Book One : Dunia Alpha

Book One : Dunia Alpha
Eps 4.Distrik Tekno-Pi


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, mendadak gaya gravitasi itu muncul.


´Bruukk!!!` Aku jatuh di atas sebuah alas yang empuk. Suara keras itu dari pantatku yang terkena bantalan kain yang terasa lembut dan nyaman. Namun aku tetap merasa sakit walaupun lantainya nyaman. Mataku menatap sekitar yang sangat gelap. Ruangan ini sempit sekali. Ukurannya sekitar satu kali satu meter.


Saat kedua tanganku dibentangkan saja tanganku sudah menyentuh tembok. Tembok itu pasti terbuat dari lempengan besi. Rasanya dingin saat aku menyentuhnya.


Juga, bukankah seharusnya aku turun di distrik Tekno-Pi, lalu ini ruangan apa? Aku berdiam sambil meraba-raba tembok besi mencoba mencari gagang pintu.


Haduh, mana pintunya ya. Di empat sisi dinding tak ada gagang pintu sama sekali. Ketika aku berdiri mencoba meraba langit-langit tanganku hanya meraba ruang kosong. Atapnya tinggi sekali.


Sesekali aku mengetuk tembok besi itu mencoba membuat suara. Berharap ada yang bisa mengeluarkanku dari sini.


Lima menit kemudian muncul sebuah garis cahaya kecil di dua sudut ruangan tepat di depanku.


Dinding yang ada di antara kedua garis cahaya itu bergetar. Suara lempengan besi bergetar membuat suara keras memenuhi ruangan.


Dinding itu bergeser ke atas membuat cahaya masuk lebih banyak. Mataku makin sipit karena cahaya yang terang menyilaukan tiba-tiba.


"Halo!"


Suara seseorang yang kini berada di depanku mengagetkanku. Seorang perempuan dengan rambut panjang yang dikuncir dengan pita merah.


Pakaiannya sama seperti dengan pakaian resmi yang kumiliki. Tapi ada beberapa perbedaan terutama warna bajunya yang keperakan dan beberapa hiasan di pundak. Tingginya sama denganku. Ia tersenyum.


"Namaku Ken, Rin 25720, asalku dari perumahan A, aku adalah petugas penerima calon anggota Alpha. Maaf sudah menunggu."


Rin adalah julukan bagi anggota Alpha Bet. Biasanya setiap anggota memiliki nomor 'Rin' nya yang menjadi kode biodata seseorang di bola informasi. Aku tinggal mengetik angkanya nanti di bola informasiku untuk tahu tentangnya. Ya, walaupun mungkin hanya nama, profesi, dan kemampuannya yang kuketahui. Alpha sangat rahasia dalam hal apapun, termasuk anggotanya.


Aku mengangguk paham sambil melihat ke belakangnya yang dipenuhi dengan ruangan yang sama denganku. Beberapa orang berpakaian seperti Ken berlalu lalang membawa orang seumuranku.


"Namaku Lian, Rin 30305, senang bertemu denganmu."


Aku mengambil 'Bunga Modelis' milikku. Lalu memakainya dengan cepat dan pergi bersama Ken yang mengantarkan ke ruang pendaftaran.


Sama seperti peserta lain yang menatap kesana kemari. Aku juga melihat semua yang ada di sekitarku kagum. Terutama layar transparan milik Ken.Sama seperti di film-film.


Ken yang melihatku kagum seperti itu hanya tersenyum tipis.


"Kamu akan memilikinya besok saat lulus tes, benda ini juga hanya dimiliki oleh penghuni distrik Tekno-Pi, selain distrik ini semua hanya memakai bola informasi saja."

__ADS_1


Huh, berarti aku harus lulus tes Tekno-Pi. Tapi aku juga tidak bisa melakukan apapun tentang barang elektronik. Saat kipas di rumahku rusak saja itu karena aku yang mencoba membersihkan debunya.


Aku takut malah merusak barang di sini daripada membuatnya lebih baik.


Seperti yang kubilang ada tes kelayakan untuk distrik Tekno-Pi. Begitu juga tes kelayakan untuk masuk distrik lain. Kalaupun gagal di empat distrik teratas maka pasti hanya masuk distrik terbawah, distrik Tangan Bawah.


Akhirnya aku sampai di meja pendaftaran.Meja berwarna ungu dan dua kursi bulat hitam ada di depanku. Semuanya berjajar dengan beberapa meja lainnya.


Ken mengetuk meja setelah kami duduk di kursi. Sebuah formulir panjang tertera di hadapanku. Ken menyebut pertanyaan dari formulir itu dan aku menjawabnya.


Dari informasi dasar seperti nama perumahan, nomor rumah, tempat tanggal lahir, nama orangtua, dan lain-lain.


Juga informasi tentang keseharian, seperti hobi, makanan dan minuman kesukaan, tempat yang sering dikunjungi, teman dekat, hingga orang yang memberi alat-alat Alpha.


"Zam?Zam yang memberimu alat Alpha Bet Bahkan dia juga teman dekatmu?" Kata Ken dengan suara pelan namun dengan nada terkejut.


"Iya, memangnya kenapa?" Tanyaku bingung. Zam memang orang yang membuatku penasaran dengan semua barang pemberiannya. Siapa dia?


"Kamu tahu Zam siapa?"


"Dia teman dekatku saja di sekolah, rumahnya juga dekat denganku.Memangnya kenapa?"


"Oh, tidak apa-apa." Kata Ken menggelengkan kepala dengan sisa keterkejutannya yang masih nampak.


"Ting"


Sebuah kartu hologram keperakan muncul di layar. Ken menggesernya ke jamku. Mama bilang jam ini adalah pusat dari penelitian potensi dalam diriku. Semua data potensi dalam diriku ada di dalam jam ini. Jam ini juga merupakan kunci menuju kamarku nanti.


Kartu hologram itu muncul di atas kartuku. Walaupun tidak sebagus layar transparan milik Ken, aku tetap kagum dengannya.


'AB25, Kamar 265, Dlan Lian E'


Begitulah tulisan yang tertera di hadapanku.


"Aku akan mengantarmu ke kamar milikmu, di setiap kamar ditinggali enam orang. Kamarmu sudah ada tiga orang yang datang. Kamu bisa bertanya hal lain pada mereka."


Aku berdiri dan mengikuti Ken dari belakang.Ken tidak berjalan. Dia hanya mengetuk layar transparannya.


"Kapan kita pergi Ken?"

__ADS_1


"Sekarang kita naik flyboard ini, aku ada pekerjaan lain ternyata, kita harus cepat."


Ken mengetuk layar transparannya. Sebuah papan perak bundar muncul di bawah kaki kami yang membuat sebuah selaput tipis mengelilingi aku dan Ken. Papan itu terbang.


Aku awalnya terkejut namun melihat tatapan takjub dari para peserta lain yang kini di bawahku aku membusungkan dada pamer.


Pemandangan di sini lebih indah kalau dilihat dari atas. Puluhan Flyboard juga terbang di sekitarku, menyapa hangat Ken.


Sebaliknya Ken juga menyapa balik mereka. Termasuk memberi hormat pada beberapa orang yang berpakaian emas. Ken bilang mereka adalah para profesor besar di distrik Tekno-Pi.


Ken mendekat pada sebuah gedung tinggi berwarna hijau terang. Sebuah layar besar bertuliskan 'AB25, asrama tes' menjadi tempat tinggalku.


Ken mendarat di depan gedung. Seorang pria tinggi berpakaian coklat berdiri di depan gedung. Ia menyambut kami berdua.


Ia mengenalkan dirinya yang bernama Affandi. Seorang pemilik sekaligus pengurus utama gedung peserta. Segala jenis masalah di gedung AB25 menjadi tanggung jawabnya. Ia juga yang akan mengantarku ke kamar tempat tinggalku.


"Tiga hari lagi tes akan dimulai, persiapkan bakatmu dan biasakan dirimu di sini. Teman sekamarmu akan membuatmu terbiasa di sini. Bye."


Ken berpamitan sebelum pergi dengan Flyboard miliknya.


Sekarang ganti Affandi yang mengantarkanku ke kamar. Dia sangat ramah dan bersahabat. Affandi menjelaskan tentang lokasi ruang makan, kantin, dan lokasi ruangan umum lain sambil berjalan ke sebuah ruangan kubus yang berada di samping pintu masuk.


Bentuknya sama seperti lift. Kami masuk ke dalamnya dan pintunya menutup.


"Kamu kamar berapa Lian?"


"Kamar 265."


Affandi mengetuk layar transparan di salah satu dinding, mengetuk angka 265.


Lantai 'lift' itu bercahaya.Membuat dinding ruangan memantulkan cahayanya.


Sesaat setelah itu kami telah berpindah di depan sebuah pintu bertuliskan kamar 265. Ternyata ruangan tadi adalah alat teleportasi.


"Oke, ini kamarmu, jammu adalah kuncinya. Kau sudah tahu bukan caranya?"


Aku mengangguk tersenyum. Affandi berpamitan lalu pergi. Aku memegang gagang pintu.


"Klik"

__ADS_1


Suara pelan dari jamku seiring dengan aku membuka pintu. Pintu kamar terbuka.


"Pencurii...!!"


__ADS_2