Book One : Dunia Alpha

Book One : Dunia Alpha
Eps 26. Zona Perbatasan


__ADS_3

Aku mengangkat pedangku tinggi-tinggi saat zombie-zombie lain mendekat. Lebih dari seratus zombie mengerumuni kami. Wajah mereka yang menyeramkan dengan belatung yang bertebaran di leher dan tangan mereka membuat kami hampir mual dan memalingkan wajah.


"Jangan lupa tutup hidung kalian dengan kain ini, bau mereka terlalu busuk!" Sian memberikan sepotong kain hitam sebagai penutup hidung serta mulut pada kami semua. Bau busuk dari para zombie memang sudah tercium walaupun jarak mereka dengan kami masih puluhan meter.


Seratus zombie itu mendekat dengan cepat. Tak ada yang dapat menghentikan mereka. Kami bersiap dengan kekuatan penuh. Kami memasang kuda-kuda sekuat yang kami bisa. Aku juga memegang pedang yang kubawa dengan seerat mungkin. Setiap dari kami sudah memilih target saat zombie itu tinggal berjarak sepuluh meter dari kami.


Namun belum sempat kami menyerang, mendadak Asuza menembakkan api yang keluar dari mulutnya dengan skala sebesar mungkin, api yang sangat besar itu membakar semua zombie yang mendekat. Barisan zombie di barisan depan segera berlarian tak tentu arah dengan tubuh yang berapi-api. Sebagian besar zombie di hadapan mereka terbakar.


"Aaaaarrrrrgggghhh....."


"Aaaaarrgh..."


Mereka berteriak sekuat mungkin sambil berusaha menghalau api di tubuh dan pakaian rombeng mereka. Barisan tengah maupun belakang kebingungan mengambil langkah dan hanya bisa terdiam.dengan menggeram kencang. Wajah mereka menjadi lebih menyeramkan selama beberapa detik. Tak disangka geraman mereka yang disertai dengan wajah marah mendadak berubah menjadi senyum menyeramkan. Mereka menatap kami dengan mulut terbuka. Air liur mereka terlihat kehitaman saat terlihat saat cahaya kilat yang datang menerangi tubuh mereka.


Barisan depan yang kini sudah ambruk dan masih mengerang kesakitan tak dapat menghentikan senyum mereka walau semili pun. Hampir lima puluhan zombie sudah terbaring dengan tubuh hangus. Namun wajah mereka menatap garang pada kami tanpa adanya sedikitpun ketakutan. Kami menatap mereka dengan jantung berdegup kencang. Nafas kami tak teratur dan tangan kami gemetaran memegang senjata.

__ADS_1


"Ghrrraaaaa...!"


Mereka berteriak bersamaan sambil membuka mulut mereka selebar mungkin dengan darah serta air liur kehitaman yang keluar bersamaan dari mulut mereka. Kami mulai berpikir negatif saat beberapa gunung dan bukit mayat di belakang mereka ikut bergetar. Mulut kami terkunci dengan tubuh yang hampir ambruk. Gunung serta bukit zombie itu meledak. Tubuh mereka bertebaran kemana-mana. Namun tidak seperti zombie sebelumnya yang harus bangkit dari tidurnya. Saat di udara zombie-zombie itu sudah membuka mata dan mulut mereka selebar mungkin. Kami menatap pemandangan langit di depan kami dengan jeri.


Semua zombie ini bisa berjumlah ribuan. Aku hanya bisa melihat mereka seperti melihat hujan batu yang turun dengan deras. Wajahku hampir terlihat takut, namun mendadak saat aku melihat jam di tanganku yang memberi sebuah hologram kecil bertuliskan 'Lima persen lagi untuk naik ke level lima'. Aku mengerti.


Aku menutup mata dalam-dalam. Tanpa kusadari teman-teman yang tak kusadari menoleh padaku dan lalu mengikuti gerakanku,menarik nafas sedalam mungkin, lalu mengembalikan fokus kami. Saat aku membuka mata, aku sudah memberanikan diriku. Entah bagaimana yang lain.


Pedang kuayun sekuat tenaga ke arah zombie yang berada tepat didepanku. Zombie yang beterbangan itu jatuh tepat di depan kami. Jaraknya tak kurang dari semeter.


Zombie lain tetap bangkit melawan. Kami semua terkepung dalam lautan zombie. Dengan segera aku menebas beberapa zombie di depanku tak tentu arah. Sebagian tebasanku hanya memberi luka di perut, dada atau di tangan mereka. Sebagian kecil lagi yang berhasil menebas leher dan membuat zombie-zombie itu berhenti bergerak. Perlahan tapi pasti zombie di depanku berkurang.Saat zombie di depanku sudah tidak dapat kucapai dengan pedangku aku berusaha mengatur nafasku dan saat mereka mendekat aku segera menebas kembali sekuat tenaga. Kejadian itu berulang beberapa kali. Setengah jam lebih kami bertahan dalam posisi kacau balau. Kami membuat lingkaran dengan Gina dan Rheda di tengah.


"Buat barisan melingkar, itu dapat menahan zombie di depan kita!!" Gina yang ternyata berada di tengah perlindungan kami mendadak berteriak. Bola informasi di tangannya menampilkan hologram kebiruan yang menampilkan berbagai informasi. Tangannya terampil menggeser hologram itu dengan cekatan. Kami mengikuti arahan bentuk informasi serta arahan yang diberikan Gina. Seperti kerbau dicucuk hidungnya kami bergerak.


"Lian!! Mundur, seimbangkan lokasi kamu dengan yang lain!!" Gina berteriak kencang dengan mata menatap ke arahku. Aku berharap Gina tidak sering-sering berteriak seperti ini besok karena itu sangat memekakkan telinga kami. Sesaat setelahnya ekor mataku menatap sekelibat cahaya di tubuhnya. Mendadak tubuhnya bertambah terang saat aku tak melihatnya. Sinar itu menutupi seluruh tubuhnya. Gina terangkat beberapa meter dengan wajah kebingungan.

__ADS_1


'Krrakk...' Suara retakan terdengar dari tubuh Gina. Gina makin panik dan berteriak minta tolong. Konsentrasi kami mengalahkan zombie di depan kami terganggu dari teriakannya.


"Kau sedang naik level Gina, jangan teriak-teriak begitu!" Rais berteriak di tengah kepungan musuh. Tangannya masih sibuk mengayunkan tombak es kebiruan di tangannya, senjata pemberian Master Kiseti.


"Benarkah?" Gina bertanya dengan nada menurun.


'Gina Syakilla, anda berhasil naik ke level lima!' Suara dari jam tangan Gina bergema sangat kencang.


Sesaat kemudian cahaya di tubuh Gina memudar dan perlahan ia turun ke tengah arena. Pertarungan kami dengan lautan zombie ini berlanjut kembali. Walaupun luka yang kami terima kebanyakan berupa cakaran ataupun gigitan kecil namun itu sangat menyakitkan. Awalnya aku dan teman-teman memikirkan resiko kami berubah jadi zombie. Namun setelah menerima beberapa luka namun kami tidak merasakan efek lain selain rasa sakit.


Setelah satu jam berlalu tubuh kami kelelahan, padahal baru puluhan zombie yang kami dapat bunuh. Maklum karena stamina kami masih rendah dan mudah lelah. Rheda memutuskan menggunakan sebuah mantra untuk membuat kubah pelindung untuk menahan zombie yang tersisa. Kami beistirahat sejenak sembari menatap sekitar kubah yang yang ditutupi tumpukan zombie yang masih hidup maupun yang tidak bergerak.


Kami harus selalu waspada mengingat zombie ini bisa saja menghancurkan kubah pelindung yang dibuat Rheda. Namun ternyata kubah itu tak tergores walau semili. Rheda benar-benar membuat kubah pelindung ini sangat kuat.


Namun ternyata bahaya bukan datang dari lautan zombie, melainkan dari hal lain yang tak kami sadari.

__ADS_1


__ADS_2