Book One : Dunia Alpha

Book One : Dunia Alpha
Eps 31. Darah Para Prajurit


__ADS_3

Matahari sedang menyingsing saat


itu. Fajar, itu kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Lebih indah lagi hari


itu, Ketika para nelayan menikmati sunrise dari atas kapal. Taka da penghalang,


seperti di daratan yang Ketika ingin melihat sunrise harus tertutup pepohonan,


Gedung tinggi pencakar langit, dan juga gunung atau bukit yang tinggi


menjulang. Suasana tenang dan menyejukkan itu membuat Sebagian orang memilih


berekreasi menaiki kapal besar dan melihat suasana lautan.


Lautan  yang sangat tenang itu ada di Samudra pasifik.


Tak heran dengan namanya, pasifik, nama yang diambil dari bahasa Spanyol yaitu Mecifico yang artinya tenang. Laut tenang itu terhampar luas dengan angin yang


berhembus. Suara ombak, siulan angin, serta beberapa penghuni lautan yang


berbincang. Taka da yang benar-benar mengganggu ketenangan lautan itu. Walaupun


ada salah satu titik di laut itu yang mendadak gelap.


Awan-awan di atas titik itu mendadak


membesar, membentuk awan hitam yang besar. Laut yang awalnya cerah menjadi


begitu gelap. Namun, lautan tetap diam dalam kegelapan. Tak seperti awan hitam


lain  di laut yang biasanya mendatangkan


badai. Lautan dengan ombaknya tetap tenang, seakan acuh tak acuh dengan langit


menghitam yang kini diselimuti petir menggelegar.


Zam menatap tempat itu dengan


seksama, pesawat yang ditumpanginya bersama Black, seorang misterius yang


mendadak menjelaskan padanya bahwa ia berasal dari Mid Alpha dan dirinya yang


katanya merupakan penerus Axelane, seorang di masa lalu yang termasuk pahlawan


pendiri Alpha. Dirinya masih bingung harus bersikap apa. Satu sisi ia ragu


dengan cerita yang dibawa oleh Black, sisi lainnya ia sebenarnya memiliki


trauma terhadap lautan. Melihat langit yang semakin gelap dan lautan yang luas


membuatnya agak merinding.


Walaupun Zam sudah menyelesaikan


berbagai misi hebat selama menjadi mata-mata Alpha, namun Sebagian besar


misinya adalah di daratan. Ia seringkali menolak misi di lautan, dengan alasan


ia memiliki suatu trauma yang besar dengan laut. Namun saat ini matanya


berpaling, mencoba menutupi ketakutannya, walaupun di pesawat itu lautan bisa


dipandang dari berbagai arah, iya, pesawat bola itu kini seakan transparan.


Setiap sisinya memperlihatkan keadaan di luar pesawat. Zam menutup matanya.


Black masih sibuk menekan beberapa


tombol. Seakan mempersiapkan sesuatu,


‘Duarr’ seper sekian detik setelah


Black menekan beberapa tombol sebuah petir menggelegar dan mengarahkannya ke


pesawat Black. Zam terkejut dan menatap bagian pesawat yang terkena petir. Taka


da bekas apapun oleh petir itu.


‘Duarr’ petir kedua kembali


menggelegar dan menembakkan petir yang sama kea rah pesawat. Hal yang sama

__ADS_1


terjadi, pesawat itu tidak bereaksi apapun. Zam kini menatap wajah Black yang


terlihat seakan sedang menunggu petir yang lain.


Tak lama menunggu, petir ketiga


datang. ‘Duarr’. Seketika pandangan Zam tertutup sebuah cahaya terang, Seakan


ia menatap cahaya flash yang sangat lama diarahkan padanya, dalam duat detik


pandangan Zam buram sebelum perlahan kembali normal dengan pemandangan berbeda


di depannya.


Ia dan Black masih berada dalam


pesawat, namun sekarang di bawah nya bukan lautan lagi, langit yang tadinya


tertutup awan hitam kini cerah tanpa awan lewat, kini tampak sebuah tempat yang


tak ia kenal. Zam yang mengira Mid Alpha adalah sebuah kota megah dengan


teknologi super canggih terheran saat melihat hanya ada sebuah gedung empat


lantai yang dikelilingi taman bunga dan hutan-hutan di sekelilingnya.. Tak


tampak bangunan lain di sekitarnya.


“Benvenuto! Selamat datang,


di Mid Alpha.” Black menengok ke arah Zam. Ia sedikit menundukkan kepalanya


seakan memberi penghormatan pada tamu yang datang.


“A…Apa ini benar Mid Alpha?’ Zam


bertanya dengan heran. Keraguannya tentang kehebatan dan kebenaran adanya Mid


Alpha mulai naik. Ia tak percaya bahwa gedung tinggi yang mungkin hanya bisa


ditempati beberapa orang itu adalah Mid Alpha.


pertanyaan itu.


Ia kembali mengarahkan pesawat


mendarat tepat di bangunan bertingkat empat itu. Lalu ia melangkah dan membuka


pintu pesawat. Black langsung keluar dari pesawat itu tanpa mengatakan sepatah


kata apapun lagi.


Bangunan empat lantai itu bercat


putih dengan atap, kayu jendela dan pintu yang berwarna krem. Bangunan bergaya


eropa itu memiliki suasana seperti di hotel sederhana dengan banyaknya jendela


dengan kaca yang mengkilap seperti berlian, dan pintu besar di depannya.


Zam perlahan keluar dari pesawat itu


dengan penuh tanda tanya. Pikirannya hanya dipenuhi pertanyaan tentang


kebenaran tentang Mid Alpha. Ia menapak di jalan yang dipenuhi pasir putih.


Tanpa ia sadari ia hanya menatap pintu masuk yang lumayan besar di depannya.


Sebuah logo bintang keperakan dengan enam sisinya ada di pintu tersebut. Tanpa


ia sadari sudah ada orang yang ingin menyapanya di belakangnya.


Orang yang merupakan guru sekaligus


ayah dari Zam. Ia yang juga merupakan anak dari Sivah, dan juga berarti Zam


merupakan cucu dari Sivah, sang pahlawan legendaris berjulukan “Dewa


Mata-Mata”.Ayahnya yang dikira oleh Zam telah meninggal sebulan lalu karena


terbunuh namun kini sedang berada di belakangnya.

__ADS_1


Ialah Profesor Lan, yang terbunuh


oleh Pasukan pemberontak. Hari itu sesaat setelah berita Profesor Lan terbunuh,


Zam sedang memulai penyelidikan pasukan Mata merah. Mendengar kematiannya


membuat Zam terpukul dan menghela nafas panjang lalu menitikkan air mata. Ia


menguatkan diri selama berhari-hari sembari terus melanjutkan penyelidikan.


“Zam…” Profesor Lan memanggil Zam


dengan pelan dari belakangnya. Tangan professor bergetar. Zam yang seakan mengenal


suara itu membalikkan badan. Tatapannya mendadak kosong. Ia mengedipkan matanya


berkali-kali. Tak terasa air mata juga turun deras. Ia memeluk professor Lan.


“A…ayah.” Zam terbata-bata mengucapkannya.


Tangannya mendekap erat professor. Seakan tak menyadari situasi di sekitarnya.


@-@-@-@


Lian dan teman-temannya masih terus


bertarung. Sudah berlalu lebih dari dua jam namun tak ada perubahan sama sekali


dari musuh mereka, Mora. Zombi yang mengatakan dirinya memiliki level 1.5 itu


lebih sulit dikalahkan. Bukan masalah keahliannya dalam menghindar. Walaupun berates-ratus


kali Lian dan teman-temannya melakukan serangan, semua itu dengan mudahnya


ditahan dengan golok hitam di tangan Mora.


Golok hitam itu mengeluarkan aura


yang gelap, setiap serangan yang diluncurkan akan diserap oleh golok itu dan


menambah aura gelap yang mengelilinginya.


“Kalian benar-benar lemah! Hahaha!”


Mora dengan suara berat dan dalam memecah dentingan pedang, luapan api, ataupun


suara zombie lain di tempat itu. Mora mengayunkan goloknya dan seketika Lian


dan teman-temannya. Rheda segera memperkuat kubah menutupi mereka ber sepuluh.


‘Prang’ Kubah itu pecah seketika


saat terkena hentakan kuat dari ayunan goloknya. Energi dari ayunan itu terus melaju


dan mengenai Lian dan teman-temannya. Tubuh mereka secara serempak terlempar


lima meter ke belakang dan jatuh tak berdaya. Darah segar muncul di dada mereka


lengkap dengan bekas tebasan besar di dada mereka.


Mora mendekat. Ia memutar-mutar golok


besarnya sembari tertawa keras. Zombie lain di sekitarnya ikut tertawa.


“Akhirnya, hahaha, kita bisa menyerang


Alpha lagi, hahahaha!” Mora mengacungkan senjatanya ke atas langit.


Lalu menancapkannya ke tanah dengan


cepat.


‘Bam..’ golok itu menusuk tanah Sebagian


dan membuat suara keras dan menggetarkan tanah di sekitarnya.


Ia berbisik ke hadapan Lian dan


Teman-temannya.


“Bawa kami ke Alpha.”

__ADS_1


__ADS_2