
Aku memilih berjalan kaki dari ruang teleportasi menuju gedung AB25 sambil mengenang tiga tahun yang berlalu. Sudah tiga tahun setelah kejadian itu kakek meluapkan rasa kesal dan marahnya padaku yang dianggapnya sebagai pembunuh Sin. Padahal, faktanya pisau itu hanya lewat di kepalanya dan menusuk tepat di lehernya. Namun sejak saat itu kakek akan selalu menganggapku angin lalu, bahkan tak jarang ia mengusirku secara kasar tanpa alasan yang jelas, namun semua orang juga tahu aku masih dianggap sang pembunuh karena belum ada bukti yang jelas siapa pembunuhnya. Mungkin dengan perjalanan kali ini aku juga bisa menemukan sang pembunuh. Tak terasa aku sudah sampai di pintu kamarku dan perlahan kubuka dengan jam biruku.
‘Klik’
“Kau pulang Lian?” Rais dan yang lain sedang duduk di sofa yang lalu menyapaku sekilas sebelum akhirnya masing-masing sibuk sendiri dengan bola informasinya, media sosial terbaru yang kami kenal, hampir sama seperti media sosial di permukaan. Aku ikut duduk di sofa, menatap semua teman sekamarku dengan perlahan membuat semuanya menatapku heran.
“Kamu kenapa Lian? Ibumu sudah baikan bukan?” Tanya Gina.
“I..iya mama sudah baikan, t..tapi,..ada yang ingin kubicarakan dengan kalian..”
“Maksudmu?” Asuza menyahut. Kini semuanya menatapku heran lagi. Aku segera menjelaskan kejadian yang terjadi dengan serinci mungkin. Mulai dari masalahku dengan kakek, misi mencari pedang Mirabilis dari nenek hingga kemungkinan berhadapan dengan pasukan Mata Merah dan partai Persatuan Pemberontak. Mulanya semua terkejut ketika diminta untuk mengikuti misi mustahil itu. Namun setelah kujelaskan tiga syarat dari mama, muka mereka berganti terkejut sekaligus agak lega.
“Kita akan dilatih di tempat para Ranker?!” Mata Rais membulat seraya mengepalkan tangan. Aku segera ber-ssh panjang.
“Ini adalah misi rahasia,.. apalagi Ranker merupakan rahasia Alpha. Tapi begini aku juga ingin bertanya, kira-kira cuma kita berenam atau mau ditambah lagi?”
“Hmmm, bagusnya sih kita tambah lagi, kita butuh banyak kemampuan.” Asuza mengeluarkan pendapatnya. Aku mengangguk membenarkan perkataan Asuza.
__ADS_1
“Untuk pengguna ‘energi alam’ kita memiliki Rais dengan unsur es dan Asuza dengan unsur api, apa perlu ditambah?” Ella bertanya.
“Mungkin bisa ditambah Cera, pengguna unsur hewan?” Kapi memberi usul.
Kami semua mengangguk setuju. Diskusi berlanjut lebih lama. Satu jam setelahnya kami habiskan untuk memilih kandidat peserta dan menyeleksi satu persatu yang kira-kira bisa menemani kami. Empat orang terpilih dan ditambah nama kami berenam kukirim pada papa dan mama untuk dicek sekaligus didaftarkan di Dewan Alpha. Segera kuketik pesan melalui bola informasi.
Aku membagi tugas menjadi lima bagian, sesuai dengan Alpha yang dibagi menjadi lima distrik. Tim distrik Mahkota Raja, yaitu yang mengurus masalah strategi, aturan, dan kegiatan selama misi kami dimulai, beranggotakan aku dan Gina. Tim distrik pena hijau, mengurus masalah kesehatan seluruh anggota tim dan sebagian urusan informasi, beranggotakan Rheda dan Dea. Tim distrik Tekno-Pin, mengurus segala alat elektronik maupun mengolah seluruh data dan kuserahkan pada Ella. Tim Kayu Emas, mengurus senjata kami, beranggotakan Rais, Asuza, dan Cera.Terakhir distrik terpenting kami, tim distrik Tangan Bawah, karena mengatur tiap konsumsi, dan keperluan keseharian yang diperlukan, beranggotakan Kapi dan Sian.
“Apa lebih baik aku memanggil Cera, Dea, Rheda, dan Sian sekarang? Kemungkinan mereka tidak sibuk.” Ella menawarkan diri. Aku mengangguk, itu lebih baik. Ella segera melangkah keluar.
“Sekarang kita tunggu jawaban dari orangtuaku, mereka akan memberikan kejelasan kapan kita akan pergi ke lokasi penjaga kubah.” Aku membuka kembali bola informasi, mencoba melihat beberapa data mengenai pedang Mirabilis.
Sebuah video pendek berdurasi sekitar lima menit, membuatku tertarik, menayangkan saat pedang legendaris itu diuji coba sekaligus akan diserahkannya pada kakek yang saat itu sudah menjabat menjadi panglima distrik Kayu Emas. Seorang pemuda berpakaian zirah lengkap dengan pelindung kepalanya terlihat memegang kotak panjang berisi pedang Mirabilis yang dilapisi kain, kotak yang sama dengan yang ditunjukkan nenek kemarin. Ia berjalan perlahan menuju kakekku yang bersama beberapa pasukannya, lalu ia terlihat mengeluarkan pedang Mirabilis perlahan. Pedang hasil perpaduan ilmu sihir dari penelitian distrik Pena Emas, teknologi tercanggih distrik tekno-Pin, dan tempaan serta pahatan yang indah dari distrik Tangan Bawah itu kini terlihat bentuk aslinya.
Pedang dengan panjang satu setengah meter, tebal dua senti dan lebar delapan senti itu mengeluarkan pendar sinar putih bagaikan lentera. Pedang legendaris satu-satunya yang ada di Dunia Alpha. Pemuda yang membawanya kini berpose mengangkat pedangnya di atas kepala, siap mengayunkan pedangnya ke bawah.
‘Syuuut’ Pedang itu kini diayun dengan pelan. Tepukan penonton terdengar pelan, sebagian orang berbisik tentang betapa ringannya pedang itu. Belum sempat sang pemuda pembawa pedang bergerak lagi retakan besar terlihat di tanah tempatnya mengayun pedang. Retakan itu dalam sekali, mungkin sudah lebih dari lima ratus meter. Tipis namun dalam, begitu menakjubkan. Bahkan pemuda pembawa pedang memelototkan matanya, menatap tidak percaya. Tepuk tangan bertambah keras. Pemuda pembawa pedang itu menundukkan badannya, memberi hormat pada seluruh penonton.
__ADS_1
Pedang itu kini dicoba untuk memecahkan sebuah balok logam jenis tunsten, salah satu logam terkuat dan terkeras di dunia, dengan kepadatannya 19,3 kali lebih padat daripada air, 71 kali lebih padat dari timah. Beberapa orang penonton menggelengkan kepalanya sembari berbisik pada teman di sebelahnya, pedang itu tak bisa melakukannya. Satu ayunan pedang, dan logam itu terbelah dengan sekaligus tanah di bawahnya.
Percobaan terakhir adalah menguji dalam pertarungan, pertarungan melawan dua puluh Ranker tingkat atas. Hasilnya dalam sekejap dengan pedang Mirabilis di tangan pemuda berzirah bukan hanya melukai para Ranker, pedang itu bahkan tanpa sengaja membelah tubuh mereka. Semua orang terdiam, bahkan para pasukan Kayu Emas terlihat gemetar dengan benda kecil di hadapan mereka.
Aku dan teman-teman yang baru datang, Cera, Dea, Rheda, dan Sian segera menutup mata. Pemandangan yang mengerikan. Kamera kini menclose-up wajah kakek. Ia terlihat gelisah dan segera memanggil tangan kanannnya dan berbisik sesuatu. Aku yakin kakek menyuruh menyembunyikannya. Video itu berhenti.
“Apa....Apa benar benda sekuat itu bisa kita ambil?” Dea bertanya dengan bibir bergetar. Aku mengangguk. Penolakan demi penolakan mulai bermunculan.
“Kita tak bisa Lian, kita terlalu lemah.” Rais juga mulai berpikir mengenai misi yang bertaruh nyawa ini.
“Apa juga yang orang tuamu bilang, kita hanya perlu dua Ranker terkuat. Mustahil! Lihatlah!” Sian menunjuk video yang dilihat barusan. ”Bahkan dua puluh Rangker tingkat tinggi pun kalah!”
“Orangtuamu tak bisa berpikir serius Lian! Aku tahu, bahkan ketika diskusi ini orangtuamu juga lebih banyak bercanda bukan? Orangtuamu tak paham Lian, tak tahu situasinya serumit ini! Barang ini akan sangat sulit kita dapatkan, Lian, ditambah musuh kita yang sangat kuat, aku tidak bisa membayangkan bila harus bertemu musuh!”
Aku terdiam mendengar semua bentuk protes teman-temanku. Sebagian besar memang menolak misi ini.Apa aku tak pernah bisa mendapat kepercayaan kakek, batinku kembali berkecamuk. Aku tundukkan kepalaku, dan tiba-tiba lututku lemas. Aku jatuh terduduk.
Kepalaku bertanya-tanya untuk apa kakek membutuhkan pedang itu lagi. Adakah mush yang terlalu kuat baginya dan Alpha?
__ADS_1