
Lima hari tes tertulis telah berlalu. Di empat hari setelahnya tes tentang empat distrik setelah distrik Mahkota Raja dapat diselesaikan dengan hasil lumayan.
Aku dapat menjawab sekitar tiga puluh hingga empat puluh dari lima puluh soal di tes tiap distrik. Walaupun pada empat tes itu aku tidak bisa mencontek.
Besok adalah tes mental, tes ini akan menguji keberanian, tanggung jawab, kejujuran, dan berbagai hal lainnya.
Tes diadakan di lima tempat berbeda secara bergantian selama lima hari.Jadi setiap tempat akan dipakai oleh seribu peserta.
Pada semua tempat memiliki bentuk tes, cara penilaian dan waktu yang berbeda-beda, sesuai apa yang diinginkan penguji. Pada kesempatan kali ini kami berangkat bersama seorang panglima pengguna unsur angin.
Ia bernama Kapten Jun, Rin 10023. Ia mengumpulkan seribu peserta dari sekitar dua ratus kamar sore ini. Kamarku juga termasuk di dalamnya.
Kami akan pergi bersamanya untuk tes besok pagi. Kami hanya diminta membawa perbekalan makan dan minum secukupnya untuk perjalanan kali ini.
Esoknya kami berkumpul di depan asrama. Kapten Jun terlihat sedang menerima laporan dari para lalat pengintai yang telah mendata kehadiran kami.
"Semua sudah siap?" Kapten Jun berteriak dengan semangat.
"Siaap." Suara kami kompak dan lantang menjawab. Beberapa orang tertawa kecil.Sudah seperti prajurit perang saja.
"Kalau sudah siap, mari kita berangkat!!"Kapten Jun memberi komando.
"Ayoo!!"teriak kami sambil tertawa. Hari yang menyenangkan.
"Kapten."seorang anak perempuan mengangkat tangannya, bertanya dengan wajah heran. Ia adalah Dea, Rin 27181. Asuza memperkenalkanku padanya kemarin. Dia sudah punya banyak teman hingga hari ini.
"Ya, ada apa?"
"Kita berangkat pakai kendaraan apa?Aku tidak melihat satu kendaraan pun. Alat teleportasi juga tidak ada."
Hampir seluruh peserta segera menengok kesana kemari dan menatap Kapten Jun kembali. Iya, tidak ada kendaraan sama sekali. Kami saling bertanya.
Kapten Jun tertawa.
"Memang harus pakai kendaraan untuk mencapai tempat tujuan kita?"
Kami menatapnya bingung.
__ADS_1
"Jadi kita jalan kaki nih kapten? Pasti capek lah." Gina nyeletuk.
"Tidak, kita tidak jalan kaki kok. Kita akan naik ini...."
Kapten mengangkat tangannya dan aliran angin mengalir di bawah kami, membuat kami melayang rendah. Awalnya serasa berjalan di atas tangga goyang, namun lama kelamaan kami mulai terbiasa.
"Oke, ayo berangkat!!"
Kapten mengepalkan tangannya dan seribu peserta dan Kapten Jun melayang
tinggi.
Peserta lainnya yang masih berada di bawah melihat iri pada kendaraan kami. Kami terkagum dengan kemampuannya.
Sepuluh menit perjalanan kami sampai di sebuah lembah hijau. Walaupun distrik Tekno-Pin berisi gedung tinggi maupun teknologi mutakhir, tetap ada beberapa tempat yang dibuat hijau untuk menghasilkan oksigen seperti lembah ini.
"Kita sudah sampai." Kapten melepaskan kepalan tangannya dan kami perlahan mendarat di sebuah tanah lapang. Kapten Jun memberi komando bagi tiap peserta untuk beristirahat dulu.Semua peserta berpencar ke berbagai tempat.
Matahari pagi bersinar cerah saat kami duduk menikmatinya. Suasana di sini benar benar nyaman.
Semua peserta berkumpul dengan cepat.
"Hari ini adalah tes kekuatan pantang menyerah." Suara Kapten Jun terdengar lantang dan jelas.
Kapten Jun menepuk tangan tiga kali.Tanpa aba-aba, gempa besar mengguncang tempat kami berada. Seluruh peserta yang hadir panik dan saling berpegangan tangan. Banyak peserta yang berteriak keras.
“Gempa!!...Gempa!!”
Belum juga rasa panik kami dari gempa ini habis, tanah di sekitar kami berderak keras. Kepulan asap dan debu mengitari kami. Tanah terbelah, tepat di
bawah kami. Kapten Jun tersenyum menatap para peserta yang masuk ke dalam tanah terbelah. Sebagian berteriak panik dan berlari menjauhi tanah yang terbelah itu.Namun terlambat, lubang terbentuk membesar dengan cepat tanpa henti menelan semua peserta.
"Para peserta, ujian kita mulai!!" Teriak Kapten Jun.
@-@-@-@-@
Aku menatap semua orang di sekitarku yang berhamburan kesana-kemari dan tanpa terasa badanku jatuh ke dalam tanah terbelah. Cahaya langit pagi yang terang benderang makin redup dan terganti dengan debu yang memasuki mata. Aku mengucek mata dan tubuhku tertarik dalam sebuah pusaran.
__ADS_1
Saat aku membuka mata, aku berada di sebuah ruangan bertembok kayu tua dengan lantai semen putih. Ini rumah kakek, batinku.
‘Plakkk’ sebuah tamparan keras mengenai pipiku. Rasanya sakit sekali. Tamparan seorang pria tua dengan baju kaos coklat panjang menatapku dengan muka merahnya.Wajahnya mengeras. `Kenapa kakek menamparku?` Batinku lagi.
“Apa yang kamu lakukan padanya Lian!!!” Katanya dengan keras seraya telunjuknya mengarah pada genangan darah di pojok ruangan. Sebuah tubuh mungil terbujur di sana dengan pisau bersarang di lehernya.
‘Plakk’ Kakek menamparku hingga terduduk. Aku menangis. Apa salahku kek? Aku tidak sengaja? Bisikku dalam hati.
Mama ikut menangis di sampingku memohon pada kakek agar tidak memarahiku lagi.
“Pergi!!” Kakek menatapku dengan mata merahnya.
“Pergi!! Kamu tidak pantas berada di sini!” Suaranya keras menggelegar.
Kenapa ingatan tiga tahun yang lalu ini muncul? Kenapa?
Badanku rubuh tak sadarkan diri.
@-@-@-@-@
Kapten Jun masih melayang di lubang raksasa tempat semua peserta jatuh. Sesekali ia melihat jam tangan miliknya. Sudah seratus delapan puluh lima menit berlalu sejak mereka terjatuh ke dalam lubang raksasa ini. Batas waktu mereka adalah tiga ratus enam puluh menit.
Ujian ini dinamai ‘Ujian Jurang Ingatan’ dimana setiap peserta yang masuk ke dalam jurang ini akan dibawa ke dalam ingatan masa lalu masing-masing dan ingatan yang akan terulang adalah sebuah kenangan terburuk yang harus mereka hadapi.
Tepat pada menit ke-dua ratus satu persatu bola cahaya muncul dari Jurang Ingatan.Cahaya tiap bola berbeda satu sama lain, ada biru, hijau, ungu, dan hitam. Warna itu merupakan
lambang dari tingkat keberhasilan mereka.Biru adalah mereka yang sempurna selesai masalahnya, hijau dan ungu adalah orang yang sudah berusaha dan hampir menyelesaikan masalahnya, dan yang terakhir adalah hitam yang berusaha namun gagal dalam menyelesaikannya.
Satu persatu bola pecah dan para peserta di dalamnya tersadar dari ingatan masing-masing. Kapten Jun membuka layar transparannya. Tinggal tersisa empat puluh tujuh peserta yang berada di Jurang Ingatan. Kapten Jun kembali menunggu sambil melihat para peserta lain yang mengambang di depannya. Wajah-wajah panik dan lelah terpancar jelas di wajah mereka.
Matahari mulai memanas.Waktu habis dan empat puluh tujuh peserta belum keluar satupun. Kapten jun menekan sebuah tombol di layar transparan miliknya dan ke-empat puluh tujuh peserta termasuk Lian muncul di depan Kapten Jun dalam keadaan pingsan. Mereka terbaring di atas papan besi tipis. Peserta lain menatap peserta yang terbaring. Mereka yang gagal.
Jika peserta itu hingga waktu habis belum dapat menyelesaikan masalahnya dan malah memilih lari bahkan bunuh diri daripada menghadapinya maka ia dianggap gagal. Kapten Jun merahasiakan semua hal tadi bahkan termasuk nilai para peserta hingga pengumuman dan meminta semuanya untuk merahasiakan sendiri apa yang mereka temui di Jurang ingatan. Lalu meminta menolong empat puluh tujuh peserta yang pingsan.
Tanah kembali ditutup dan menjadi lembah hijau seperti semula. Semua peserta mendarat di sebuah tempat lapang.
Kapten Jun menghela nafas. "Tes pertama selesai.”
__ADS_1