
Sementara Lian telah selesai tes kekuatan pantang menyerah, Lian E berkutat dengan tugas-tugas yang menumpuk.
Bersama dengan 'robot' Zam membawa buku tugas matematika ke ruang guru. Lian E menggantikan tugas Lian sebagai ketua kelas. Buku yang dibawa keduanya berat sekali. Zam mengetuk pintu.
"Permisi.."
"Masuk.." Sahut suara dari dalam.
Lian E dan Zam segera masuk ke ruang guru dan menyerahkan tugas pada Bu Ani, guru matematika kami.
"Bu, ini tugas matematika kelas 11 IPA C minggu ini. Mohon diterima."
"Taruh di meja sebelah sana!"Bu Ani berkata datar. Dia sedang sibuk mengoreksi jawaban kelas lain. Lian E dan Zam segera meletakkan buku tugas di meja yang dimaksud.
"Sudah Bu."
"Iya, terima kasih, kalian boleh pergi."
"Sama-sama Bu."
Lian E segera keluar dan menghembuskan nafas panjang, selesai juga. Mereka berdua berencana pergi ke taman sekolah untuk beristirahat setelah menyelesaikan tugas. Jarak ruang guru dan taman sekolah sangat dekat, belum lima menit mereka berjalan mereka sudah sampai.
Tumben sekali taman sekolah kali ini sangat ramai. Semuanya menatap ke langit pagi yang berawan ini. Sebagian mengarahkan kamera ke atas.
Lian E dan Zam segera keluar untuk ikut melihat langit. Zam berkata ia pernah melihat aurora. Aurora atau cahaya kutub adalah fenomena alam yang menyerupai cahaya memancar yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer akibat adanya interaksi antara medan magnetik dengan partikel bermuatan yang dipancarkan oleh matahari.
Lian E menambahkan, dari buku pengetahuan umum yang dibaca Lian E di perpustakaan aurora yang sangat indah terdapat di negara Selandia Baru.
Biasanya aurora terjadi di daerah di sekitar kutub Utara dan kutub selatan. Aurora yang terjadi di daerah sebelah Utara dikenal dengan nama Aurora Borealis, yang dinamai Dewi Fajar Rom, Aurora, dan nama Yunaninya Boreas. Ini karena di Eropa, aurora sering terlihat kemerah-merahan di ufuk utara seolah-olah matahari akan terbit dari arah tersebut.
__ADS_1
Adapun fenomena aurora di sebelah Selatan yang dikenal dengan Aurora Australis mempunyai sifat-sifat yang serupa. Tapi kadang-kadang aurora muncul di puncak gunung di iklim tropis.
Tapi sekarang fenomena itu muncul di depan kami. Sebuah orkestra warna dilangit yang seharusnya biru menjadi pemandangan indah di siang ini.
Hampir seluruh saluran televisi di seluruh dunia meliput aurora tersebut secara live. Mama dan Papa Lian yang melihat hal itu di televisi segera menekan jam mereka, berbicara lewat jam. Muka mereka terlihat panik. Hampir seluruh rumah di perumahan A hingga Z melakukan hal yang sama, melaporkannya ke pusat Alpha. Mereka menemukan keanehan disana.
Aurora yang awalnya perlahan dan melambai-lambai indah mulai bergerak lebih cepat. Angin besar bertiup kesana kemari tiba-tiba. Gerakannya makin lama makin cepat.
Seluruh siswa yang berada di taman segera terpatung melihat hal itu. Sebagian siswa perempuan berlari ke kelas, takut terjadi sesuatu. Awan yang awalnya tipis mulai bertambah tebal. Aurora tersebut mulai menyusun diri membentuk sebuah lingkaran. Sebuah layar hologram raksasa muncul di tengah pusarannya dan menampilkan sosok seram berjubah hitam.
"Ah, akhirnya waktunya sudah tiba." Sosok itu berbicara. Semuanya merinding mendengarnya.
"Tuan-tuan, nyonya-nyonya, para pemuda-pemudi semuanya. Persilahkan saya untuk membuka pertunjukan besar kali ini!"
"Pertunjukan terakhir sekaligus era kebangkitan bumi.Acara yang dipersembahkan oleh Pasukan Mata Merah."
Seluruh penghuni perumahan A hingga Z terkejut. Itu adalah organisasi yang menciptakan peradaban baru dengan cara memusnahkan umat manusia. Organisasi musuh besar Alpha sekaligus pembawa kehancuran umat manusia.
"Bagaimana bisa teknologi mereka sudah mencapai tingkat itu? Padahal menurut mata-mata Alpha mereka baru mencapai level sebelas.Selisih dua puluh lima level dengan kemampuan Alpha ." Papa Lian berkomentar.
"Baik, sepertinya semua sudah siap. Mari kita mulai pertunjukannya." Sang pria berjubah hitam itu berbicara lagi.
Beberapa flyboard bermuatan kotak hitam turun dan menyebar di setiap ruang kosong. Hutan, kebun, jalan raya sepi, dan tempat lainnya didekati flyboard bermuatan. Mama Lian dan beberapa orang dari perumahan S mencoba menahannya dengan kemampuan masing-masing.
Ledakan besar keluar dari flyboard bermuatan, tidak ada seorangpun yang bisa menahannya. Lubang besar muncul akibat ledakan tersebut. Rata-rata diameternya sekitar dua puluh meter, besar sekali.
Satu persatu ledakan itu menghabiskan daerah kosong tak berpenghuni. Pasukan Alpha yang datang mencoba menghadangnya malah ikut terkena ledakan, terlempar, dan memunculkan luka yang dalam di tiap tubuh mereka, termasuk Mama Lian.
Para siswa lari dan berlindung di dalam kelas. Walaupun luka, Mama Lian mencoba muncul di depan sekolah dengan alat teleportasi, melindungi sekolah itu.
__ADS_1
Begitu juga dari setiap perumahan A hingga Z. Seluruh pemilik 'Energi Alam' dan para penghuni distrik Kayu Emas berteleportasi ke sekeliling daerah bencana.
"Mari kita melindungi penduduk bumi hingga bantuan datang." Panglima Zen, seorang pengguna unsur tanah berteriak. Jabatannya yang merupakan seorang panglima membuat semuanya segera mengikuti permintaannya.
"Siaap!!" Seluruh pasukan distrik Kayu Emas berteriak. Jumlah mereka hanya seperempat dari jumlah Pasukan Mata Merah. Namun bisa menahan serangan sementara waktu hingga bantuan datang.
Panglima Zen memukul tangannya ke tanah dan membuat tanah seluas lapangan bola terlempar dan mengenai beberapa pengguna flyboard.
Para siswa menjadi heboh melihat kemampuan orang yang tiba-tiba muncul di depan mereka. Petarungan jarak jauh mulai terbentuk. Mereka memberi semangat dengan berteriak ke arah pasukan Alpha .
"Oh, ini kemampuan pasukan Alpha. Lumayan bagus." Sosok itu bertepuk tangan dengan senyum mengejek.
"Tuan dan nyonya semua, mari kita melihat kemampuan orang yang mau melindungi kalian ini."
Seluruh pasukan terkejut, dia tahu rahasia tentang Alpha, padahal Alpha adalah rahasia besar yang hanya anggotanya yang tahu. Seluruh pasukan bersiap menerima serangan.
"Mari kita mulai!" Sosok berjubah hitam itu menekan sebuah tombol.
Ribuan anak panah turun dari awan.Ini adalah hujan panah. Benar-benar hujan deras yang menurunkan anak panah.
Panglima Zen mengangkat tangan, meminta para penghuni distrik Tekno-Pin membantu.
Seorang pria berjas hitam muncul. Ia menekan jamnya dan sebuah kubah besar hitam muncul dari tangannya, menahan sekaligus membakar anak panah yang turun. Kubah itu lama kelamaan membesar menutupi kota dan membuat flyboard Pasukan Mata Merah mundur.
"Aku bisa menahan mereka selama tiga jam. Kalian semua tolong cari pasukan bantuan secepatnya." Pria berjas hitam itu berbicara. Ia adalah Profesor Dasa, salah satu profesor distrik Tekno-Pin yang tinggal di atas tanah. Semua pasukan segera mengangguk. Mereka membuat sebuah portal besar seukuran dua rumah bertingkat untuk lewat pasukan bantuan.
"Apa kalian yakin selaput tipis ini bisa melindungi kalian?" Layar hologram dengan sosok berjubah hitam tiba-tiba muncul di dalam kubah. Ia menteleportasi seluruh pasukan dari luar gedung ke dalam kubah.
"Ti...tidak mungkin! Bagaimana mereka bisa menembus kubah hitam ini semudah itu?" Profesor Dasa terkejut.
__ADS_1
"Namaku Semu, dan akulah yang akan membuat era baru." Sosok itu tertawa.