
Pagi hari Revan dan Bima bersiap pergi ke kantor, mereka di antar oleh supir pribadi Revan.
"Pak, lewat jalan kemarin ya" ucap Revan kepada supirnya.
"Baik pak" jawab supir tersebut.
"Tapi pak, lewat sana akan makan waktu lebih lama" ucap Bima.
"Lakukan saja apa yang saya bilang" ucap Revan dingin, Bima pun diam tak berkata apapun lagi.
Saat mobilnya melewati rumah yang kemarin, Revan mengamati rumah tersebut, saat ini dia merasa yakin bahwa rumah itu adalah rumah yang sama dengan yang ada di mimpinya.
"Bima" panggil Revan.
"Ada apa pak?" Tanya Bima.
"Cari tau siapa pemilik rumah itu" ucap Revan sampai menunjuk rumah itu.
"Baik pak" ucap Bima dia mengamati sekeliling agar memudahkan dirinya mencari tau informasi tentang rumah itu.
***
"Oyy bantet, nih laptop kamu" ucap Kenzie menyerahkan laptop milik Keina, lalu dia duduk di kursi bersiap untuk sarapan.
Keina mengambil laptop tersebut tanpa merespon Kenzie, rupanya dia masih kesal dengan apa yang di lakukan Kenzie semalam.
"Rasanya berbeda dari biasanya, siapa yang masak?" Tanya Kenzie setelah merasakan makanan yang dia makan rasanya berbeda dari biasanya.
"Kenapa?, Rasanya tidak enak?" Tanya Keina dengan nada datar.
"Bukan, rasanya sangat enak" jawab Kenzie, dia makan dengan sangat lahap.
Entah kenapa rasa kesal Keina menghilang seketika setelah mendengar Kenzie memuji masakannya, walaupun sebenarnya Kenzie tidak tau bahwa itu adalah masakan Keina.
"Rasanya masakannya mirip seperti bubur yang kamu bawa kemarin" ucap Kenzie.
__ADS_1
"Memang, karena aku lah yang memasak makanan itu" ucap Keina sambil tersenyum bangga.
"Kamu?, Sungguh?" Tanya Kenzie tak percaya..
"Bos Ken pikir saya bohong?" Tanya Keina.
"Bukan, Hanya saja kamu kurang meyakinkan" jawab Kenzie.
"Kalau gitu nanti malam akan saya tunjukkan bahwa apa yang saya katakan benar" ucap Keina lalu pergi meninggalkan Kenzie yang masih duduk dengan wajah bingung.
****
Bima menghampiri Revan yang sedang fokus menatap komputer, dia ingin memberitahu bahwa semua yang di suruh Revan telah dia lakukan.
"Pak" panggil Bima.
"Ya?" Jawab Revan tanpa mengalihkan pandangannya.
"Tentang karyawan itu ternyata mereka bekerjasama dengan perusahaan itu, mereka di janjikan gaji yang lebih besar jika pindah ke sana dengan membawa semua data perusahaan kita, saya sudah mengumpulkan semua bukti, jadi kita bisa membawa masalah ini ke jalur hukum" jelas Bima.
"Baiklah kamu urus saja" jawab Revan.
"Apa kamu bilang?, Pernah ada insiden penculikan di sana?" Tanya Revan dengan wajah terkejut.
"Iya pak, tapi kejadian nya sudah cukup lama" jawab Bima.
Revan berdiri lalu mengambil jas nya yang dia simpan di sandaran kursi, dia memakai jas tersebut dengan buru buru.
"Kita harus kesana sekarang, ayo!" Ucap Revan lalu pergi mendahului Bima.
Bima mengejar Revan yang berada di depannya, banyak pertanyaan yang muncul dalam pikirannya tapi tak mungkin dia tanyakan pada saat seperti ini, Revan terlihat terkejut dan gelisah, Bima sudah menyadari ada yang di sembunyikan oleh Revan dan itu sangat menggangu Revan tapi dia tidak bisa ikut campur dalam urusan pribadi Revan.
Supir pribadi Revan sudah bersiap dan membuka pintu untuk Revan, disusul Bima yang duduk di depan.
"Kita ke jalan xxx, nanti berhenti di rumah kosong" ucap Bima Kepada supir itu.
__ADS_1
Supir tersebut melakukan mobilnya ke tempat yang disebutkan oleh Bima, butuh waktu 15 menit agar bisa sampai di sana.
Sesampainya di sana Revan langsung ke luar dari mobil, tapi sayangnya dia tidak bisa masuk karena gerbangnya di gembok.
Benar, rumah ini sama dengan rumah yang ada di mimpiku, aku harus masuk!, aku harus mencari tau apa yang terjadi padaku dulu di rumah ini!, benarkah aku di culik?, benarkah aku yang ada dalam cerita penculikan yang Bima sebut tadi?. Batin Revan.
"Bima!" Panggil Revan.
"Ya pak" jawab Bima lalu menghampiri Revan.
"Cari cara buat buka gembok ini, saya harus memastikan sesuatu, dan saya harus masuk ke dalam" ucap Revan.
"Silahkan anda tunggu di mobil, saya akan usahakan untuk membuka ini secepat mungkin" ucap Bima, lalu dia berjalan ke arah mobil dan membuka pintunya untuk Revan.
Revan masuk ke dalam mobil, sedangkan Bima memikirkan cara agar dapat membuka gembok nya, saat dia melihat sekitar dia melihat ada kawat bekas di sana, Bima menggulung kawat tersebut hingga mirip kunci dan memasukkan nya ke lubang gembok.
Klek
Akhirnya Bima bisa membuka gembok tersebut, dia langsung mengetuk jendela mobil tempat Revan duduk dan memberitahu bahwa dia sudah membuka gemboknya.
Revan dan Bima masuk ke dalam melewati halaman yang penuh dengan rumput liar, untungnya pintu rumah tersebut tidak terkunci, Revan dapat melihat bangunan itu sudah hampir rapuh, di penuhi sarang laba-laba dan juga lumut dimana-mana.
"Uhuk uhuk"debu di sana membuat Revan dan Bima batuk-batuk.
Revan melihat pintu dengan cat yang membuat dia merasa familiar, dia menghampiri pintu tersebut dan membukanya, Revan berjalan memasuki ruangan yang tidak ada apa apa selain tali yang tergulung di sudut ruangan.
ngiiiinggg
Tiba-tiba suara yang berdenging memenuhi pendengarnya, kepalanya menjadi pusing dan kakinya menjadi lemas, Revan bahkan tak bisa mendengar suara dari Bima.
"Pak?, Anda kenapa?, Anda baik baik saja?" Tanya Bima khawatir, dia berusaha menopang tubuh Revan yang hampir ambruk.
"Aku ingat, aku ingat semuanya" gumam Revan, keringat bercucuran di wajahnya, nafasnya mulai tak beraturan, membuat Bima semakin khawatir.
"Pak, ayo berdiri" ucap Bima, dia membantu Revan berdiri.
__ADS_1
Bima membawa Revan keluar, seperti nya kesadaran Revan belum pulih sepenuhnya, bahkan saat sampai di mobil pandangan Revan masih kosong, dan juga tidak menjawab Bima yang berulang kali bertanya.
"Kita pulang saja" ucap Bima kepada supir.