
Flashback
"Mama di mana?" Gumam Revan yang saat itu masih berusia 5 thn, dia menunggu mamanya di gerbang sekolah, biasanya mamanya tidak pernah telat menjemputnya.
"Hai Revan" panggil seorang pria yang tinggi dan berisi, dia tidak terlalu muda tapi juga tidak tua.
"Om siapa?" Tanya Revan.
"Om di suruh mama kamu buat jemput kamu" jawab pria itu.
"Revan gak mau, Revan mau nunggu mama aja" ucap Revan, dia memang tidak suka jika berduaan bersama orang asing.
"Tapi mama kamu udah nungguin kamu di rumah om" bujuk pria itu.
"Kenapa?" Tanya Revan.
"Mama kamu lagi main di sana, kamu mau ikutan main sama mama kamu?" Tanya pria itu.
"Om suruh mama aja kesini" pinta Revan dengan wajah polosnya.
"Gak bisa, mama kamu kakinya sakit, jadi gak bisa jalan makanannya dia suruh om buat jemput kamu" ucap pria itu.
"Kalo gitu ayo om, Revan harus lihat mama" ucap Revan, kekhawatiran tersirat di wajahnya.
"Ayo" ajak pria itu, dia menggandeng angan Revan membawanya ke dalam mobil.
****
Seorang wanita yang masih muda keluar dari mobilnya, dia berlari walaupun sedang mengandung usia 6 bulan.
"pak, dimana Revan?, dimana anak saya?" Tanya wanita itu, kepanikan tersirat dengan jelas di wajahnya.
"Bukannya tadi ibu menyuruh om nya untuk menjemput Revan?" Tanya satpam yang sedang berjaga di pos dekat gerbang.
"Om?, Saya tidak pernah menyuruh siapapun, saya boleh lihat rekaman cctv-nya?" Tanya wanita itu.
"Tunggu sebentar " ucap satpam itu.
Wanita yang bernama Tiara menunggu dengan cemas, rasa takut menghantui dirinya, tak lama satpam tersebut menyuruhnya masuk untuk melihat rekaman cctv.
"Inikan, Willy, pak, dia bukan orang suruhan saya, dia mencoba menculik anak saya" ucap Tiara panik.
__ADS_1
"Ibu tenang dulu, lebih baik ibu bicarakan dulu kepada suami ibu, dan mencoba mencarinya" ucap satpam tersebut berusaha menenangkan Tiara.
Tiara langsung mencari handphone di tas nya, dan menelpon suaminya, 1 panggilan belum di angkat, begitu juga panggilan berikutnya, saat Tiara menelpon ke 7 kali baru suaminya mengangkat telponnya.
"Ada apa?" Tanya suaminya.
"Mas, Revan!, Revan di culik Willy" jawab Tiara dengan suara bergetar.
"Apa!, Bagaimana bisa?" Tanya suaminya.
"Nanti aku jelaskan, sekarang kamu bantu aku cari Revan" ucap Tiara.
"Oke" jawab suaminya, lalu dia memutus panggilannya dan langsung mengenakan jasnya, dia berlari menuju lift.
****
"Om mama di mana?, Kenapa disini kotor sekali?" Tanya Revan saat mendapati di sana tidak ada siapapun.
"Kamu tidak perlu tau, yang harus kamu lakukan cuma duduk diam sambil menunggu" ucap pria itu, dia mengambil tali dan langsung mengikat tangan dan kaki Revan.
"Om lepasin, Kenapa om ikat kaki dan tangan Revan, sakit om lepasin" rengek Revan.
sampai sore pria itu tidak kembali, tidak ada orang lain di sana, dia sendirian, di ruangan kumuh yang kotor dan penuh dengan sarang laba-laba, dia menangis, meminta tolong tapi tidak ada yang mendengarnya.
udara semakin dingin, Revan memeluk kedua kakinya menggunakan tangan yang terikat.
"mama, aku mau pulang, aku takut" ucapnya sambil terisak.
sraak
Revan mendengar sesuatu dari balik jendela, bayangan hitam muncul di tengah-tengah sarang laba-laba, membuatnya semakin takut.
"ada orang di dalam?" tanya seseorang dari balik jendela itu, tiba-tiba Revan merasa lega karena mungkin saja orang itu akan menolong dirinya.
"tolong, aku mau pulang, aku takut disini sendirian" ucap Revan.
"kamu bisa keluar lewat jendela ini" ucap orang itu.
"tidak bisa, kaki dan tanganku terikat" jawab Revan dari dalam sana.
"bagaimana ini?" gumam seorang anak perempuan, dia ingin menyelamatkan Revan yang berada di dalam tapi tidak tau harus bagaimana.
__ADS_1
anak itu berjalan ke depan, beruntungnya dia di sana tidak ada siapapun, anak itu menyelinap masuk ke dalam, dia membuka pintu satu persatu sampai akhirnya menemukan Revan yang duduk di sudut ruangan.
"kamu gak papa?" tanya anak itu lalu dia membantu Revan melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Revan.
"kita keluar lewat jendela, kalau ke depan kita bisa tertangkap" ucap anak itu lalu membuka jendela.
keberuntungan ada di pihak mereka, jendelanya tidak rusak ataupun terkunci, dan juga jendela nya tidak terlalu tinggi untuk anak seusia mereka, mereka langsung pergi lewat jendela, mereka terus berlari hingga kehabisan nafas.
"dimana rumah mu?" tanya anak perempuan itu.
"itu, aku tidak ingat, aku jarang keluar rumah jadi aku tidak tau" jawab Revan.
"nak, kamu dari mana saja, kenapa lama sekali pulang nya?" tanya seorang pria, dia adalah ayah anak perempuan itu.
"tadi Kei bantuin dia keluar dari rumah kosong yang ada di sana" jawab anak itu sambil menunjuk ke belakang.
"siapa dia?" tanya ayahnya.
"tidak tau" jawabnya polos sambil menggelengkan kepalanya.
" hey nak, dimana rumah mu?" tanya pria itu.
"aku tidak tau, tapi seharusnya tidak jauh dari sini" jawab Revan.
"kamu ikut saya dulu, sekarang sudah hampir gelap, besok akan saya antar ke rumahmu" ucap pria itu, Revan hanya mengangguk pelan.
akhirnya mereka bertiga pulang, Revan membersihkan badan di sana dan terpaksa memakai piyama milik anak perempuan itu, mereka makan malam bersama.
"kamu pakai ini ya" ucap Revan, sambil memakaikan gelang kepada anak perempuan itu.
"kenapa kamu punya gelang perempuan?" tanya anak itu.
"ini untuk hadiah adikku nanti, tapi aku kasih ini buat kamu sebagai tanda terima kasih" jawab Revan, dia tersenyum membuat wajah nya yang mungil terlihat tampan.
mereka bermain hingga malam, terkadang mereka kejar kejaran dan tertawa dengan bahagia, tapi saat tersandung mereka menangis dan setelah itu kembali mengulangi hal yang sama.
hari ini Revan merasakan hal tidak pernah dia rasakan sebelumnya, tadi dia merasakan takut yang teramat sangat, dan sekarang dia merasa bahagia, kehangatan memenuhi sekitarnya, walaupun dia tinggal di rumah sederhana dan tidak seluas rumahnya tapi Revan tidak mengerti kenapa rasanya jauh lebih nyaman berada di sana.
"anak-anak sudah malam, ayo tidur" ucap ayah anak perempuan tadi.
mereka langsung bersiap untuk tidur, mereka tidur di depan TV karena tidak cukup kamar dengan adanya Revan di sana.
__ADS_1