
Malam tiba di bagian bumi yang ditinggali orang tua Lian. Asap hitam masih bersisa di beberapa bangunan yang terkena ‘bom kotak hitam’ di perumahan S.
Tanpa suara, Ken berjalan pelan menuju sebuah bangunan tua di pinggir perumahan S. Salah satu dari puluhan rumah tua yang berjajar di sana. Ia berjalan terburu-buru, pandangannya menoleh ke kanan kiri. Tangannya memegang sebuah gulungan kertas biru muda yang telah kusam. Ia berhenti di depan rumah tua itu.
Kini, ia memandangnya lekat-lekat. Rumah itu rusak parah seakan tak ada yang meninggalinya. Jendela kaca sudah tak berbentuk lagi. Temboknya yang terbuat dari kayu telah lapuk dimakan rayap. Ken berjalan pelan mendekati rumah tua itu dan mengetuk pintunya.
“Permisi!!” Ucapnya perlahan, dan tidak ada jawaban. Ken mengetuk lagi pintu kayu rumah itu, lalu membukanya tanpa suara.
“Hei!” Suara kasar seorang pemuda terdengar keras dari dalam rumah.
“Apa yang kamu ingin
dariku? Pergilah, Aku tengah sibuk dengan tugasku.”
Seorang pemuda dengan pakaian resmi Alpha sedang duduk di atas karpet menatap Ken dengan pandangan tidak suka. Kacamatanya tebal seperti para kutubuku di perpustakaan kota. Bedanya yang ini sedang mengetik data di puluhan layar hologram yang berterbangan. Matanya bergerak kesana-kemari mencari dan mengetik data super kecil yang tak berhenti bergerak.Dialah sang ‘raja data’ di dalam Alpha.
“Kembalikan keadaan daerah ini sekarang, buat Alpha kembali terhapus dari ingatan semua orang selain anggota Alpha.” Ken berkata tegas. Ia menyembunyikan gulungan kertas yang dipegangnya.
“Mudah sekali kau berkata Ken, sudah kubilang aku sibuk. Lagipula, walaupun aku punya kemampuan menghapus sebuah kejadian bukankah lebih baik bila Alpha dikenal dunia. Pastilah nanti banyak tambahan anggota baru yang membantuku.” Pemuda itu berkata santai dan kini menatap Ken dengan pandangan muak.Ken mengeluarkan nafas panjang.
Pemuda itu menolehkan kepalanya pada Ken sambil tersenyum,“Kita terlalu lama bersembunyi Ken,hampir semua anggota Alpha ingin mencium aroma permukaan, rasanya populer, sempurna, menjadi idola.Kenapa memilih bersembunyi?”
Ken membalas senyuman pemuda itu, ia segera menarik gulungan yang disembunyikannya dibalik badan. Ia memperlihatkan sebuah surat dengan tulisan aneh, sandi, ataupun tulisan yang sulit dikenali.
“Profesor Fess, ini perintah dari Sang Cetus, kalau kau masih mau menolaknya aku sudah siap mendaftarkan namamu sebagai calon tahanan Dewan Alpha.” Ken berkata lebih tegas.
__ADS_1
Profesor termuda dengan lima ratus penemuan jenius itu diam seribu bahasa. Ancaman singkat, jelas, padat dan mampu membuatnya tak bisa berkutik. Ia berdiri, meninggalkan seluruh pekerjaannya.Ia berjalan ke arah meja kayu di samping karpet.
“Baiklah..baiklah, segera kulakukan.” Pandangannya takut.
@-@-@-@-@
Keributan aneh terjadi di rumah sakit kota yang terletak di samping perumahan S hari itu. Bagaimana tidak, sebuah portal bulat hijau raksasa terbentuk di halaman depan rumah
sakit. Orang-orang dengan pakaian warna-warni terbang berkeliling dengan flyboard di sekitar rumah sakit, membawa korban kejadian pasukan Mata. Setelah kejadian penyerangan oleh pasukan yang terbang tadi pagi, rasanya keanehan itu bertambah siang ini.
Aku juga berada di sana, bersama Rais
mencari ibuku yang katanya telah dibawa kesini. Setiap perawat maupun dokter yang menatap takjub tergagap ketika kusebutkan ciri ibuku. Hingga Rais meneriakiku,menarikku ke sebuah ruangan, menunjuk sebuah ranjang dengan ibuku penuh luka bakar, bekas bom kotak hitam pasukan Mata Merah. Aku hanya bisa terdiam menatapnya nanar, tubuhku tak berani mengangkat ibuku.Hingga seorang pasukan Alpha datang.
“Apa ini ibumu?” tanyanya pelan. Aku mengangguk.
Ternyata kami harus langsung memasuki distrik Pena Hijau, dari informasi yang kubaca distrik ini memang merupakan pusat kesehatan Alpha. Bahkan, sekarang terlihat di pelupuk mataku sebuah rumah sakit terbaik di dunia. Terdiri dari 150.200.000 ruang pasien,dengan jumlah perawat ditambah dokter tiga kali lipat lebih banyak dari jumlah ruangan yang ada ditambah teknologi modern yang tak pernah ada di permukaan.Aku optimis ibuku akan cepat sembuh di sini.
“Ayo!!” Orang itu meneriakiku saat aku sudah tertinggal sangat jauh.
Aku dan Rais segera mengikuti orang
yang membawa ibuku. Ia membawa ke sebuah ruangan pasien yang sangat keren dan canggih dengan pintu terbuka. Aku dan Rais hanya bisa melihat dari dinding kaca ruangan itu. Orang itu melarangku dan Rais masuk. Ia melangkah masuk dan meletakkan ibuku di ranjang berbentuk tabung dengan tutup kaca di tengah ruangan.
“Tunggu sebentar aku akan memanggil dokter ibumu. Ia anaknya Master Noca bukan? Dan apakah kau anaknya sekaligus cucunya Master Noca? Apa perlu kupanggil kakekmu juga ia sedang libur hari ini?” Orang itu bertanya bertubi-tubi setelah keluar dan meletakkan ibu di kotak tabung kaca. Aku hanya mengangguk menjawabnya. Setelah orang itu pergi, aku dan Rais duduk di kursi panjang depan ruangan ibuku. Rais memegang pundakku erat, menguatkanku. Aku hanya bisa menunduk dengan muka lesu.
__ADS_1
Sepasang dokter suami istri berpakaian jubah putih dengan corak keemasan datang setelah itu, mendekat di sampingku.
“Kau anaknya Raya?” Tanya mereka berdua padaku. Aku menoleh pada mereka berdua, terkejut mereka berdua tahu nama ibuku. Aku mengangguk patah-patah.
Dokter pria itu menyalamiku,”Namaku Dokter Pierre dan ini istriku, Dokter Marrie. Kami adalah dokter keluarga Noca, biarkan kami mengobati ibumu.”
Aku hanya bisa mengangguk sekali lagi, lalu menunduk.
@-@-@-@-@
Masih berani muncul di hadapanku, hah!!” Teriakannya menggema di tengah lorong rumah sakit Distrik Pena Hijau.Aku hanya bisa menunduk lebih dalam aku menutup mata dan menahan sekuat mungkin air mataku agar tidak jatuh.
Tidak ada yang berani menghentikannya, dia adalah salah satu orang penting di Alpha, dia adalah kakekku, Kakek Noca. Dengan perawakan tinggi, besar, rambut setengah botak layaknya ilmuan ternama seluruh pegawai rumah sakit, dari perawat, dokter, hingga pemilik rumah sakit hanya bisa menunduk melewatinya, takut bila harus dicopot jabatannnya.
“Apa belum cukup kau melukai orang lain?” Tanyanya tegas.
‘Plakk..’Tamparan yang sangat keras diberikan padaku. Tanpa basa-basi ia mengulangi tamparan itu beberapa kali. Pipiku sudah merah padam.
“Pergi!!”Teriaknya marah.Tangannya
terangkat, bersiap menghantam pipiku lagi.
“Sudah Noc, kau tak pantas melakukan ini
apalagi di depan umum!” Nenekku memegang tangan kakek dengan keras. Mulutnya mendesiskan sebuah ancaman.
__ADS_1
Akhirnya kakekku menurunkan tangan perlahan, membalik badan lalu pergi tanpa mengatakan apapun. Tinggal kami berdua, aku dan nenekku.