
Matahari sedang menyingsing saat
itu. Fajar, itu kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Lebih indah lagi hari
itu, Ketika para nelayan menikmati sunrise dari atas kapal. Taka da penghalang,
seperti di daratan yang Ketika ingin melihat sunrise harus tertutup pepohonan,
Gedung tinggi pencakar langit, dan juga gunung atau bukit yang tinggi
menjulang. Suasana tenang dan menyejukkan itu membuat Sebagian orang memilih
berekreasi menaiki kapal besar dan melihat suasana lautan.
Lautan yang sangat tenang itu ada di Samudra pasifik.
Tak heran dengan namanya, pasifik, nama yang diambil dari bahasa Spanyol yaitu Mecifico yang artinya tenang. Laut tenang itu terhampar luas dengan angin yang
berhembus. Suara ombak, siulan angin, serta beberapa penghuni lautan yang
berbincang. Taka da yang benar-benar mengganggu ketenangan lautan itu. Walaupun
ada salah satu titik di laut itu yang mendadak gelap.
Awan-awan di atas titik itu mendadak
membesar, membentuk awan hitam yang besar. Laut yang awalnya cerah menjadi
begitu gelap. Namun, lautan tetap diam dalam kegelapan. Tak seperti awan hitam
lain di laut yang biasanya mendatangkan
badai. Lautan dengan ombaknya tetap tenang, seakan acuh tak acuh dengan langit
menghitam yang kini diselimuti petir menggelegar.
Zam menatap tempat itu dengan
seksama, pesawat yang ditumpanginya bersama Black, seorang misterius yang
mendadak menjelaskan padanya bahwa ia berasal dari Mid Alpha dan dirinya yang
katanya merupakan penerus Axelane, seorang di masa lalu yang termasuk pahlawan
pendiri Alpha. Dirinya masih bingung harus bersikap apa. Satu sisi ia ragu
dengan cerita yang dibawa oleh Black, sisi lainnya ia sebenarnya memiliki
trauma terhadap lautan. Melihat langit yang semakin gelap dan lautan yang luas
membuatnya agak merinding.
Walaupun Zam sudah menyelesaikan
berbagai misi hebat selama menjadi mata-mata Alpha, namun Sebagian besar
misinya adalah di daratan. Ia seringkali menolak misi di lautan, dengan alasan
ia memiliki suatu trauma yang besar dengan laut. Namun saat ini matanya
berpaling, mencoba menutupi ketakutannya, walaupun di pesawat itu lautan bisa
dipandang dari berbagai arah, iya, pesawat bola itu kini seakan transparan.
Setiap sisinya memperlihatkan keadaan di luar pesawat. Zam menutup matanya.
Black masih sibuk menekan beberapa
tombol. Seakan mempersiapkan sesuatu,
‘Duarr’ seper sekian detik setelah
Black menekan beberapa tombol sebuah petir menggelegar dan mengarahkannya ke
pesawat Black. Zam terkejut dan menatap bagian pesawat yang terkena petir. Taka
da bekas apapun oleh petir itu.
‘Duarr’ petir kedua kembali
menggelegar dan menembakkan petir yang sama kea rah pesawat. Hal yang sama
__ADS_1
terjadi, pesawat itu tidak bereaksi apapun. Zam kini menatap wajah Black yang
terlihat seakan sedang menunggu petir yang lain.
Tak lama menunggu, petir ketiga
datang. ‘Duarr’. Seketika pandangan Zam tertutup sebuah cahaya terang, Seakan
ia menatap cahaya flash yang sangat lama diarahkan padanya, dalam duat detik
pandangan Zam buram sebelum perlahan kembali normal dengan pemandangan berbeda
di depannya.
Ia dan Black masih berada dalam
pesawat, namun sekarang di bawah nya bukan lautan lagi, langit yang tadinya
tertutup awan hitam kini cerah tanpa awan lewat, kini tampak sebuah tempat yang
tak ia kenal. Zam yang mengira Mid Alpha adalah sebuah kota megah dengan
teknologi super canggih terheran saat melihat hanya ada sebuah gedung empat
lantai yang dikelilingi taman bunga dan hutan-hutan di sekelilingnya.. Tak
tampak bangunan lain di sekitarnya.
“Benvenuto! Selamat datang,
di Mid Alpha.” Black menengok ke arah Zam. Ia sedikit menundukkan kepalanya
seakan memberi penghormatan pada tamu yang datang.
“A…Apa ini benar Mid Alpha?’ Zam
bertanya dengan heran. Keraguannya tentang kehebatan dan kebenaran adanya Mid
Alpha mulai naik. Ia tak percaya bahwa gedung tinggi yang mungkin hanya bisa
ditempati beberapa orang itu adalah Mid Alpha.
pertanyaan itu.
Ia kembali mengarahkan pesawat
mendarat tepat di bangunan bertingkat empat itu. Lalu ia melangkah dan membuka
pintu pesawat. Black langsung keluar dari pesawat itu tanpa mengatakan sepatah
kata apapun lagi.
Bangunan empat lantai itu bercat
putih dengan atap, kayu jendela dan pintu yang berwarna krem. Bangunan bergaya
eropa itu memiliki suasana seperti di hotel sederhana dengan banyaknya jendela
dengan kaca yang mengkilap seperti berlian, dan pintu besar di depannya.
Zam perlahan keluar dari pesawat itu
dengan penuh tanda tanya. Pikirannya hanya dipenuhi pertanyaan tentang
kebenaran tentang Mid Alpha. Ia menapak di jalan yang dipenuhi pasir putih.
Tanpa ia sadari ia hanya menatap pintu masuk yang lumayan besar di depannya.
Sebuah logo bintang keperakan dengan enam sisinya ada di pintu tersebut. Tanpa
ia sadari sudah ada orang yang ingin menyapanya di belakangnya.
Orang yang merupakan guru sekaligus
ayah dari Zam. Ia yang juga merupakan anak dari Sivah, dan juga berarti Zam
merupakan cucu dari Sivah, sang pahlawan legendaris berjulukan “Dewa
Mata-Mata”.Ayahnya yang dikira oleh Zam telah meninggal sebulan lalu karena
terbunuh namun kini sedang berada di belakangnya.
__ADS_1
Ialah Profesor Lan, yang terbunuh
oleh Pasukan pemberontak. Hari itu sesaat setelah berita Profesor Lan terbunuh,
Zam sedang memulai penyelidikan pasukan Mata merah. Mendengar kematiannya
membuat Zam terpukul dan menghela nafas panjang lalu menitikkan air mata. Ia
menguatkan diri selama berhari-hari sembari terus melanjutkan penyelidikan.
“Zam…” Profesor Lan memanggil Zam
dengan pelan dari belakangnya. Tangan professor bergetar. Zam yang seakan mengenal
suara itu membalikkan badan. Tatapannya mendadak kosong. Ia mengedipkan matanya
berkali-kali. Tak terasa air mata juga turun deras. Ia memeluk professor Lan.
“A…ayah.” Zam terbata-bata mengucapkannya.
Tangannya mendekap erat professor. Seakan tak menyadari situasi di sekitarnya.
@-@-@-@
Lian dan teman-temannya masih terus
bertarung. Sudah berlalu lebih dari dua jam namun tak ada perubahan sama sekali
dari musuh mereka, Mora. Zombi yang mengatakan dirinya memiliki level 1.5 itu
lebih sulit dikalahkan. Bukan masalah keahliannya dalam menghindar. Walaupun berates-ratus
kali Lian dan teman-temannya melakukan serangan, semua itu dengan mudahnya
ditahan dengan golok hitam di tangan Mora.
Golok hitam itu mengeluarkan aura
yang gelap, setiap serangan yang diluncurkan akan diserap oleh golok itu dan
menambah aura gelap yang mengelilinginya.
“Kalian benar-benar lemah! Hahaha!”
Mora dengan suara berat dan dalam memecah dentingan pedang, luapan api, ataupun
suara zombie lain di tempat itu. Mora mengayunkan goloknya dan seketika Lian
dan teman-temannya. Rheda segera memperkuat kubah menutupi mereka ber sepuluh.
‘Prang’ Kubah itu pecah seketika
saat terkena hentakan kuat dari ayunan goloknya. Energi dari ayunan itu terus melaju
dan mengenai Lian dan teman-temannya. Tubuh mereka secara serempak terlempar
lima meter ke belakang dan jatuh tak berdaya. Darah segar muncul di dada mereka
lengkap dengan bekas tebasan besar di dada mereka.
Mora mendekat. Ia memutar-mutar golok
besarnya sembari tertawa keras. Zombie lain di sekitarnya ikut tertawa.
“Akhirnya, hahaha, kita bisa menyerang
Alpha lagi, hahahaha!” Mora mengacungkan senjatanya ke atas langit.
Lalu menancapkannya ke tanah dengan
cepat.
‘Bam..’ golok itu menusuk tanah Sebagian
dan membuat suara keras dan menggetarkan tanah di sekitarnya.
Ia berbisik ke hadapan Lian dan
Teman-temannya.
“Bawa kami ke Alpha.”
__ADS_1