Book One : Dunia Alpha

Book One : Dunia Alpha
Eps 30. Axelane Sang Pemimpin


__ADS_3

Langit senja yang kemerahan sangatlah indah ditatap hari itu. Awan-awan tipis menghiasi langit bersama dengan burung-burung terbang nan gagah di angkasa yang sedang berpulang ke rumah mereka mengantarkan makanan yang mereka dapat hari ini. Matahari sudah berada di ujung bumi bersiap untuk tenggelam dengan indahnya.


Namun senja yang indah sore itu tak mengubah raut wajah yang tampak dari Axelane. Kosong, itu ungkapan paling tepat yang bisa dirasakan oleh teman-temannya sesama pahlawan Alpha. Axelane tetap diam menatap lautan nan luas, membiarkan teman-temannya berpikir sendiri dengan reaksi Axelane setelah dibujuk berulang kembali ke Alpha. Hari itu, sebenarnya adalah hari resmi dimana Alpha akan membentuk sebuah organisasi besar. Hari dimana lima distrik terbentuk. Hari dimana Alpha akan membuat lima kota besar di dalam tanah.


Tapi dengan ketiadaan Axelane, semua hal itu harus tertunda beberapa waktu. Axelane, yang mereka anggap sebagai rekan juga pemimpin kelompok mereka. Tanpanya, semua rencana itu akan sia-sia karena Axelane lah yang merancang itu semua sedari awal. Semua ide itu muncul darinya.


“Kau tidak sepantasnya merengek seperti anak kecil hanya demi seorang wanita, yang bahkan memilih untuk meninggalkanmu.” Simula tetap menghibur hati Axelane yang kacau balau.


“Sim!” Teriak Axelane. Itu panggilan untuk Simula, Sim. “Kamu hanya melihat kami dari jauh, kau hanya menilai kami dari matamu. Kau tidak tahu apa yang terjadi dengan Hana, kau yang sok tahu, kau yang membuat kami terpisah begitu jauh.!!”


Harumi Aina, sering dipanggil oleh Axelane dengan nama Hana, ia termasuk juga sebagai satu dari tujuh pahlawan Alpha. Mengesankan sekali mengingatnya dimana Hana dicintai sekali oleh Axelane. Semasa perang Arshavin Axelan dan Hana adalah pasangan yang saling peduli dalam perang. Keduanya menjadi tameng dan pedang yang saling mendukung. Hana, yang terlahir di negara samurai membuat ia memiliki julukan


‘sang pemotong kepala', karena ia telah memenggal banyak dari kepala pemimpin


musuh. Keduanya adalah pasangan ketua dan wakil grup mereka.


Namun karena suatu kejadian, Hana terpaksa meninggalkan sisi Axelane seusai perang. Menyisakan rasa sakit dan sedih dari Axelane karena ditinggal begitu saja. Axelane yang


tidak terima hanya bisa menyimpan sedihnya kemudian meluapkannya dengan berlayar sendiri di Samudra pasifik ini. Siang dan malamnya masih saja membayangkan


kebersamaannya dengan Hana. Ia hanay makan dan hidup seadanya. Ia hanya bisa


berharap cepat mati dan meninggalkan dunia ini. Ia sudah tak berharap apapun, tak

__ADS_1


ada kebahagiaan yang tersisa untuknya di dunia ini.


Sivah kembali membujuknya kali ini. Namun tidak dengan kata-kata. Ia hanya mengeluarkan sepucuk surat yang terbungkus kain hitam dari balik pakaiannya. Surat yang dikirim langsung oleh sang kekasih. Kain hitam yang halus, sama dengan yang pernah dipakai oleh Hana. Axelane tertegun melihat surat itu. Ia menatapnya begitu lama. Mata sendunya tak bisa membohongi kesedihannya yang mendalam. Tangannya bergetar ingin mengambil surat itu. Namun ia menahannya, takut rasa rindunya membuncah.


“Ambillah!” Sivah membujuknya lagi, kini ia menjulurkan surat itu langsung ke depan mata Axelane. “Kau akan menemukan jawaban dari Hana tentang perasaannya terhadapmu. Tentang apa yang


terjadi dengannya saat ini.”


Axelane dengan tangannya yang penuh luka mengambil surat itu.Ia merabanya perlahan, seakan membayangkan surat itu telah disentuh dengan lembut oleh Hana. Ia membuka kain itu. Matanya melebar melihat ada titik-titik kecoklatan di ujung kertasnya. Seakan Hana melipatnya dengan tangis sendunya. Axelane bisa merasakannya. Ia merasakan kesedihan yang sama dari Hana.


Axelane membuka surat itu, ia tertegun. Tulisan tangan yang sama dengan tulisan Hana.


Axelane,


Maaf, beribu-ribu maaf, aku tidak bisa menemuimu secara langsung. Aku sedang ditahan oleh keluargaku disini. Aku akan dijodohkan dengan pria itu. Aku, tidak bisa menghindarinya begitu saja. Aku, maafkan aku. Aku tidak bisa melakukan apapun.  Tidak, aku bisa, aku akan melakukannya,


Axelane.


akan menikahi mu. Tunggulah hingga aku bisa memutusnya. Tunggulah….


Tulisan itu penuh coretan tak jelas setelahnya, penuh dengan kerinduan yang tak bisa diungkapkan. Axelan kembali menatap coretan itu. Sudah dua puluh tahun ia menunggu jawaban di atas kapal itu.Ia melanjutkan membaca sebelum menumpahkan semua rasanya. Paragraf terakhir surat itu ditulis dengan huruf besar hingga bisa dibaca dengan jelas.


AKU MENCINTAIMU SAMPAI KAPANPUN, TEMUI AKU DI KEHIDUPAN KEDUA KITA. AKU BERHARAP PERTEMUAN KITA AKAN INDAH SAAT ITU. AXEL, MAAF, AKU BENAR-BENAR MINTA MAAF, AKU MENCINTAIMU. TUNGGULAH, TUNGGULAH, HINGGA SAAT ITU.

__ADS_1


Axelane terdiam beberapa saat. Merenungi semua yang terjadi. Lima menit berlalu sebelum akhirnya muncul sebuah tanda duabelas garis putih yang bercahaya keemasan muncul dari lengannya. Mata Axelane pun ikut bercahaya keemasan. Teman-temannya segera menyadari apa yang terjadi.


“Pergilah.” Axelane menggumamkan kata itu dengan datar dan agak bergetar. Namun reaksi Simula dan yang lain segera sigap. Simula segera memberi tanda pada yang lain. Mereka segera menyingkir dari kapal Axelane sebelum  akhirnya berteleportasi ke tempat berbeda.


Simula kembali ke kapal dengan cepat sebelum menteleportasikan dirinya dan kapalnya kembali ke markas Alpha. Sedangkan Sivah, dan ketiga orang lainnya berteleportasi ke empat arah mata angin dan menuju ujung Samudra itu.dengan cepat mereka membentangan tangan dan membuat sebuak tembok super raksasa di empat sisi dengan memadatkan udara di sekitar mereka. Tembok yang membatasi Axelane yang berada di tengahnya.


Axelane dengan wajah yang sulit ditebak masih berada di tengah Samudra itu. Perasaan sedih, rindu, marah, dan kecewa bercampur di dalam dirinya.


Senja menjelang malam hari itu terjadi gempa besar. Kekuatan Axelane aktif dengan cepat. Air di sekitar Axelane sudah menderu tak tenang. Juga udara yang bertiup di sekitarnya. Kekuatan itu, adalah kekuatan yang diberikan oleh Sang Cetus, sosok rahasia yang belum  diketahui asalnya. Kekuatan yang hanya bisa dipakai sekali dalam sat kehidupan milik Axelane. Ia mengaktifkannya.


Hari itu sebenarnya akan terjadi bencana hebat dengan kekuatan Axelane yang lepas. Namun dengan tembok besar yang dibuat oleh teman-temannya kekuatannya tertahan. Walau dengan resiko luka berat yang dialami oleh Sivah dan tiga orang lainnya.


@-@-@-@


Zam masih termenung mendengarkan cerita itu. Ia tahu semua tentang Alpha, petinggi-petingginya, termasuk adanya Simula, Sivah, juga Sosector Abase, Cesur. Lima orang pendiri lima distrik Alpha. Yang tidak ia tahu bahwa masih ada dua pendiri lainnya, yaitu Axelane dan Hana.


Pesawat itu masih bergerak tanpa Zam tahu menuju ke arah mana, yang ia tahu pesawat itu menuju Mid-Alpha.


“Lalu, apa yang terjadi dengan Axelane dan lainnya?” Zam bertanya dengan penasaran. Roti isi daging yang diberikan oleh Black telah dimakannya sampai habis. Ia sudah mendengarkan dengan seksama hingga saat Black berhenti sejenak sebelum menekan beberapa tombol di pesawat itu, membuat peta Alpha yang ditatap Zam di depannya tertutup.


“Dovreto sapere cosa è successo, Kau harusnya tahu kalau setelah itu Simula, Sivah dan lainnya membentuk Alpha. Axelane yang sudah meluapkan rasanya kembali merenungi nasibnya berpuluh tahun lagi. Namun kini ia mencoba berkeliling dunia. Ia mengumpulkan orang-orang dan membentuk sebuah kelompok baru. Kelompok yang berisi tiga belas orang dengan kekuatan yang bebeda-beda dengan Axelane sebagai guru sekaligus pemimpin mereka. Kedua belas orang itu sekaligus Axelane lah yang membentuk Mid Alpha. Mereka membentuk markas di tengah-tengah Kelima distrik Alpha. Hanya beberapa orang yang mengetahuinya. Termasuk dirimu sekarang. Kedua belas orang itulah yang menjadi penerus kekuatan Axelane, mereka menjadi penerus dua belas garis milik


Axelane. Termasuk aku sekarang.”

__ADS_1


Axelane menyingkap lengannya dan memperlihatkan sebuah garis tipis keemasan. Zam menatapnya takjub.


“Nah, kita sudah hampir tiba di Mid Alpha.’ Black menunjuk sebuah awan hitam di langit.


__ADS_2