Book One : Dunia Alpha

Book One : Dunia Alpha
Eps. 14 Pedang Legendaris


__ADS_3

“Nak..”Kata itu keluar dengan sangat pelan dan lembut. Nenekku mengajakku ke taman rumah sakit siang itu, setelah kakek berlalu dariku dan pergi melihat proses operasi mama.


Kakek dan nenek datang siang itu bersama ayah, agak lama setelah aku dan Rais terdiam di depan ruang pasien. Sekejap kakek langsung menarikku ke ujung lorong, memarahiku. Ditengah kesedihanku yang dalam saat mama masih pingsan, kakek datang dan menambah rasa sakit di hatiku. Aku tidak yakin kenapa, yang kuyakini dendamnya padaku masih sangat dalam.Mungkin ia benar-benar akan mengusirku bila tak ada nenek yang datang menahannya.


“Nak, kau tak apa?” Nenek berkata agak lebih keras dan memecah lamunanku dengan tepukannya di pundakku.Aku menggeleng sambil terus mengelap air mataku yang mengalir deras.


“Apa.....apa kakek akan selalu marah padaku?” Aku bertanya dengan suara serakku. Kesedihanku kini berlipat-lipat.


“Tenanglah Lian, tenanglah!” Nenek mendekap erat pundakku. Tanganku mengepal kuat.


“ Kenapa....kenapa kakek tak bisa melupakan kejadian itu? Kenapa aku yang selalu dituduh?....Kenapa Nek?...Kenapa?” Aku memukul betisku berkali-kali, rasa kesal, khawatir dan sedihku memuncak, airmataku kini mengalir pelan. Nenek menatap kupasrah. Ia menghela napas panjang lalu menatap langit siang.


“Kakekmu termasuk orang hebat, Lian. Tak ada yang mengerti bagaimana dia sampai menjadi orang terkenal di Alpha. Enam puluh tahun lebih dia ada di PT Alpha sebagai Panglima Distrik Kayu


Emas. Setelah enam puluh tahun itu jugalah dia akhirnya memiliki kemampuan yang tak terkalahkan.” Aku mendengarkan cerita nenekku sambil mengelap sisa tangisanku. Nenek memandangku sekali lagi.


“Lima tahun lalu, kakekmu, kakek Noca, sang petarung sekaligus ilmuan, memilih meneruskan ilmu dan kemampuannya. Kau tahu, bila seorang anggota Alpha mencapai tingkat tertentu ia bisa mewariskan kekuatannya pada pewaris yang diinginkannya, dan kakekmu lima tahun lalu mencapai tingkat itu dan kau tau siapa yang dia pilih?”


Aku menggeleng. Nenek benar-benar membuatku penasaran.


“Ia memilih mewariskan pada sepupumu, Sin. Lalu kau telah tahu apa yang terjadi tiga tahun lalu. Saat itu, sepupumu terbunuh di rumah kakek saat menginap di liburan tengah semester dengan pisau tertancap di lehernya.Saat itu, hanya kau yang berada di ruangan itu.”


Aku menatap nenek tidak terima.


“Aku tak tahu apa-apa saat itu nek, pisau besar itu lewat di atas kepalaku dari jendela kamar yang terbuka. Aku tak bersalah nek!” Suaraku serak.


“Lalu bagaimana dengan sidik jari di pisau yang menempel di gagang pisau itu?”Nenek melirikku.


“Aku...aku tak tahu apapun nek, aku dituduh nek, percayalah!” Aku menatap nenek.


Nenek menghela napas lagi, pandangannya mengarah ke depan. Tangannya menepuk betisku.


“Nenek percaya padamu Lian....nenek percaya.” Pandangnya lembut padaku.Nenek kini membuka jam tua di tangannya, membuka layar hologram dengan kedua tangannya, menunjukkan sebuah gambar kotak kayu tua dengan ukiran bergambar pedang panjang.

__ADS_1


“Kau tahu Lian, ini adalah gambar kotak ‘pedang Mirabilis’, pedang legendaris kakek yang dibuat oleh sahabat kakekmu dulu di distrik Tangan Bawah.”


Aku menatap nenek ganjil, aku menghentikan


tangisku.


“Lalu apa hubungannya pedang itu dengan masalahku dengan kakek?”


Nenek menutup layar hologramnya.


“Pedang legendaris itu tak pernah


benar-benar berada di tangan kakek. Kakek minta pedang itu disembunyikan tak lama setelah ditempa karena kekuatan pedang itu dikatakan melebihi kemampuan kakek sendiri, bahkan kemampuan para Ranker sekalipun.”


Mataku membulat.


“Lalu nek..lalu..?”


“Pedang itu dibawa pergi ke tempat


Aku mengelap bekas air mataku yang telah mengering. Kembali mendapat kepercayaan kakek,batinku.Sesaat kemudian aku berdiri tegak menatap langit.


“Tapi itu sangat berbahaya Lian, apalagi kau hanya sendiri tanpa kekuatan alam apapun.” Nenek berkata cemas.


Aku tersenyum.


“Tapi Nek...” Aku menatap teras rumah sakit yang kini agak ramai. Nenek kini menatapku penasaran.


“Aku punya teman.”Tunjukku ke teras rumah sakit. Disana Rais, Kapi, Gina, Ella, Asuza, ditambah beberapa peserta Alpha Bet yang kukenal datang menjengukku tepat waktu. Aku tersenyum, nenek tersenyum mendengar ucapanku.


Nenek tersenyum penuh makna,“ Kau benar Lian, selama kau punya teman tak ada yang perlu kau takutkan lagi.” Ia mengayunkan tangannya, mengajak teman-temanku bergabung.


@-@-@-@-@

__ADS_1


Profesor Lan berhenti lama menatap


mejanya. Ia mendekat perlahan, takut terjadi sesuatu. Matanya membulat saat melihat sebuah potongan kayu dengan dua lambang terukir berdampingan di kulitnya, Pasukan Mata merah dengan lambang dua mata berdarah-darah di sebuah perisai ditambah pedang besar hitam yang dilumuri darah  dan satu lagi organisasi yang tak dikenalinya dengan lambang dua buah tangan yang bersalaman erat, entah apa yang dimaksud dari lambang itu.


Pandangan Profesor Lan berganti ketakutan, ia menengok ke berbagai arah. Siapa yang berhasil mengirimnya ke mejaku? batinnya. Profesor Lan menatap kembali ke potongan kayu tadi, kini berganti menatap ke tulisan kecil di bawah dua lambang yang tadi dilihatnya.


Hai Profesor,


Terima kasih telah membaca surat ini di saat-saat terakhirmu, dan terima kasih telah menerima salah satu anggotaku menjadi asistenmu sehingga kami bisa mencuri sebagian teknologi dan informasi Alpha. Tunggulah saat-saat kebangkitan kami setelah menemukan Pedang Mirabilis, pedang yang dapat menundukkan semua anggota Alpha, termasuk para ranker. Tunggulah dalam kematianmu.


Ttd, Kepala


Persatuan Pemberontak


Profesor Lan menutup mulutnya, terkejut dengan semua yang tejadi. Ia jatuh terduduk saat seluruh teknologi di sekelilingnya mati mendadak.Ia hanya dapat mendengar langkah kaki seseorang di belakangnya. Ia berusaha membuka layar panel di jam tangannya dengan gemetaran. Orang itu segera menarik tangan Profesor Lan dan menginjaknya hingga memucat dan membuat Profesor Lan sangat kesakitan.


Orang itu tersenyum lama pada Profesor Lan.


“Hai Profesor!” Katanya lembut.


“Kau..kau, apa....apa yang kalian inginkan hah?” Profesor Lan menyalak dengan tubuh gemetarnya. Orang itu menginjak kaki Profesor Lan lebih keras hingga ia berteriak keras. Namun kini ruangan yang dipijak mereka berdua telah tertutup rapat, pintu maupun jendelanya. Suara Profesor Lan hanya menggema di dalam ruangan. Semuanya memang telah direncanakan sangat matang.


Sesaat hanya terdengar teriakan kesakitan, hingga tiba-tiba Profesor Lan tertawa.


“Kau, kau kenapa kakek tua? Kau sudah gilakah?”Orang itu berteriak marah dan mengeluarkan sebuah pil hitam dari sakunya.


  “Hehe...hehe...hahh...kau tetap akan kalah nak, tetap kalah...hehe, kebaikan selalu menang!..huk..huk...akan..akan selalu ada yang menolong Alpha nak, ada...”


Orang itu segera memasukkan pil hitam yang dibawanya ke mulut Profesor Lan, memaksanya untuk menelan pil racun itu.


“Kau salah kakek tua, kami pasti akan menang, aku telah meneliti semua informasi di dunia Alpha maupun permukaan, tak ada istilahnya organisasi Cetus, tak ada yang namanya Beta atau Gamma, itu hanya bualanmu saja kakek tua agar semua orang di Alpha mengikuti kemauanmu! Hah! Kau dengar itu!” Orang itu meneriaki Profesor Lan dengan menarik telinganya, lalu menjatuhkannya dengan keras.


“Kau tak percaya huk...huk...tunggulah...tunggulah!” Profesor Lan berkata lemah dengan batuk yang kian menjadi.

__ADS_1


Orang itu segera membekap mulut Profesor Lan, membuatnya segera kehabisan nafas, dan perlahan matanya bergerak menutup.Ia meninggal.


“Kau berbohong kakek, aku tahu itu, aku tahu!Hahaha...” Orang itu tertawa keras tepat sebelum alarm bahaya berdengung keras. Ia beranjak pergi meninggalkan mayat Profesor Lan yang terbujur kaku.


__ADS_2