke distrik Mahkota Raja karena kedua orangtuanya juga bekerja di sana.
"Kenapa kamu malah tertawa?" Gina menatap heran padaku. Aku akhirnya menceritakan kejadian saat Ken memberiku contekan.
Mata Gina membulat dan menunjukkan ekspresi sebal.
"Ih, kok bisa gitu sih? Enak banget kamu."
Aku hanya tertawa saat Gina mengomel dengan kaidah aneh yang kenapa harus ada di dunia politik.
__ADS_1
Hari pertama berlalu dengan menyenangkan. Seorang Lian yang tidak bisa politik menjawab soal politik dengan begitu mudahnya.
Walaupun begitu nilai sebenarnya dilihat dari tes lapangan nanti. Jadi aku belum tentu berhasil ke distrik Mahkota Raja. Semoga saja bisa.