Book One : Dunia Alpha

Book One : Dunia Alpha
Eps 7.Kejutan


__ADS_3

Kami berteleportasi dan sampai di depan kamar. Rais membuka pintu kamar lebar-lebar. Di samping sofa sudah terlihat dua orang anak laki-laki berdiri menunggu kami. Mereka menengok ke arah kami berdua.


Salah satunya berpakaian serba hitam dan rambutnya mengombak. Ia membawa sebuah tongkat tua di tangan kirinya.


Satunya lagi berpakaian serba kuning dan bertopi besar berwarna biru. Wajahnya agak tembem dengan alis tipis, tidak salah lagi.


"Zam?" Aku terkejut melihat mukanya yang sangat familiar.


"Lian, akhirnya ketemu juga. Tadi siang aku mencarimu. Ternyata kamu sudah sampai di sini." Zam berseru senang dan menjabat tanganku.


Rais melihatku heran.


"Kamu mengenalnya?" Seraya menunjuk Zam.


"Iya, dia teman dekatku di semasa SMP juga SMA." Jawabku sambil memeluk Zam.


"Kamu sudah bekerja di distrik Tangan Bawah?" Tanyaku pada Zam.


"Iya aku kerja di sana sebenarnya sejak lulus SMP, dan aku memberi robot peniru untuk membuatku tetap ada di dunia atas."


"Berarti Zam yang asli selalu di sini?"


"Tidak, aku memang sering ke atas, kamu beberapa kali bertemu denganku


yang asli."


"Kapan itu?"


"Saat aku memberimu alat-alat itu dan pertemuan yang lainnya hanya saling sapa saja."


"Oh, begitu. Berarti Zam yang kutemui agak aneh di sekolah maupun di rumah itu robot peniru ya?"


"Memang, robot peniru punyaku memang mengalami masalah ingatan. Jadi banyak ingatan masa lalu yang terulang."


Aku mengangguk mendengar penjelasan Zam. Rais yang dari tadi mendengar kami mempersilahkan semuanya untuk duduk dahulu. Anak laki-laki yang bersama Zam memperkenalkan diri.


"Namaku Kapi, Rin 30001. Aku tinggal di distrik Tangan Bawah sejak kecil. Orangtuaku mengirimku ke tes Alpha  di sini. Jadi aku berangkat ditemani Zam ini."


Aku dan Rais mengangguk paham.Kami mengantarnya ke kamar untuk merapikan


barang bawaannya. Makanan yang sudah kami makan sebagian kami tinggal di meja samping sofa sebentar.


"Klik." Pintu depan terbuka saat kami mau masuk kamar.

__ADS_1


Kami semua menoleh ke arah pintu.Gina, Ella, dan Asuza masuk membawa makanan mereka masuk.


"Kalian masuk membawa makanan ke sini.Kalian tidak makan di ruang makan?"


"Nggak, di sana sudah penuh. Lagian kami ingin tahu apa yang kalian lakukan dengan Kapi dan orang itu." Gina menunjuk Zam.


"Kami hanya ngobrol sama mereka.Orang yang kalian bilang dari distrik Tangan Bawah itu namanya Zam. Dia teman sekolah Lian. "Rais menjawab pertanyaan Gina.


Aku segera mengantar Kapi ke kamar. Bersama menata pakaian dan barang lain miliknya di lemari.


Sedangkan Rais, Gina, Ella, dan Asuza melanjutkan makan. Adapun Zam mengambilkan makan untuknya dan Kapi.


Lima belas menit kemudian aku dan Kapi selesai menata lemari. Kemampuannya dalam merapikan sangatlah bagus. Dia bisa menata semua barangnya dengan sangat simetris dan enak dipandang.


Aku hanya membantu mengeluarkan barang dari kantong barangnya.Sisanya dia tata sendiri.


Kami berdua keluar dari kamar saat selesai. Zam duduk di sofa dengan Rais. Sedangkan Gina, Ella, dan Asuza tidak kelihatan.


"Gina, Ella, sama Asuza kemana?"


"Mereka beli jajan di kantin.Katanya mau beli makanan penutup."


"Makanan penutup apa?"


Aku dan Kapi segera duduk dan menyelesaikan makan kami.


Sesekali kami bertukar canda dan mengobrol ria.


Jam tanganku menunjukkan pukul sembilan malam. Aku dan Kapi sudah selesai makan malam sejak tadi. Kami menaruh kotak makanan di depan pintu, seperti Rais dan lainnya.


Gina, Ella, dan Asuza sudah pergi jalan-jalan lagi keliling gedung setelah kami makan es krim bersama.


"Lian, sebentar lagi aku akan pulang ke distrik Tangan Bawah. Ada pekerjaan lain menungguku di sana. Aku harus pamit."


Aku mengangguk paham. Sudah waktunya Zam pulang.


"Kamu bawalah ini kemanapun kamu pergi. Suatu saat itu akan bermanfaat bagimu."


Zam menyerahkan cincin putih yang berkilauan. Kilaunya sangat indah seperti mutiara di kalung mama.


Aku menerimanya hati-hati.Aku takut kalau ini juga sebuah benda berharga seperti pemberian Zam yang lalu. Cincin itu kutaruh di dalam kantong barang.


"Kita akan bertemu lagi secepatnya."

__ADS_1


Aku mengangguk kembali. Dia sahabatku, serendah apapun jabatannya walaupun hanya pengirim barang elektronik aku akan tetap menjadi sahabatnya.


Kami bersalaman erat sebagai seorang sahabat. Begitu juga Kapi yang juga mengenal Zam dekat.


"Lian, pesanku, sebentar lagi hidup barumu akan dimulai, bersamaku atau bersama yang lain. Kau harus berusaha jadi lebih hebat dari yang sekarang." Zam berjalan ke pintu masuk.


"Pasti!"jawabku mantap sambil mengepalkan tangan, bersemangat.


Zam melangkah keluar sebelum akhirnya masuk lift teleportasi dan pergi.


Zam yang dulunya kujuluki si aneh kini berganti menjadi si misterius. Banyak hal hebat dan mencurigakan yang kutemui sejak bertemu dengannya.


Seperti setelah bertemu Zam kali ini. Saat Zam telah hilang dari pandangan, saat semuanya sedang asyik bermain game. Suara dentuman terdengar keras dari lantai di bawah kami. Bukan hanya sekali, namun berulang beberapa kali.


Dentuman itu juga diikuti suara teriakan banyak orang di lantai bawah. Aku, Rais, serta Kapi segera menengok jendela dan melihat suasana kamar di bawah kami.


Dentuman itu makin keras dan mulai membuat retakan di tembok sekitar kami. Serasa ada sebuah gempa besar sedang terjadi di gedung ini.


"Kalian akan mati hari ini!!"Teriakan keras itu mengagetkan kami yang segera menjauh dari jendela.


"Berhenti!! Apa yang terjadi di sini?"


Lima flyboard perak datang dengan cepat sesaat setelah teriakan itu. Salah satunya dikendarai oleh Affandi yang berbicara saat itu.


Lima pengendara flyboard itu membuat sebuah bola cahaya besar dari alat berbentuk tongkat yang mereka bawa.


Lima menit yang hening saat bola cahaya yang dibuat semakin membesar. Ukurannya kini sudah melebihi kamar kami.


Kami yang pertama kali melihat ada bola cahaya seperti ini penasaran dan mencoba mendekat dengan hati-hati. Aku mencoba menyentuhnya dengan kedua tanganku, hangat.


Rais dan Kapi yang melihatku tidak apa-apa setelah memegang bola cahaya itu ikut mencoba memegangnya. Rasa penasaran kami berkurang.


Affandi mendekat ke kamar di bawahku. Terdengar seruan-seruan keras dari kamar bawah. Selainnya hanya samar-samar di telinga kami.


Affandi membawa seorang anak laki-laki berbadan kekar dari bawah. Laki-laki itu memakai kaos coklat tua. Ia berusaha untuk melepaskan pegangan Affandi.


Affandi melemparkan anak itu ke dalam bola cahaya. Dalam waktu dua puluh detik bola cahaya itu menyusut menjadi seukuran sekepalan tangan.


Bola cahaya itu dipegang oleh salah satu pengendara flyboard dengan


tangan kanannya dan ia terlihat biasa saja.


Affandi memberi isyarat pada empat pengendara flyboard untuk pergi membawa bola cahaya itu ke arah gedung berwarna abu-abu di kanan gedung kami. Suasana kembali hening.

__ADS_1


__ADS_2